My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
112.



Daffin mengerang frustasi karena Grace tidak mengangkat telfon atau membalas pesannya sama sekali. Padahal ia ingin sekali menjelaskan pada Grace jika dirinya tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Alicia dan Grace sudah salah paham dengannya. Daffin semakin kesal karena ponsel Grace tidak bisa di hubungi, ia mencoba menghubungi Zay namun laki laki itu tiidk kunjung menjawab panggilannya.


" Aku harus kerumahnya." Daffin berdiri dengan yakin dan tekat yang bulat


" Tapi kalau dia makin marah gimana?" Ia kembali duduk saat mengingat kemarahan Grace bsaat di Kafe tadi sore.


Tookk...tookk...


" Masuk."


Elsa masuk kedalam kamar putranya dan melihat kamarnya sangat berantakan. Bantal, guling dan selimut yang tergeletak di lantai dan juga sepatu yang tidak pada tempatnya.


" Kamu ini apa apaan sih Daf? kenapa kamar kamu berantakan seperti ini?" Elsa sungguh di buat tercengang saat melihat kamar putranya yang sangat rusuh. Pasalnya putranya ini sangat tidak menyukai hal hal yang berantakan, tapi sekarang justru dia sendiri yang membuat kamar ini seperti kapal pecah.


" Udah deh ma, nanti suruh bibi yang beresin. Daffin lagi mumet nih." jawab Daffin sambil mengacak rambutnya kesal.


" Ada apa lagi?" Elsa menarik tangan Daffin dan duduk bersama di tepi ranjang.


" Grace marah sama Daffin." ucap Daffin membuat kedua alis Elsa bertaut.


" Masalahnya?"


" Dia mergokin Daffin lagi di Kafe sama temen perempuan Daffin." jawabnya dan Elsa menatapnya datar.


" Emang kamu gak ada bilang sama Grace kalau perempuan itu temen kamu?"


" Udah ma, tapi Grace gak mau dengerin penjelasan aku dulu. Dia semakin marah saat Daffin bilang kalau sifat dia masih kekanak kanakan." jawabnya sambil menundukkan kepala.


Itu adalah salah satu kalimat yang sangat ia sesali, padahal ia tau bagaimana sifat Grace. Di umur Grace yang masih segitu wajar saja kalau dia masih bertingkah kekanak kanakan, apalagi putri dan cucu perempuan satu satunya di kelurga besarnya.


Jadi sangat wajar jika Grace masih mempunyai sifat yang kekanak kanakan karena dia sangat di manja di keluarganya.


" Dalam hal ini mama tidak bisa menyalahkan Grace, karena mama tau gimana perasaan dia saat tau calon suaminya bertemu dengan teman perempuannya.


Apa sebelumnya kamu udah bilang kalau kamu mau ketemu sama temen perempuanmu?" tanya Elsa di balas gelengan ileh Daffin.


" Daffin gak sengaja ketemu sama Alicia ma. Tadi waktu Daffin selesai meeting sama klien, Daffin gak sengaja ketemu Alicia disana. Yaudah setelah itu kita ngobrol dan ketawa biasa aja." jawab Daffin dengan lesu.


" Yaudah. Sekarang kamu kerumah Grace dan jelasin semuanya sama dia. Mama yakin kalau dia akan mengerti dan memaafkan kamu." Ucap Elsa sambil mengusap punggung Daffin.


" Tapi Daffin takut kalau Grace gak mau nemuin Daffin. Suasana hati Grace sedang buruk saat ini."


" Percaya sama mama. Sekarang kamu kerumahnya dan jelasin semuanya sama Grace. Tapi kamu harus lebih dulu jelasin sama tante Luna dan om Reyhan, biar mereka bisa bantu kamu buat jelasin sama Grace." ucap Elsa diangguki Daffin dengan antusias.


" Mama terbaik deh. Makasih ya ma." Daffin memeluk Elsa dengan erat, setelah itu ia mengecup kening mamanya dan berlari keluar kamar.


" Maa tolong beresin kamar Daffin, kotor banget, Daffin gak suka." ucap Daffin lalu menutup pintu itu sedikit keras.


" Anak Kampret, awas aja kalau pulang." Geram Elsa. Ia memunguti bantal, guling dan selimut itu lalu di tata rapi di atas ranjang. Ia juga menaruh tas dan sepatu Daffin di tempatnya semula.


Setelah semuanya kembali rapi, ia keluar kamar Daffin dan turun ke bawah.


****


Disisi lain Grace baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya merasa segar setelah hampir satu jam ia berendam diri di dalam bak mandi. Ia berjalan menuju walk in closet dan mengambil satu set baju tidur kemudian ia kenakan.


" Satu gelas susu choklat hangat sangat cocok untuk suasana gerimis kek gini." gumam Grace. ia berjalan mendekati intercom dan menekan nomor yang akan langsung terhubung ke ruang dapur.


" Bi. tolong bawakan satu gelas susu choklat hangat ke kamar ya. Jangan lupa sama cemilannya." ucap Grace melalui sambungan intercom. Setelah mengatakan itu ia duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan hairdryer.


Tak butuh waktu lama pintu kamarnya di ketuk dari luar.


toookk...tookk..


" Masuk aja bi, gak di kunci kok." teriak Grace. ia ternyata masih sibuk mengeringkan rambutnya.


Pintu kamar Grace terbuka dan menampilkan seseorang yang sedang membawa nampan dan juga cemilannya. Bukan pembantu, melainkan Daffin yang menggantikam pembantu itu membawa nampannya.


Daffin justru berjalan kembali ke arah pintu dan mengunci pintu kamar Grace.


Memang Daffin sudah tiba di rumah Grace sekitar 20 menit yang lalu. Ia juga sudah membicarakan masalahnya dengan Grace pada kedua orang tua Grace dan juga Zay. Mereka memakhlumi itu dan menyuruh Daffin langsung ke kamar Grace untuk menyelesaikan masalahnya.


Saat mendengar pintu kamar itu di kunci, Grace langsung berbalik badan menatap seseorang yang telah mengunci kamarnya.


" Kamu?" Grace menaruh alat hairdryer nya dan berdiri menatap Daffin dengan tatapan datar.


" Ngapain kamu kesini." Grace masih saja berbicara dengan nada dingin. Ia masih sangat kesal dan marah pada Daffin.


" Aku mau ngejelasin semuanya sama kamu. Aku gak bisa berdiam diri kek gini." Daffin berjalan maju mendekati Grace, namun gadis itu justru menghindar dan berjalan ke sisi sebelah ranjang.


" Stop jangan mendekat, aku masih kesel sama kamu." ucap Grace.


" Sayang, kita gak bisa marahan terus kayak gini. Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu." ucap Daffin wajah memelas.


" Apalagi yang mau kamu jelasin? udah jelas jelas kamu mulai bohongin aku. Ketemuan sama cewek lain gak ada ngomong apa apa sama aku. Giliran aku deket sama Adam aja, kamu sewotnya minta ampun. Egois tau gak?" Grace berkata seakan akan itu adalah rasa kekesalan yang harus ia utarakan.


" Makanya dengerin aku dulu!! Kamu udah salah paham, kalau kamu tau siapa wanita itu, kamu gak akan mungkin marah sama aku." Ucap Daffin membuat kening Grace berkerut.


" Gak usah cari alasan. Maksud kamu apa ngomong kek gitu?"


" Besok kamu ikut aku ke apartemen dia." ucap Daffin membuat Grace membulatkan matanya.


" Apartemen? kamu tau Apartemen dia? kamu sering kesana? DAFFIIINNNNNN.. KELAUAR KAMU DARI KAMAR AKU." teriak Grace dengan wajah yang sudah memerah. Ia benar benar marah kali ini.


" Kamu bisa dengerin aku dulu gak sih Grace?" Kini Daffin juga ikutan kesal karena Grace selalu salah paham dengannya.


Jangankan pernah ke apartemen Alicia, tempatnya saja Daffin tidak tau. Dalam perjalanan menuju rumah Grace, Daffin menghubungi Alicia meminta bantuan untuk menjelaskan pada Grace. Dan dengan senang hati Alicia mengiyakan permintaan Daffin, toh memang dirinya tidak ada hubungan apa apa dengan Daffin. Mereka berdua hanya teman lama dan kebetulan tidak sengaja bertemu di Kafe kemarin.


" Kamu kesel sama aku? harusnya aku yang kesel sama kamu. Kamu diam diam sering main ke apartemen cewek lain." ucap Grace dengan wajah yang tak bersahabat.


" Aku gak pernah main ke apartemen dia, tadi sebelum datang kesini aku hubungin dia untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Aku gak mau kita salah paham kek gini. Makanya aku minta alamat apartemen dia, buat kita berdua besok kesana." ucap Daffin dan membuat Grace terdiam.


" Kita udah mau nikah, aku gak mau ada salah paham kayak gini. Kalau ada Masalah tuh di selesein, bukan menghindar kayak gini. Kalau kamu menghindar, bukannya cepet selesei malah makin besar masalahnya. Cobalah untuk bersikap dewasa dalam menghadapi masalah. Aku bilang kayak gini agar kedepannya kita bisa sama sama nyelesein masalah dengan kepala dingin." Grace menundukkan kepalanya, apa yang diucapkan Daffin memang benar adanya. Daffin berjalan maju mendekati Grace. ia berdiri di depan Grace dan merengkuh tubuh gadis yang akan menjadi istrinya itu.


" Cinta aku cuma sama kamu, aku gak akan mungkin bisa berpaling ke cewek lain kalau calon istri aku ja udah sesempurna ini." ucap Daffin membuat Grace mencubitnya kecil.


" Gombal mulu." Grace membalas pelukan Daffin.


" Jangan marah lagi ya?"


" Lihat besok, aku masih butuh penjelasan wanita itu." Ucap Grace di angguki Daffin.


" Iya, besok kita ke apartemen dia. Dan aku yakin kamu bakalan kaget kalau tau siapa dia."


" Emang dia siapa? Grace melepas pelukannya dan menatap Daffin.


" Kamu akan tau besok." ucap Daffin dan Grace mencebikkan bibirnya.


" Dasar."


.


.


.


.


.


🌻🌻