
Dan disinilah Grace sekarang, duduk sendiri di sebuah Cafe dengan segelas orange jus di atas mejanya.
Mangaduk jus itu tanpa berniat meminumnya.
Entahlah.. wajah tampan Daffin selalu terlintas di kepalanya.
Senyumnya, wajah datarnya, usapan lembutnya, semuanya masih terasa begitu hangat.
Grace menatap Luar kaca disampingnya,ia menatap langit yang tiba tiba berubah menjadi mendung.
Grace tersenyum miris, bahkan langit saja mengerti suasana hatinya saat ini.
Rintik hujan perlahan jatuh ke bumi, grace menyanggah dagunya mentapa luar.
Banyak pejalan kaki yang berlarian mencari tempat untuk berteduh.
Tak sedikit pula yang membiarkan dirinya basah kuyub oleh air hujan.
Grace menggosok kedua lengannya saat rasa dingin menyentuh kulitnya.
Ia berharap ada seseorang yang memakaikannya jaket lalu memeluknya dari belakang sambil mengucapkan kalimat manis.
Grace tersenyum miris, bukankah harapannya itu sangat mustahil?
Siapa? siapa yang akan melakukannya?.
Laki laki yang ia harapakan justru akan melakukannya pada pasangannya sendiri.
Grace melambaikan tangannya pada pelayan.
" Buatkan saya satu Coffe latte." ucap Grace pada pelayan itu.
" Baik kak, mohon tunggu sebentar."
Grace menganggukkan kepalanya, ia kembali menatap luar kaca yang ternyata hujan bertambah deras.
Grace mengambil ponselnya, ia sedikit terkejut saat puluhan panggilan masuk kedalam ponselnya dan ternyata dari Daffin.
Grace mengabaikannya, ia membaca pesan dari Zay yang menanyakan keberadaannya.
Ia membalasnya setelah itu ia menyimpan kembali ponselnya.
" Silahkan kak." ucap Pelayan lalu meletakkan coffe latte itu di atas meja.
" Terimakasih." ucap Grace.
Grace menyesap Coffe itu, sedikit panas namun mampun menghangatkan tubuhnya yang sedari tadi kedinginan.
Hujan sudah reda, Grace menyipitkan matanya saat diseberang jalan ada beberapa orang preman ingin merampok seorang ibu ibu.
" Titip tas saya." ucap Grace pada pelayan lalu dengan cepat berlari menghampiri ibu ibu itu.
Grace menyebrangi jalan, beruntung jalanan tidak terlalu padat.
Tanpa banyak tanya, Grace langsung manghajar tiga orang preman itu dengan tangan kosong.
" Siapa lo." tanya salah satu preman itu.
" Penting buat lo buat tau siapa nama gue?" jawab Grace dengan senyum smirknya.
" Jangan ikut campur urusan gue, pergi lo dari sini."
" Beraninya lawan ibu ibu, kalau mau uang itu kerja bukan ngerampok, lu laki bukan?" ucap Grace memancing emosi ketiga preman itu.
" Sialan lo, gue bilang jangan ikut campur urusan gue." ucap preman itu lalu menghajar Grace.
Dengan gesit grace menangkis semua serangan dari ketiga preman itu.
Bugghh..
Grace jatuh tersungkur, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Grace tersenyum smirk saat melihat noda darah di tangannya.
Ia bangun lalu menghajar ketiga preman itu tanpa ampun.
Tak sampai sepuluh menit akhirnya ketiga preman itu lari kalang kabut.
Grace mengambil tas yang sempat di bawa preman itu dan mengembalikannya pada sang pemilik.
" Tante tidak apa apa?" tanya Grace sambil menyerahkan tas berwarna hitam itu.
" Tante tidak apa apa, tapi bibir kamu berdarah." ucap ibu itu yang tak lain adalah Elsa.
Elsa yang saat itu baru saja keluar dari mall dan hendak menyetop taksi malah di datangi oleh ketiga preman itu yang mau merampas tas miliknya.
" Ini hanya luka kecil tante, tidak apa apa." jawab Grace.
" Ikut tante, biar tante obati." ucap Elsa, ia menarik tangan Grace lalu membawa grace masuk kedalam Cafe.
" Di meja sana aja tan, tas saya ada disana." ucap Grace menunjuk meja yang ada tasnya.
Elsa mengangguk lalu mereka duduk berdua.
" Tante minta maaf, karena menolong tante kamu jadi terluka seperti ini." ucap Elsa sambil membersihkan sudut bibir grace dengan tisu.
" Tidak perlu minta maaf tante, udah kewajiban saya buat nolong orang yang sedang butuh pertolongan." jawab Grace tersenyum manis.
" Terima kasih ya, terimakasih kamu udah nolongin tante." ucap Elsa.
" Kalau boleh tante tau, nama kamu siapa?" tanya Elsa.
" Graciella tante, tapi panggil saja Grace." ucap Grace.
Elsa menatap lekat wajah Grace, andai saja yang menjadi menantunya adalah wanita yang telah menolongnya ini, pasti ia akan sangat bersyukur dan bahagia.
Wajah Elsa berubah sendu saat mengingat Putranya akan menikahi wanita ular seperti angel.
" Tante kenapa?" tanya Grace saat melihat perubahan wajah Elsa.
" Tidak apa apa. Andai calon menantu tante seperti kamu, pasti tante sangat bersyukur." ucap Elsa.
" Maksud tante?" tanya Grace tidak mengerti.
" Putra tante akan menikah dengan wanita yang tidak di cintainya hanya karena sebuah tanggung jawab." jawab Elsa.
" Grace masih tidak mengerti tan." jawab Grace dengan tersenyum canggung.
" Waktu itu anak tante tidak sengaja menabrak seorang wanita hingga wanita itu lumpuh, kami semua sudah bertanggung jawab dengan membiayai seluruh pengobatannya, tapi suami tante menyarankan agar anak tante menikahi wanita itu dan ibu dari wanita itu setuju." jawab Elsa.
" Lalu kenapa tante tidak menyetujuinya?" tanya Grace yang penasaran dengan ceritanya.
" Wanita itu tidak tulus mencintai anak tante, dia dan ibunya sangat licik, mereka hanya ingin mengincar harta kami saja." jawab Elsa.
" Tante yang sabar ya, mungkin itu prasangka tante aja."
" Tidak sayang, mereka bahkan menjebak anak tante dan mau tidak mau pernikahan mereka akan di percepat." sahut Elsa.
" dijebak?" tanya Grace.
Elsa mengangguk, ia menceritakan apa yang sudah di ceritakan oleh Daffin kemaren dan Elsa mempercayai putranya.
" Tante yang sabar ya. Kebenaran akan terungkap nanti." ucap Grace menenangkan Elsa.
" Iya sayang, terima kasih ya kamu udah nolongin tante dan mau mendengarkan curhatan tante." ucap Elsa mengusap lembut kepala grace.
" Sama sama tante."
" Kamu sudah punya pacar?" tanya Elsa dengan sedikit menggoda.
" Belum tante." jawab Grace tersenyum kikuk.
" Andai putra tante tidak jadi menikahi wanita itu, sudah tente pastikan kamu akan tante pilih untuk jadi menantu tante." ucap Elsa membuat Grace menjadi canggung.
" Tante bisa aja ."
" Kenapa? kamu tidak percaya? kamu akan jatuh cinta sama anak tante karena anak tante sangat tampan." ucap Elsa terkekeh.
Grace tidak menanggapi, ia tersenyum kikuk tidak tau mau menjawab apa.
" Kalau begitu tante pulang dulu ya, udah sore takut suami tante cariin." ucap Elsa yang sudah berdiri.
" Biar Grace anter tan, grace khawatir kejadian tadi terulang lagi." sahut Grace yang juga ikut berdiri.
" Tante gak ngerepotin?" tanya Elsa dibalas gelengan oleh Grace.
" Enggak sama sekali kok tan, lagian Grace juga mau pulang." jawab Grace.
" Terimakasih ya sayang, kamu baik sekali padahal kita baru bertemu." ucap Elsa.
" Sama sama tante."
***
Grace mengedarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan banyak sekali hal yang mereka bicarakan.
Tak terasa Mobil Grace berhenti di sebuah rumah yang terlihat sangat megah.
" Apa kamu tidak mau mampir dulu?" tanya Elsa sambil melepas sabuk pengamannya.
" Lain kali saja tante, Grace mau segera pulang." jawab Grace.
" Kalau begitu terima kaaih kamu sudah mengantar tante pulang." ucap Elsa memeluk Grace.
" sama sama tante."
" Janji ya lain kali kamu harus mampir." ucap Elsa.
Grace tidak menjawab iya atau tidak, ia hanya tersenyum.
Elsa keluar dari mobil Grace lalu grace memutar mobilnya keluar dari halaman rumah Elsa.
Saat mobil grace keluar, mobil Daffin masuk halaman.
Daffin bisa melihat mobil grace keluar dari rumahnya namun ia tidak tau itu mobil siapa karena Daffin memang belum pernah melihat seperti apa mobil Grace.
.
.
.
.
Sepi amat yakk 🙃