
Barbeque part 1
.
.
.
.
Sore ini rumah Reyhan terlihat seperti tempat pengungsian,. Bagaimana tidak? Semua orang berkumpul di rumah Reyhan tanpa terkecuali.
Beruntung rumah reyhan cukup Luas untuk menampung puluhan orang dan sepuluh kamar tamu yang cukup untuk mereka menginap.
Mulai dari para sahabat Zay dan Grace, sahabat Devano beserta kedua orang tua mereka yang tak lain adalah sahabat Luna dan Reyhan dan juga kedua orang tua luna juga reyhan berada dirumah ini. Dan itu semua atas permintaan Grace agar semuanya di undang kemari. Luna dan Reyhan mengiyakan saja, toh kapan lagi berkumpul dengan para sahabtanya dulu.
" ASSALAMUALAIKUM JENG LUNAA." teriak Ajeng saat memasuki rumah Luna diikuti Louis dan Clarissa putrinya.
" WAALAIKUMSALAM JENG AJENG." balas Luna dengan teriakan juga, ia merentangkan kedua tangannya memeluk ajeng.
" Cihh gak enak banget di dengernya, jeng ajeng apaan tuh?" sahut Ajeng mencebikkan bibirnya namun ia tetap membalas pelukan Luna.
" Apa kabar Rey?" sahut Louis menjabat tangan Reyhan.
" seperti yang lu lihat, sangat baik. Lu sendiri?" ucap Reyhan menjabat tangan Louis.
" Kalau tidak baik aku tidak akan disini bersama istri dan anakku." jawab Louis terkekeh.
" ASSALAMUALAIKUM CALON BESANKU." teriak Zaki yang juga baru saja memasuki rumah Luna bersama Indah dan Freya.
" Waalaikumsalam." jawab Luna dan yang lain.
" Kalau Devano gak cinta sama Anak lu, gue ogah tau gak punya besan kek lu." sahut Luna menatap Zaki dengan malas.
" Lu inget gak waktu kita video call'an saat anak lu baru lahir, terus gue ngomong kalau gue pengen anak kita berjodoh?" ucap Zaki membuat Luna dan reyhan saling pandang.
" Inget inget enggak sih? napa emang?" jawab Luna yang memang setengah ingat.
" Ya berarti Allah ngabulin permintaan gue untuk besanan sama kalian berdua. dengan begitu ikatan persahabatan kita naik level jadi kelurga." jawab Zaki tersenyum bangga.
" Serah Lu lah Zak, atur aja semerdeka lu. Yang penting anak anak kita seneng." jawab Luna dengan jengah.
" Ma, pa. Freya sama Rissa ke Devano dulu ya." sahut Freya, ia merasa jika obrolan para orang tua ini tidak masuk dalam otaknya. Zaki dan Indah mengangguk lalu Freya dan Rissa pergi mencari keberadaan Devano.
" Anak lu makin cakep Aja ndah, gak salah kalau anak gue demen banget ma anak lu." ucap Luna setelah melihat kepergian Freya dan Rissa.
" Tengok maknya dulu lah bun, masa iya maknya cakep gini anaknya kagak sih? kalau kagak cakep berarti niru bapaknya." jawab Indah tanpa memperdulikan plototan dari Zaki.
" Mulutmu yank, jadi pengen gue cubit lidah lu." sahut Zaki merasa gemas.
" Jangan salah, anak Gue juga gak kalah cakep. Tapi herannya kenapa tuh anak betah banget ngejomblo ya? dari orok sampe segede ini kagak pernah dia ngenalin temen cowoknya selain devan, elvan sama nathan. Dia juga kagak pernah cerita kalau dia punya gebetan atau apa gitu." Sahut Ajeng yang merasa heran dengan putrinya.
" Malah bagus dong jeng, mungkin anak lu nanti pilih laki yang langsung bisa di ajak kawin." sahut Zaki.
" Kawin gigi lu meleyot, Nikah bodoh. Kawin sama Nikah tuh dah beda arti." jawab Ajeng menatap sinis Zaki.
" Ya ya.. maksud gue itu." ucap Zaki.
" ASSALAMUALAIKUM WAHAI MANUSIA PRIBUMI." teriak Intan yang baru saja datang bersama Dimas dan Nathan.
" Kalian ini sudah pada tua, apa kalian nggak malu teriak teriak gitu di denger anak anak kalian." sahut Luna yang merasa saat teman temannya datang malah teriak teriak.
" Sudah menjadi kebiasaan dirumah tan, jadi nggak kaget." sahut Nathan dan langsung mendapat delikan dari mamanya.
" Lu ngomoel mulu dah Lun, jawab Salam dulu kek." cibir Intan karena Luna dan yang lain belum menjwab salamnya.
" Udah.. gak denger lu?" jawab Luna di angguki yang lain.
" Mana? orang gue salam lu langsung nyembur gue gitu." sanggah Intan.
" Budek sih lu, orang gue jawabnya dalam hati. Harusnya hati lu bisa denger suara hati gue." jawab Luna dengan wajah tampa dosanya.
" Gue cubit juga ginjal lu." geram Intan.
" Ini siapa yang belum dateng?" tanya Zaki saat merasa gengnya ada yang kurang.
" Alan. katanya dia sedikit terlambat." sahut Reyhan.
" Nah iya.. tuh rakyatnya pak jokowi satu makin sombong aja sekarang, kagak pernah kasih kabar apapun. mentang mentang udah sukses." Zaki ngedumel namun tidak sadar jika Alan sudah berdiri di belakangnya.
buggh..
" Ghibahin aja terus selagi orangnya gak ada." sahut Alan setelah memukul bahu Zaki.
" Katanya telat kok udah disini aja?" tanya Zaki saat melihat Alan dan salwa.
" Gue naik helikopter, makanya cepet." jawab Alan ngasal.
" Bulshit banget tuh c*ng*r kalau ngomong." sahut Dimas.
" Waduh pak dokter kalau ngomong kasar bener, pengen suntik lidahnya deh." ucap Alan dengan nada greget.
" Anak lu kemana Lan? kagak ikut?" tanya Indah yang tidak melihat Elvano bersama Alan dan salwa.
" Anak gue udah disini dari tadi, malah dia berangkat duluan." jawab Salwa.
Mereka semua pun duduk di ruang tengah sambil mengobrol dan mengenang masa lalu mereka.
Jarang sekali mereka kumpul bersama karena kesibukan masing masing. Dan beruntung hari ini semua pada Free jadi bisa menyempatkan waktu untuk menghadiri undangan Reyhan dan Luna yang sangat dadakan.
Dan mereka juga akan menginap disini bersama anak anak mereka.
" Gue jadi kangen masa masa SMA kita dulu, banyak banget hal yang kita lalui semasa remaja. Dan gak nyangka waktu begitu cepat membawa kita sampai di titik seperti ini." ucap Luna menatap satu persatu sahabatnya.
Rasanya baru kemarin mereka merasakan saat saat SMA tapi waktu begitu cepat memabawa mereka untuk sampai di usia yang tidak lagi muda.
" Iya gue juga, gue inget banget gimana badungnya kita saat SMA. Sering bolos ke rooftop, di hukum lari, bersihin toilet. Aarrghh gue kangen kita yang dulu." sahut Ajeng mengingat masa SMA mereka.
" Tapi senakal nakalnya lu ma Reyhan masih juara satu dan dua. Lah kita udah gak pinter, nakal pula. Makin Giblik gak tuh " sahut Zaki membuat semuanya tertawa.
" Meskipun nakal kalau rajin belajar juga pasti pinter, lah lu udah nakal gak rajin belajar, ya makin Gesrek otak lu." sahut Dimas.
" Kayak lu kerajinan aja, dasar Dimsum trilili." kesal Zaki.
" Eh iya kabar si Dinda gimana ya? terakhir ketemu waktu dia datang ke SMA kita dulu kan? tuh anak sekarang nikah ma siapa?" tanya Intan.
ya mereka tidak ada yang tau bagaimana keadaan Dinda saat ini, setelah di labrak luna waktu itu dia bagai hilang di telan bumi. tidak ada kabar atau sekedar menampakkan batang hidungnya.
" Kapan hari gue ketemu sama dia dan anaknya di supermarket." sahut Salwa yang memang kapan hari tidak sengaja bertemu dengan Dinda dan putrinya yang usianya dibawah usia Elvan dan yang lain.
" Lu serius?" sahut Indah diangguki salwa.
" Lihat lakinya gak?" tanya Luna dibalas gelengan salwa.
" Kagak.. mereka cuma berdua doang, mau gue samperin tapi kayaknya mereka buru buru gitu." ucap Salwa, dan yang lain manggut manggut.
" Anak anak panti Lu gimana kabarnya lun?" tanya Intan. Semenjak penculikan itu mereka jarang sekali ke tempat anak anak panti. Tempatnya yang sekarang cukup jauh dan waktu yang mereka miliki membuatnya jarang sekali ikut Luna kesana.
" Baik semua, sebagian dari mereka bekerja di anak cabang perusahaan papa." jawab Luna.
" Kalau Bu marni sama pak marto?" sahut Ajeng.
" Mereka akhir akhir ini sering sakit sakitan, mungkin faktor usia kali ya. Karena saat di periksa ke dokter gak ada penyakit yang serius." jawab Luna.
" Terus Gengster lu sekarang gimana? masih jalan?" sahut Dimas diangguki Luna dan Reyhan.
" Mereka udah gabung jadi satu, tapi papa ngusulin kalau mereka mau dijadiin satu sama anggota mafianya papa. Dan sebagian dari mereka akan di kirim ke Amerika." jawab Reyhan.
" Untuk kak aldo dan kak ica, mereka tetep sama gue. Dia gak mau dipindah kemanapun katanya udah nyaman sama gue.
Kalau tangan kanan Reyhan, si Rama sama Alex mereka udah di pindah tugas buat ngurus anak cabang perusahaan di singapore. Sekalian jaga anak istri mereka yang ada disana." sahut Luna.
" Kalau inget gengster lu dulu serem serem ya, inget banget kalau lu dulu kena tembak berkali kali." sahut Ajeng.
" Kalau sekarang kena tembak lagi mungkin dah die kali ya." sahut Zaki tertawa renyah.
" Mau coba?" tantang Luna tersenyum smirk.
" Kagak usah macem macem, kita dah pada tua. Lagian omongan orang setengah waras lu dengerin" sahut Ajeng.
" Lu gak waktu muda, gak sekarang demen banget ngajak gue ribut. yuk lah kita baku hantam sekalian, lama gue pengen pites pala lu." geram Zaki menatap Ajeng dengan kesal.
" Cih.. beraninya sama kaum perempuan. Kalau berani lawan laki gue nih." ucap Ajeng sambil melingkarkan tangannya di lengan Louis.
" Gue gak ada masalah sama laki lo, masalah gue dari dulu sampai sekarang sama lu doang." jawab Zaki sewot.
" Gue doain anak kalian berjodoh baru tau rasa kalian." sahut Alan mendapat tabokan dari Luna karena tempat duduk mereka berdekatan.
" Anak gue demen ama anaknya Zaki, mau gak mau gue yang jadi besannya dia." jawab Luna membuat Alan tertawa keras.
" Lu yakin mau besanan sama mereka?" tanya alan yang belum bisa berhenti ketawa.
" Mau gak mau bang, mau gimana lagi yang penting anak anak bahagia." jawab Luna memelas.
" Ehh ayam betina kampung, emang kenapa sih kalau kita jadi besan lu? kita kagak malu maluin amat dah, profesi gue dokter juga udah keren." sahut Zaki sambil membenarkan kerah bajunya.
" Kegesrekan lu berdua yang bikin gue malas jadi besan lu." jawab Luna
" Situ lebih parah dari kita kalau lu lupa." sahut Indah lalu mereka tertawa bersama.
Masa masa SMA mereka dulu memang banyak hal yang sudah di laluinya.
Masalah demi masalah yang silih berganti, namun mereka tetap mengatasinya bersama sama.
Kecemburuan, kehilangan, Kehadiran sosok yang telah tiada, Semua mereka lalui bersama sama dan saling menguatkan satu sama Lain.
Kekompakan mereka hingga diusia tak lagi muda seperti sekarang selalu menjadi prioritas utama mereka.
Meskipun jarang berkumpul namun mereka selalu aktif untuk saling memberi kabar.
.
.
.
.
Ada yang kangen sama mereka??