
" Mama dan yang lain berangkat dulu, kalian jaga diri baik baik, dan jangan banyak tingkah.
Ingat, bodyguard papa akan selalu mengawasi kalian 24 jam.
Dan mereka akan melaporkannya pada papa apa saja yang kalian lakukan di luar rumah." ucap Luna memberi wejangan pada putra putrinya.
Kini mereka berada di bandara dan akan segera berangkat ke london.
" Iya ma, kami semua ngerti kok, lagian selama ini kita gak pernah macem macem kan." jawab Grace.
" Ya sudah kita semua percaya sama kamu.
Jaga diri kalian, mama berangkat dulu." ucap Luna memeluk anaknya satu persatu diikuti yang lain.
Luna dan rombongan masuk kedalam pesawat dan tak lama pesawat tersebut sudah take off.
" Kemana kita?" tanya Grace yang akan masuk kedalam mobilnya.
" Kalau kalian mau jalan terserah, devan sama el mau pulang aja soalnya kita berdua masih ngantuk." sahut Devan.
" Iya kak, kita berdua pulang aja, masih ngantuk banget gue."
" Ya sudah kalian pulang hati hati." ucap Grace diangguki keduanya.
Devan dan El masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkan ketiganya.
" Ke mall aja gimana?" usul Vero.
" Ngapain?" sahut Zay.
" Cari kodok bertelur." jawab Vero dengan jengah.
" Siapa tahu mau beli sepatu lagi." ucap Zay lalu masuk kedalam mobilnya diikuti Vero dan Grace.
" Sepatu yang kemaren gue beli aja masih belum gue keluarin dari paperbagnya." sahut Vero sambil memasang sabuk pengamannya.
Zay mendendarai mobilnya menuju mall terdekat.
Setelah memarkirkan mobil, ketiganya langsung masuk kedalam dan hanya berkeliling tanpa tau apa yang akan mereka tuju.
Saat kaki mereka terus melangkah, Grace tanpa sengaja melihat Daffin bersama seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda.
Grace menahan tangan Zay dan Vero agar berhenti, keduanya menatap Grace dengan kening berkerut.
" Ada apa?" tanya Zay.
Grace tidak menjawab, ia menatap lurus orang yang sedang berada di sebuah toko cincin.
Zay dan Vero mengikuti arah pandang Grace.
Zay yang tidak tau siapa kedua orang itu hanya menebak siapa yang sedang di lihat oleh Grace.
Sedangkan Vero yang sudah tau wajah Daffin hanya menatap kedua orang itu dengan wajah datarnya.
" Siapa wanita itu, wajahnya gak asing kayak pernah lihat." gumam Grace.
" Emang mereka siapa?" tanya Zay.
" Dia yang namanya Daffin, dosen yang disukai sama grace." sahut Vero.
" Kok lu tau?" tanya Zay menoleh ke arah Vero.
" Dikasih tau sama Naya waktu gue nyamperin grace ke kantin waktu itu." jawab Vero.
" Lalu siapa cewek itu?" tanya Zay, Vero dan Grace sama sama menggeleng tidak tau.
" Kalian disini dulu, gue mau kesana." ucap Vero.
Baru berjalan dua langkah kerah baju belakang vero di tarik oleh Grace.
" Gak usah macem macem, siapa tau itu kakak atau adik pak Daffin." ucap Grace.
Ia masih berfikir positif dan mengira jika wanita itu masih saudara daffin.
" Sstt.. diem, lu sama Zay disini aja." ucap Vero dan langsung berlari ke toko cincin itu.
" Bisa saya bantu mas?" ucap pegawai toko itu pada Vero.
" Biar saya lihat lihat dulu mbak." jawab Zay.
" Silahkan."
" Sayang kalau yang ini bagus gak? cocok kan untuk pernikahan kita?" tanya Angel menunjukkan sepasang cincin pada Daffin.
Daffin menatap cincin itu dengan ogah ogahan karena bagaimanapun ia sama sekali tidak ingin menikah dengan Angel.
Ia merutuki kebodohannya, Kalau bukan karena kejadian semalam, ia tidak akan pernah mau hari pernikahannya dipercepat.
Flashback on..
Daffin mendapat pesan dari mama angel jika ia di suruh datang ke rumah untuk makan malam bersama.
Awalnya ia menolak karena banyak pekerjaan yang harus ia seleseikan.
Namun bukan Rani kalau tidak memberi sedikit kebohongan jika Angel tidak akan mau lagi berobat jika daffin tidak mau datang.
Dengan sangat terpaksa Daffin mengiyakan permintaan Rani.
Setelah pekerjaan kantornya selesei ia langsung menuju rumah angel.
Angel yang saat itu sedang membantu mamanya menyiapkan makanan dengan tergesa mengambil kursi roda saat mendengar suara mobil Daffin berhenti di halaman rumah.
Angel membukakan pintu sebelum daffin mengetuknya.
" Ayo masuk." ucap Angel tersenyum manis.
Seperti biasa, Daffin tidak menanggapinya.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Angel yang mengerucutkan bibirnya.
" Kamu sudah datang? ayo duduk dulu." ucap Rani saat melihat kedatangan Daffin.
" iya." jawab Daffin singkat.
" Kamu gak mau mandi dulu Daf?" ucap Angel yang memposisikan kursi rodanya di dekat Daffin.
" Tidak usah, saya buru buru untuk cepat pulang." jawab Daffin datar.
" Kenapa buru buru sekali, mamamu sudah tau kalau kamu makan malam disini." sahut Rani.
Ia meletakkan secangkir teh yang sudah dikasih sesuatu di depan daffin.
" Banyak pekerjaan yang masih belum saya seleseikan, jadi secepatnya saya harus pulang." ucap Daffin memberi alasan.
Padahal bukan itu alasan sebenarnya, ia hanya tidak ingin berlama lama di rumah ini.
" Yasudah kita mulai saja makan malamnya." ucap Rani lalu mengambilkan nasi untuk Daffin dan Angel.
Kebetulan suaminya lagi tidak dirumah karena sedang di luar kota.
Daffin dengan cepat menghabiskan makanannya karena ia ingin segera cepat pulang.
" Saya sudah selesei, saya pamit pulang dulu, dan terima kasih untuk makan malamnya." ucap Daffin yang sudah berdiri.
" Kamu minum dulu tehnya, tante sudah membuatkannya untukmu." sahut Rani.
Tanpa menaruh rasa curiga Daffin meminum teh itu hingga habis setengah.
" Saya permisi." ucap Daffin setelah meminum teh tersebut.
Baru beberapa langkah ia berjalan, kepalanya terasa pusing
Dimeja makan Angel dan Rani tengah tersenyum jahat, rencana untuk menjebak Daffin telah berhasil.
Mereka berdua menghampiri daffin yang sedang tak sadarkan diri.
Dengan kekuatan yang ada, angel dan Rani menuntun Daffin masuk ke kamar tamu.
" Sekarang tugasmu, ingat hanya berpura pura, jangan sampai beneran terjadi." ucap Rani diangguki angel.
" Angel mengerti ma." jawab Angel, lalu Rani keluar kamar meninggalkan Angel dan Daffin dalam satu kamar.
" Hanya dengan cara ini kamu akan segera menikahiku, aku sudah tidak sabar menjadi nyonya di keluarga Gunandra." gumam Angel tersenyum miring.
Angel membuka jas, kemeja, celana dan sepatu yang di gunakan oleh Daffin dan hanya menyisahkan celana boxer.
Ia membuang pakaian daffin dengan asal agar saat daffin sadar nanti terlihat seperti apa yang telah terjadi.
Setelah itu angel membuka bajunya dan hanya meninggalkan tangtop berwarna putih lalu tidur di sebelah Daffin.
Ia menghadap ke arah daffin dan membelai pipi mulus itu.
" Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya, aku tidak sabar menantikan hari itu." gumam Angel sambil memainkan tangannya di atas dada Daffin.
Angel menarik tubuh daffin dan mereka tidur dengan berpelukan.
Keesokan harinya Daffin mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sedikit membaik.
Sadar ia tidak berada di kamarnya, ia menoleh ke samping dan matanya membelalak saat melihat yang duduk sambil menangis.
Daffin bangun dan membulatkan matanya saat melihat dirinya tidak memakai baju apapun kecuali celana boxer.
Ia melihat semua pakaiannya tergelatk di lantai begitu saja.
Daffin melihat ke arah angel yang hanya memakai tangtop.
" Angel apa yang terjadi semalam?" tanya Daffin dengan wajah yang terlihat shock.
" kamu gak inget apa yang kamu lakukan sama aku?" ucap Angel sambil menangis.
Lebih tepatnya pura pura menangis.
" Saya tidak ingat apapun, yang hanya saya ingat, kepala saya sakit saat mau pulang." jawab Daffin.
memang seingat dia hanya itu, selebihnya ia tidak ingat apapun yang terjadi.
" Kamu sudah menodaiku daf, Semalam aku berniat membantumu tapi kamu malah berbuat yang tidak tidak sama aku." terang angel menangis terisak.
" tidak.. tidak mungkin itu terjadi, saya tidak mungkin melakukan hal sebejat itu." jawab daffin dengan suara keras.
" Apa yang tidak mungkin saat seseorang yang tidak sadar akan dirinya melakukan hal seperti itu?" ucap Rani tiba tiba masuk kedalam kamar.
" Kamu berpikir anak saya pembohong?" ucap Rani dengan wajah di buat marah.
" Saya tidak sebejat itu tante." bela Daffin.
" Terserah apa yang kamu katakan, tante tidak peduli.
Yang jelas tante ingin kamu secepatnya menikahi Angel sebelum benih yang kamu tanam menjadi janin." ucap Rani lalu pergi dari kamar.
Daffin menjambak rambutnya frustasi, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
Sirna sudah rencana untuk meninggalkan angel.
Grace? bagaimana dengan wanita itu? apa dia akan membencinya?.
Daffin memakai semua pakaiannya, ia meninggalkan Angel begitu saja tanpa sepatah katapun.
Tanpa pamit ia keluar rumah angel dan pulang kerumah.
Sesampinya di rumah daffin menceritakan semuanya kepada mamanya.
Terkejut? pasti.
Orang tua mana yang tidak terkejut mendengar cerita putranya yang telah melakukan kesalahan yang fatal?.
Apalagi berbuat dengan wanita yang sama sekali tidak ia restui.
plaaaakk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Daffin dari papanya.
" Setelah membuat angel lumpuh, sekarang kamu malah membuat dia kehilangan mahkota berharganya.
Kamu benar benar keterlaluan daffin.
Papa sama mama tidak pernah mengajarkanmu berbuat hal bejat seperti itu." marah erick.
" Sudahlah pa, ini semua juga bukan salah daffin aja, wanita itu juga yang terlalu murahan." sahut Elsa.
ia tidak terima jika suaminya selalu menyalahkan Daffin.
" Kamu selalu saja membelanya, jelas jelas disini daffin yang salah." bentak Erick.
" Kamu juga terlalu membela keluarga wanita itu, kamu bahkan tidak memperdulikan kebahagiaan anak kamu sendiri." sahut elsa dengan nada yang tak kalah keras.
" Sudah cukup, ini salah daffin, daffin akan segera menikahinya jadi papa tidak usah khawatir.
Dan untuk mama, memang ini sudah takdir daffin.
Sekali lagi maafin daffin udah membuat malu keluarga ini " ucap Daffin lalu pergi ke kamarnya.
Siang hari Rani dan Angel berkunjung ke rumah Daffin, Rani memaksa Angel untuk segera membeli cincin pernikahan mereka.
" Puas kalian menghancurkan masa depan putraku? sampai kapanpun saya tidak akan menganggap kamu menantu di keluarga ini.
Dan jangan pernah berbangga hati bisa jadi istri dari Daffin karena sampai kapanpun saya tidak akan merestui pernikahan kalian." ucap Elsa dengan oenuh amarah.
" tante.. tante kenapa bicara seperti itu? apa salah Angel tan?" ucap Angel dengan wajah sedihnya.
" Gak usah pura pura sedih, saya tidak akan tertipu dengan muka polosmu itu." sahut Elsa.
Daffin turun dengan pakaian casualnya, ia berjalan datar menghampiri mamanya dan Angel.
" Ada apa?" tanya Daffin dengan wajah yang sangat datar.
" Saya ingin kalian segera mencari cincin pernikahan, bagaimanapun pernikahan harus segera di laksanakan secepatnya." ucap Rani.
Elsa mengepalkan kedua tangannya, ia sungguh tidak rela putranya menikah dengan wanita ular seperti angel dan mempunyai besan seprti Rani.
" Baiklah." ucap Daffin lalu berjalan keluar.
" tante Angel pamit." ucap angel ingin menyalimi Elsa namun tangannya di tepis kasar oleh elsa.
Rani menggertakkan giginya, ia geram dengan perlakuan elsa pada putrinya.
" Sebaiknya kamu cepat pergi. Daffin sudah menunggumu." ucap Rani lalu mendorong kursi roda angel.
Flashback off...
" Sayang? cincin pernikahan?" gumam Vero saat mendengar percakapan keduanya.
.
.
.
.
TBC