
" Gue bohong gimana lagi sih? gue gak kesel atau cemburu. puas kalian." ucap Freya lalu pergi meninggalkan mereka.
Tidak di pungkiri memang hatinya sedikit kesal, entah kesal karena devan bersama bella atau kesal karena sahabatnya terus memojokannya.
Freya berjalan cepat menuju kelas, dari kejauhan Devan bisa melihat raut kesal wajah Freya.
Tanpa memperdulikan bella, ia berlari menyusul Freya ke kelas.
" Kalau yang ini tempat a---"
" Loh devan kemana?" gumam Bella menoleh kesana kemari namun tidak menemukan devan, padahal baru saja dia disampingnya.
Bella menghentak hentakkan kakinya, gagal sudah menikmati waktu berdua dengan Devan.
Dengan kesal ia memilih kembali ke kelas karena ia yakin devan berada di kelas sekarang.
" Frey lu kenapa?" tanya Devan dengan napas sedikit ngos ngosan.
" Udah nemenin bella'nya?" tanya Freya tanpa memperdulikan pertanyaan Devan.
" Gue tadi lihat lu jalan kek orang kesel, makanya gue kesini ninggalin dia." jawab Dave mendudukkan bokongnya disamping Freya.
" Lu kenapa? kok kelihatan kesel?" tanya devan, ia memutar tubuh Freya agar berhadapan dengannya.
" Siapa yang kesel? gue biasa aja." elak Freya sambil membuang muka.
" Tatap gue." Devan memegang dagu freya dan wajah mereka saling menatap.
" Gue tau lu kesel, kalau lu gak kesel gak mungkin lu balik ke kelas sendiri.
Sekarang gue tanya sekali lagi, kenapa lu kesel?" tanya Devan dengan serius.
" Gue gapapa Devan, beneran." ucap Freya tersenyum manis.
" Dia kesel lu pergi sama bella." sahut Nathan yang baru tiba di kelas bersama El dan Rissa.
" Ngaco lu kalau ngomong, mana ada gue kesel gara gara itu." sanggah Freya.
" Jujur sama gue, lu kesel karna gue pergi sama bella?" sahut devan menatap dalam mata Freya.
Freya yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah.
Ia memutar tubuhnya menghadap depan.
" Enggak dev, jangan percaya omongan mereka, gue kesel bukan karna itu." jawab Freya.
" Terus karena apa?"
" Karena gu---"
" Devan.. kenapa lu pergi ninggalin gue sendiri?" sahut Bella yang baru saja tiba di kelas dengan perasaan kesal.
Kesal karena di tinggal devan dan kesal saat dia tiba di kelas ia melihat devan bersama Freya.
" Gue kebelet tadi, makanya gue pergi." ucap devan berbohong.
" Seenggaknya kan lu bisa bilang dulu sama gue, biar gue nggak nyariin lo." ucap Bella.
" Hm."
" Besok temenin gue lagi ya, tadi kan belum semuanya." ucap Bella.
" Gue gak bisa, suruh yang lain aja." tolak Devan membuat wajah bella berubah sedih.
" Gue temenin besok." sahut Rissa menepuk pundak Bella.
Bella menoleh ke arah Rissa dan tersenyum paksa.
Bel masuk pun berbunyi semua murid masuk kelas dan memulai pelajaran.
***
Kelas Daffin baru saja selesei, Grace merapikan buku bukunya dan memasukkannya kedalam tas.
Wajahnya terlihat begitu pucat, entah kenapa kepalanya terasa begitu berat.
Ia berjalan keluar kelas diikuti Grizzele dan Naya di sampingnya.
" Lu beneran gapapa Grace?" tanya Grizzele.
Grace menoleh lalu mengangguk.
" Lu pulang aja deh Grace, wajah lu pucet banget." sahut Naya.
" Gue gapapa, cuma sedikit pusing doang." ucap Grace
Mereka terus berjalan, kepala Grace semakin terasa berat, pandangannya mulai kabur hingga akhirnya grace jatuh pingsan.
" GRACE.." mata Naya dan Grizzele terbelalak saat melihat Grace jatuh pingsan.
Naya dan Grizzele menepuk pipi Grace untuk menyadarkannya.
" Eh tolong angkat grace ke mobil dong." pinta Naya pada salah satu cowok.
Dengan senang hati cowo itu mengangkat tubuh Grace kedalam mobil Naya.
Kapan lagi yekan bisa gendong seorang grace.batin cowo itu.
Naya mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat, sementara Grizzele memangku tubuh Grace dan mencoba menghubungi Zay.
" Hallo Zay, lo dimana? cepet kerumah sakit sekarang." ucap Grizzele dengan panik.
" Grace pingsan, gue sama Naya bawa grace ke rumah sakit, lu susulin kita sekarang." jawab Grizzele lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Nay lebih cepat dikit, gue takut Grace kenapa napa." ucap Grizzele diangguki Naya.
**
Sementara itu Zay tengah kalang kabut saat mendengar kabar dari Grizzele jika Grace di larikan ke rumah sakit.
" Ada apa? siapa yang sakit?" tanya Vero.
" Grace.. grace pingsan, Grizzele dan Naya bawa grace ke rumah sakit sekarang." jawab Zay dengan wajah paniknya.
" Tenang bro, jangan panik, gue yakin grace gak kenapa napa." sahut Izzam menenangkan Zay.
Zay berjalan dengan cepat menuju parkiran.
Mereka semua mengambil mobil dan langsung melesat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Zay dan yang lain langsung masuk kedalam menuju ruang UGD.
Disana ada Naya dan Grizzele yang menunggunya di luar.
" Gimana keadaan Grace?" tanya Zay dengan panik.
" Sabar Zay, sabar." sahut Vero menepuk bahu Zay.
" Kita belum tau karena dokter masih memeriksanya Zay." jawab naya.
" Kenapa dia bisa pingsan, kenapa dia gak bilang kalau lagi sakit." gumam Zay menjambak rambutnya frustasi.
" Tenang Zay, kita tunggu apa kata dokter." sahut gibran.
Tak lama dokter pun keluar dan sedikit terkejut karena sudah banyak orang yang menunggunya.
" Gimana keadaan sodara kembar saya dok?" tanya Zay dengan tidak sabaran.
" Tekanan darah pasien menurun, pasien juga mengalami kelelahan dan kurangnya asupan nutrisi.
Sebaiknya pasien lebih banyak beristirahat, jangan biarkan dia terus bergadang karena itu tidak baik untuk kesehatannya, dan jaga pola makan." ucap Pak dokter.
" Terimakasih dok, kalau begitu apa boleh saya melihat saudara saya?"
" Pasien sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat, sebaiknya tunggu disini dulu." ucap Dokter diangguki Zay.
Tak lama Perawat keluar sambil mendorong brankar grace menuju ruang rawat VVIP.
Tak lupa Zay mengabari mama dan papanya jika grace masuk rumah sakit.
***
" Zay,,." panggil Luna saat ia masuk kedalam ruang rawat Grace bersama seluruh keluarga besarnya.
" Mama.. kenapa semuanya kesini?" tanya Zay saat melihat keluarga besarnya datang bersama Luna dan Reyhan.
" Itu tidak penting, jelaskan sama mama kenapa Grace bisa masuk rumah sakit." ucap Luna menatap tajam putranya.
" Grace cuma kecapean doang ma, gak sakit yang gimana mana kok." jawab Grace terbangun karena mendengar suara keributan.
" sayang kamu gapapa?" tanya Nadia menghampiri ranjang Grace.
" Grace gapapa grandma, cuma kecapean doang." jawab Grace tersenyum.
" Papa sudah bilang sama kamu dan saudara kamu yang lain, tetap jaga kesehatan, sesibuk apapun jangan sampai lupa untuk beristirahat dan jaga pola makan." sahut Reyhan.
" Iya papaku sayang, uuhh gemes deh grace kalau papa udah ngomel." ucap Grace.
" Kak Grace kebanyakan mikirin dosennya juga tuh pa, makanya dia bisa pingsan." sahut Devano.
" Apa hubungannya Jamal, lu jangan cari perkara ya." geram Grace menatap Sinis Devano.
" Emang iya kok, lu kan sering senyam senyum gak jelas kalau udah mikirin dosen lu itu."
" Jangan percaya pa, omongan devan tuh gak ada yang bener." sahut Grace saat Reyhan menatapnya datar.
" Jatuh cinta boleh grace, tapi jangan bikin diri kamu belajar gila." ucap Reyhan.
" Dihh.. apaan juga, mana ada grace kayak gitu." ucap Grave mencebikkan bibirnya.
" Biarin lah pa, tinggal bawa ke rumah sakit jiwa kan beres." sahut Luna.
" Bully aja terus.. Gapapa kok demi alex grace gapapa, tapi gak gitu juga kali ma, sama anak sendiri.
Inget gak ada Grace rumah gak akan Rame."
" Kata siapa? mama sama papa mau bikin adek buat kalian." goda Luna.
" JANGAAAAANNN." teriak Kompak Grace, Zay dan Devano.
Semua tertawa keras melihat kekompakan ketiganya.
.
.
.
.
❤️❤️❤️