
Saat ini Grace, Zay, Gibran dan Izzam berkumpul di caffe bersama Kiran melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Menurut kiran tidak banyak yang berubah dari keempat sahabatnya ini, mereka tetap sama dengan mereka yang dulu.
Hanya pola pikir mereka aja yang sedikit lebih dewasa, selain itu mereka tetaplah sama tidak ada yang berubah.
" Lo selama ini susah di hubungi, kenapa?" tanya Gibran pada Kiran.
" Ponsel gue ilang jadi gue gak bisa hubungin siapa siapa, mama sama papa aja nyusulin gue ke jerman karena seminggu gak ada kabar dari gue." jawab kiran tertawa kecil.
" Cerobohnya gak ilang ilang dari dulu." sahut Grace.
" Iya, gue aja sampe heran kenapa gue bisa seceroboh itu."
" Lu udah punya pacar belum di jerman?" tanya Izzam, Zay langsung melirik ke arah Izzam.
" Gue bukan cewek yang mudah bergaul, temen gue aja cuma dua, itupun dua duanya cewek." jawab Izzam.
" Berarti belum punya dong?"
" Belum.. napa emang?"
" Kali aja gue bisa masuk ke hati lo." jawab Izzam tertawa sambil melirik Zay.
" Eheeem." dehem Zay.
" Napa Zay? tenggorokan kering? sono minum lasegar." ucap Izzam tertawa keras.
" Kamu kenapa? nih minum punyaku." ucap Kiran menggeser jus orange ke depan Zay, karena Zay hanya memesan Coffe.
Grace, Gibran dan izzam langsung menatap keduanya.
Ada yang aneh dari keduanya, begitu pikir mereka.
Grace bisa melihat tatapan suka dari kiran pada Zay, tapi ia tidak yakin apakah kiran menyukai Zay sebagai sahabat atau bahkan lebih.
Karena tidak ada persahabatn murni antara cowok cewek jika salah satunya tidak menaruh perasaan lebih.
Dan itu Grace lihat dari tatapan Kiran.
" Lo suka sama Zay?" tanya Grace blak blakan.
Ia tidak ingin menebak nebak, jika memang benar Kiran menyukai Zay itu artinya Kiran bisa membantu Zay melupakan wanita itu dan bisa membantu memberi warna di hidup Zay.
" Haaa? Lo tanya sama gue?" tanya Kiran.
Semuanya juga menatap Grace karena pertanyaannya.
" Masa gue tanya Izzam atau gibran sih? Yakali mereka Gay." jawab Grace.
" HEEHH Anaconda.. mulut lu kalau ngomong. gue masih normal ya! gue tampol juga mulut lu." kesal Izzam.
" Tau tuh, kalau gue gay juga milih milih laki kali! yakali modelan kayak Zay gue pacarin." sahut Gibran.
" Bran mulut lu.. astagfirullah!! Gak ada akhlak lu kalau ngomong." Sahut Izzam menoyor kepala gibran.
" Jadi gimana?" tanya Grace menatap Kiran.
" G-gue cuma nganggep Zay sahabat." jawab Kiran gugup, ia memalingkan muka karena Zay menatapnya dalam.
" Yakin?" desak grace.
" i-iya." jawab grace.
Jantungnya seakan berhenti saat Zay menatapnya datar.
" Oh..oke."
" Bran, Zam ikut gue cari Naya sama Grizzele yuk, tadi mereka bilangnya di kantin." ucap Grace sambil mengedipkan matanya.
Gibran dan Izzam yang mengerti kode dari Grace langsung mengangguk.
" Ran, kita tinggal dulu ya, gue ada janji sama Naya dan Grizzele." ucap Grace diangguki Kiran.
" Nanti kita ngobrol ngobrol lagi." ucap Grace lalu menggandeng tangan Gibran dan Izzam.
Kecanggungan dirasakan Kiran dan Zay.
Mereka terdiam cukup lama setelah kepergian Grace, gibran dan izzam.
" Zay.." panggil Kiran lembut, Zay menoleh ke arah kiran.
" Apa?" tanya Zay dengan nada dan tatapan datar.
" K-kamu marah sama aku?" tanya Kiran
" Kenapa aku harus marah? kan emang bener kita cuma sahabat." jawab Zay.
" Bukan begitu Zay..." kiran menggantungkan ucapannya, ia menunduk dalam dan tak terasa air matanya keluar begitu saja tanpa ia minta.
Zay melihat itu tidak tega, tapi ia membiarkan Kiran untuk menyeleseikan ucapannya.
" A-ku sayang sama kamu, tapi aku takut kamu malah menjauh karena merusak persahabatan kita." ucap Kiran mendongakkan kepalanya.
Zay sedikit terkejut ternyata selama ini dugaan dia benar, Kiran menyukainya.
Zay bahkan berpindah tempat di samping Kiran, menarik gadis yang sedang menangis itu kedalam pelukannya.
" Sejak kapan?" tanya Zay sambil mengusap lembut kepala kiran.
" Sudah lama, sebelum kamu bertemu sama dia." jawab Kiran.
Lagi lagi Zay cukup terkejut, selama itu? selama itu gadis yang sedang menangis ini menyimpan perasaan untuknya.
Jika diingat itu berarti dia mengorbankan perasaanya demi sahabatnya.
Ah, bodoh.. Zay cukup bodoh untuk memahami perasaan kiran.
Bagaimana perasaan kiran dulu saat dirinya selalu bercerita tentang masa indah bersama wanitanya dulu?
Bodoh, bodoh dan bodoh.. Bahkan wanita yang dipilih Zay malah meninggalkan Zay entah kemana.
" Kenapa kamu merelakan aku sama dia jika kamu sendiri menaruh hati sama aku?"
" Aku hanya ingin melihatmu bahagia Zay, aku tidak punya keberanian untuk mengatakan aku mencintaimu.
Aku tidak ingin karena perasaan ini kamu menjauhiku.
Aku berusaha keras membuang jauh perasaan ini tapi tidak bisa.
Alasan aku kuliah di jerman karena aku ingin sedikit demi sedikit melupkanmu, tapi tidak bisa karena kamu sudah mempunyai tempat terdalam dihati aku, maafkan aku Zay, maafkan aku menghianati persahabatan kita." ucap Kiran menangis tersedu.
" Maafkan aku, aku tidak bisa memahami perasaan kamu waktu itu." ucap Zay mendekap erat tubuh kiran.
" Jangan nangis lagi oke, aku milik kamu sekarang." ucal Zay membuat Kiran melepaskan pelukannya.
" Maksud kamu?"
" Aku milik kamu sayang, Aku juga sayang sama kamu." Ucap Zay tersenyum manis.
Kiran menghambur kembali ke pelukan Zay, sungguh ia tidak menyangka jika Zay juga menyayanginya.
" Tapi.." kiran menggantung ucapannya, ia melepas pelukan Zay dan menunduk.
" Tapi apa?"
" A-aku orang jahat yang menghianti sahabat aku sendiri Zay. Bagaimana kalau dia kembali lalu tau hubungan kita dan dia membenciku?" Ucap kiran menatap Zay dengan sendu.
" Biarlah.. jangan pikirkan itu." ucap Zay menghapus air mata kiran.
Kiran mengangguk, ia juga tidak tau dia akan kembali atau tidak.
Yang terpenting untuk saat ini adalah Zay dan dirinya adalah sepasang kekasih.
Bukan kiran egois, tapi inilah nasibnya sekarang.
.
.
.
.
Maaf kalau banyak Typo..🙏🏻🙏🏻🙏🏻