My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
111.



Sore hari langit tiba tiba berubah menjadi mendung. Awan putih yang kini berubah menjadi gelap itu perlahan menjatuhkan tetesan demi tetesan air hujan yang jatuh ke bumi. Seolah mengerti perasaan yang kini di alami seseorang yang saat ini sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaan marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu di dalam dirinya. Gerimis sore itu kini berubah menjadi rintik hujan yang lebat, namun tidak membuat seseorang itu mengurangi kecepatan mobilnya. Entah terlalu kecewa atau marah, tak terasa air matanya ikut jatuh saat mengingat apa yang dilihatnya tadi.


Graciella!! Gadis itu masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak perduli selebat apapun hujan yang jatuh mengenai kaca mobilnya, yang ia inginkan adalah cepat sampai dirumahnya. Bahkan ia mengabaikan dering ponsel yang berkali kali berbunyi dan puluhan pesan yang masuk kedalam ponselnya.


" BERISIK." teriak Grace lalu mematikan ponselnya. Ia bahkan melempar ponsel itu ke belakang tanpa perduli ponsel itu rusak atau tidak.


Flashback on...


Grace dan keluarganya baru saja mengantar bu imah dan pak Rohim untuk pindah kerumah panti. Setelah melakukan berbagai bujukan agar kedua orang tua angkat itu tetap tinggal dirumahnya, akhirnya Grace dengan berat hati merelakan kedua orang tua angkatnya itu untuk pindah ke rumah panti.


Grace yang saat itu mengendarai mobilnya sendiri membelokkan mobilnya ke Kafe yang waktu itu ia tempati untuk bekerja. Tujuannya ia hanya ingin bertemu dengan rekan kerjanya dulu. Namun kening Grace berkerut saat melihat mobil yang sangat tidak asing baginya. Ia turun dari mobil dan melihat nomor plat mobil itu dan ternyata benar dugaannya, jika Daffin berada di Kafe ini, karena pemilik mobil itu adalah calon suaminya sendiri.


" Ngapain dia disini?" gumam Grace.


Dengan jantung yang berdebar lebih kencang, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam Kafe. Tidak lupa ia memakai masker agar tidak ada yang mengetahuinya. Grace mengedarkan pandangannya mencari sosok calon suami yang tiba tiba berada di Kafe yang sama.


Mata Grace memanas saat ia melihat Daffin dengan seorang perempuan dan terlihat mereka sangat akrab. Keduanya bahkan tertawa lepas layaknya sudah lama tidak bertemu.


Dengan dada naik turun dan tangan mengepal, ia menghampiri Daffin dan wanita itu.


" Siapa dia?" ucap Grace saat sudah berdiri disamping meja Daffin. Ia bahkan berucap dengan nada dingin dan tatapan yang datar.


Wanita itu diam karena tidak tau siapa wanita yang berdiri di samping Daffin karena Grace masih menggunakan maskernya.


Namun tidak untuk Daffin, ia sudah mengenal betul suara wanita yang tak lain adalah calon istrinya.


" S-sayang." Daffin berdiri dengan gugup. Ia yakin sekali jika Grace akan salah paham setelah ini.


" SIAPA DIA?" bentak Grace dengan suara yang cukup keras. Bahkan banyak pengunjung yang menoleh padanya.


" A-aku bisa jelasin. Dia cuma teman aku yank, kita gak sengaja bertemu." Daffin mencoba memegang tangan Grace, namun di tepis kasar olehnya.


" BASI." ucap Grace lalu pergi meninggalkan Daffin.


" Sayang tunggu." Daffin berjalan cepat menyusul Grace.


Grace berhenti dan berbalik menatap Daffin dengan tatapan tajam. " Berhenti dan jangan ikuti aku. Atau kamu akan menyesal." Hardik Grace dengan mata yang memancarkan kekecewaan.


" Sayang please, aku bisa jelasin."


" DIAM." bentak Grace.


Kini keduanya menjadi pusat perhatian pengunjung. Suara Grace yang keras membuat semua pengunjung mengalihkan perhatian mereka.


" Sayang aku mohon, kamu harus dengerin penjelasan aku dulu." Daffin terlihat sangat frustasi. Ia tau jika Grace saat ini tengah marah padanya.


" Aku bilang diam, Diam. Kamu udah mulai bohong sama aku." ucap Grace dengan nada yang masih datar.


" Sayang kamu salah paham, please lah jangan kayak anak kecil begini. Dia cuma temen aku waktu kuliah dulu dan gak sengaja ketemu disini." Daffin mengacak rambutnya frustasi. Ia mencoba memegang tangan Grace namun Grace menjauhkan tangannya.


" Kayak anak kecil? kamu bilang aku kayak anak kecil? Kalau begitu jangan menikah dengan anak kecil kayak aku." ucap Grace lalu ia melangkah pergi meninggalkan Daffin, namun sebelum itu Daffin sudah mencekal tangan Grace dan menarik tubuh Grace kedalam pelukannya.


buugghh...


Grace mendorong kuat tubuh Daffin hingga laki laki itu terjatuh di atas lantai.


" Jangan cegah atau ikuti aku. Kalau kau benar benar melakukan itu. Jangan harap kau bisa bertemu denganku." ucap Grace lalu bear benar pegi meninggalkan Daffin.


" GRACE." teriak Daffin. Ia mengacak rambutnya frustasi menatap kepergian calon istrinya.


Dengan wajah kusut ia kembali ke mejanya.


" Jadi itu tadi calon istri kamu?" tanya wanita itu yang bernama Alicia. Daffin mengangguk sebagai jawaban.


" Kamu yakin mau menikah dengan gadis yang sifatnya masih ke kanak kanakan gitu?" ucapnya membuat Daffin menatapnya dengan tatapan datar.


" Gak usah munafik deh Daf, kamu sendiri tadi bilang dia masih kayak anak kecil. Dia aja gak mau dengerin penjelasan kamu dulu kan?" Alicia dengan santai menyedot minumannya.


" Sekarang dia pasti sangat marah sama aku." ucap Daffin dengan suara pelan.


" Mau aku bantu jelasin sama dia? Aku jadi gak enak sendiri." tawar Alicia.


" Nanti aku hubungi kamu kalau aku butuh bantuan, sekarang aku pergi dulu.." ucap Daffin diangguki Alicia.


Kemudian Daffin pergi meninggalkan Alicia sendiri.


Flashback off...


Kini mobil Grace sudah memasuki halaman rumahnya. Ia turun dari mobil dan langsung berlari masuk kedalam rumah. Ia bahkan mengabaikan panggilan mamanya yang berada di ruang tengah bersama suami dan kedua putranya yaitu Zay dan Devan.


" Ada apa dengan Grace?" ucap Luna menatap suami dan kedua putranya.


" Kalau gak salah tadi kak Grace nangis deh ma." sahut Devano. Ia melihat Grace yang berlari sambil menyeka air matanya.


Tanpa banyak bicara Zay langsung berdiri dan berlari menyusul Grace kedalam kamar.


Luna dan Reyhan menatap Devano dan yang di tatap hanya mengangkat bahunya.


" Biar pawangnya yang turun tangan." ucap Devano dibalas gelengan kepala oleh mama papanya.


Tookk..tookk...tookk..


" Grace ini gue Zay." ucap Zay namun Grace belum kunjung membuka pintunya.


Zay mencoba membuka pintu itu dan ternyata tidak di kunci oleh Grace.


" Grace." panggil Zay saat melihat Grace tidur tengkurap. Tak ada sautan dari Grace, ia masih tetap dalam posisinya.


" Lu kenapa?" Zay sudah duduk di tepi ranjang sambil mengusap punggung Grace yang bergetar.


" Jawab gue Grace." ucap Zay karena Grace masih diam. Grace perlahan membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk duduk.


" Kenapa?"


" Tadi gue lihat Daffin sama wanita lain di Kafe. mereka berdua kelihatan akrab." jawab Grace yang semakin terisak.


" Lu udah tanya siapa wanita itu?"


" Dia bilang temennya."


" Yaudah berarti wanita itu temennya bang Daffin."


" Mana ada temen akrabnya kek gitu? Lu gak lihat sih gimana akrabnya mereka saat di Kafe tadi." kesal Grace karena Zay tidak membelanya.


" Lu udah dengerin penjelasan bang Daffin belum?" tanya Zay di balas gelengen oleh Grace.


" Gue terlanjur kecewa sama dia."


" Bodoh." Zay menoyor kepala Grace membuat sang empu menatapnya kesal.


" Harusnya lu dengerin dulu. Lu udah mo nikah sama dia, jangan kayak anak kecil begini deh." ucap Zay membuat kedua mata Grace melotot sempurna.


" Lu sama aja kayak Daffin deh, ngatain gue kayak anak kecil. Gue bukan kayak anak kecil ya, tapi gue paling gak suka milik gue di sentuh orang lain." ucap Grace dengan nada ngegas.


" Mending lu keluar deh Zay, gue lagi pengen sendiri dulu." ucap Grace mendorong bahu Zay.


" Dengerin gue dulu." Zay menahan tubuhnya namun Grace semakin kuat mendorong.


" Gak mau. Lu keluar sekarang karena gue pengen sendiri." ucap Grace yang akhirnya berhasil mendorong tubuh Zay keluar. Setelah itu ia menutup pintunya dengan keras dan menguncinya.


Grace duduk di atas ranjangnya, ia menyalakan ponselnya dan ternyata puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan yang masuk kedalam ponselnya.


Ternyata Daffin terus mencoba menghubungi Grace agar gadis itu mau mendengarkan penjelasannya.


Grace mendengus kesal lalu kembali mematikan ponselnya.


Ia memilih masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan air hangat untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.


.


.


.


.


.


🌻