
" Sayang? cincin pernikahan?" gumam Vero saat mendengar percakapan keduanya.
Sementara itu Grace dan Zay mengawasi Vero dari kejauhan.
Mereka khawatir jika Vero akan berbuat yang tidak tidak.
" Gue inget sekarang, bukankah tuh cewek yang tabrakan sama gue kemaren di rumah sakit?" ucap Grace mengingat wajah wanita yang sedang bersama Daffin.
" Iya lu bener, gue masih ingat wajahnya.
Tapi kenapa dia pakek kursi roda? bukannya kemarin dia bisa jalan?" sahut Zay dengan raut wajah bingung.
" Gak tau, mungkin dia lagi sakit." jawab Grace.
Tak lama kemudian Vero kembali menghampiri keduanya.
Dengan raut wajah kesal vero menarik tangan Grace untuk pergi dari mall ini.
" Vero lepasin, ada apa sih?" tanya Grace yang tangannya di tarik oleh Vero.
" Kita balik sekarang, lo gak akan percaya apa yang gue lihat dan gue denger." ucap Vero terus menarik tangan Grace.
" Emang ada apa?" sahut Zay yang mensejajarkan jalannya dengan Grace.
" Kita bahas di mobil." jawab Vero.
Mau tak mau Grace dan Zay kembali lagi ke mobil dan pergi meninggalkan mall.
" Sekarang lo kasih tau kita, ada apa sebenarnya." ucap Grace yang sudah penasaran.
" Jauhin pak Daffin, dia gak pantes buat lo." ucap Vero menoleh ke belakang karena Grace duduk sendiri di belakang.
" Maksud lo apa nyuruh gue jauhin pak Daffin? gue gak akan jauhin dia." jawab Grace dengan kesal.
" Dia gak pantes buat lo grace, dia cuma kasih harapan palsu doang sama lo." geram Vero.
" Gue gak ngerti sumpah."
" Cewek itu kekasihnya pak Daffin dan mereka akan menikah. Puas lo." ucap Vero membuat Grace membulatkan matanya.
Sedangkan Zay cukup terkejut dengan apa yang vero katakan.
" JANGAN BERCANDA VERO." teriak Grace maju kedepan mencengkram kuat kerah leher Vero.
" Grace lepasin." tegur Zay.
" Dia bohongin gue Zay, bercandaan dia gak lucu." ucap Grace yang enggan melepaskan tangannya.
" LEPASIN." bentak Zay seketika membuat Grace melepaskan cengkramannya.
" Gue gak bercanda Grace, gue denger dan lihat pakek mata dan telinga gue sendiri.
Cewek itu panggil Daffin sayang, dan dia juga nunjukin cincin yang akan dia pakek di hari pernikahannya nanti." ucap Vero.
Dada grace terasa begitu sesak, tenggorokannya terasa begitu tercekat seperti ada orang yang sedang mencekiknya.
Sakit.. itulah yang dirasakan Grace sekarang.
Orang yang di cintainya justru akan menikah dengan orang lain.
Memberikan harapan seakan menaruh perasaan yang sama pada dirinya.
Bodoh!!! Kenapa harus jatuh cinta pada orang yang salah?
Kenapa harus jatuh cinta sama orang yang sudah mempunyai pasangan?
Kenapa laki laki itu menyuruhnya menunggu?
Banyak pertanyaan yang ada di benak Grace tentang sikap Daffin selama ini.
Grace terdiam, lidahnya seakan keluh untuk mengucapkan sebuah kata.
Bahkan ia menahan air matanya agar tidak keluar begitu saja.
Zay menepikan mobilnya, ia menyuruh Vero menggantikan posisinya untuk menyetir.
Sedangkan ia pindah ke belakang untuk menenangkan Grace.
Grace membalas pelukan Zay dan menumpahkan air matanya tanpa bersuara.
" Nangis aja, gue tau apa yang lu rasain." ucap Zay mengusap punggung Grace.
Grace tidak menjawab, ia semakin mengeratkan pelukannya.
Mobil terparkir mulus di halaman rumah, Grace, Zay dan Vero turun dan masuk kedalam rumah.
Zay menuntun Grace masuk kedalam kamarnya di ikuti Vero.
" Kak Grace kenapa?" tanya Elvano saat berpapasan di tangga.
Ia melihat Grace yang sedang menangis.
" ssstt... mending lu main game aja sono." sahut Vero.
ia meneruskan langkahnya menuju kamar Grace.
" Kak grace kenapa ya?" gumam Vero, ia mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan langkahnya menuju Dapur.
" Gak usah nangis lagi Grace, orang kayak Daffin gak pantes buat lu tangisin, buang buang tenaga aja." sahut Vero yang mendudukkan bokongnya di sofa.
Grace mendongakkan kepalanya menatap Vero.
" Seenggaknya dia bilang kalau udah punya tunangan, Seenggaknya dia bilang kalau dia mau nikah. seenggaknya dia nyuruh gue buat ngejauhin dia.
Kenapa dia malah nyuruh gue nunggu dia? kenapa sikap dia seolah dia punya perasaan sama kayak gue." ucap Grace.
air matanya kembali lolos begitu saja.
" Gue sakit hati bukan karena dia akan menikah, tapi karena dia ngebiarin gue jadi cewek bodoh yang berharap cinta dari seorang yang udah punya pasangan." sambungnya menunduk dalam.
" Semua kesedihan dan masalah yang lu hadapi saat ini sebenernya akan mengarahkan lu ke arah yang lebih baik.
Rasa sakit yang lu rasakan saat ini adalah sebuah bentuk pendewasaan diri.
kedepannya lu bisa lebih berhati hati menjatuhkan hati lo pada cowo yang benar benar tepat.
Lu bisa lebih teliti dalam memilih cowo dari segi manapun." Sahut Vero.
" Tak ada yang tau hidup seseorang itu seperti apa?
Kalau Daffin nyuruh lu nunggu dia padahal dia sudah punya pasangan, itu berarti ada yang tidak beres dengan hubungannya.
Kita tidak tau hati orang dan masalah orang seperti apa?
Tapi gue juga gak terima sodara gue dipermainkan kayak gini.
Saatnya lu buang jauh jauh harapan lu, gue tau Daffin orang pertama yang bikin lu jatuh cinta.
tapi rasa cinta lu sama dia dari awal udah salah." tutur Zay sambil mengusap punggung Grace.
Grace mengarahkan pandangannya pada Zay dan berganti pada Vero.
Ia merangku keduanya dan mereka saling berpelukan.
" Gue sayang sama kalian, makasih udah selalu ada buat gue." ucap Grace.
Ia teramat bersyukur mempunyai saudara seperti Zay yang selalu ada di saat apapaun dan kapanpun.
" Jangan nangis lagi, lu jelek kalau nangis." sahut Vero mengusap air mata Grace.
" Issshh.. bilang gue jelek gue nangis lagi nih." ucap Grace cemberut dan membuat kedua laki laki tampan itu terkekeh dan menggelitiki Grace.
" Ampun Zay, ver.. ampun.. udah geli..." seru Grace saat Zay dan Vero menggelitikinya tanpa ampun.
.
.
.
.
TBC