My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
31.



Grace menghela napasnya, ia masih berdiri di tempat menimbang keputusan yang baru saja ia ambil.


Hatinya berkecamuk, terlanjur mengiyakan tapi dirinya masih ragu.


" Temui beliau, seleseikan masalah kalian. Gue tau di dalam hati kecil lo, lo ingin tau penjelasannya." sahut Naya menepuk bahu Grace.


" Masalah tidak akan selesei jika lo ngehindar, lo temui pak Daffin kasih dia waktu buat ngejelasin semuanya sama lo." sahut Grizzelle.


Grace menatap Naya dan Grizzele bergantian, ia tersenyum lalu memeluk keduanya.


Bersyukur ia mempunyai sahabat dan saudara yang selalu mengerti dan selalu ada untuk dirinya.


" Gue pergi dulu." ucap Grace diangguki Naya dan Grizzele.


Grace melangkahkan kakinya ke ruangan Daffin tanpa ragu.


Sesampainya di depan pintu ruangan Daffin grace berdiam sejenak, ia berkali kali menarik napasnya setelah itu mengetuk pintu.


tookk..ttookk.took..


" Masuk."


Grace membuka pintu dan masuk keruangan Daffin.


Tanpa di duga olehnya, Daffin langsung memeluk tubuh Grace hingga membuat grace membulatkan matanya.


" Pak lepasin saya, bapak bilang cuma mau bicara sama saya." ucap Grace dengan terus memberontak.


Daffin tidak memperdulikannya, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.


" Pak lepasin atau saya akan teriak." ancam Grace.


" Saya mohon grace diamlah, biarkan saya memeluk kamu sebentar." pinta Daffin.


" Tidak bisa pak, ini salah, bapak sudah punya calon istri." ucap Grace, ia terus menerus memberontak.


Meskipun ini yang ia inginkan tapi tidak dengan calon suami orang.


" Pak lepasin."


" Saya sayang sama kamu Grace." satu kalimat yang keluar dari mulut Daffin mampu membuat Grace terdiam.


Matanya membelalak, Ia mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari mulut Daffin.


Sayang? satu kata beribu makna namun tidak mampu Grace artikan.


Sayang yang bagaimana yang Daffin maksud? Kenapa laki laki ini terus mempermainkan hatinya.


Ya Tuhan, bukan cinta seperti ini yang Grace inginkan, bukan calon suami orang yang Grace mau.


Grace mendorong kuat tubuh Daffin hingga membuat Daffin mundur beberapa langkah.


Grace menatap lekat wajah Daffin, sungguh Grace tidak mengerti apa yang ada di pikiran Daffin saat ini.


Grace tersenyum getir, dadanya terasa sesak.


Mata Grace mulai berkaca kaca dan tenggorokannya tercekat.


" Bukan kalimat itu yang ingin saya dengar, Bukankah kalimat itu sangat hina untuk bapak lontarkan pada saya? saya hanya ingin mendengar penjelasan sikap bapak kepada saya, saya hanya ingin mendengar penjelasan bapak kenapa saya disuruh menunggu sedangkan bapak sendiri akan menikah.


Kenapa bapak terus mempermainkan hati saya?


Kalau saja dari awal bapak bilang bapak sudah mempunyai tunangan, saya tidak akan jatuh cinta kepada bapak sedalam ini.


Bapak orang pertama yang membuat saya jatuh cinta, tapi bapak juga yang mempermainkan hati saya." ucap Grace menunduk.


Air matanya lolos begitu saja tanpa ia minta.


Daffin maju dua langkah lalu menarik Grace kedalam pelukannya.


Grace tidak memberontak, ia semakin terisak dalam dekapan Daffin.


Daffin mengerti apa yang dirasakan oleh Grace, tapi sungguh bukan niat Daffin untuk mempermainkan hati Grace.


Semuanya harus dijelaskan secara detail agar Grace mengerti.


" Maafkan saya Grace, saya tidak bermaksud mempermainkan hati kamu." ucap Daffin sambil mengusap kepala Grace.


" Kamu tidak akan mengerti bagaimana sulitnya di posisi saya.


Kamu tidak akan mengerti bagaimana terpuruknya saya dengan situasi seperti ini.


Saya butuh kamu Grace, saya butuh kamu di hidup saya bukan wanita itu." ucap Daffin.


Ia mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam aroma tubuh Grace yang menenangkan.


Grace melepas pelukannya ia mendongakkan kepalanya menatap dalam manik mata daffin, grace bisa melihat kejujuran di dalam mata Daffin


" Kenapa bapak bicara seperti itu? Kenapa bapak tidak memikirkan perasaan saya?


Bapak butuh saya tapi bapak akan menikah dengan orang lain.


Bapak ingin hati saya bertambah hancur?" ucap Grace, air matanya terus berjatuhan.


" Bukan maksud saya seperti itu Grace, saya ingin kamu mengerti saya dan tidak menjauhi saya. Saya butuh support kamu Grace."


Grace tersenyum miris, bukankah ini namanya egois?


Daffin ingin dimengerti namun dirinya sendiri tidak mau mengerti perasaan Grace.


" Bapak sadar gak apa yang bapak ucapkan barusan? Bapak sadar gak kalau disini bapak yang egois?


Bapak ingin saya mengerti keadaan bapak, tapi bapak tidak mau mengerti keadaan saya, perasaan saya dan bagaimana hancurnya hati saya saat ini.


Bapak egois tau gak." ucap Grace lalu pergi meninggalkan ruangan Daffin.


Daffin menjambak rambutnya frustasi, memang dia egois.


Ia hanya ingin Grace mengertinya dan menemaninya dalam menghadapi masalahnya.


Daffin merebahkan tubuhnya di sofa, pikirannya sangat kacau dan kepalanya sangat pusing.


Semoga satu saat nanti Grace akan mengerti semua ini.


**


Grace berjalan cepat menuju parkiran, ia bahkan mengabaikan panggilan Naya dan Grizzele yang mengikutinya.


Grace masuk kedalam mobil, ia memukul dan membenturkan kepalanya ke stang mobil.


Marah, kesal, kecewa, sedih bercampur jadi satu.


kenapa laki laki itu sangat egois? kenapa laki laki itu menjadikan Grace wanita paling bodoh?.


Grace tidak habis fikir oleh pikiran Daffin.


Ia berjanji pada dirinya sendiri jika ini adalah terakhir kalinya ia dan Daffin berbicara empat mata.


Namun takdir kedepan siapa yang tau. ( kan gue penulisnya. wlee.)


Ponsel Grace berdering, terterana nama Elvano yang menghubunginya.


" Ada apa el?"


" Kakak kerumah sakit sekarang, Devan habis jatuh dari motor." ucap Elvano dengan panik.


" Jangan bercanda ya el, bukankah jam segini kalian di sekolah."


" Kita udah pulang kak, udah pokonya kakak kesini sekarang, rumah sakit keluarga kita." ucap Elvano lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Grace di buat kalang kabut, adeknya begitu ceroboh.


Inilah salah satu alasan ia tidak ingin Devan di belikan motor.


Karena devan sendiri belum pandai banget mengendari motor, apalagi motor yang ia pakai motor yang berukuran besar.


Grace mengubungi Zay dan Vero agar menyusulnya kerumah sakit.


Sama halnya dengan Grace, Zay juga begitu panik saat mendapat kabar jika Devan masuk rumah sakitDengan segera Zay dan Vero melesat kerumah sakit.


.


.


.


.


Nanti aku akan up 2 bab lagi.