
Daffin dan Grace masih setia dengan posisi mereka.
Meskipun Kaki Daffin sedikit kram, namun ia tidak ingin memindahkan Grace dari pangkuannya.
Mereka masih betah dalam kegiatannya, beruntung kaca mobil mereka gelap jadi tidak ada yang tau jika ada orang di dalam mobil yang sedang melepas rindu.
Hanya ciuman dan tidak lebih. Karena Keduanya masih waras untuk melakukan hal yang lebih dalam lagi.
Keduanya terlalu larut dalam ciuman mereka hingga Daffin mengabaikan beberapa panggilan yang masuk kedalam ponselnya.
" Kamu angkat dulu, siapa tau penting." ucap Grace yang lebih dulu melepas ciuman mereka.
ia sedikit risih karena ponsel Daffin terus saja berdering.
Daffin mendengus kesal karena kegiatannya terhenti.
Ia mengambil ponsel itu lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
" Jika kamu menelfonku tidak ada hal yang penting, ku pastikan nyawamu akan hilang hari ini." geram Daffin.
Grace yang mendengar itu hanya geleng geleng kepala. Dari dulu kekasihnya ini tidak pernah berubah, selalu saja marah jika ada yang mengganggu kegiatannya.
" ini gue Zay bang." ucap Zay membuat Daffin menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera di ponselnya.
" Zay? sorry tadi gue gak lihat dulu." ucap Daffin merasa tidak enak hati.
Grace yang mendengar nama Zay seketika merubah wajahnya menjadi sendu. Ia juga sangat merindukan Zay, Devan dan seluruh keluarga besarnya.
Tapi jika sedikit orang yang tau jika dirinya masih hidup, akan lebih baik.
" Ada apa Zay?"
" Kabar baik apa yang lu maksud bang?" tanya Zay saat membaca pesan yang dikirim Daffin tadi.
" Kabar baik--" Daffin menggantungkan ucapannya dan menatap Grace yang sedang menggelengkan kepalanya, yang artinya jangan kasih tau Zay dulu.
" Ah, nanti saja. Temui gue di apartemen, gue gak bisa ngomong disini sekarang." ucap Daffin.
" Lu selalu buat gue penasaran, yaudah nanti gue akan ke apartemen lu sama Kiran." ucap Zay.
" Yaudah gue tutup dulu telfonnya." ucap Daffin setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya.
" Kenapa hm?" ucap Daffin setelah menaruh kembali ponselnya.
" Aku kangen sama Zay, mama, papa, Devan dan keluarga aku yang lain." jawab Grace menundukkan kepalanya.
" Kalau begitu kembalilah, mereka pasti akan senang lihat kamu masih hidup." ucap Daffin namun Grace menggeleng lemah.
" Tidak sekarang mas, aku---"
Daffin menarik tengkuk Grace dan kembali menciumnya, ia tidak ingin Grace meneruskan ucapannya.
" Aku tau maksud kamu, sekarang kamu ikut aku ke apartemen." ucap Daffin membuat Grace membolakan matanya.
" Kamu gila? bukannya Zay mau ke apartemen kamu?"
" Sudah ikuti saja kataku."
" Tapi--"
" Mau aku cium lagi?" Grace sudah menutup mulutnya dan menggeleng cepat.
" bibir aku dah bengkak, kamu gak lihat apa?" Grace mengerucutkan bibirnya, lalu ia turun dari pangkuan Daffin.
" Yaudah kita jalan sekarang." ucap Daffin namun Grace mencegah lengannya.
" Kenapa?"
" Nanti kamu anterin aku balik kan? aku gak mau membuat bu imah sama pak Rohim khawatir." ucap Grace diangguki Daffin.
" Iya sayang, nanti aku anterin kamu." ucap Daffin setelah itu ia menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan banyak sekali yang mereka ceritakan dan Daffin pun tidak melepas genggaman tangan Grace barang sedikitpun.
Kini hatinya benar benar bahagia, akhirnya ia bisa dipertemukan kembali dengan kekasihnya.
**
Kini Daffin dan Grace sudah berada di dalam apartemen. Grace langsung menuju kamar Daffin untuk membersihkan diri, begitupunn dengan Daffin. Ia memakai kamar mandi lain untuk dirinya mandi.
Tak lama setelah itu bel apartemen Daffin berbunyi, dengan segara Daffin membuka pintu apartemen dan mendapati Zay dan Kiran yang berdiri di depan pintu.
" Silahkan masuk." ucap Daffin mempersilakan keduanya untuk masuk.
" Kok lu udah pulang bang? bukannya lu masih di kantor kalau jam segini?" tanya Zay yang sudah mendudukan bokongmya di sofa bersama Kiran.
" Gue bosnya jadi suka suka gue kalau mau pulang kapanpun." ucap Daffin membuat Zay memutar bola matanya malas.
" to the point aja, kabar apa yang lu mau kasih ke gue? kalau lu ngibul, gue lempar lu ke kandang lexa." ucap Zay membuat Daffin menatapnya datar.
" Lu dah siap dengan kabar yang akan gue kasih ke lu ini?" tanya Daffin basa basi.
" Jangan bikin gue penasaran deh bang! sebenernya kabar apaan sih?" Zay menatap Daffin dengan kesal.
" SAYANG KELUARLAH." teriak Daffin dan bersama itu Grace muncul dari balik pintu kamar.
Zay dan Kiran berdiri dengan wajah terkejutnya, mereka memandangi tubuh Grace dari atas hingga bawah.
Setelah itu Zay langsung berlari dan menabrak tubuh Grace hingga membuat Grace sedikit terhuyung kebelakang.
" Ini beneran lu kan dek? ini gue gak mimpi kan?" Tangis Zay seketika pecah, ia tidak menyangka jika Daffin menemukan keberadaan saudara kembarnya ini.
" i-iya, gue Grace Zay." Grace membalas pelukan Zay. Ia juga menumpahkan seluruh air matanya. Melepas rasa rindu yang sudah lama ia tahan.
Zay semakin mengeratkan pelukannya, menciumi kedua pipi dan Kening Grace tanpa ampun.
Empat bulan tidak bertemu, membuatnya termat rindu dengan saudara kembarnya ini.
" Lu selama ini kemana dek? lu gak tau gimana sedihnya keluarga kita saat kehilangan lo, gimana frustasinya kita mencari keberadaan lo." Zay semakin mengeratkan pelukannya. Ia sangat bersyukur karena Grace masih hidup dan kini telah kembali.
" Maafin gue bang, sekarang gue baik baik saja. Jadi kalian gak usah khawatir." Grace melepas pelukannya.
Ia menghapus air mata Zay lalu tersenyum kecil.
" Gue kangen lu dek, kangen banget. Gue mohon jangan pergi lagi." Zay kembali memeluk tubuh Grace yang semakin kurus. Ia benar benar rindu dengan Grace.
Sama halnya dengan Zay, Kiran juga ikut menangis karena Grace sudah kembali dalam keadaan masih hidup. Tapi satu yang mengganjal pikirannya, bagaimana kalau Grace tau jika dirinya dan Zay sudah menikah?.
" Kiran? lu gak kangen sama gue?" sahut Grace menatap Kiran yang berdiri mematung di belakang Zay.
" Gue baik baik aja kok, gue seneng bisa lihat wajah kalian lagi." ucap Grace.
" Apa lu nggak ingin kasih tau Grace tentang status kalian." sahut Daffin menatap Zay dan Kiran.
" Maksud kamu apa?" Grace menatap Daffin dengan kening berkerut. Bukankah status Zay dan Kiran sudah tunangan? namun sedetik berikutnya ia membulatkan matanya.
" J-jangan bilang---"
" Kami sudah menikah Grace." ucap Zay dengan hati hati. Ia tau jika setelah ini Grace akan marah besar padanya. Begitupun Kiran, wanita itu justru semakin menundukkan kepalanya. Ia takut Jika Grace tidak menerimanya.
prookk..prookk..prrookk..
" Bagus sekali kalian berdua, mengadakan pernikahan tanpa ada gue. KALIAN BENER BENER TEGA TAU GAK?" ucap Grace dengan suara meninggi.
" Grace bukan maksud gue--"
" Apa? bukan maksud lo apa? APA KALIAN BENER BENER NGANGGEP GUE UDAH MENINGGAL. SODARA MACEM APA LO." sarkas Grace menatap tajam keduanya.
" Sayang, tenangkan diri kamu." ucap Daffin merangkul Grace agar wanita itu bisa tenang.
" Grace aku minta maaf, sungguh kita---"
" DIAM LO." bentak Grace menatap tajam Kiran.
" Grace dia sodara ipar lo." sahut Zay yang tidak terima karena Grace membentak istrinya.
" Masih berani lo bicara?" Grace menatap Zay dengan tajam. Kiran sudah meneteskan air matanya dan begitu pun dengan Zay, ia tidak menyangka jika Grace akan semarah ini padanya.
Zay tau jika dirinya salah, namun ini sudah menjadi keputusannya untuk segera menikahi Kiran disaat Grace masih belum di temukan. Dan ini sungguh di luar ekspetasinya melihat Grace yang tengah marah saat mengetahui dirinya sudah menikah.
" Grace, gue dan Kiran bener bener minta maaf. Gue tau gue salah, tapi ini udah jadi keputusan gue. Gue minta maaf Grace." Zay menatap Grace dengan mata berkaca kaca. Ia tidak ingin Grace marah dengannya apalagi ini adalah peetemuan pertama mereka setelah Grace menghilang. Ia tidak ingin di benci oleh saudara kembarnya sendiri.
ppffttt.. bahahahhahaha...
" ya ampun kalian lucu banget sih?" Grace meledakkan tawanya setelah berhasil mengerjai Zay dan Kiran.
" Kamu gak marah?" tanya Kiran dibalas gelengan oleh Grace. Ia bahkan tidak bisa menghentikan tawanya saat melihat ekspresi wajah Zay dan Kiran saat ini.
Zay mendengus kesal lalu menggelitiki tubuh Grace tanpa ampun.
" Ampun Zay.. ampun." Grace semakin tertawa keras saat tubuhnya di gelitiki oleh Zay dan Kiran.
" Gak ada kata ampun buat lo." Zay dan Kiran semakin gemcar menggelitikinya.
" Udah woey,, ini geli banget sumpah."
" Rasain, siapa suruh kamu ngerjain aku sampe kayak gitu?"
" Iya, iya maaf. Tapi please udah, gue gak kuat lagi."
Akhirnya Zay dan Kiran melepaskan Grace begitu saja dan Grace langsung berlari bersembunyi dibalik tubuh Daffin.
" Wleeee.. Kasian deh lo." Grace meledek Zay dan Kiran sambil menjulurkan lidahnya.
" Udah dong sayang, kamu ini demen banget jahilin orang." ucap Daffin lalu mereka kembali duduk.
" Aku bemeran minta maaf ya Grace, karena kita berdua menikah disaat kamu belum ditemukan. Sungguh aku sudah berbicara sama Zay jika pernikahan kita ditunda saja sampai kamu benar benar sudah di temukan." jelas Kiran yang masih merasa tidak enak hati. Meskipun kemarahan Grace tadi hanya bercanda tapi ia tau jika dalam hati Grace benar benar kecewa.
" Gapapa, gue ngerti kok. Gue seneng akhirnya Zay bisa memiliki pendamping kek lu." ucap Grace tersenyum manis.
Kecewa? tentu saja. Tapi dirinya tidak boleh egois, karena bagaimanapun ini adalah kebahagiaan Zay.
Sudah menjadi rencana Zay untuk menikahi Kiran setelah acara lamaran malam itu, jadi ia tidak heran jika Zay mempercepat hari pernikahan mereka.
" Kalau gitu cepet kasih gue ponakan yang lucu lucu. Gue pengen cepet cepet jadi aunty." ucap Grace antusias.
" Kami menundanya Grace." sahut Zay membuat kedua alis Grace bertaut.
" Kenapa?"
" Besok pagi Kiran akan kembali ke jerman untuk meneruskan kuliahnya." jawab Zay mrmbuat Grace dan Daffin terkejut.
" Jadi kalian akan melakukan LDR disaat status kalian udah sebagai suami istri?" tanya Grace diangguki keduanya.
" Kalian yakin?" tanya Grace menatap Kiran dan Zay bergantian.
" Insyaallah kami yakin." jawab Zay.
" Yaudah, gue doain yang terbaik buat kalian berdua." ucap Grace.
Kini keempat orang itu larut dalam obrolan panjang dan saling melepas rindu.
Grace juga bilang jika dirinya belum bisa kembali ke rumah karena ingin mencari bukti tentang kasus kecelakaannya waktu itu.
Awalnya Zay menolak, namun mendengar alasan Grace akhirnya ia mengizinkannya dengan catatan, mereka harus sering sering bertemu.
Tak terasa hari sudah hampir malam, Grace meminta Daffin untuk mengantarkannya kembali pulang.
Zay yang ingin ikut mengantar, namun Grace menolaknya.
ia tidak ingin terlalu banyak yang tau dimana rumah yang selama empat bulan ini ia tempati.
" jaga diri lu baik baik, kalau butuh apa apa segera hubungi gue." ucap Zay sambil memberikan ponselnya pada Grace untuk memudahkannya berkomunikasi.
" thanks. inget ya, jangan kasih tau keluarga kalau gue masih hidup. Gue janji akan secepatnya dapat bukti itu dan akan segera kembali ke kularga kita." ucap Grace memeluk erat tubuh Zay.
" Iya bawel."
" Yaudah gue balik dulu. Bye." Grace masuk kedalam mobil Daffin setelah itu Daffin melajukan mobilnya.
.
.
.
.
.
Kalau gak ada halangan nanti aku up satu chapter lagi.
thanks yang udah komen, like dan vote
i love you..💜❤️