
Zay memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya untuk meyusul kiran ke jerman.
Beruntung kedua orang tuanya mengerti dan mengizinkannya untuk pergi.
Zay mengetuk pintu kamar Grace, setelah itu Grace membukanya.
Grace mengerutkan dahinya, ia melihat penampilan Zay dari atas hingga bawah dan melihat koper di tangan kirinya.
" Mau kemana?" tanya grace malas, ia menyenderkan tubuhnya di gawang pintu sambi bersendekap dada.
Ia masih malas untuk bertemu dengan Zay.
" Gue mau pamit nyusul Kiran ke Jerman." jawab Zay dengan wajah datarnya.
" Gak usah ngadi ngadi, emang mama sama papa ngizinin lo?" ucap Grace yang kembali berdiri tegak.
" Udah, tadi gue udah izin sama mereka dan mereka ngizinin gue. Bahkan gue disuruh buat pakek pesawat pribadi grandpa." jawab Zay, Grace manggut manggut.
" Gue seneng akhirnya lo sadar siapa wanita yang memang pantas untuk lo perjuangkan.
Gue gak ngelarang lo buat ketemu sama Olive, tapi setidaknya lo harus sadar jika Kiran adalah kekasih lo yang harus lo prioritaskan.
Perjuangkan cinta lo karena kini saatnya lo yang harus berjuang." tutur Grace tersenyum manis.
Grace memeluk tubuh Zay dengan erat, ia sedikit menyesal telah menampar Zay dengan sangat Keras.
Karena bagaimanapun Zay adalah saudara kembarnya.
" Thanks Grace, berkat lo dan Vero gue sadar siapa yang harus gue perjuangkan." ucap Zay membalas pelukan Grace dengan erat.
" Sama sama, jaga diri lo baik baik selama di sana.
Kabari gue terus dan sampaikan salam gue untuk Kiran." ucap Grace diangguki Zay.
" Abang mau kemana?" sahut Devan saat melihat Zay memegang koper di tangannya.
" iya bang, kok pakek bawa koper segala?" sahut El.
" Gak usah minggat juga kali Zay, segitu frustasinya lo di tinggal kiran." Cibir Vero padahal ia tau jika Zay akan pergi menyusul Kiran ke jerman.
" Berisik sekali kalian ini. Gue mau ke jerman nyusulin Kiran, kalian bertiga jagain Grace jangan sampe nih anak kenapa napa." ucap Zay sambil mencubit pipi Grace.
" Gue udah gede, tanpa di jagain pun gue bisa jaga diri sendiri." sahut Grace mencebikkan bibirnya.
" Karena diantara kita berlima cuma lo doang yang cewek, jadi udah sepantasnya kita semua jagain lo." sahut Vero.
" Serah kalian dah." jawab Grace memutar bola matanya malas.
" Gue pergi dulu, jaga diri kalian baik baik." Ucap Zay memeluk Grace dan mencium keningnya.
Ia juga memeluk Devan, Vero dan El bergantian.
" Hati hati, jaga diri lo baik baik dan jangan lama lama." ucap Vero diangguki Zay.
" Zay..." panggil Grace saat Zay sudah sampai di tengah tangga.
" Apa?"
" Jangan Khilaf ya, inget tidurnya terpisah atau lo pesen hotel sendiri aja." peringat Grace.
Hanya ada dua kemungkinan untuk Zay tinggal di jerman, antara tinggal di apartemen Kiran atau tinggal di hotel.
tapi melihat tampang Zay ia pasti memilih tinggal di apartemen Kiran.
" Kalau bisa sekamar kenapa harus terpisah." jawab Zay menjahili Grace.
Ia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan teriakan Grace.
" Apa lo bilang?" ucap Grace saat berhasil mengejar Zay dan menjewer telinga Zay.
" Canda doang elah, gue masih tau batasan." jawab Zay melepas tangan Grace sari telinganya.
" Awas aja lo sampe Khilaf, gue suruh papa nyoret nama lo dari kartu keluarga." ancam Grace membuat Zay memutar bola matanya malas.
" Bawel banget sih? Dah ah gue berangkat dulu." ucap Zay mengacak rambut Grace hingga berantakan.
" Hati hati bang." ucao Devan, Zay mengacungkan jempolnya dan mengangguk.
Baru dua langkah ia berjalan, dering ponselnya berbunyi.
Ia mengambil ponselnya di saku dan melihat nama yang menghubunginya.
Zay tidak mengangkatnya, ia hanya menatap ponsel itu dengan wajah bingung.
" Ada apa? siapa yang telfon elo?" sahut Grace saat Zay tidak mengangkat panggilannya.
" Tante Ranti." jawab Zay, wajahnya terlihat jelas jika ia sedang bingung.
Tidak mau ambil pusing, Grace merampas ponsel Zay lalu mengambil kartu sim milik Zay lalu menyimpanya kedalam saku.
" Grace, kenapa kartu gue lu copot? kalau gue hubungin kalian gimana?" sahut Zay saat Grace melepas kartu simnya.
" Gue yakin lo gak akan jadi pergi kalau lo nerima panggilan dari wanita itu." ucap Grace dengan datar.
" Lagian lo bisa ngabarin kita pakek nomornya kiran." sambung Grace.
Zay mengangguk pasrah, emang benar apa yang di katakan Grace.
Olive akan terus menghubunginya dan akan memintanya untuk menemaninya.
" Sekarang kita berangkat ke bandara, pesawat lo pasti udah nunggu " ucap Grace.
" Kita?" ulang Zay.
" Gue, Vero, devan dan El akan nganterin lo ke bandara. Gue gak mau nanti lo malah nyeleweng pergi kerumah sakit bukan ke bandara" jawab Grace lalu mendorong tubuh Zay masuk kedalam mobil di ikuti Vero, devan dan El.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di bandara.
disana sudah ada pesawat pribadi milik Ricko lengkap dengan pilot dan pramugari yang menunggu kedatangannya..
" Lo udah tau alamat apartemen kiran kan?" tanya Vero diangguki Zay.
" Udah, tadi gue udah minta ke tante Sita." jawab Zay.
" baguslah, jadi sampai sana lo bisa bikin kejutan buat kiran." sahut Grace.
" Nanti gue bilang sama mereka buat hubungin lo ke nomor Kiran. Lo hati hati, jaga diri baik baik." ucap Grace.
Zay kembali memeluk kiran dan mencium keningnya.
Ia juga kembali memeluk devan, vero dan el bergantian.
" Semangat Zay, semoga sukses." teriak Grace saat Zay menaiki tangga pesawat.
Zay mengacungkan jempolnya lalu melambaikan tangannya.
Tak lama setelah itu, akhirnya pesawat lepas landas.
" Cinta orang dewasa serumit itu ya? penuh perjuangan banget." celetuk Devan sambil menatap pesawat yang di tumpangi Zay perlahan terbang tinggi.
" Makanya lu harus tetep berjuang buat dapetin Freya, buat hatinya luluh dan bisa nerima lo di hidupnya." sahut Grace merangkul Devan.
" Tuh anak hatinya terbuat dari batu kali ya, keras banget buat di lelehin." gerutu Devan mengingat susahnya untuk meluluhkan hati Freya.
" Suatu saat pasti akan luluh juga." sahut El merangkul pundak Devan.
Mereka berempat berjalan menuju mobil dan segera pulang.
Didalam mobil grace menatap luar jendela, entah kenapa ia merindukan dosen tampannya itu.
Sehari tidak bertemu membuat rindu didadanya menyeruak begitu saja.
Bagaikan memiliki telepati yang kuat, tiba tiba ponsel Grace berdering.
Grace melihat ponselnya dan matanya berbinar saat melihat nama Daffin tengah mengubunginya.
Tanpa menunggu lama ia mengangkat panggilan itu.
" Iyaaa hallo." sapa Grace dengan gugup.
..." Kamu dimana?" ...
" Dijalan mau pulang, kenapa?"
..." Aku di depan rumah kamu sekarang." jawab Daffin membuat Grace membulatkan matanya....
" jangan bercanda kamu, ngapain malem malem kerumah." ucap Grace sedikit panik, ia menoleh ke arah Vero yang mengerutkan dahinya.
..." Aku nggak bercanda, Cepat pulang aku tunggu." jawab Daffin lalu mematikan sambungan teleponnya....
" Siapa yang kerumah kak?" sahut Devan yang duduk di belakang bersama Elvano.
" Mas Daffin, dia ada didepan rumah sekarang." jawab Grace. Ia senang namun ia juga gugup.
" Dosen lu itu?" sahut Vero diangguki Grace.
" Lo masih berhubungan dengannya?" tanya Vero dengan alis berkerut. Bukankah Grace sudah tau jika Laki laki itu akan menikah? kenapa masih berhubungan dengan lelaki itu?.
" Nanti gue akan cerita semuanya." jawab Grace karena mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kediaman rumahnya.
Grace melihat mobil Daffin yang terparkir di halamannya, ia segera turun lalu menghampiri mobil daffin.
" Maaf menunggu lama, aku baru aja nganterin Zay ke bandara." ucap Grace saat Daffin turun dari mobil.
" Gapapa, nih buat kamu." seru Daffin sambil memberikan sebuah paperbag pada Grace.
" Ini apa?" tanya Grace sambil membuaka paperbag itu.
" Coklat?" Gumam Grace dengan mata berbinar.
Daffin membawakan begitu banyak macam coklat untuk Grace, ia tahu jika wanita di hadapannya ini sangat suka camilan yang berbau coklat.
" Kok tau kalau aku suka coklat?"
" Apa sih yang aku gak tau tentang kamu." jawab Daffin sambil menoel hidung Grace.
" isshh kamu mah." sahut Grace malu malu.
" Aku pulang dulu ya."
" Haaa? pulang?" ulang Grace dengan muka cengo.
" Iya pulang, ini udah malem juga." jawab Daffin yang sudah membuka pintu mobil.
" Kesini cuma ngasih ini doang?" ucap Grace dengan wajah sedikit kesal.
Ia berharap Daffin masuk dan menemaninya meski hanya sebentar.
" iyalah emang apa lagi." jawab Daffin dengan wajah polosnya namun terlihat menyebalkan bagi Grace.
" Ohh.. yaudah pulang sana." usir Grace mendorong tubuh Daffn agar masuk kedalam mobil.
Daffin tersenyum, ia tau apa yang diinginkan oleh Grace.
Daffin memeluk erat tubuh Grace dan mencium pucuk kepala Grace.
" Besok kita bisa bertemu di kampus." ucap Daffin
" Yaudah kamu hati hati dijalan." Grace melepas pelukannya, Daffin mencium kening Grace lalu masuk kedalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah grace.
Grace menatap kepergian mobil daffin setelah itu ia beranjak masuk kedalam ruma yang disambut tatapan datar oleh Vero.
" Jelaskan." ucap Vero menatap datar Grace.
Ia tidak bodoh mengartikan kedekatan Grace dan Daffin.
Ia melihat semua apa yang di lakukan Daffin pada Grace, dan Grace tidak menolaknya.
Dengan terpaksa Grace menceritakan semuanya pada Vero, dan beruntungnya Vero bisa mengerti.
Namun tetap saja Vero masih was was jika Daffin hanya memanfaatkan Grace demi lepas dari pernikahan yang tidak diinginkannya.
.
.
.
...Semangat berjuang Zay 💪🏻...