My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
66.



Kemoterapi merupakan pengobatan kanker yang efektif dan terbukti mampu menyelamatkan jutaan jiwa. Namun di baik itu, kemoterapi juga memiliki efek samping yang beragam.


Efek samping dari kemoterapi bisa berbeda pada tiap orang, termasuk tingkat keparahannya. Efek samping ini dapat muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat.


Efeknya, sel sehat yang berada di sekitar sel kanker dapat ikut rusak dan menimbulkan sejumlah efek samping, seperti Rambut rontok, nyeri, mual, muntah, sesak napas dan masih banyak lainnya.


Seperti yang dialami Olivia saat ini setelah melakukan kemoterpai, ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Merasa mual dan juga muntah meskipun yang ia muntahkan hanyalah cairan bening.


Sesak napas dan juga rambut semakin rontok.


Zay dan Kiran terus berada disamping Olivia, tak jarang Zay juga memberikan perhatiannya pada Olivia.


Sedatar datarnya sikap Zay saat ini, ia tidak tega melihat wanita yang dulu dicintainya menderita seperti ini. Kiran yang melihat itu tidak marah atau kesal sama sekali, ia justru ikut membantu Olivia semampunya karena ia sendiri masih dengan keadaan seperti itu.


" Mau muntah lagi?" tanya Zay dibalas gelengan oleh Oliv.


" Aku gak sanggup hidup seperti ini Zay, aku udah gak kuat. Semua ini menyakitkan untukku." ucap Oliva dengan air mata yang membasahi pipinya.


" Jangan bicara seperti itu Liv, kita berdua yakin kalau kamu bisa lewatin ini semua, kami yakin kamu pasti sembuh." sahut Kiran menggenggam tangan olivia.


" Kamu gak pernah ngerasain gimana sakitnya setelah kemoterapi Ran, kamu gak pernah ngerasain gimana penyakit ini menggerogoti tubuhku." isak Olivia semakin dalam. Tak ada yang mengerti bagaimana perjuangannya melawan penyakit ganas ini, bagaimana dirinya ingin menyerah dan ingin mendahului takdirnya.


" Kita memang tidak mengalami apa yang kamu derita saat ini, tapi kami hanya bisa ngasih kamu semangat untuk sembuh, untuk hidup. Kamu masih punya banyak orang orang yang menyayangi kamu, mendoakanmu agar sembuh dari penyakitmu. Karena support dan doa adalah hal utama yang kamu butuhkan saat ini." tutur Zay.


" Termasuk kamu?" sahut Olivia menatap dalam manik mata Zay.


" Aku memang menyayangimu, tapi bukan berarti aku masih cinta sama kamu. Aku sudah memiliki Kiran di hidup aku, wanita yang selalu ada saat kamu pergi ninggalin aku gitu aja. Aku harap kamu mengerti itu Olivia." ucap Zay dengan tegas.


Olivia tersenyum getir, Zay sudah mengakui perasaanya pada Kiran di hadapannya sendiri.


Ini semakin membuatnya tidak ingin hidup lebih lama lagi. Satu satunya laki laki yang menjadi semangatnya kini lebih memilih sahabatnya sendiri dari pada dirinya yang jelas jelas lebih membutuhkannya.


" Bukan maksud aku menghianati persahabatan kita Liv, hanya saja takdir yang mempersatukan aku dan Zay disaat kamu pergi ninggalin kita tanpa kabar sedikitpun. Kamu juga tau sendiri aku lebih dulu menyukai Zay dari pada kamu, tapi aku memilih mengalah merelakan Zay bersama kamu. Aku merelakannya karena kamu sahabat terbaikku. Maafkan aku Olivia "sahut Kiran membuat Olivia menoleh padanya.


" Kamu udah ingat semuanya?" tanya Oliv saat mendengar ucapan Kiran.


" Ingatannya sudah pulih sejak semalam, makanya kami berdua kesini untuk memeriksa kondisinya." sahut Zay.


" Syukurlah kalau ingatan kamu sudah pulih kembali, aku ikut seneng dengernya." ucap olivia tersenyum tipis.


" Aku ke kantin sebentar untuk beli minuman buat kamu." ucap Zay sambil mengusap kepala Kiran, Kiran mengangguk lalu Zay keluar ruangan meninggalkan Kiran dan Olivia.


" Kiran." Olivia mengenggam tangan Kiran lembut.


" Kamu butuh sesuatu?" tanya Kiran diangguki Olivia.


" Apa? biar aku ambilkan." jawab Kiran namun tangannya di pegang erat oleh Olivia.


" Aku butuh Zay." ucap Olivia membuat Kiran menatap dalam manik mata Oliv.


" Kiran aku tau saat ini aku egois, aku tau kalau Zay adalah milik kamu saat ini. Tapi aku jauh lebih membutuhkan Zay saat ini Ran. Aku butuh Zay buat semangat hidup aku, buat nemenin aku di masa sulit seperti sekarang. Jadi aku mohon Ran, izinkan Zay untuk memberikan sedikit waktunya untuk nemenin aku. Maafkan aku kalau aku bener bener egois." ucap Olivia dengan air mata yang terus berjatuhan.


" Dari dulu aku sering mengalah sama kamu, membiarkan orang yang aku suka kamu rebut begitu saja Karena kamu tau kelemahan aku adalah sulit mengungkapkan perasaanku. Padahal jelas jelas kamu tau perasaanku bagaimana waktu itu. Aku membiarkan hatiku terluka setiap melihat kamu bersamanya. Aku selalu mendengarkan cerita bahagia tentang kamu dan dirinya tanpa kamu tau bagimana sakitnya aku. Disaat kamu membagi keluh kesahmu aku selalu mencoba menjadi pendengar yang baik dan memberikan solusi terbaik yang aku punya.


Aku merelakan diriku sendiri terluka karena aku menganggap kamu adalah sahabat terbaikku.


Jadi untuk saat ini biarkan aku menjadi seseorang yang Egois, mempertahankan kekasihku untuk tetap bersamaku. Bukan aku tidak kasihan sama kamu, aku begini karena aku ingin kamu mengerti, ada atau tanpa Zay kamu harus semangat hidup. Masih ada mama papa kamu yang selalu ada untu kamu. Mereka mengharapkanmu, mendoakanmu agar kamu bisa sembuh dan bertahan hidup. Karena kamu satu satunya putri mereka. Kamu seharusnya bisa bayangin bagaimana terpukulnya mereka jika kamu pergi dari kehidupan mereka untuk selamanya.


Kamu satu satunya harta terindah mereka, jadi kamu harus semangat buat ngelawan penyakit kamu dan sembuh." ucap Kiran panjang lebar.


" Maafkan aku karena harus berkata seperti ini sama kamu, maafkan aku karena kali ini aku egois sama kamu. Aku pamit pulang, semoga kamu cepat sembuh." lanjutnya lalu mendorong kursi roda itu keluar ruangan Olivia.


" Kiran, kiran tunggu." teriak olivia namun tidak di hiraukan oleh Kiran.


Zay yang saat itu berjalan kembali keruangan Olivia melihat Kiran keluar kamar. Ia berlari dan menyusul Kiran yang mendorong kursi rodanya sendiri.


" Sayang." panggil Zay membuat Kiran menghentikan dorongannya.


" Sayang kamu kenapa?" tanya Zay saat melihat Kiran yang berlinang air mata.


" Aku mau pulang." jawab Kiran sambil mengusap air matanya.


" Baiklah kita pulang sekarang." ucap Zay namun tangannya di tahan oleh Kiran.


" Kenapa?" tanya Zay.


" Temani Olivia, aku bisa pulang sendiri." jawab Kiran.


" Kamu sudah gila, aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri. Kita pulang sama sama." ucap Zay dengan tegas.


" Olivia sendrian di ruangannya." ucap Kiran.


" Nanti aku akan menghubungi tante Ranti untuk secepatnya kembali kerumah sakit." jawab zay yang tidak mau ambil pusing, ia tidak akan menjadi bodoh untuk kedua kali karena lebih mementingkan Olivia dibanding kekasihnya sendiri.


" Kita pulang sekarang, mama juga udah nyuruh kita secepatnya pulang karena anak anak masih disana sekarang." ucap Zay lalu mendorong kursi roda kiran menuju mobilnya.


.


.


.


.


Semoga gak error lagi nih aplikasi biar bisa up lagi entar. 😔