My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
107.



Liburan part 1....


.


.


.


.


.


.


Satu minggu setelah acara pertunangan kemarin, seluruh keluarga Wijaya mengadakan acara liburan bersama. Semua sahabat Luna beserta putra putri mereka pun ikut dalam liburan kali ini, tak terkecuali juga sahabat Grace dan Zay. Semakin banyak orang akan semakin seru, begitu Grace berucap.


Kali ini mereka memilih Lombok untuk dijadikan destinasi liburan mereka. Karena pulau Lombok dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terindah di Indonesia. Panorama alam di sana begitu mempesona seakan tidak ada tandingannya.


Pulau Lombok yang berlokasi di Nusa Tenggara Barat yang dulunya tak banyak yang tahu kalau Pulau itu begitu indah.


Kini Pulau Lombok telah menjelma menjadi destinasi wisata yang sangat populer, baik itu di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara, bahkan wisatawan manca negara lebih dulu mengexplore keindahan Pulau Lombok.


oke skip...


Kini seluruh rombongan sudah berada di bandara, mereka akan menggunakan pesawat pribadi untuk keberangkatan mereka menuju Lombok.


Lumayan banyak barang yang mereka bawa karena mereka akan menginap disana sekitar 5 hari.


Satu persatu orang kini menaiki tangga pesawat dan mulai menduduki kursi masing masing.


Seperti biasa mereka akan duduk bersama pasangan mereka masing masing, kecuali bagi yang merasa jomblo. Mereka akan duduk sendiri atau dengan yang lain.


Seperti saat ini, Zay tengah duduk sendiri menatap luar jendela. Liburan kali ini bukan membuat di senang justru ia merasa sedih karena tidak bisa merasakan liburan bersama istrinya. Harusnya Kiran berada disini dan ikut merasakan bahagianya liburan bersama.


Tapi wanita itu berada di negara lain untuk melanjutkan pendidikannya.


Rindu? sudah pasti. Suami mana yang tidak rindu saat berhubungan jarak jauh dengan sang istri, apalagi mereka baru saja menikah.


Zay memilih memejamkan matanya dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya.


" Aku ke Zay sebentar ya." ucap Grace pada Daffin.


" Hmm." Daffin mengangguk sambil mengusap kepala Grace.


Grace berdiri lalu berjalan kedepan menghampiri Zay yang tengah memejamkan matanya sambil mendengarkan musik.


Grace duduk disamping Zay lalu melepas satu earphone miliknya dan memasangkan di telinganya.


" Kenapa?" Zay menoleh pada Grace yang duduk disampingnya.


" Apanya?"


" Kenapa lu kesini?"


" Emang gak boleh gue duduk disini?"


" Bang Daffin?"


" Gue udah bilang sama dia." ucap Grace, Zay tidak menjawab dan memilih memejamkan matanya lagi.


" Buka gak mata lu?" ucap Grace membuat Zay membuka matanya dan menatap Grace malas.


" Apa lagi?"


" Harusnya lu gak usah ikut, mending lu ke jerman aja samperin istri lu." Grace menyandarkan kepalanya di bahu Zay. Ia sangat mengerti perasaan Zay saat ini.


Sangat berat berhubungan jarak jauh dengan sang istri apalagi keduanya baru saja menikah.


" Dia ngejar deadline, makanya gue gak mau ganggu." jawab Zay menghela napas panjangnya.


" Lagian lu napa izinin dia kembali kesana sih? Lu suaminya, lu berhak ngelarang dia buat kuliah lagi disana." ucap Grace sedikit kesal.


" Gue yang suaminya aja baik baik aja tuh, napa jadi lu yang kesel." jawab Zay sambil mengacak rambut Grace.


" Gue gapapa." ucap Zay tersenyum dan mampu membuat Grace semakin kesal.


" Heh pak jamal, gue hidup sama lu bukan sebulan dua bulan ya? Kita udah hidup sama sama selama 21 tahun, jadi gue udah hapal betul suasana hati lu tuh kayak apa. Gak usah sok bilang gapapa kalau dalam hati lu menyimpan luka." Grace menegakkan tubuhnya dan menatap Zay dengan datar.


" Lu bisa bohongin orang lain tapi lu gak bisa bohongin hati lu sendiri dan ngebohongin gue. Inget itu." lanjutnya dengan tatapan datar.


" Gue terlanjur janji sama mertua gue kalau gue bakal ngizinin Kiran melanjutkan kuliahnya disana." ucap Zay membuat Grace menghela napasnya.


Susah memang kalau sudah begitu ceritanya, tidak ada cara lagi selain menunggu pendidikan Kiran selesei dan kembali lagi ke indonesia.


" Lu udah mohon sama Kiran?" Zay menggeleng sebagai jawaban.


Memang dirinya tidak pernah memohon, karena ia yakin jika dirinya memohon pada Kiran, saat itu juga Kiran akan membatalkan kepergiannya.


" Kenapa?"


" Karena gue Zay." jawab Zay terkekeh.


" Gak nyambung jamal." kesal Grace menabok pelan bahu Zay.


" Udahlah gak usah dibahas lagi. Mending lu balik ke laki lu sono, gue mau tidur." ucap Zay sambil mendorong pelan bahu Grace.


" Gue menghilang aja lu cariin, giliran gue ada disini aja di usir usir. Ciihh awas aja lu." ucap Grace yang sudah berdiri namun tangannya di cekal oleh Zay.


" Apa lagi." Grace menatap Zay dengan kesal.


Tanpa menjawab Zay menarik tangan Grace agar duduk kembali. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Grace lalu memejamkan matanya.


" Bener apa kata lu, gue gak bisa bohongin diri gue sendiri kalau sebenarnya gue gak rela jauh sama istri gue." ucap Zay.


" Aplagi dengan suasana seperti ini, gue semakin kangen sama dia. Bukannya menikmati liburan, justru gue kepikiran sama istri gue. Disini gue liburan, sedangkan disana dia ngejar deadline." sambungnya dengan suara lirih.


" Lu masih ada waktu buat kesana, setelah pesawat ini sampai di lombok, lu bisa minta izin sama papa mama buat nyusulin istri lu ke jerman." saran Grace namun Zay menggeleng lemah.


" Gue udah bilang, gue gak mau ganggu dia. Jadwal dia disana lagi padet padetnya. Lu tau kan hubungan suami istri kek gimana kalau udah ketemu?" jawab Zay membuat Grace menggetok kepalanya.


" Mesum mulu sih otak lu."


" Namanya juga udah sah." ucap Zay dengan acuh.


" Yaudah lah terserah lu, masih ada gue dan yang lain. Jadi gak usah ngerasa sendiri." ucap Grace dan Zay mengngguk kecil.


" Gue balik ke laki gue dulu." ucap Grace yang sudah berdiri.


" Mentang mentang dah punya laki, gue di tinggal." cibir Zay membuat Grace benar benar geram.


" Sabar grace, sabar." gumamnya sambil mengelus dada.


" Lu gak bakal ngomong gini kalau Kiran ada disini, lagian masa iya gue biarin dia duduk sendiri."


" Terus lu ngebiarin sodara kembar lu duduk sendiri gitu?" ucap Zay membuat Grace semakin kesal.


" Mending lu ikut gue, kita duduk bertiga disana." geram Grace.


" Terus gue duduk dimana?


" Lesehan dibawah." ucap Grace setelah itu berjalan kembali ketempat duduknya.


Zay mendengus kesal lalu memilih memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


Sorry ya guys kalau ceritanya makin lama makin ngebosenin 🙏🏻