My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
110.



Last Day of holiday...


.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari terakhir keluarga Wijaya dan yang lain melakukan liburan. Kembali ke Jakarta dan kembali melakukan aktifitas seperti sebelumnya.


Selama liburan ini banyak sekali tempat tempat indah yang mereka kunjungi dan itu akan menjadi cerita serta pengalaman tersendiri yang tak akan pernah mereka lupakan.


Liburan bersama orang orang terkasih seperti ini tidak hanya bersifat sebagai penghilang stres ataupun untuk menjauh dari hiruk pikuk kota, namun juga menjadi waktu yang berharga untuk membangun ikatan yang kuat satu sama lain.


Karena dengan hal sederhana ini sebuah hubungan akan semakin dekat layaknya sebuah keluarga.


__


Kini semua orang sudah duduk di bangku pesawat. Mereka akan langsung terbang ke Jakarta dan meninggalkan pulau Lombok.


Berat rasanya harus mengakhiri acara liburan kali ini, apalagi masih banyak tempat yang ingin mereka kunjungi. Karena Lombok merupakan salah satu pulau yang memiliki ragam wisata terkhusus dengan kekayaan alamnya yang mengagumkan.


Tak butuh waktu lama kini pesawat mereka sudah mendarat di bandara Soekarno - Hatta.


Semua orang menuruni tangga pesawat dengan koper di tangan masing masing.


__


" Back to reality." Gumam Grace dengan suara sedikit keras. ia merenggangkan otot tubuhnya karena lelah.


" Rasanya pengen liburan terus, masih pengen ngejelajahi tempat tempat indah kayak kemaren." Rengek Naya bak seorang anak kecil.


" Andai besok belum masuk kuliah, gak bakalan mau pulang gue." sahut Grizzele dengn wajah kusutnya.


" Ckkk.. Kenapa besok udah sekolah sih? Gue masih pengen liburan juga." decak Devano yang juga sedikit kesl karena liburan telah usai.


"Gak usah sekolah aja sekalian. Lagian nanti kalau ada waktu lagi kita bisa liburan lagi. Sekarang kembali ke aktivitas masing masing. Dan gak usah banyak ngeluh." sahut Luna yang merasa jengkel mendengar keluhan anaknya.


" Iyaa maa." Devano menunduk pasrah saat mendengar omelan mamanya.


" Mampus kan lu kena semprot tante luna." bisik Freya sambil cekikikan.


" Seneng banget tuh mulut kalau udah ngetawain lakinya? Beneran minta gue khilaf nih?" Devan menaik turunkan alisnya membuat Freya berdecak kesal.


" Tabok lu ya." kesal Freya lalu menjauhi Devan dan bergabung dengan kedua orang tuanya.


Mereka semua pun akhirnya masuk kedalam mobil jemputan dan pulang kerumah masing masing.


__


Grace dan keluarganya kini telah tiba di kediamannya. Kedatangan mereka di sambut baik oleh kedua orang tua angkat Grace yaitu Pak Rohim dan bu Imah. Keduanya memang tidak ikut dalam liburan kali ini, padahal Grace dan yang lain sudah merengek meminta mereka untuk ikut. Tapi mereka tetep kekeh untuk tidak mau ikut. Alasanya mereka tidak berani naik pesawat. Jadilah mereka hanya berdiam diri di rumah.


" IBU.. BAPAK." teriak Grace berlari mendekati pak Rohim dan bu Imah lalu memeluk keduanya.


" Bagaimana liburan kamu sama keluarga?" tanya Bu imah setelah Grace melepas pelukannya.


" Seru banget. Tapi harusnya lebih seru kalau ibu sama bapak ikut kita." ucap Grace lalu Zay dan Devan mengangguk menyetujui perkataan Grace.


" Lain kali kalian harus ikut sama kami. Saya dan istri saya selalu kepikiran sama kalian." sahut Reyhan.


" Maaf nak Reyhan, tapi ada yang perlu bapak bicarakan sama istri bapak." ucap Pak Rohim membuat Semuanya saling pandang.


" Sebaiknya kita masuk dulu." ucap Luna lalu semua masuk kedalam rumah.


Semua orang kini telah duduk di ruang tamu. Reyhan yang duduk disamping Luna dan Grace duduk di apit oleh Devan dan Zay. Sementara itu pak Rohim dan bu Imah duduk di kursi lain dengan sedikit rasa gugup. Terlihat dari keduanya yang menunduk dengan tangan yang saling bertaut.


" Katakan!! ada apa?" Reyhan menatap keduanya yang terlihat gugup.


" Sebelumnya Bapak dan ibu minta maaf. Bapak dan ibu ingin kembali saja ke rumah kami yang dulu. Kehidupan disini benar benar tidak cocok untuk kami berdua." ucap Pak Rohim dengan gugup.


Keduanya takut jika tidak di perbolehkan untuk kembali ke rumah mereka dulu.


" Kenapa tiba tiba?" sahut Reyhan dengan kening berkerut. Grace dan yang lain pun juga terkejut mendengar perkataan pak Rohim.


" Iya pak, kenapa?" Grace berdiri dan duduk di antara bu Imah dan pak Rohim.


" Gapapa nak, ibu dan bapak hanya ingin kembali kerumah. Kehidupan disini benar benar tidak cocok untuk kita berdua." ucap Pak Rohim.


" Gak boleh!! Kalian gak boleh pergi. Kalian harus tetap disini." Grace sudah meneteskan air matanya. Ia tidak ingin jika kedua orang tua angkat itu pergi dari rumahnya dan kembali ke rumahnya yang dulu.


" Maa.. Paaa.. " Grace menatap kedua orang tuanya dengan menggelengkan kepala. Ia ingin papa atau mamanya melarang bu Imah dan pak Rohim untuk tidak pergi dari rumah ini.


" Apa kalian tidak bisa untuk tinggal disini saja? lagian rumah kalian dulu sangat jauh dari pemukiman warga. Pasti akan sangat susah jika sesuatu terjadi pada kalian." ucap Reyhan.


" Tidak nak. Kami sudah hidup disana puluhan tahun. Jika terjadi sesuatu, kami bisa mengatasinya. Jadi ibu dan bapak sudah terbiasa." jawab bu Imah.


" Pokoknya kalian gak boleh pergi. Kalian harus tetap disini." ucap Grace lalu pergi meninggalkan semuanya menuju kamar.


Reyhan dan Luna sangat mengerti apa yang di rasakan oleh Grace. mereka tau jika putrinya sangat menyayangi orang tua angkatnya ini.


" Kalian lihat sendiri kan gimana putriku sangat menyayangi kalian? ia bahkan tidak rela jika kalian pergi dari sini. Jadi kamu mohon untuk tetap tinggal disini." ucap Luna membuat pak Rohim dan bu Imah saling pandang.


" Kami akan membujuk Grace." ucap bu Imah.


" Kenapa bapak dan ibu ingin sekali pergi dari rumah ini? apa kalian tidak betah tinggal di rumah seperti ini?" sahut Zay yang akhirnya angkat bicara.


" Bukan begitu nak Zay, kami hanya--"


" Saya mengizinkan kalian pergi, tapi tidak untuk kembali kerumah kalian dulu." sela Reyhan membuat semua orang menatapnya.


" Maksud papa?"


" Mereka akan menempati rumah anak anak panti dulu. Setelah kepergian bu Marni dan pak Marto, tidak ada yang mengurus anak anak panti kan? jadi biarkan mereka menempati rumah itu dan mengurus semua yang ada disana." ucap Reyhan.


fyi : Rumah panti yang dulu di tempati bu marni dan pak marto sekarang bertambah banyak penghuninya. Dan setelah kepergian keduanya, tidak ada yang mengurus anak anak panti disana. Jadi setelah kepergian keduanya, rumah panti itu diurus oleh bayu, caca dan kawan kawan yang kini sudah tumbuh dewasa.


" Tapi tempat itu cukup jauh pa?" sahut Grace yang turun kembali dan duduk disamping Luna.


" Seenggaknya mereka tidak kembali ke hutan, Grace." jawab Reyhan.


" Lagian kenapa papa izinin sih?" Grace dengan muka cemberut dan menyilangkan tangannya di depan dada.


" Papa membujukpun akan percuma, karena mereka sudah kekeh ingin pergi dari sini. Papa tau perasaan apa yang mereka alami saat ini. Tidak mudah untuk tinggal bersama kita, jadi kita harus mengerti perasaannya. Jika kita memaksa untuk mereka tetap tinggal disini, akan menjadi beban untuk mereka." ucap Reyhan.


" Jadi sebaiknya biarkan mereka pergi dan menempati rumah panti itu. Anak anak disana pasti akan senang mendapat orang tua baru." lanjutnya namun Grace hanya diam.


"Jadi bagaimana? kalian mau kan untuk tinggal disana? Kalian tidak usah khawatir, anak anak disana sangat menyenangkan dan juga baik baik. Kalian hanya perlu merawat mereka dan mendidik mereka." ucap Reyhan menatap keduanya.


" Baiklah, kami setuju nak. Terimakasih sudah mengerti perasaan kami." ucap Pak Rohim.


" Sama sama. Besok, kalian sudah boleh pergi kesana." ucap Reyhan diangguki pak Rohim dan bu Imah.


" Kalau begitu kami ke kamar dulu untuk siap siap." ucap Pak Rohim diangguki Reyhan dan Luna.


Keduanya pun langsung pergi ke kamar.


Grace dengan muka yang masih di tekuk langsung berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya dan sodaranya.


" Bukan kak Grace kalau gak ngambek." sahut Devano yang masih bisa di dengar Grace.


" BODOH AMAT." sahut Grace dan langsung berlari menuju kamar.


" Kami ke kamar dulu pa, ma." ucap Zay diangguki keduanya. Devano pun ikut menyusul Zay karena dirinya juga sudah sangat lelah.


.


.


.


.


.


Maaf kalau masih banyak typo 🙏🏻