My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
96.



Daffin masih setia duduk di Kafe yang sama, ia sedari tadi tidak beranjak kemanapun dan hanya melihat Grace yang wara wiri melayani pelanggan yang terus berdatangan.


Senyum yang sekian lama hilang kini telah kembali, bahkan dari tadi ia tidak berhenti senyum meskipun Grace sendiri tidak mengakui jika dirinya adalah Grace.


Karena Daffin meyakini jika orang yang mengaku Sesilia itu adalah Grace kekasihnya.


Cinta yang Daffin miliki memang begitu dalam, wajar jika dia meyakini Sesilia adalah Grace karena ia sudah hafal setiap inci wajah, suara dan postur tubuh Grace.


Diam diam Daffin menemui manager Kafe untuk meminta pelayan yang bernama Sesilia itu menemaninya.


Dia bahkan rela membayar lebih manager itu agar permintaannya di kabulkan.


Dan beruntung manager Kafe langsung mengiyakan permintaan Daffin.


" Sesilia." panggil manager Kafe itu.


Sesil yang saat itu baru saja mengantar pesanan, langsung menghampiri managernya.


" Iya pak, ada apa?" tanya Sesil dengan sopan.


" Tolong kamu temani pelanggan yang ada di meja nomor 12 itu." ucap pak manager sambil menunjuk meja yang diduduki oleh Daffin.


Deeggh..deegghh..


Jantung Sesil berdetak sangat kencang, karena itu artinya ia akan duduk berdua berhadapan dengan Daffin.


Lalu bagaimana jika dirinya keceplosan jika dia salah bicara nanti? bagaimana kalau ketauhan jika dirinya memang benar Grace? Sungguh Grace belum siap jika dirinya harus mengakui semuanya di hadapan Daffin karen ia takut jika rencananya akan gagal.


" Sesilia." tegur pak Manager karena tidak menjawab ucapannya dan justru malah melamun.


" I-iya pak." sahut Sesil gelagapan.


" Kamu bisa kan?"


" T-tapi pekerjaan di belakang sangat banyak pak, kasian rekan saya yang lain kalau harus mengerjakan pekerjaan sebanyak itu." ucap Sesil memberi alasan.


" Tidak ada alasan, kamu temani laki laki itu atau kamu saya pecat." ancamnya lalu Sesil mengangguk pasrah.


" B-baik pak, saya kan menemani dia. Kalau begitu saya permisi dulu." jawab Sesil yang akhirnya pasrah karena dirinya tidak ingin dipecat, apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja.


Sesil perlahan berjalan menuju meja yang di tempati Daffin, dalam hatinya sudah mengira jika ini memang kelakuan Daffin yang meminta pak Manager agar mau menemaninya.


Dasar kelakuan dari dulu gak pernah berubah, selalu seenak jidatnya kalau mau apa apa. gumam Grace dalam hati.


Namun tidak munafik jika dirinya juga senang karena bisa melihat wajah kekasih yang dirindukannya itu.


" P-permisi." Sesil berdiri di samping Daffin yang dari tadi bermain ponselnya.


" Grace.. Duduklah." Daffin berdiri lalu menarik kursi untuk Grace.


" Terima kasih, tapi saya bukan Grace tuan, saya Sesil. Apa anda tidak bisa membaca name tag saya." ucap Sesil sambil menunjuk name tag di dadanya.


" Aku tidak perduli nama kamu siapa, yang jelas kamu adalah Graciella, kekasih saya yang sudah lama saya cari." ucap Daffin.


Ia menggenggam tangan Grace namun Grace menariknya.


" Apa segitu miripnya saya dengan kekasih anda? Saya pikir banyak dibumi ini orang yang wajahnya hampir sama." ucap Sesil dengan tatapan datar.


" Aku tau jika memang banyak orang yang mirip di bumi ini, tapi tidakkah kamu berpikir jika orang yang aku cintai itu cuma satu dan itu adalah Graciella." ucap Daffin. Ia menatap dalam manik mata Sesil yang kini mulai berkaca kaca.


" Tapi saya Sesilia bukan Graciella." Sesil membuang muka menghadap arah lain, ia tidak kuat jika terus menerus ditatap oleh Daffin seperti itu.


Tatapan yang penuh cinta dan kerinduan.


Kalau bisa, Ingin sekali Grace memeluk tubuh Daffin dan mengungkapkan segala kerinduan yang ia tahan.


berbagai cerita yang beberapa bulan ini ia alami. Dan menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun.


Tapi ia belum bisa, ia harus menahanya hingga ia benar benar tau sendiri siapa dalang di balik kecelakaannya waktu itu.


" Tapi aku yakin jika kamu adalah Graciella, orang yang selama ini aku cari. Aku tidak mungkin tidak mengenali suara kekasih aku sendiri, dan tidak mungkin aku melupakan wajah kekasihku begitu saja meskipun penampilan kamu sekarang berubah." ucap Daffin membuat hati Grace tersentuh.


" Tatap mataku jika kamu memang bukan Graciella. Dan jika memang benar kamu adalah Sesilia, aku tidak akan mengganggu kamu lagi dan aku akan menganggap jika Graciella kekasihku sudah meninggal." ucap Daffin membuat Sesil langsung menoleh padanya.


" J-jangan?" Tanpa sadar air mata Sesil mengalir begitu saja dan itu justru membuat Daffin tersenyum, itu artinya yang dihadapan Daffin adalah Graciella.


" Jadi kamu benar benar Graciella?" Daffin menggenggam tangan Sesil dan menatap dalam manik matanya.


" B-bukan, maksud aku tadi--".


" Ssstt." Daffin meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Sesil.


" Jangan katakan apapun lagi, aku udah yakin jika kamu adalah Graciella. Kekasih dan calon istriku yang selama ini aku cari." ucap Daffin semakin membuat air mata sesil mengalir deras.


" Kamu tunggu disini sebentar." Daffin berdiri lalu menghampiri ruangan manager.


" Mau kemana? ini masih jam kerjaku." ucap Sesil menahan tangan Daffin.


" Aku sudah izin sama manager kamu." ucap Daffin lalu menarik tangan Sesil keluar dari Kafe.


Kini keduanya sudah berada dalam mobil. Daffin langsung memeluk tubuh Grace dan mencium seluruh wajah Grace tanpa terlewat sedikit pun.


Ia bahkan berlama lama mencium bibir Grace yang selalu membuatnya candu.


" Aku kangen sama kamu, kamu kemana aja selama ini? setelah kecelakaan itu aku tidak berhenti untuk mencari kamu." Daffin masih memeluk tubuh Grace.


ia sangat merindukan kekasihnya ini, hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Dimana dia dan kekasihnya dipertemukan kembali.


Sementara itu hancur sudah pertahanan Grace untuk tidak mengaku lebih dulu pada Daffin jika dirinya adalah Grace. Daffin selalu mampu membuatnya terkecoh dan tidak bisa untuk berbohong.


" Sebelumnya aku minta maaf karena aku sempat berbohong sama kamu. Aku melakukan ini karena aku ingin menyamar." ucap Grace sambil mengusap kepala Daffin. Sama halnya dengan Daffin, ia juga sangat rindu dengan laki laki ini.


" Menyamar?" Daffin melepas pelukannya dan menatap wajah Grace dengan raut wajah bingung.


Akhirnya mau tidak mau Grace menceritakan semuanya dari awal. Dimana ia di tolong dan dirawat oleh sepasang suami istri.


Ia juga menceritakan rencanya untuk mencari bukti siapa dalang dibalik ini semua.


" Untuk itulah aku menyamar dan pura pura tidak mengenal kamu." ucap Grace.


" Kali ini aku mohon, jangan kasih tau keluargaku dulu. Kamu tau sendiri seberapa besar pengaruh media pada keluargaku. Jika orang orang itu tau aku masih hidup, mereka akan mengincar nyawaku lagi." ucap Grace.


Daffin menarik Grace kedalam pelukannya. " Kamu tenang aja, kamu lupa siapa papa dan grandpa kamu?" ucap Daffin membuat Grace melepas pelukannya.


" Kamu udah tau?" tanya Grace diangguki Daffin.


" Keluarga kamu semua mafia, jadi seharusnya kamu tidak perlu takut. Mereka pasti akan menjaga kamu lebih ketat lagi."


" Enggak mas, kali ini aku ingin cari tau sendiri siapa dalang dibalik ini semua." ucap Grace.


" Kalau begitu aku akan membantu kamu." ucap Daffin membuat Grace tersenyum.


" Terimakasih mas." Grace memeluk tubuh Daffin


" Aku kangen banget sama kamu, tiap hari aku selaku mencari kamu tapi tidak menemukan tanda tanda keberadaan kamu." ucap Daffin menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Grace.


" Tapi aku juga marah sama kamu." ucap Grace membuat Daffin menatapnya.


" Kenapa?"


" Kenapa kamu tadi kesini sama Angel? kamu balikan sama dia." ucap Grace menatap Daffin sinis.


" Tidak sayang, kamu salah paham. Dia memaksaku untuk mau ikut makan siang dengannya."


" Kok kamu bisa deket lagi sama dia? apa jangan jangan selama aku gak ada kamu udah deket lagi sama dia." tuduh Grace justru membuat Daffin tersenyum.


" Hari hariku untuk mencarimu, kamu tidak lihat penampilanku sekarang seperti apa? Bahkan untuk mengurus dirirku sendiri aja aku tidak punya waktu." ucap Daffin membuat Grace menjadi iba.


Memang penampilan Daffin kali ini sangat berbeda, rambut sebahu dan bulu brewok yang tumbu cukup lebat.


" Tapi kamu masih tampan dengan penampilan seperti ini." ucap Grace.


Daffin tidak menjawab lagi, ia mendekatkam wajahnya lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Grace.


Daffin mengangkat tubuh Grace agar duduk di pangkuannya.


Dengan segala rindu yang sudah menggebu mereka pun saling melepas segala kerinduan yang selama beberapa bulan ini tertahan.


.


.


.


.


.


Gimana? Ada yang seneng gak Grace dan Daffin kembali bersatu?" 😁


Btw makasih banget yang udah like, komen dan Vote.


aku gak bisa bales komen kalian satu satu, tapi aku pasti baca kok komen kalian.


Pokoknya makasih banget udah setia sama novel ini and i love you so much.


❤️❤️❤️❤️❤️