My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
28.



Grace masih berdiam diri di dalam mobil padahal 10 menit lagi kelas Daffin akan di mulai.


Sepertinya gadis itu masih enggan untuk bertemu dengan Daffin, orang yang sudah membuatnya menjadi wanita paling bodoh.


Ponsel Grace berdering, tertera nama Naya yang sedang menghubunginya.


" Apa?" tanya Grace dengan malas.


" Lu dimana?"


" Parkiran." jawab Grace.


" Lu gila? kelas mau di mulai lu malah masih di parkiran, buruan masuk kelas sebelum pak daffin dateng." ucap Naya.


Grace mendengus kesal, padahal hari ini ia berniat ingin bolos saja.


" hm." jawab Grace lalu mematikan sambungan teleponnya.


Dengan ogah ogahan, Grace turun dari mobil dan berjalan malas menuju kelas.


Grace tidak memperdulikan jika dirinya telat dan akan di usir dari kelas, karena memang itu tujuannya.


Kelas sudah di mulai 5 menit yang lalu, Grace masih berdiam diri di depan pintu.


Ia bingung antara masuk atau tidak karena memang dirinya sudah telat.


Jika kemaren grace akan tetap masuk meskipun telat, namun kali ini berbeda, ia malas untuk masuk kelas apalagi bertemu dengan dosen yang disukainya.


Dengan perlahan Grace membuka pintu itu membuat dosen dan semua mahasiswa menoleh padanya.


" Maaf saya terlambat." ucap Grace tanpa menatap wajah Daffin.


" Kenapa kamu telat?" tanya Daffin menatap wajah Grace yang menurutnya hari ini berbeda dari biasanya.


" Kesiangan." jawab Grace datar.


Naya dan Grizzele melotot tidak percaya, kenapa Grace bohong? padahal Grace sudah datang sejak tadi, hanya saja ia masih berada di parkiran.


Daffin mengernyitkan dahinya, ada apa dengan Grace? kenapa dia cuek dan dingin sekali?.


" Kamu boleh duduk, tapi nanti ikut keruangan saya." ucap Daffin.


" Kenapa harus keruangan bapak? apa tidak bisa bicara disini?" jawab Grace menatapnya datar.


" Duduk Graciella." ucap Daffin dengan penuh penekanan.


Grace mendengus kesal, ia dengan malas berjalan menuju mejanya lalu membanting tas kemudian duduk.


Daffin dan semua orang menatapnya aneh.


Ada apa dengan Grace? pertanyaan itu yang muncul di benak semua orang karena tidak biasanya grace bersikap seperti itu dengan Daffin.


Sepanjang Daffin menerangkan materi, tidak sedikitpun Grace mendengarnya.


Ia bahkan meletakkan kepalanya di atas meja sambil mencoret coret buku.


Naya yang duduk di sebelah Grace merasa heran.


Ada apa dengan sahabatnya ini?


" Lu kenapa?" bisik Naya.


Grace menatap Naya lalu menggeleng.


" GRACIELLA APA KAMU TIDAK MENDENGARKAN SAYA?" ucap Daffin sedikit berteriak.


Grace mendongakkan kepalanya lalu menggeleng.


" Tidak, memang kenapa?" jawab Grace dengan santainya.


" Lu gila?" ucap Naya sambil mencubit pelan lengan Grace.


" Kalau gue gila, gue udah di rumah sakit jiwa bukan di kampus." jawab Grace, ia tidak memperdulikan tatapan tajam dari Daffin.


" Untuk hari ini kelas saya akhiri, dan untuk Grace ikut keruangan saya. Selamat siang." ucap Daffin sambil membereskan buku bukunya dan keluar dari kelas.


" Lu kenapa sih grace? kenapa dingin banget sama pak Daffin? lu gak kayak biasanya deh." ucap Naya.


" Iya grace, lu biasanya paling semangat kalau kelas pak Daffin, kenapa sekarang malah kayak ogah gitu sama beliau." sahut Grizzele.


" Gapapa." jawab Grace singkat, ia berdiri meninggalkan kedua sahabatnya yang menatapnya aneh.


" Grace kenapa ya? gue yakin ada yang dia sembunyiin." ucap Naya.


" Nanti kita tanya lagi kalau suasana hatinya sudah membaik, sekarang kita ikuti dia." sahut Grizzele diangguki Naya.


Grace berjalan malas menuju ruangan Daffin, jangankan untuk seruangan berdua, melihat wajah daffin di kelas saja dia ogah.


Grace membuka pintu ruangan Daffin tanpa mengetuknya.


Ia nyelonong masuk dan duduk di depan meja daffin tanpa memperdulikan tatapan tajam Daffin.


" Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu? mana sopan santun kamu grace." tegur Daffin.


Grace bangun dari duduknya lalu kembali keluar.


" Mau kemana kamu?" ucap Daffin sebelum grace memegang handle pintu.


" Katanya suruh ketuk pintu dulu, ya sudah saya mau mengulanginya." jawab Grace datar.


" Kembali kesini dan duduk." titah Daffin, ia benar benar bingung dengan sikap Grace hari ini.


Grace memutar bola matanya malas, ia kembali lalu duduk didepan Daffin.


" Ada apa.?" tanya Grace to the point.


" Saya yang harus tanya begitu, kamu ini kenapa? kenapa sikap kamu ke saya berubah seperti ini? masuk terlambat, tidak mendengarkan saya waktu di kelas, dan sekarang masuk kerungan saya tanpa mengetuk pintu lebih dulu." ucap Daffin.


" Apa perlu saya menjawab pertanyaan bapak?" jawab Grace menatapnya datar.


" Graciella." ucap Daffin dengan penuh penekanan.


" Saya masih bisa mendengar, jadi bapak tidak perlu teriak."


" Kenapa sikap kamu berubah seperti ini sama saya? apa saya punya salah sama kamu?" tanya Daffin menurunkan nada bicaranya.


Ditengah masalah yang ia hadapi justru ia sangat membutuhkan Grace untuk menghiburnya, karena hanya gadis ini yang mampu membuatnya bersemangat dan melupakan sejenak semua maslah yang dihadapinya. Namun tidak disangka jika sikap Grace hari ini berubah 180⁰ dari biasanya.


" Sikap manusia itu dinamis, seseorang bisa berubah kapan saja. Sementara relatif itu waktu, apapun yang sedang di jalani tidak ada jaminan untuk tetap sama seperti di awal.


Memahami seseorang tidak cukup satu atau dua tahun, karena seiringnya waktu seseorang bisa saja berubah.


Dan bapak tidak punya salah sama saya, saya yang salah karena mencintai bapak yang sudah mempunyai pasangan. Saya permisi." ucap Grace lalu keluar dari ruangan Daffin tanpa memperdulikan Daffin yang berteriak memanggil namanya.


Daffin menjambak rambutnya frustasi, ia tidak menyangka jika grace akan tau secepat ini.


Ia bingung dari mana Grace bisa tau?


Dan ia juga tidak tau bagaimana menjelaskan semuanya pada Grace.


Satu masalah belum selesei, timbul masalah yang lainnya.


**


" Grace." panggil Naya.


Grace menoleh kebelakang dan menaikkan satu alisnya.


" Lu gapapa kan?" tanya Naya yang sedari tadi menunggu Grave di depan ruangan Daffin.


" Gapapa, emang gue kenapa?"


" Grace lu berubah hari ini, lu cerita sama kita ada apa sebenernya?" sahut Grizzele.


" Iya, Grace yang kita kenal gak kayak gini." sahut Naya.


" Kayak gini gimana? gue tetep sama kayak Grace yang kemaren²." jawab Grace dan melanjutkan langkahnya.


" Sikap lu beda Grace!! lu dingin banget hari ini, jangan gini ah, serem tau." ucap Naya.


" Seserem seremnya gue, gue juga gak akan nyakar kalian berdua." sahut Grace.


Kini mereka sampai di parkiran.


" Lu mau kemana? kita masih ada satu kelas lagi." ucap Naya.


" Bolos." jawab Grace lalu masuk kedalam mobil dan pergi.


" tuh anak ada masalah apa sih? bingung gue." gumam Naya menatap kepergian mobil Grace.


" Biarkan dia tenang dulu, nanti kalau dah tenang baru kita tanya. Sekarang kita ke kantin aja, gue laper." sahut Grizzele diangguki Naya.


.


.


.


.


TBC.