
Angel seolah merasa terbang setelah meminum minuman yang di berikan oleh Daffin. Padahal yang diminum sama saja dengan yang diminumnya dari tadi. Namun karena Daffin sudah memasukkan sesuatu kedalam minuman itu, perlahan kesadaran Angel mulai tak terkendali.
Kini dirinya bergelayut manja dengan Daffin dan tak jarang ia berusaha memaksa duduk di pangkuan Daffin. Namun beruntung laki laki itu menolaknya secara halus, karena dibalik sofa tempat persembunyian Zay, Zay menatap nyalang kearah Daffin. Ia mengingatkan dengan bahasa isyarat agar Daffin tidak merespon Angel lebih jauh lagi, karena keduanya masih sayang nyawa saat Grace tau rekaman itu nanti.
" Kamu tau gak? aku tuh cinta banget sama kamu. Aku gak rela kamu dimiliki sama wanita lain selain aku." ucap Angel dengan kesadaran di bawah 30%.
Ia mengusap lembut pipi Daffin dan mengarahkan kepala Daffin untuk menghadapnya.
" Apa kamu serius?" Daffin menanggapinya sambil menyampirkan anak rambut kebelakang telinga Angel.
Angel menangkap pergelangan tangan Daffin dan mencium punggung tangan itu.
" Aku serius. itulah kenapa aku membuatnya celaka karena aku tidak ingin Grace memilikimu." ucap Angel dengan tawa yang renyah.
Daffin menarik napasnya dalam mencoba mengontrol emosinya, benar dugaannya jika dalang dibalik ini semua adalah Angel.
" Maksud kamu gimana? aku gak ngerti." Daffin berpura pura seolah dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Angel. Ia ingin Angel mengungkapkan semua kejahatannya sendiri dengan kamera yang sedari tadi menyorotnya.
" Aku yang menyuruh anak buahku untuk memberi pelajaran pada gadis sialan itu. Tapi semua anak buahku terlalu pintar, mereka semua memberikan pelajaran lebih pada gadis itu hingga dia memilih jalannya untuk masuk kedalam jurang." ucap Angel yang ucapannya semakin tidak terkendali.
Ia tertawa keras lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Daffin, namun justru laki laki itu mendorong pelan kepala Angel.
" Siapa anak buah kamu." Kini nada bicara Daffin sudah berubah menjadi dingin. Ia tidak lagi berkata lembut pada Angel.
" Kenapa kamu jadi dingin lagi? apa kamu marah sama aku." Angel menangkup kedua pipi Daffin dan membuat laki laki itu menghempaskan tangannya.
" Tidak, mungkin itu cuma perasaanmu saja. Katakan!! siapa anak buah kamu? sepertinya aku harus berterimakasih pada mereka." ucap Daffin disambut gelak tawa Angel.
" Iyaa.. kamu benar!! kamu harus berterimakasih kasih sama mereka. Karena mereka, gadis sialan itu sudah mati dan tidak ada lagi yang mengganggu kita berdua." Angel semakin tertawa Keras. Ia merangkul dan menyederkan kepalanya di lengan Daffin.
" Setelah ini kita akan hidup bahagia bersama tanpa ada pengganggu lagi. Iya kan?" Angel mendongakkkan wajahnya menatap wajah Daffin dengan samar samar. Perlahan pandangannya mulai buram dan akhirnya Angel tidak sadarkan diri.
Zay yang sedari tadi mendengar pengakuan Angel, mencoba untuk menahan emosinya. Ia benar benar tidak menyangka jika Angel bisa setega itu melakukan semua ini pada Grace. Ia bersumpah akan membalas semua ini lebih kejam lagi.
Setelah melihat Angel sudah tidak sadarkan diri, ia keluar dari persembunyiannya lalu menghampiri Daffin , dan tak lupa ia mengambil kamera dan memasukkannya kedalam tas.
" Dasar wanita Gila, hanya karena cinta dia bisa ngelakuin hal setega ini. Bener bener dah gak punya hati nih cewek." maki Zay. Ingin sekali ia meremas wajah wanita yang sudah tak sadarkan diri ini. Namun ia tidak setega itu menyakiti fisik wanita.
" Sabar Zay, semuanya udah terungkap. Kita serahkan saja pada pihak berwajib." ucap Daffin namun di balas Zay dengan tawa sumbarnya.
" Lu pikir akan semudah itu keluarga gue nyerahin nih cewek sama polisi? lu lupa siapa keluarga gue? mereka gak akan puas hanya dengan jeblosin nih wanita sialan kedalam penjara." ucap Zay. Emosinya yang memuncak masih bisa ia tahan, karena ia masih menghormati Daffin.
" Lalu kita apakan dia?" Daffin berdiri menatap Zay yang berekspresi datar.
" Kita bawa ke markas papa." ucap Zay.
Karena setelah itu ia yakin papa atau mamanya tidak akan memberi ampun pada wanita ini.
Biarkan kedua orang tuanya yang memberi hukuman apa yang pantas atas perbuatan yang sudah Angel lakukan pada Grace.
" Lu yakin?"
" Kenapa? apa lu masih punya rasa kasihan sama wanita gila ini?" Zay menatap Daffin dengan datar dan dibalas Daffin dengan gelengan.
" Terserah lu mau lu apain nih cewek, gue gak perduli. Yang harus gue lakuin setelah ini adalah mengajak Grace pulang dan menikahinya." ucap Daffin membuat Zay memutar bola matanya malas.
" Lu gak mikirin apa yang akan Grace lakuin setelah lihat rekaman lu yang bermesraan sama Angel tadi?" Zay tersenyum miring saat melihat raut pias wajah Daffin. Ia sudah memprediksi seperti apa kemarahan Grace nanti.
" Emang mesrah banget yaa?" Daffin menatap Zay dengan sorot mata bingung, takut, dan khawatir.
Ia juga tidak tau apa yang akan Grace lakuin padanya setelah melihat rekaman itu.
" Bukan mesrah lagi, kalian berdua tadi kek bener bener orang yang lagi bercinta." ucap Zay memanasi Daffin.
" Dahlah, kita lihat nanti. Ngomong sama lu bukannya kasih solusi malah lu buat makin panas." Ucap Daffin lalu pergi meninggalkan ruangan VIP.
" Woeeyy pak Dosen. Nih cewek gimana?" ucap Zay saat Daffin sudah membuka pintu.
" Atur sendiri, gue mau pulang." ucap Daffin membuat Zay membulatkan matanya. Ia berlari mengejar Daffin dan menarik kerah belakang kemejanya.
" Apa sih?" Daffin menatap Zay dengan kesal.
" Enak banget lu main tinggal aja. Bantuin gue bawa tuh cewek gila ke markas."
" Jangan harap lu gue bantuin lagi, kalau lu nekat pulang sendiri." ancam Zay membuat Daffin mendengus malas.
Tanpa mebalas ucapan Zay, ia memanggil dua orang yang sudah ia tugaskan sedari tadi untuk berjaga jaga.
" Iya bos." ucap Anak buah Daffin.
" Bawa cewek yang ada di dalam ruang VIP itu keluar. Ikuti mobil saya dari belakang." ucap Daffin diangguki anak buahnya.
" Siap bos." jawabnya setelah itu kedua anak buah Daffin langsung masuk kedalm ruang VIP dan menggedong tubuh Angel.
" Sejak kapan ada mereka?" tanya Zay karena dari tadi tidak melihat dua orang itu.
" Tadi gue hubungi mereka buat kesini. " jawab Daffin. Zay manggut manggut lalu setelah itu mereka masuk kedalam mobil.
Kini keduanya dalam perjalanan menuju markas Black Rose. Sebenernya Zay ingin membawa Angel ke markas Karvendal, markas grandpanya. Namun ia masih punya rasa kasihan pada Angel karena ia yakin, Ricko akan langsung menebas kepala wanita itu.
Tak lama mobil Daffin sudah tiba di markas Black rose dengan Zay yang menyetir mobilnya.
" Lu yakin ini tempatnya?" Daffin melihat sekeliling yang gelap dan minim pencahayaan. Tidak ada siapapun yang berjaga dan terlihat sangat sepi.
Bahkan menurut Daffin ini cocok untuk disebut rumah hantu.
" Yakin bang. Udah ayo turun." ucap Zay yang sudah melepas sabuk pengamannya.
Daffin ikut melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
" Bawa wanita itu masuk kedalam." ucap Zay diangguki kedua anak buah Daffin.
Mereka semua masuk kedalam dan tidak sengaja berpapasan dengan Adam dan kedua orang tuanya.
" Zay." panggil Ica saat melihat Zay masuk bersama Daffin dan anak buah yang menggendong tubuh Angel.
" Tante." Zay menyalimi tangan Ica dan Aldo.
" Itu siapa?" Aldo menujuk seseorang yang berada di gendongan anak buah Daffin.
" Angel. Dia adalah dalang di balik kecelakaan Grace." sahut Daffin membuat ketiga orang itu membulatkan matanya.
" Kamu serius?"
" Iya tante, kami sudah menemukan buktinya. Untuk sementara biar wanita itu ada disini dulu. Jaga dia dan jangan sampai kabur." ucap Zay diangguki Ica dan Aldo.
" Apa Grace masih hidup?" sahut Adam.
" Dia masih hidup, besok atau lusa kita akan membawanya kembali kerumah." jawab Daffin.
Ketiganya mengucap syukur dan saling berpelukan. Ia tidak menyangka jika Grace benar benar masih hidup.
" Jangan kabari mama atau siapapun dulu. Biar besok Zay dan bang Daffin ngasih kejutan sama mereka semua" ucap Zay diangguki ketiganya.
" Baiklah. tante tidak akan kasih tau siapa siapa dulu. Tante yakin mama papa kamu pasti akan sangat senang."
" Pasti. Kalau begitu Zay sama bang Daffin pamit pulang dulu. Tolong kalian jaga wanita itu baik baik, jangan sampai kabur." ucap Zay.
" Kamu tenang saja, kami pasti menjaga wanita itu. Kalau begitu kalian hati hati dijalan." ucap Aldo lalu Zay dan Daffin pamit pulang di ikuti kedua anak buah Daffin.
.
.
.
.
.
Akhirnya..
Lega gak semuanya udah terungkap? 😁