
Grace menggeliatkan tubuhnya saat seseorang mengusap pipinya. Ia membuka mata dan mendapati Daffin tengah berbaring menghadap ke arahnya sambil tersenyum manis.
" Akhirnya bangun juga." ucap Daffin yang berhasil mengusik tidur Grace yang nyenyak.
" Jam berapa?" tanya Grace dengan suara khas bangun tidur.
"Jam 6 sore, ayo aku antar pulang. Tadi Zay menelfon kamu katanya ada makan malam bersama di restouran." ucap Daffin.
Bukannya segera bangun, Grace malah memeluk tubuh Daffin dan menyusupkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
Daffin membalas pelukan Grace dan mengeratkannya.
Ingin rasanya ia segera menikahi gadis yang tengah di peluknya ini dan menjadi ibu dari anak anaknya.
" Ayo bangun, keluarga kamu pasti udah nungguin kamu." ucap Daffin lalu Grace melepas pelukannya.
" kamu ikut kan?" tanya Grace yang sudah membangunkan tubuhnya dan bersandar pada headboard ranjang.
" Aku pulang aja setelah nganterin kamu." jawab Daffin membuat Grace mengerucutkan bibirnya.
" Kirain mau ikut. Yaudah aku cuci muka dulu setelah itu anterin pulang." ucap Grace diangguki Daffin.
Grace turun dari ranjang menuju kamar mandi, sedangkan Daffin mengemasi barang barang Grace.
***
Mobil Daffin berhenti tepat di halaman rumah utama keluarga wijaya. Daffin menoleh kearah Grace yang sedari tadi tertidur pulas. Mungkin grace benar benar merasa lelah sehingga selama perjalanan ia tertidur.
" Sayang udah sampe." ucap Daffin mengusap lembut pipi Grace.
Grace membuka matanya dan melihat sekitar. " Ooh.. udah sampe ya? cepet banget." gumam Grace sedikit menggeliatkan tubuhnya.
" Kalau kamu capek mending gak usah ikut. Kamu istirahat aja di rumah biar yang lain pergi sendiri." ucap Daffin yang merasa kasihan melihat wajah lelah kekasihnya.
" Lihat nanti aja. Kamu mau langsung pulang?" ucap Grace diangguki Daffin.
" Aku pulang aja, lagian aku juga udah capek banget." jawab Daffin, grace manggut manggut.
" Yaudah aku turun dulu, kamu hati hati dijalan." ucap Grace diangguki Daffin.
Daffin mencium kening Grace setelah itu Grace turun dari mobil Daffin.
" Bye." Daffin melajukan mobilnya sambil melambaikan tangannya.
Grace membalas lambaian tangan Daffin setelah itu berjalan masuk kedalam rumah.
" Akhirnya yang ditunggu tunggu udah pulang juga, kemana aja sih lu? lama banget pulangnya?" sahit Vero yang melihat Grace masuk kedalam rumah.
" Ketiduran di kantornya Daffin." jawab Grace, ia mendudukkan tubuhnya di samping Reyhan dan menyandarkan kepalanya di bahu sang papa.
" Kamu kelihatannya capek banget? kalau begitu kita tunda saja acara makan malamnya." ucap Reyhan sambil mengusap kepala putrinya.
" Gak usah pa, Grace gapapa kok. Kalau gitu Grace siap siap bentar habis itu kita berangkat." ucap Grace diangguki yang lain.
***
Daffin baru saja tiba di rumahnya, ia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bercengkrama di ruang tengah.
" Malam ma, pa." sapa Daffin lalu duduk di depan orang tuanya.
" Malam juga sayang, tumben baru pulang? ucap Elsa.
" Tadi Daffin nganterin Grace pulang dulu."
" Grace udah pulang ke Indonesia?"
" Udah, dari bandara dia langsung ke kantor Daffin." jawab Daffin.
" Apa kamu tidak memikirkan hubungan kalian selanjutnya?" sahut Erick membuat Daffin menoleh padanya.
" Itu yang sedang aku pikirkan pa. Aku sering mengatakan hal itu sama Grace tapi dia masih belum menanggapinya dengan serius." jawab Daffin.
Daffin memang sering berbicara soal pernikahan dengan Grace, namun gadis itu masih belum memberikan respon atau jawaban yang tepat pada Daffin.
Grace ingin berbicara lebih dulu pada orang tuanya sebelum memberikan jawaban pada Daffin. Ia tidak ingin salah ambil langkah apalagi ini menyangkut kehidupan di masa depannya.
Terlebih lagi cita citanya menjadi dokter masih belum terwujud.
" Mungkin dia punya alasan lain untuk tidak membicarakan tentang pernikahan, apalagi usia Grace masih 21 tahun. Dia juga masih harus melanjutkan kuliahnya dan mewujudkan cita citanya menjadi dokter. Jadi kamu jangan memaksanya untuk menjawab pertanyaan kamu. Biarkan nanti dia sendiri yang mengatakan kesiapannya untuk menikah dengan kamu." sahut Elsa mencoba menasehati putranya.
Daffin mencoba memahami perkataan mamanya, karena apa yang dikatakan mamanya adalah benar.
Masa depan Grace masih panjang, ia harus menyeleseikan kuliah dan mewujudkan cita citanya.
" Kalau begitu Daffin ke kamar dulu." Daffin berdiri lalu berjalan menuju kamarnya.
****
Grace mendudukkan tubuhnya di balkon kamar dengan di temani segelas susu choklat di atas meja.
Setelah pulang dari makan malam ia langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan orang orang yang sesang berkumpul di ruang tengah.
" Lu kenapa?" ucap Zay yang tiba tiba masuk kedalam kamar Grace.
" Gapapa." jawab Grace tanpa menoleh kearah Zay.
Zay duduk disamping Grace dan menarik tubuh Grace kedalam pelukannya.
Ia tahu jika suasana hati Grace sedang tidak baik baik saja setelah Luna mengatakan jika Zay akan melamar Kiran besok.
" Lu marah sama gue?" ucap Zay sambil terus mengusap kepala Grace dengan sayang.
" Lu masih tanya?" jawab Grace membuat Zay terkekeh.
" Apa yang buat lu marah sama gue? perasaan gue gak ada buat salah sama lu." ucapan Zay semakin membuat Grace bertambah kesal.
Grace mendorong pelan tubuh Zay dan menatapnya dengan datar.
" Lu mau ngelamar Kiran tapi lu gak ada bilang apa apa sama gue, biasanya lu selalu bilang dulu sama gue. Sekarang malah gue tau dari mama papa. Lu ngeselin tau gak." ucap Grace sedikit emosi. Ia melipat kedua tangannya dan menatap lurus kedepan dengan wajah masam.
" Sorry, tadi juga gak ada niat buat kasih tau yang lain duluan. Karena memang timingnya pas, ya udah sekalian gue minta pendapat sama mereka." ucap Zay membuat Grace menoleh padanya.
" Emang sebelumnya mereka bahas apa?"
" Bahas elu. Tante salwa tanya kenapa lu sama bang Daffin gak nikah aja? terus mama jawab biarin lu nyelesein kuliah dulu baru dibahas setelah lu lulus nanti." jawab Zay membuat Grace sedikit tersentak.
Ia kembali mengingat Daffin yang sering kali mengajaknya berbicara tentang pernikahan tapi dirinya selalu menghidar.
Bukan tanpa alasan ia menghindari pembahasan itu, dirinya hanya ingin menyeleseikan kuliahnya dan mewujudkan cita citanya.
Grace bukan Luna yang bisa mengurus rumah tangga sambil bersekolah dan mengurus anak sambil kuliah.
Saat ini Grace hanya ingin fokus pada apa yang ia jalani dulu, ia tidak ingin fokusnya terbagi yang nanti malah membuatnya menjadi beban.
Sedangkan Zay, dia sudah mampu memimpin rumah tangganya kelak meskipun Zay sendiri masih belum menyeleseikan kuliahnya.
Karena ia tau, Zay mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi yang sudah menjadi kehendaknya harus terealisasikan. Jadi tidak ada alasan untuk Zay menolak menikah muda, selagi dirinya siap dia akan melakukannya.
" Gak usah terlalu di pikirin, gue tau lu belum siap untuk menikah. Fokus apa yang saat ini lu jalani aja. Gue yakin kalau bang Daffin akan setia nunggu lu sampai lu berkata siap untuk menikah dengannya." Tutur Zay mengusap punggung Grace.
" Kadang terselip rasa khawatir kalau dia cari cewek lain yang siap untuk diajak nikah. Dia sering ngajak gue ngomong soal pernikahan tapi gue selalu ngehindar. Gue bingung jawab apa?" ucap Grace dengan raut wajah sedihnya.
Zay menarik tubuh Grace kedalam pelukannya, ia tau apa yang di rasakan sodara kembarnya.
Disisi lain Grace yang masih ingin fokus pada kuliah dan cita citanya, namun disisi lain ia juga melihat kematangan usia Daffin yang sudah siap untuk menikah.
Kekhawatiran Grace bukan tanpa alasan, karena banyak wanita yang rela mengantri demi mendapatkan perhatian dari Daffin. Ia takut jika Daffin akan berpaling jika dirinya selalu menolak untuk diajak menikah.
Meskipun Zay yakin jika Daffin bukanlah laki laki yang seperti itu.
" Sebaiknya lu ngomong baik baik sama dia, jangan buat dia kepikiran. Dikiranya lu gak mau diajak nikah lagi." ucap Zay.
" Nanti gue akan ngomong sama dia." jawab Grace, Zay manganggukkan kepalanya.
" Memang harusnya seperti itu."
Grace melepaskan pelukannya, ia bersandar pada punggung sofa dan menatap langit yang bertabur bintang lalu keduanya larut dalam pikiran masing masing.
Menikah tentu bukan hanya sekedar soal saling mencintai, tetapi bagaimana memikul tanggung jawab baru bersama pasangan. Setelah menikah tentu akan memiliki tanggung jawab baru entah sebagai suami atau istri. Belum lagi jika sudah menjadi orangtua dan memiliki seorang anak.
Tanggung jawab kita tentu lebih besar karena harus berperan sebagai pasangan sekaligus orangtua.
Oleh karena itu kita harus mempunyai kesiapan mental sebelum memulai sebuah ikatan yang disebut pernikahan.
.
.
.
.
Stay healthy ❤️