My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
55.



Hujan deras di sore itu seakan mengiringi suasana hati Olivia yang sedang bermuram durja.


Bahkan aroma petrichor saja tidak mampu membuat suasana hatinya membaik.


Olivia duduk di dekat jendala sambil menatap setiap tetesan hujan yang jatuh mengenai atap rumahnya.


Sungguh pertemuannya dengan Zay dan Kiran tadi siang membuat dadanya terasa begitu sesak.


Melihat bagaimana Zay yang memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada Kiran, bagaimana Kiran hilang ingatan dan melupakan dirinya, di tambah lagi sikap Zay yang sudah tidak lagi seperti pertama bertemu kembali.


Sifatnya yang mulai dingin dan penolakannya untuk diajak bertemu membuat air mata Olivia kembali jatuh.


" Kenapa kamu mulai berubah Zay?" Olivia terisak menatap bingkai foto dirinya dan Zay yang diambil saat mereka masih berpacaran dulu.


" Aku masih sayang sama kamu, aku tau ini semua memang salahku yang pergi ninggalin kamu gitu aja.


Tapi apa salah kalau aku masih sayang sama kamu dan berharap kamu ada di samping aku?" isak tangis Olivia semakin kuat, ia memeluk erat bingkai foto itu seakan memeluk tubuh Zay yang diharapkannya saat ini.


" Awalnya aku ingin merelakan kamu sama Kiran, tapi melihat kamu masih perhatian sama aku membuat aku semakin ingin memiliki kamu kembali.


Aku memang egois, tapi aku melakukan ini karena hidup aku udah gak lama lagi. Aku ingin merasakan dicintai sama kamu lagi disisa hidup aku Zay." hati Olivia semakin kalut, ia menangis tersedu sedu.


Pintu kamar Olivia terbuka, Ranti masuk kedalam kamar Olivia dan melihat putrinya sedang menangis terisak.


Ia berjalan menghampiri Olivia dan memeluk putrinya.


" Kamu kenapa jadi seperti ini sayang? bukankah dari awal kamu sudah merelakann Zay bersama Kiran?" Ranti menatap putrinya dan menghalus air matanya.


" Olivia juga gak tau ma, yang saat ini olivia inginkan hanya Zay untuk disisi Oliv, menemani Oliv melawan penyakit ini." Olivia kembali terisak.


" Tapi kamu tau sendiri keadaan Kiran sekarang seperti apa? kamu tidak boleh egois sayang, karena bagaimanapun Kiran kekasihnya dan kamu masa lalunya." ucap Ranti memberi putrinya pengertian.


" Kenapa mama belain Kiran, kenapa mama gak belain putri mama sendiri." Olivia menatap Kesal mamanya.


Ia berharap mamanya ada di pihaknnya bukan malah di pihak Kiran.


" Bukan begitu maksud mama, mama tidak membela siapapun tapi memang begitu kenyataannya sayang."


" Sebaiknya mama keluar, Oliv ingin istirahat." ucap Olivia, ia menaruh bingkai foto itu kembali ketempatnya lalu merebahkan tubuhnya dia atas ranjang.


Ranti menghela napas panjngnya, ia tidak mengira jika sikap Olivia sekarang berubah.


Ranti mengusap kepala putrinya lalu keluar dari kamar olivia.


Olivia kembali menangis, ia benci dengan takdir yang menimpanya saat ini.


Kenapa takdir begitu kejam padanya? kenapa harus dirinya yang menjalani takdir seperti ini?.


Olivia menjambak rambutnya yang semakin tipis, ia menatap segumpal rambut yang ada di tangnnya.


Aaaarrggghh..


Teriak Olivia lalu memukul bantal dengan sekuat tenaganya dan menangis lagi.


****


Sementara itu Kiran dan Zay duduk di halaman belakang sambil menatap tetesan air hujan yang jatuh membasahi bumi.


Grace dan yang lainnya sudah pulang sedari tadi karena keperluan masing masing.


" Aku memikirkan wanita yang bertemu kita di rumah sakit tadi." ucap Kiran menoleh ke arah Zay yang duduk disampingnya.


" Maksud kamu Olivia?" tanya Zay diangguki kiran.


" Aku melihat tatapannya saat menatap kamu begitu dalam. Apa kamu pernah mempunyai hubungan dengannya?" Zay tersentak saat tiba tiba Kiran bertanya seperti itu.


Zay terdiam sejenak, jawaban apa yang harus ia berikan pada Kiran? tidak mungkin ia berkata jujur disaat kondisi kiran masih seperti ini.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku tidak ingin disaat kita sedang berdua, kita membahas orang lain." Ucap Zay merangkul tubuh Kiran.


Kiran menyenderkan kepalanya di dada bidang Zay, ia tahu jika ada yang Zay sembunyikan tentang Olivia. Kiran memakluminya, ia tidak membahasnya lagi karena ia tidak mau membuat suasana menjadi canggung.


" Maaf." ucap Kiran


Zay mengusap lembut kepala Kiran, bukan ia tidak ingin menjelaskan siapa Olivia sebenarnya.


Hanya saja kondisi Kiran yang membuatnya enggan untuk menjelaskan siapa olivia.


Tanpa Kiran sadari tangannya bermain main di dada Zay dan membuat Zay memejamkan matanya sejenak.


Zay rindu dengan Kiran, rindu akan saat saat seperti ini.


" K-kiran." ucap Zay membuat Kiran mendongakkan wajahnya namun tangannya masih berada didada Zay.


" Apa?" jawab Kiran dengan wajah polosnya.


" Menggodamu? maksud kamu?" tanya Kiran tidak mengerti.


Zay menggenggam tangan kiran yang berada di dadanya seketika membuat kiran tersadar dan mencoba menarik tangannya.


Wajah Kiran memerah saat Zay menatapnya begitu dalam. Ia sungguh tidak sadar apa yang telah dia lakukan pada Zay.


Zay mengusap bibir kiran dengan ibu jarinya dan menatapnya begitu lama.


" Boleh?" tanya Zay dengan menatap mata Kiran begitu dalam.


Untuk perrtama kalinya Zay meminta izin untuk mencium bibir kiran, karena sebelumnya ia akan langsung melakukannya tanpa meminta izin terlebih dulu.


Seakan terhipnotis oleh tatapan Zay, Kiran menganggukkan kepalanya. Zay menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Kiran yang sudah ia rindukan.


Zay melum*tnya dengan lembut hingga membuat Kiran memejamkan matanya merasakan sensasi yang berbeda.


Tidak cukup sampai disitu, Zay menggigit bibir bawah Kiran hingga membuat bibir Kiran terbuka.


Dengan kesempatan yang ada Lidah Zay masuk kedalam mulut kiran dan mengabsen setiap rongga mulutnya.


Zay melepaskan ciumannya sebelum Kiran kehabisan oksigen, ia mengusap lembut bibir Kiran yang masih tersisa air liurnya.


" Makasih." ucap Zay lalu mencium kening kiran.


" Apa kita pernah melakukan ini dulu?" tanya Kiran dengan hati hati, wajahnya bahkan masih memerah karena kejadian barusan.


" Sering, setiap kita bertemu pasti melakukannya." jawab Zay tersenyum jahil.


" kamu bohong." jawab Kiran memukul dada Zay pelan.


Zay menangkap tangan Kiran dan menggenggamnya lembut.


" Aku tidak berbohong. Dengerin aku, aku tidak akan memaksa kamu untuk mengingatku. Membiarkanku berada disisi kamu seperti ini membuatku menganggap kamu seperti Kiran yang dulu.


Aku minta maaf jika di masa lalu yang tidak kamu ingat aku pernah menyakiti hati kamu tanpa sengaja.


Membiarkan kamu terluka oleh sikapku. Aku berjanji untuk kedepannya akan selalu berada disisi kamu dan selalu memprioritaskan kamu. Maafin aku ya." ucap Zay mengeratkan pelukannya.


Kiran mengangguk, ia membalas memeluk Zay dengan erat, entah kesalahan apa yang dibuat laki laki ini di masa lalu yang membuat laki laki ini begitu menyesal.


Kiran memaafkannya meskipun ia tidak tau kesalahan apa yang sudah Zay buat.


Seandainya ia tau kesalahannya, dengan mudah ia akan memaafkannya. Bukankah setiap orang mempunyai kesempatan kedua?.


" Hujan udah reda, aku pamit pulang ya." ucap Zay diangguki kiran.


" Aku antar kamu ke kamar dulu, setelah itu aku akan pulang." Zay menggendong Kiran dan berjalan menuju kamarnya.


Zay meletakkan tubuh Kiran dengan hati hati diatas ranjang, tak lupa ia menarik selimut Kiran dan mengurangi tombol AC nya.


" Aku pulang dulu, Kamu istirahat dan jangan lupa makan malam nanti.." ucap Zay mencium Kening kiran lama.


" Kamu hati hati dijalan, hubungi aku kalau udah sampai." jawab Kiran membuat Zay tertawa kecil.


Perhatian seperti inilah yang ia rindukan pada Kiran.


Meskipun hubungan mereka baru satu bulan lebih tapi semua perhatian yang kiran berikan begitu hangat dan Zay menyukainya.


" Iya sayang, aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." jawab Kiran


Zay berjalan keluar kamar Kiran dan menutupnya kembali.


Ia menghampiri kedua orang tua kiran lalu berpamitan pulang.


Zay mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, suasana hatinya semakin membaik setelah berciuman dengan Kiran tadi. Bahkan ia terus memegangi bibirnya seolah itu adalah ciuman pertamanya dengan Kiran.


Ponsel Zay berdering, ia melihat nama pemanggil yang membuatnya langsung berubah ekspresi.


Tante Ranti is calling....


Zay menghembuskan napasnya kasar, haruskah ia mengangkat panggilan itu? Karena ia tau jika tante ranti menelpon pasti ada hubungannya dengan Olivia.


.


.


.


.


Paling enak kalau ngegantung gini 😂