My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
84.



Firasat 2...


.


.


.


.


.


Devano dan el baru saja tiba di sekolah, keduanya turun dari mobil dan menghampiri Nathan, Freya dan Rissa. Mereka memang sengaja menunggu kedatangan Devan dan el di parkiran karena Devan yang memintanya.


" Tumben lu nyuruh kita nungguin disini?" sahut Nathan saat Devan dan el sudah bergabung dengannya.


" Perasaan gue sama El dari tadi gak enak, entah ada apaan." jawab Devan diangguki El.


" iya, gue sama Devan kek ngerasa bakal terjadi sesuatu." sahut El membuat ketiga temannya saling pandang.


" Maksud kalian gimana? kita bertiga kagak ngerti njir." ucap Nathan dengan raut wajah bingung.


" Kita berdua juga gak tau bakal ada apaan, tapi perasaan kita dari tadi bener bener gak enak." jawab El, sedangkan Devan terlihat jelas jika dirinya paling gelisah. Devan yang biasanya berisik dan paling jahil kini terlihat jelas wajah serius dan dinginnya.


Freya yang melihat itu mendekati Devan dan mengusap punggung Devan.


" Berdoa saja semoga gak terjadi apa apa." ucap Freya namun Devan hanya membalas dengan senyuman tipis. Freya merasa kali ini Devan benar benar sedang tidak baik baik saja, karena terlihat jelas raut wajahnya yang gelisah dan juga mengkhawatirkan sesuatu.


" Kita masuk kelas aja dulu, kita omongin ini nanti saat istirahat." sahut Rissa di angguki yang lain.


Devan dan yang lain pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kelas karena bel sekolah akan segera berbunyi.


****


Seperti biasa Grace berjalan dengan santai menuju kelas bersama kedua sahabatnya Naya dan Grizzele.


Entah kenapa kedua sahabat Grace itu juga merasa ada yang mengganjal di hati mereka namun mereka sendiri tidak tau kenapa.


" Kalian ke kelas dulu, gue mau ke ruangan ayang bebeb bentar." ucap Grace membuat keduanya memutar bola matanya malas.


" Masih pagi woey dan inget ini kampus." sahut Naya namun Grace hanya menaikkan bahunya acuh.


Grace berbelok arah menuju ruangan Daffin sementara Naya dan Grizzele berjalan kurus menuju kelas.


tookk..tookk..


" Masuk."


Grace membuka pintu dan melihat Daffin yang sudah siap membawa tas dan bukunya.


" Sayang... kok kesini? Baru aja aku mau ke kelas." ucap Daffin saat melihat kedatangan Grace keruangannya.


" Aku ngantuk banget." jawab Grace yang sudah menyandarkan punggungnya di sofa.


" Gak tidur?" tanya Daffin dibalas gelengan oleh Grace.


" Gak bisa tidur." jawab Grace menatap Daffin yang duduk disampingnya.


" Kenapa hm?" Daffin menarik Grace kedalam pelukannya dan memeluknya sedikit erat.


" Mikirin kamu." jawab Grace terkekeh.


" Udah pinter gombal sekarang." Daffin mencubit gemas hidung Grace. Entah kenapa ia menjadi lupa jika sudah saatnya ia mengajar di kelas Grace. Bahkan sudah lewat dari 5 menit.


" Sama kamu doang aku ngegombal." jawab Grace.


Ia meraih tangan Daffin dan dikecupnya punggung tangan itu berkali kali.


Daffin mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Grace seperti ini.


" Kamu kenapa?" tanya Daffin membuat Grace mendongakkan wajahnya.


ia menatap Daffin kemudian menatap jam yang menggantung tepat di belakang Daffin


" Astaga, udah waktunya kamu ngajar. Sebaiknya kita cepat ke kelas." ucap Grace yang jadi panik sendiri namun juga tertawa.


Bagaimana tidak tertawa, ia berhasil menahan Daffin hampir 10 menit di dalam ruangannya. Padahal Daffin terkenal Dosen yang rajin dan tidak pernah telat dalam mengajar.


" Ini semua gara gara kamu ya, awas saja nanti." ucap Daffin namun Grace sudah berlari keluar lebih dulu.


" Anak itu." geram Daffin menggelengkan kepalanya.


Ia mengambil buku dan tas lalu keluar ruangan menuju kelas.


Grace yang sudah sampai lebih dulu langsung duduk di samping Adam yang meletakkan kepalanya di lipatan tangan.


plaakk..


" Barokokok sialan, sakit woey." kesal Adam mengusap punggungnya yang terasa panas.


Ia menatap sengit Grace yang sedang tersenyum dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


" Sorry tadi gue sengaja." jawab Grace polos.


Tangan Adam sudah terangkat ingin menggetok kepala Grace namun ia urungkan karena Daffin sudah masuk kedalam kelas dan tengah menatapnya datar.


" Selamat pagi semuanya, maaf saya terlambat." ucap Daffin


" Selamat pagi pak."


" Baiklah kita mulai materi hari ini, untuk kali ini kita akan membahas tentang Raspiratorius.


Respiratourius atau biasa di sebut saluran pernapasan adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas dalam proses pernapasan. Saluran ini berpangkal pada hidung atau mulut dan berakhir pada paru-paru dan bla bla bla." jelas Daffin.


Selama Daffin menerangkan, Grace sama sekali tidak mendengarkannya. Ia lebih fokus memandangi kekasihnya yang hari ini terlihat sangat tampan.


Daffin sadar jika sedari tadi Grace tidak mendengarkannya dan hanya menatapnya.


Namun ia sama sekali tidak ingin menegur kekasih dan mahasiswinya itu karena ia tau jika Grace tidak bersemangat hari ini, entah apa yang membuat kekasihnya terlihat lebih pendiam.


Dua jam sudah berlalu, Grace masih tetap sama. Ia diam dan menatap kekasihnya yang sedang membereskan buku bukunya.


" Grace, ke kantin yuk." ucap Naya namun Grace tidak mendengarnya.


Tatapannya tertuju pada Daffin yang masih duduk di mejanya.


" Grace." sahut Grizzele dan seketika membuat Grace menatap dan mengangkat satu alisnya seperti bertamya apa?


" Ke kantin yuk, lagian lu tumben diem aja hari ini." ucap Grizzele namun Grace hanya menaikkan kedua bahunya.


" Lu sakit?" tanya Adam di balas gelengan oleh Grace.


" Kalian bertiga duluan aja, gue mau nyamperin calon imam dulu." ucap Grace membuat ketiga orang itu memutar bola matanya malas.


Grace berjalan menuju meja Daffin dan berdiri di sampingnya.


" Ada apa Graciella?" tanya Daffin medongakkan kepalanya menatap Grace yang sedang tersenyum.


" Boleh bicara sama bapak." ucap Grace dan Daffin menganggukkan kepalanya.


Daffin mengambil buku dan tasnya lalu lebih dulu keluar jelas diikuti Grace yang agak jauh di belakangnya.


Grace kembali menutup pintu ruangan Daffin lalu mendudukkan bokongnya di sofa.


" Ada apa hm? kamu seharian ini tidak bersemangat, dan lebih banyak melamun." ucap Daffin mengusap kepala Grace dengan lembut.


" Aku boleh tanya?" Grace menatap Daffin dengan tatapan yang dalam.


" Silahkan."


" Jika aku tiba tiba menghilang, kamu cari aku atau cari wanita lain?" tanya Grace membuat kedua alis Daffin bertaut.


" Kenapa kamu ngomong kek gitu sih? aku gak suka ya." hardik Daffin dengan raut wajah yang kesal.


" Jawab aja sih, aku cuma pengen tau jawaban kamu." ucap Grace menyederkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.


" Aku gak akan cari wanita lain, aku akan cari kamu sampai ketemu. jika kamu tidak ketemu juga aku akan tetep mencari kamu sampai ketemu." ucap Daffin mengeratkan pelukannya.


Ia tidak tau kenapa Grace berbicara seperti ini.


" Udah ya, gak usah bikin pertanyaan aneh aneh lagi. aku gak suka." sambungnya sambil mencium kening Grace.


" Cuma seaneh doang." gumam Grace sambil tertawa kecil.


" Pokoknya aku gak suka." ucap Daffin diangguki Grace.


" Aku cinta sama kamu." ucap Grace mendongakan kepalanya menatap Daffin.


" Aku juga cinta sama kamu." jawab Daffin dan bersama dengan itu bibir mereka saling bertaut.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa like dan komen biar aku cepet up nya.


Pada penasaran kan apa yang terjadi sama Grace? 😁