My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
114.



Zay mencoba menghubungi istrinya namun tidak satupun panggilan diangkat oleh wanita itu. Dia juga menghubungi Meysa namun wanita itu juga belum kunjung mengangkat panggilannya. Sampai akhirnya pada panggilan ketiga, Meysa mengangkat panggilan dari Zay.


" Kamu kemana saja? kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?" ucap Zay dengan kesal.


" Maaf tuan, tadi saya sedang di toilet." jawab Meysa memberi alasan.


" Dimana istriku? kenapa dia tidak mengangkat telfon dariku?"


" Nona Kiran lagi di perpustakaan, mungkin nona tidak mendengar telfon dari anda karena ponselnya dalam mode silent."


" Katakan padanya kalau aku menghubunginya. Suruh dia menghubungiku kembali." ucap Zay.


" Baik tuan."


Zay membanting ponselnya dengan kesal. Inilah salah satu alasan kenapa ia sangat benci berhubungan jarak jauh, apalagi kini dirinya menyandang status suami.


Jika pendidikan Kiran sudah usai, ia tidak akan memberikan izin pada istrinya untuk berjauhan dengannya. Cukup kali ini dan tidak akan terulang lagi.


**


Di Jerman....


Kiran menyusuri rak buku yang terususun rapi, ia ingin mencari buku yang akan ia gunakan untuk tugas mata kuliahnya. Setelah mengeceknya, ternyata buku yang ia cari berada di rak paling atas. Dan tentu saja tubuh mungin Kiran tidak bisa menjangkau buku yang akan di ambilnya itu. Namun ia terus berusaha melompat kecil agar tangannya bisa menjangkau buku itu. Hingga akhirnya sebuah tangan kekar mengambil buku yang di maksud oleh Kiran.


" Eh..." Kiran tersentak saat buku yang baru saja di ambil seseorang itu di berikan padanya.


" Sandy?"


" Nih ambil." ucap Sandy lalu Kiran menerima buku itu.


" Makasih."


" Hm."


" Kamu cari buku juga?" Setelah mendapatkan buku itu, Kiran dan sandy duduk di meja perpustakaan.


" Enggak, aku sengaja ngikutin kamu." ucap Sandy membuat Kiran menatapnya malas.


Padahal udah berkali kali Kiran mengatakan jika dirinya sudah menikah dan status dirinya sekarang adalah seorang istri. Tapi tetap saja Sandy bersikap bodoh amat dan tidak percaya begitu saja dengannya. Selagi tidak ada bukti yang Valid, dia tidak akan percaya jika Kiran sudah menikah. Bahkan dia secara terang terangan mendekati Kiran, meski wanita itu sering kali menghindar.


Kiran menoleh kesana kemari mencari Meysa namun wanita itu tidak ada disudut manapun. Padahal dari tadi wanita itu selalu ada di belakang atau di samping dirinya, tapi sekarang justru tidak terlihat disisi manapun. Dan itu membuat Kiran menjadi kesal.


" Cari siapa sih?" tanya Sandy ketika melihat Kiran celingukan mencari seseorang.


" Meysa." jawab Kiran. Matanya masih celingukan kesana kemari mencari keberadaan bodyguardnya itu.


Ia tidak ingin duduk berdua saja dengan Sandy, karena dirinya tidak ingin menimbulkan fitnah.


Disaat dirinya sudah menyandang status sebagai istri, tidak pernah sekalipun ia berudaan dengan laki laki lain. Sebisa mungkin ia menjaga diri dari laki laki lain yang bukan Mahramnya. Selama ada Meysa disisinya, ia masih bisa menerima kehadiran Sandy atau teman laki laki lainnya. Karena Meysa selalu membuat jarak Aman antara dirinya dan teman laki lakinya.


" Aku lihat tadi dia ke toilet. Mungkin sebentar lagi kesini." ucap Sandy, Kiran manggut manggut. Dalam hatinya ia berharap jika Meysa segera kembali kesini. Dirinya merasa tidak aman jika hanya berdua dengan Sandy, meskipun di meja meja lain banyak orang yang sedang membaca buku.


" Kamu nanti malam ada acara gak? aku mau ngajak kamu makan malam." ucap Sandy dengan nada yang sangat pelan. Makhlum ini perpustakaan.


" Aku gak bisa, tugas aku masih banyak banget.", jawab Kiran.


" Kalau gitu izinkan aku bertamu ke apartemen kamu. Aku akan membelikan makanan untukmu dan kita makan malam disana."


" Aku gak bisa Sandy. Harus berapa kali aku bilang kalau aku udah punya suami? Aku gak bisa ngizinin laki laki lain masuk ke apartemenku." ucap Kiran membuat Sandy terkekeh kecil.


" Karena memang itu kenyataannya." ucap Kiran sedikit kesal.


" Sebelum kamu mempunyai bukti yang Valid, aku tidak akan pernah percaya sama kamu." jawab Sandy dengan seringainya.


" Terserah kamu aja deh San, capek aku ngejelasin sama kamu." ucap Kiran.


Tak lama kemudian, akhirnya Kiran bisa bernapas lega saat melihat kedatangan Meysa. Namun sedetik kemudian matanya membulat saat Meysa membisikkan sesuatu padanya.


plakk...


" Mampus aku." gumam Kiran sambil menepuk jidatnya.


" Mampus kenapa Ran?" tanya Sandy yang juga ikut berdiri saat melihat Kiran berdiri.


" Gapapa, aku pergi dulu." ucap Kiran lalu menarik tangan Meysa keluar dari perpustakaan.


Sandy yang melihat itu hanya menatap punggung Kiran yang perlahan menghilang dari balik pintu. Ia mendudukkan kembali bokongnya dan mendengus kesal.


" Apa bener kalau Kiran udah nikah? Aku rasa gak mungkin. Pasti itu alasan dia aja untuk menghindari aku." gumam Sandy. Ia mengedikkan bahunya lalu keluar dari perpustakaan.


***


Disisi lain Kiran segera mengecek ponselnya dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab juga beberapa pesan dari suaminya. Dengan segera ia menekan angka satu dan langsung terhubung pada nomor suaminya.


" Assalamualaikum." sapa Kiran saat Zay sudah mengangkat panggilannya.


" Waalaikumsalam, dari mana saja? kenapa baru menghubungi aku?" ucap Zay dan langsung menodong Kiran dengan pertanyaannya.


" Aku dari perpustakaan, aku gak tau kalau kamu menelfonku karena ponselnya dalam mode silent." jawab Kiran.


Ia sudah hapal betul jika suaminya ini tengah ngambek padanya.


" Disana udah jam 5 kan? kenapa masih di kampus? kamu gak pulang?" ucap Zay. Selisih waktu Indonesia dan Jerman hanya 5 jam. Lebih cepat indonesia.


" Ini rencananya juga mau pulang setelah cari buku." jawab Kiran.


" Yaudah kamu pulang dulu, nanti aku telfon lagi."


" Iya sayang." jawab Kiran setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya.


" Kita pulang sekarang." ucap Kiran di angguki Meysa.


Dengan cepat keduanya berjalan menuju parkiran dan mengambil mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan area kampus .


.


.


.


.


.


Aku pernah bilang kalau aku gak akan bikin konflik yang panjang panjang. Dikit dikit yang penting ceritanya gak garing. Lagian aku gak suka terlalu panjang konfliknya. Nanti jatuhnya malah ruwet kek benang. 😂