
Dan disinilah Grace sekarang, dengan pakaian lumayan rapi ia berjalan masuk ke dalam kantor Daffin.
Ia menghampiri resepsionis yang wajahnya berbeda dari sebelumnya.
" Permisi, saya mau bertemu sama bapak Daffin." ucap Grave pada Resepsionis itu.
" Apa nona yang bernama Graciella?"
" Iya benar itu nama saya."
" Silahkan langsung menemui bapak Daffin, beliau sudah menunggu anda di ruangannya.
" Terimakasih mbak." ucap Grace lalu berjalan menaiki Lift menuju lantai paling atas.
Sesampainya di lantai atas Grace langsung menuju ruangan Daffin. Tanpa mengetuk pintu, Ia membuka pintu itu dengan pelan dan melihat Daffin yang sedang berdiri sambil menatap luar jendela.
Dengan sangat hati hati ia kembali menutup pintu itu dan berjalan mengendap menghampiri Daffin.
Greeebb...
Grace memeluk tubuh Daffin dari belakang dan membenamkan wajahnya pada punggung tegap itu.
Daffin tidak terkejut karena sudah ia tau kedatangan Grace.
" Masih marah?" tanya Grace yang masih setia memeluk tubuh Daffin.
" Jelasin." ucap Daffin dengan nada datar, ia melepaskan tangan Grace yang melingkar di perutnya dan menatap gadis itu dengan tatapan dingin.
" Sayang, kamu salah paham. Kamu tuh gak pantes cemburu sama dia." ucap Grace sambil menangkup kedua pipi Daffin.
" Yaudah jelasin." jawab Daffin masih dengan mode datarnya.
Sebenernya Grace ingin sekali meledakkan tawanya melihat sikap Daffin yang menurutnya sangat lucu jika sedang cemburu. Tapi ia tahan karena tidak ingin membuat laki laki ini semakin marah padanya.
" Cowok yang aku peluk tadi namanya Adam, dia anak dari tante ica dan om aldo. Tante ica dan om aldo adalah tangan kanan mama di black--- Upss." Grace memotong ucapannya dan membekap mulutnya sendiri. ia lupa jika Daffin belum tau latar belakang keluarganya.
" Black? black apa?" ucap Daffin dengan mata memincing.
Grace menatap Daffin dengan raut wajah bingung, akankan ia bercerita pada Daffin latar belakang keluarganya yang sebenernya? Ia takut jika Daffin tidak menerima itu meskipun kedua orang tuanya memilih untuk fakum dari dunia hitam itu.
" Grace." Daffin mengguncang tubuh Grace seketika membuat Grace membuyarkan lamunannya.
" Aahh iyaa?" ucap Grace dengan wajah cengonya.
" Kamu niat ngejelasin gak sih? atau itu cuma akal akalan kamu aja agar aku gak marah?" ucap Daffin menatap Grace dengan kesal.
" Intinya aku gak ada hubungan apa apa sama dia, dia baru pulang ke indonesia setelah lama di singapore. Dan dia ke kampus tadi habis daftar jadi mahasiswa disana." ucap Grace dengan wajah memberenggut.
Ia jadi kesal sendiri dengan Daffin yang menuduhnya bukan bukan.
" Beneran?"
" Iya sayangku, cintaku, kasihku, dosenku. Percaya deh sama aku. Lagian dia juga temen masa kecil aku, jadi wajar aku meluk dia karena kangen soalnya udah lama banget gak ketemu." ucap Grace membuat Daffin mencibirnya.
Daffin duduk di kursi kebesarannya dan menarik tubuh Grace duduk di pangkuannya.
" Aku tuh cuma takut kamu selingkuh dari aku " ucap Daffin. Satu tangan ia taruh di pinggang Grace dan satu tangan lagi memainkan rambut Grace.
" Gimana aku mau selingkuh orang cowok aku aja gantengnya kayak gini." ucap Grace mecubit gemas pipi Daffin dan menggoyangkannya ke kanan dan kiri.
Daffin mencekal tangan Grace dan menciumnya berulang kali.
" Aku tuh dah sayang banget sama kamu, aku gak rela kamu peluk peluk cowok lain selain aku dan sodara kamu." ucap Daffin menatap dalam manik mata Grace.
" Iya sayang, aku tadi cuma reflek aja saat tau orang yang aku tabrak itu temen kecil aku. Maafin aku ya." ucap Grace diangguki Daffin.
Daffin mengeratkan pelukannya, ia teramat sayang dengan gadis ini. Gadis yang mampu merubah hidupnya lebih berwarna. Gadis yang membantunya terlepas dari pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
Gadis nakal namun ia sangat mencintainya.
Ia berjanji akan selalu mempertahankan Gadis ini hingga saat yang ia nantikan tiba, Dimana ia dan Grace akan berada dalam ikatan suci pernikahan.
**
Sementara itu Zay sedang dalam perjalanan menuju rumah Kiran setelah mendapat telpon dari Sita jika Kiran tiba tiba demam.
Zay menggerutu tidak jelas, kenapa Kiran tidak memberi tahunya sendiri jika sedang sakit?
Zay menambah kecepatan mobilnya dan tak lama mobil yang ia tumpangi sampai di rumah Kiran.
tookk...took..tookk..
Sita membuka pintu rumahnya dan mendapati Zay yang datang dengan wajah khawatir.
" Ada di kamarnya, maaf tante ngerepotin kamu. Tadi Kiran tidak memperbolehkan tante untuk kasih tau kamu, tapi tante tidak tega sama dia." ucap Sita.
" Gapapa tan, kalau gitu Zay ke atas dulu." ucap Zay diangguki Sita.
Zay berlari menaiki tanggga menuju kamar Kiran. Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk kedalam kamar Kiran dan melihat kekasihnya sedang berbaring di atas ranjang.
" Kamu kesini?" ucap Kiran sambil mencoba membangunkan dirinya.
" Kenapa sakit gak bilang sama aku?" ucap Zay menatap kiran dengan datar.
Kiran justru tertawa kecil, pasti mamanya yang kasih tau Zay kalau dirinya sakit.
" Cuma demam biasa kok, nanti juga sembuh. Lagian aku gak mau ganggu waktu libur kamu." ucap Kiran membuat Zay mendengus kesal.
" Kenapa bisa demam? bukankah kemarin masih baik baik aja?" tanya Zay yang duduk di tepi ranjang.
" Mungkin aku terlaku maksa buat latihan jalan makanya aku kelelahan." jawab Kiran membuat Zay menghela napasnya.
Zay memegang tangan Kiran." Kan dokter udah bilang, jangan terlalu di paksa, pelan pelan aja. Kaki kamu belum terlalu kuat. Lagian kalau latihan jalan harus di dampingi orang lain jangan latihan sendiri." ucap Zay.
" Aku hanya ingin segera bisa berjalan, aku capek kemana mana naik kursi roda terus."
" Semua butuh waktu sayang, kalau kamu terlalu maksain, kamu sendiri yang akan capek dan ujung ujungnya sakit kayak gini. Aku gak mau kamu sakit lagi."
" Kamu capek ya ngerawat aku?" tanya Kiran dengan mata sedikit berkaca kaca namun bibirnya tersenyum.
Zay menghela napas panjangnya, ia menarik tubuh Kiran kedalam pelukannya. Ia tau jika Kiran udah salah paham dengan perkataannya.
" Sayang dengerin aku.
Aku tuh gak pernah capek buat ngerawat kamu, justru aku seneng bisa ngerawat kamu. Aku ikhlas wara wiri nganterin kamu berobat karena aku ingin kamu segera sembuh. Aku ngelakuin ini semua karena aku tulus sayang sama kamu. Apa yang aku katakan tadi semata mata hanya gak ingin kamu terlalu terbebani dengan semua ini. Aku yakin suatu saat kaki kamu bisa berjalan normal kembali, seperti ingatan kamu yang juga bisa kembali dengan cepat.
Aku cinta sama kamu, apapun akan aku lakuin demi bisa bikin kamu nyaman sama aku, bisa bikin kamu bahagia sama aku. Jadi jangan pernah berpikir aku capek hanya karena aku ngerawat kamu. Nggak sama sakali sayang." tutur Zay membuat Kiran meneteskan airmatanya haru dan semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak pernah terpikirkan olehnya jika cintanya akan dibalas oleh laki laki yang di cintainya dulu hingga kini.
Bahkan tidak pernah ia bayangkan akan dicintai Zay sedalam ini.
" Maafin aku." ucap Kiran yang terus meneteskan air matanya.
" Jangan nangis lagi, aku gak suka." ucap Zay sambil mengusap air mata kiran.
" Maaf." ucap Kiran di alas Zay dengan senyum manisnya.
" Kamu udah minum obat?"
" Udah tadi."
" Yaudah kamu istirahat aja, aku tungguin disini."
" Aku capek tidur terus. aku mau ke balkon aja."
" Kan kamu lagi sakit, nanti kena angin malah tambah demam dong."
Belum sempat Kiran menjawab, dering ponsel Zay berbunyi.
Ia mengambil ponselnya dan menatap nama orang yang sedang memanggilnya.
" Siapa?" tanya Kiran karena Zay belum mengangkat panggilannya.
" Tante Ranti." jawab Zay sambil menunjukkan layar ponselnya pada Kiran.
" Angkat aja, siapa tau ada yang penting tentang Olivia." ucap Kiran dan akhirnya Zay mengangkat panggilannya.
" Hallo ada apa tan?"
"..................."
" APAAA? Zay akan kesana sekarang." ucap Zay lalu mematikan sambungan teleponnya.
.
.
.
.
Nah loh apa yang terjadi? 😁