My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
82.



" Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, mungkin kamu tidak pernah menyangka sebelumnya jika aku akan melakukannya secepat ini.


Tapi aku hanya ingin kamu tau, aku bersungguh sungguh melamarmu, memintamu menjadi istriku.


Mungkin usia kita masih terlalu muda, tapi aku yakin kita bisa bersama sama membangun rumah tangga kita. Aku tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi. So, will yoy marry me?  I don't really know what I'm supposed to do if you say "no," so could you save us both the trouble and say "yes?" Zay menatap Kiran yang meneteskan air matanya.


Ia sungguh terkejut dengan kejutan yang di berikan Zay malam ini.


Ia sungguh tidak menyangka laki laki yang menjadi kekasihnya ini dengan cepat ingin menikahinya.


" A-aku..."


Kiran menggantungkan ucapannya, ia sungguh tidak tau harus menjawab apa? Kesiapannya untuk menikah belum ia pikirkan sama sekali. Ini terlalu mendadak, menerimanya tapi ia belum memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya nanti, dan menolakpun ia seakan sulit karena bagaimanapun ia melihat kesungguhan Zay untuk melamarnya.


Kiran mencoba membantu Zay berdiri, ia menatap mata Zay dengan dalam.


Hati Zay berdetak lebih cepat sekarang, apakah Kiran menolaknya? Kenapa dia tidak langsung menjawab, dan justru membantunya berdiri?.


Kiran memejamkan matanya lalu menarik napas yang dalam seakan meyakinkan jawaban yang akan dia berikan pada Zay.


" Aku tidak bisa." jawaban Kiran seakan membuat dunia Zay runtuh seketika.


Dadanya sesak dan bibirnya keluh hanya sekedar bertanya kenapa?


Zay menundukkan kepalanya dalam, sungguh ini di luar ekspetasinya. Kiran menolak lamarannya.


Tapi kenapa? bukankah Kiran juga mencintainya? mereka saling mencintai?


" Aku me---"


" Aku tidak bisa menolak kamu." potong Kiran membuat Zay menatapnya terkejut.


" Jangan memainkan perasaanku." Zay menatap mata Kiran begitu dalam, bahkan matanya berkaca kaca menatap wajah kiran yang sedang tersenyum.


" Aku menerimamu Zay, tidak ada alasan untuk aku menolak lamaran kamu. Kamu laki laki pertama yang membuatku jatuh cinta sedalam ini. Kamu selalu memberikan seluruh perhatianmu sama aku, menjadikan aku wanita paling beruntung karena di cintai olehmu. Jadi tidak mungkin aku bisa menolak lamaran kamu." tutur Kiran.


Zay merengkuh tubuh Kiran dan mendekapnya dengan erat, kesedihan yang ia rasakan sesaat kini berubah seketika saat ternyata kekasihnya menerima lamarannya.


Zay melepas pelukannya lalu ia menyematkan cicin indah itu di jari manis Kiran.


" Terima kasih." ucap Zay menatap dalam manik mata Kiran.


" Sama sama." jawab kiran tersenyum manis.


Pandangan Zay turun ke bibir mungil calon istrinya, ia mendekatkan wajahnya dan satu kecupan manis tepat di bibir Kiran.


Hanya satu kecupan setelah itu Zay menyatukan Dahi mereka.


" Setelah ini kita akan segera menikah." ucap Zay diangguki Kiran.


Setelah itu Zay mengajak kiran duduk dan memulai makan malam mereka dengan diiringi musik romantis.


****


Sementara itu Daffin tengah bersama Grace di apartemennya. Wajahnya sedari tadi siang tidak berubah, ia tetap memasang wajah datarnya hingga membuat Grace pasrah.


" Ayolah mas, kamu hari ini kenapa sih? PMS?" ucap Grace yang lelah membujuk Daffin yang sedang merajuk, ia sendiri tidak tahu apa alasannya.


" Kamu pikir aku wanita yang bisa PMS?" jawab Daffin dengan sewot.


Daffin benar benar di buat cemburu oleh Adam, pasalnya Adam selalu dekat dengan Grace. Bahkan kemanapun Grace pergi selalu dengan Grace kecuali ke toilet.


Seperti tadi siang saat ia melihat Adam dan Grace di kantin, dengan mesrah Adam mengacak rambut Grace dan sesekali menggelitikinya. Daffin yang melihat itu langsung kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal.


" Ya mana aku tau kan? orang dari tadi kamu marah marah mulu." ucap Grace, ia menyenderkan tubuhnya di punggung sofa.


" Kamu tuh gak ngerasa salah sama sekali sama aku ya?" Daffin menghadap Grace yang sedang memejamkan matanya.


" Salah? aku buat salah apalagi sih? gak usah kek cewek deh pakek kode kodean segala. Kalau aku salah tuh langsung ngomong, gak usah pakek tebak tebakan segala. Kamu kira ini lagi tebak kuis apa?" jawab Grace membuaka matanya dan menatap Daffin dengan kesal.


" Kamu tuh bener bener ya? ngeselin tau gak." ucap Daffin melipat kedua tangannya di depan dada.


" Loh.. Kamu yang ngeselin loh mas? aku gak ngerasa punya salah malah kamu marah marah gak jelas kek gini. Jadi yang ngeselin aku atau kamu?" Grace memelototkan matanya tidak terima


Enak aja nuduh dirinya ngeselin padahal dia sendiri yang dari tadi bikin kepala Grace pusing.


" Kamu." jawab Daffin menatap Grace dengan sengit.


" Kamu lah, enak aja." sahut Grace tidak terima


" Pokoknya Kamu "


" Kamulah."


" Kamu."


" Kamu."


" Graciella." ucap Daffin membuat Grace diam dan menatapnya jengah.


" Sekarang kamu ngomong aja deh mas, apa yang buat kamu marah sama aku? aku capek dari tadi debat sama kamu." ucap Grace sambil memijit pangkal hidungnya.


" Ya kamu tadi ngapain di kantin mesrah mesrahan sama temen cowok kamu itu." ucap Daffin membaut Grace menoleh dan mengerutkan dahinya.


" Maksud kamu Adam?"


" Gak tau, iya mungkin." jawab daffin menatap lurus kedepan.


" Astaga jadi gara gara adem sari Chingku kamu marah marah sama aku kek gini?" Grace menggeleng gelengkan kepalanya.


Bukankah waktu itu dia sudah bilang jika Adam adalah teman masa kecilnya, kenapa masih saja cemburu?


" Bukannya aku udah bilang jika dia temen masa kecil aku, lagian kamu ngapain cemburu sama dia? beda level mas." ucap Grace membuat Daffin mendengus malas.


" Kalau aku cemburu kamu deket sama cowok lain itu artinya aku sayang sama kamu. Aku takut ada cowok lain yang ingin ngerebut kanu dari aku. Kayak gini aja kamu gak paham." jawab Daffin membuat Grace ingin sekali menggetok kepala pacarnya.


Apa mungkin dia tidak boleh berteman dengan cowok lain? tapi kenapa dengan Izzam dan Gibran, Daffin tidak khawatir sama sekali?


" Nyleding kepala pacar sendiri dosa gak sih?" gumam Grace pelan namun terdengar samar samar oleh Daffin.


" Kamu bilang apa barusan?"


" Enggak, gak bilang apa apa kok. Yaudah iya aku minta maaf kalau aku salah. Beneran dia cuma teman aku doang. Udah biasa juga kita berdua seperti itu. Lagian dia tau kalau aku pacar kamu." jawab Grace.


" Jangan terlalu mesrah aku gak suka." ucap Daffin menyenderkan kepalanya di bahu Grace.


" Gak janji." jawab Grace pelan.


" Apa kamu bilang?" Daffin bangun dan menatap Grace dengan sengit.


" Iya iyaa." Grace menarik kembali kepala Daffin dan menyenderkan kembali ke bahunya.


Ia bener bener baru tau sifat cemburu Kekasihnya yang menurutnya sangat kekanak kanakan.


Tapi entah kenapa dia justru suka melihat kekasihnya cemburu karena terlihat sangat menggemaskan meski membuat kepalanya pusing.


.


.


.


.


.


❤️❤️❤️❤️