My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
72.



Grace kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju markas Black rose. Sepanjang perjalanan ia menggerutu tidak jelas karena sikap Daffin padanya.


Ia benar benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Daffin. jika semalam ia masih bisa bersikap manis, tapi, pagi ini raut wajahnya terlihat sangat dingin.


Mobil yang di kendarai Grace sampai di markas black rose, ia mnegerutkan dahinya saat melihat mobil Zay yang juga berada disini.


" Zay udah tau kalau adam udah pulang?" gumam Grace sambil menatap mobil di sebelahnya.


Tak banyak berpikir, ia langsung masuk kedalam menemui Zay yang mungkin sedang bersma Vero.


Braaakk...


Pintu di buka secara kasar oleh Grace membuat ketiga orang yang berada di dalam sana menoleh kaget padanya.


" sialan lu, bikin jantung gue mau loncat aja." gerutu Vero mendengus kesal.


" Tau nih, lu gak bisa buka pintu pelan pelan? tuh pintu lama lama bisa rusak kalau cara buka lu kek gitu. Yang anggun kek putri keraton." sahut Adam yang juga ikutan kaget.


Gadis itu tidak menghiraukan ucapan Vero dan adam, ia berjalan menghampiri Zay dengan wajah yang sudah di tekuk.


" Kenapa hm?" tanya Zay sambil mengusap kepala Grace, Ia sudah hapal betul bagaimana suasana hati Grace saat ini.


" Bukannya lu tadi mau masuk kelas? kenapa malah kesini?" sahut Adam.


" Gue di usir dari kelas, padahal gue telat cuma 3 menit doang tapi gue gak boleh ikut kelas dia. Resek banget tuh manusia." ucap Grace dengan nada yang teramat kesal. Ia benar benar dendam dengan Daffin kali ini.


" Kalian ada masalah?" tanya Zay.


Grace menggeleng, bahkan semalam saja masih bersikap manis. Paginya pun Daffin masih sempat mengirimi pesan mengucapkannya selamat pagi meskipun Grace telat membalasnya.


Tapi entah kenapa hanya telat 3 menit membuat wajah laki laki itu begitu dingin padanya.


" Gak ada masalah apapun, semalem masih baik baik aja." jawab Grace, ia menyenderkan kepalanya di bahu Zay sambil mengecek ponselnya dan berharap laki laki itu mengiriminya pesan untuk sekedar bertanya dia ada dimana? tapi nihil, tidak ada satu pun pesan yang dikirim Daffin untuknya. Mungkin masih ngajar, begitu pikir grace.


Tapi kenapa dia berharap? bukankah dirinya berniat untuk mengabaikan pesan atau panggilan dari Daffin?


" Tumben dia begitu? biasanya lu telat 10 menit aja masih boleh masuk." ucap Zay, Grace hanya mengangkat kedua bahunya.


" Oh ya." Grace menegakkan tubuhnya dan menatap adam yang duduk di depannya.


" Lu ngapain pindah ke kampus gue? satu fakultas lagi ma gue." ucap Grace.


Ia teringat ucapan adam tadi jika dirinya pindah kuliah ke indonesia dan tepatnya di kampus Grace.


" Gue sering kangen sama mak bapak gue, makanya gue minta pindah aja." jawab Adam membuat ketiga orang itu memutar bola matanya malas.


Adam memang sedari dulu tidak bisa jauh dengan kedua orang tuanya. Bukan masih anak mama, tapi dia lebih khawatir pada kedua orang tuanya.


Selagi kedua orang tuanya masih mengetuai gengster ini, dia tidak akan berhenti khawatir dan akan terus mengkhawatirkan kedua orang tuanya.


" Ujung ujungnya pindah kuliah disini lalu ngapain lu minta kuliah di luar dongok? masih anak mama juga." sahut Grace mencibirnya.


" Kalu bukan anak mama, gue anak siapa? anak mak bapak lu?" ucap Adam menatap Grace dengan malas.


" Anakconda kali, lagian gue ogah punya sodara kek lu." ucap Grace.


" Nih anak dua dari dulu kagak pernah akur, berantem mulu kalau ketemu." sahut Vero.


Meskipun Vero sejak kecil tinggal di london, ia sering berkumpul dengan ketiga orang ini jika dirinya berlibur ke indonesia bersama kedua orang tuanya.


Jadi tak heran jika dirinya merasa bisan melihat Grace dan Adam tidak pernah akur.


" Mungkin kita berdua ditakdirkan untuk selalu berantem. Ya gak Adem sari?" ucap Luna menaik turunkan alisnya.


Adam mendengus kesal, Grace selalu memanggilnya seperti itu.


" Mama papa gue udah bagus bagus ngasih nama gue Adam, napa lu masih manggil gue kek gitu sih? gak sekalian aja marimas, jas jus atau teh sisri, biar lega tuh tenggorokan lu." Kesal Adam yang justru disambut gelak tawa Grace dan Vero, sedangkan Zay hanya tersenyum saja.


" Eh iya.. lu berdua ngapain kesini? udah tau kalau adam udah pulang kesini?" tanya Grace pada Zay dan Vero.


" Kita mau latihan dan gak sengaja malah ngeliat dia disini." jawab Zay.


" Oohh.. yaudah Yuk lah kita latihan sekalian, udah lama juga gue gak latihan." ucap Grace diangguki ketiga pria tampan itu.


***


Daffin kini berada di ruangannya, ia dari tadi melihat ponselnya namun tidak satupun Grace menghubunginya.


Apa Grace tidak ingin tau kenapa dirinya marah? atau sekedar bertanya kenapa dia tidak boleh ikut kelasnya?


Daffin menarik napasnya dalam setelah itu mengirimi Grace pesan.


Ia melihat pesan yang ia kirim pada Grace centang dua namun belum terbaca.


Pikiran dia sudah kemana mana? apa mungkin dia sedang bersama cowok yang di pelukannya tadi?.


Tidak banyak berpikir ia menghubungi Grace namun kekasihnya itu tidak mengangkat panggilannya.


" Kemana sih dia?" gerutu Daffin karena berkali kali ia menghubungi Grace tapi Grace tidak mengangkatnya.


Ia menaruh ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Nanti saja dia akan meminta penjelasan pada Grace setelah pekerjaanya selesei.


**


Disisi lain Grace masih terus latihan bersama Zay, Vero dan Adam.


" Gue capek." keluh Grace dengan Keringat yang membasahi wajahnya dan tubuhnya.


" Gue juga, badan gue rasanya sakit semua. Efek gak pernah latihan kali ya." sahut Vero yang merasakan sakit di tangan,kaki dan punggungnya.


" Mungkin, gue juga gitu." ucap Grace sambil memijat kedua lengannya.


" Makanya sering sering kesini buat latihan, jangan nongkrong di Caffe mulu." sahut Ica sambil membawa minuman untuk mereka.


" Makasih tante." ucap Grace mengambil segelas orange jus.


" Sama sama."


" Ya kan nongkrongnya sambil ngerjain tugas tan." sahut Vero. Ia meneguk minuman itu hingga tandas.


" Papa mana ma?" tanya Adam.


" ada di ruangannya, ngerjain tugas yang di kasih sama tante Luna." jawab Ica.


" Tugas apa?" tanya Grace di balas gelengan oleh Ica.


" Tante gak tau, biarkan itu urusan mereka." jawab ica, Grace manggut manggut.


" Gue balik keruangan gue dulu ya." pamit Grace, ia berdiri lalu kembali keruangannya.


Grace mengambil handuk dan pakaian yang sengaja ia taruh beberapa disini lalu pergi mandi.


Setelah selesei mandi ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengecek ponselnya.


Ia terkejut saat ada satu pesan dan lima panggilan tidak terjawab dari Daffin.


Daffin : Dimana?.


" Ciihh.. tadi aja ngusir, sekarang nyariin. Dasar cowok." gerutu Grace namun tetap membalas pesannya.


Grace : disuatu rempat dibelahan bumi. cari aja di peta dunia.


Baru saja Grace akan menaruh ponselnya, namun ponsel itu berdering yang ternyata dari Daffin.


Grace masih menatapnya lama, ia ragu untuk mengangkat panggilan itu.


Hampir ia mau menggeser tombol hijau itu, dering ponselnya berhenti.


Daffin : Temui aku di kantor jam 5 sore. jangan membuatku tambah marah dan kamu harus menjelaskan sama aku siapa laki laki yang kamu peluk tadi.


Grace membulatkan matanya saat membaca pesan itu. Ia berpikir keras siapa laki laki yang dimaksud kekasihnya ini.


Setelah mendapat ingatannya, ia tertawa keras.


" Ya ampun dia cemburu sama Adem Sari Ching Ku?" gumam Grace sambil tertawa keras.


" Gila aja kalau dia cemburu tuh sama Anaconda, tapi wajar sih kan dia gak pernah ketemu sama adam."


" Napa lu ketawa keras kek gitu? sampe kedengeran dari luar tau gak." sahut Vero yang baru masuk versama Zay dan Adam.


" Gapapa, lucu aja. Masa Daffin cemburu sama tuh Adem sari Chingku." ucap Grace tertawa keras sambil menunjuk Adam yang sudah memberenggut.


" Lu bener bener harus di kasih pelajaran ya Grace. Awas lu." ucap Adam lalu menghampiri Grace dan menggelitikinya.


Zay dan Vero hanya geleng geleng kepala melihat dua orang yang selalu saja jahil satu sama lain itu.


" ampun.. ampun Dam.. iya gak lagi.. ampun." seru Grave yang tidak bisa menghentikan tawanya karena geli.


" Kata kunci dulu." jawab Adam yang tidak memberi ampun pada Grace.


" Apaan.. please stop, gue udah gak kuat."


" Kata kunci dulu."


" Adam ganteng please stop." ucap Grace lalu Adam menghentikan gelitikannya.


" Adem Sari Chingku. wleee." lanjutnya lalu bersembunyi dibalik tubuh Zay dan Vero.


" Anak ini." geram Adam.


" Udah udah, kalian gak capek apa." sahut Zay membuat Adam mendengus kesal.


" terus lu udah jelasin sama Daffin?"


" Belum, habis dari sini gue mau ke kantornya." jawab Grace.


" Ya udah jangan pulang malem malem." ucap Zay diangguki Grace.


Keempat remaja itu terus bercanda tawa sambil menunggu makanan yang sudah Zay pesan datang.


.


.


.


.


.


TBC