My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
47.



Zay duduk di samping kiran yang sedang tertidur.


Tangannya tidak berhenti menggenggam tangan kiran dan menciumnya berulang kali.


Ia berani menyentuh Kiran hanya saat Kiran sedang tertidur, jika Kiran terbangun zay tidak akan bisa menyentuhnya karena Kiran menolak meski hanya berpegangan tangan.


Sungguh ia rindu dengan kekasihnya ini, rindu senyumnya, tawanya, perhatiannya, dan semua yang ada pada diri Kiran Zay merindukannya.


" Aku kangen sama kamu, aku mohon ingatlah aku." gumam Zay mengenggam tangan kiran dan menempelkannya di pipi.


" Kamu yang sabar Zay, tante yakin suatu saat Kiran pasti akan mengingatmu dan kembali lagi sama kamu." sahut Sita mengusap punggung Zay.


" Harus sampai kapan tante? Zay gak mau Kiran melupakan Zay dalam waktu yang lama, Zay gak sanggup tan." jawab Zay dengan wajah sedihnya.


" Itu akan menjadi perjuanganmu bagaimana agar Kiran cepat pulih dari ingatannya.


Tapi ingat, jangan terlalu memaksanya." ucap Sita dan Zay mengangguk paham.


" Tante titip Kiran dulu, tante dan om mau pulang ke apartemen kiran." ucap Sita diangguki Zay.


Sita dan delon memilih untuk pulang ke apartemen Kiran untuk mengistirahatkan tubuh mereka karena sejak kemaren mereka belum beristirahat dengan benar.


" Sebaiknya tuan juga beristirahat, dari kemarin tuan belum tidur sama sekali." ucap Aska.


Ia sungguh kasihan melihat Zay yang terlihat sekali wajah lelahnya.


Semenjak sampai di jerman memang Zay belum tidur, ia selalu menunggu Kiran di rumah sakit.


Jika Kiran tertidur Zay akan menunggu di samping ranjang kiran, namun jika Kiran terbangun ia hanya menunggu di sofa.


" Anda istirahatlah dulu, saya masih mau menemani Kiran disini." jawab Zay.


Ia tidak perduli selelah apa tubuhnya, ia hanya ingin berada di dekat Kiran selagi Kiran tertidur.


" Tapi tuan juga butuh istirahat, bagaimana kalau tuan juga sakit? siapa yang akan menjaga nona kiran? saya mohon beristirahatlah sebentar selagi nona Kiran tertidur." ucap Aska, Zay hanya menatapnya datar.


" Saya akan tetap disini menemani Kiran, kalau anda lelah istirahatlah sendiri." ucap Zay dengan datar.


" Baiklah kalau begitu saya akan membelikan tuan makanan, supaya tuan punya cukup energi untuk menjaga nona Kiran." ucap Aska diangguki Zay.


Kiran perlahan membuka matanya dan merasa ada yang menggenggam tangannya.


Ia menatap laki laki yang selalu menunggunya ini sedang tertidur.


Yups... sepeninggal Aska, Zay tertidur dengan posisi duduk namun kepalanya ia letakkan di samping tubuh kiran dengan tangannya yang terus menggenggam tangan kiran.


Kiran membiarkan tangannya untuk di genggam Zay, ia merasa kasian dengan Zay karena terlihat jelas wajah lelahnya.


Kiran mencoba mengingat ingat siapa sebenarnya Zay namun ia tidak ingat sama sekali hingga membuat kepalanya sedikit berdenyut.


" aaaww.." rintih Kiran dengan tangan sebelahnya memegang kepala.


Zay langsung terbangun saat mendengar Kiran merintih sakit.


" Ada apa? kamu kenapa? apanya yang sakit?" tanya Zay beruntun.


" A-aku gapapa kok, kepalaku sedikit sakit." jawab Kiran, ia menarik tangannya yang sedari tadi masih di genggam Zay.


Zay mengerti lalu melepaskannya.


" Kamu butuh sesuatu?" tanya Zay dengan lembut.


" Bisa tolong aku ambilkan minum, aku haus." ucap Kiran.


Zay tersenyum, ia mengangguk lalu mengambilkan air minum dan membantu Kiran untuk minum.


" Terima kasih." ucap Kiran tersenyum canggung.


" Sama sama, kamu istirahat lagi ya biar cepet sembuh." ucap Zay namun Kiran menggeleng.


" Kenapa?"


" Sebenarnya kamu siapa? kenapa aku tidak bisa mengingatmu sama sekali?" tanya Kiran menatap Zay dengan wajah penasaran.


" Jangan terlalu diingat, aku gak mau kamu kenapa napa. Biarkan waktu yang akan menyembuhkan ingatan kamu. Dan yang jelas aku adalah laki laki yang akan selalu mencintai kamu dan akan selalu di samping kamu. Jadi izinkan aku disini untuk selalu nemenin kamu." jawab Zay sambil menggenggam tangan kiran.


" Maafkan aku kalau aku tidak bisa mengingatmu,, sungguh aku benar benar tidak ingat apapun." ucap Kiran, dan Zay mengangguk paham.


" Gapapa, jangan terlalu dipaksa. pelan pelan saja ya." jawab Zay tersenyum.


" Sekarang kamu istirahat, aku akan jagain kamu disini." ucap Zay diangguki Kiran.


Kiran memejamkan matanya, Zay menaikkan selimutnya lalu tak lama ia ikut memejamkan mata.


***


Grace berjalan di koridor rumah sakit bersama Daffin, mereka akan menemui dokter yang menangani pengobatan Angel. Mereka ingin memastikan sejak kapan Angel bisa berjalan.


" Jadi sudah enam bulan yang lalu Angel sudah bisa berjalan?" tanya Daffin menatap datar dokter Roy.


" Iya tuan, maafkan saya tidak memberi tahu anda karena nona Angel mengancam saya jika saya memberi tau anda tentang kesembuhannya." ucap Dokter Roy yang merasa bersalah.


" Apa anda tidak sadar jika perbuatan anda merugikan orang lain? saya percaya dengan anda untuk proses penyembuhan kaki Angel, tapi anda malah menyembunyikan kesembuhannya dan ikut membohongi saya." ucap Daffin dengan tatapan kecewa.


" Sekali lagi maafkan saya tuan, saya sungguh diancam oleh nona angel." dokter Roy menunduk takut.


" Sudahlah mas, maafkan dokter Roy. Memang Angel yang keterlaluan." Sahut Grace sambil mengusap lengan Daffin.


" saya bersedia nona, kapanpun anda membutuhkan saya untuk menjadi saksi, saya akan siap." jawab dokter Roy.


" Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih atas waktunya." ucap Grace menjabat tangan dokter Roy, kecuali Daffin. Laki laki itu langsung keluar begitu saja.


Grace menggelengkan kepalanya, lalu menyusul Daffin keluar.


" Mas tunggu." teriak Grace. Daffin menoleh kebelakang dan menunggu Grace.


" Maaf aku ninggalin kamu." ucap Daffin menggandeng tangan Grace.


" Marah sih marah masa aku di tinggalin." ucap Grace mencebikkan bibirnya.


" Maaf sayang." goda Daffin mengacak pelan rambut Grace.


Grace tidak menanggapinya, keduanya terua berjalan menuju parkiran.


" Graciella." panggil seseorang yang menggunakan kursi roda.


Grace menoleh kebelakang dan terkejut melihat orang yang menyapanya.


" Olivia." sahut Grace dengan wajah terkejut.


" Iya ini aku oliv, kamu apa kabar?" tanya Oliv dengan senyum manisnya.


" Baik. kamu sendiri?"


" Seperti yang kamu lihat, aku yakin Zay sudah memberi tau kamu tentang penyakitku." jawab Oliv tertawa kecil.


" Hm.. ada apa?" tanya Grace dengan malas.


" Gak ingin ngenalin laki laki itu padaku." ucap Olive melirik Daffin yang berdiri disamping Grace.


" Dia Daffin, dosen aku." jawab Grace.


" Lebih tepatnya calon suami Grace." sahut Daffin membuat Grace menoleh padanya dan mencubit perutnya.


" Sakit sayang." rintih Daffin karena grace mencubit perutnya sedikit keras.


" Ngaco mulu kalau ngomong." kesal Grace.


" Kan emang bener."


" Diam kamu." Grace sewot, Olive tersenyum jahil melihat Grace dan laki laki disampingnya ini.


" Katakan, ada apa?" tanya Grace pada Olivia.


" Aku mau tanya tentang Zay. Kemana dia? kenapa sudah 3 hari tidak menemuiku?" tanya Oliv.


Setiap hari ia menunggu kedatangan Zay namun laki laki itu tidak kunjung datang. Bahkan nomornya saja tidak aktif.


" Dia nyusul kiran ke jerman." jawab Grace membuat Olivia membulatkan matanya.


" Kamu serius?"


" aku serius, dia berangkat setelah menemanimu kemoterapi." jawab Grace.


Olivia menunduk sedih, salahnya karena waktu itu ia menahan Zay untuk tidak mengantar kiran ke bandara.


Dan justru sekarang Zay menyusulnya kesana.


Entah kenapa justru Olivia ingin Zay selalu di sampingnya, menemaninya dan mengutamakannya.


Ia tidak rela jika Zay lebih mementingkan Kiran.


Tapi bukankah waktu itu ia merelakan Zay bersama Kiran? kenapa sekarang berubah? Entahlah hanya Olivia yang tau tentang hatinya.


" Aku pergi dulu, semoga kamu cepet sembuh." ucap Grace membuyarkan lamunan olivia.


" Ahh iya.. hati hati dijalan." ucap Olivia diangguki Grace.


Olivia menatap kepergian Grace dan Daffin.


Matanya berkaca kaca saat mendengar perkataan Grace jika Zay menyusul kiran ke jerman.


" Kenapa hati aku sakit banget." gumam Olivia dan tak lama air matanya menetes begitu saja.


" Aku butuh kamu Zay, kenapa kamu malah pergi? aku butuh kamu disini buat nemenin aku." ucap Olivia terisak.


" sayang kamu kenapa nangis? ada yang sakit?" sahut Ranti yang baru saja menebus obat untuk Olivia.


" Gapapa ma, ayo kita pulang." ucap Olivia sambil mengahapus air matanya.


" kamu yakin gak ada yang sakit?" tanya Ranti dan Olivia mengangguk.


" Ya sudah kita pulang sekarang." ucap Ranti lalu mendorong kursi roda itu keluar rumah sakit.


.


.


.


.


Baru bisa up sekarang 🙏🏻