
Hari ini adalah hari minggu, Grace, Naya dan grizzele sepakat untuk menghabiskan waktu mereka dengan berjalan jalan ke mall dan nongkrong di caffe.
Sudah menjadi kebiasaan jika hari libur mereka habiskan waktu untuk sekedar hangout atau melakukan hal random.
" Kemana lagi kita?" tanya Grizzele.
" Kemana aja lah, cari cogan juga boleh." jawab Grace asal.
Matanya kesana kemari melihat orang berlalu lalang.
Namun tidak disangka saat manik matanya menangkap bayangan seseorang yang belakangan ini membuat dirinya pusing bukan kepalang akibat tugas menumpuk yang di berikan.
yups, grace melihat Daffin berada di mall yang sama dengannya.
" Lu kemana grace?" teriak Naya saat melihat Grace tengah berlari.
" Ngejar cogan bentar." jawab grace sambil berlari mengikuti daffin
" siapa?" tanya naya pada grizzele
" Gak tau, dahlah gak usah diikutin gue capek banget.
Mending kita ke kedai es cream aja, nanti kita kabarin si grace biar dia nyusul." ucap Grizzele diangguki naya.
Mereka pun akhirnya sepakat menunggu grace di kedai es cream.
Sementara itu Grace diam diam mengikuti Daffin yng sedang berjalan seorang diri.
Merasa ada yang mengikuti, daffin memutar tubuhnya melihat kebelakang.
Beruntung grace memakai hoodie yang ada topinya, jadi ia memakai topi hoodie itu dan melihat ke arah lain saat daffin menoleh kebelakang.
Saat Daffin berjalan lagi, grace mengikuti kembali.
Daffin merasa jika ia benar benar sedang diikuti, daffin belok ke arah lain namun grace tidak melihatnya.
Saat grace celingukan mencari keberadaan Daffin, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
" Kamu cari saya?" tanyanya mengagetkan grace yang sedang celingukan.
Grace menoleh kebelakang dan kaget saat orang yang diikuti kini berada di hadapannya.
" Dihh GR banget, saya lagi cari temen temen saya kok." elak grace sedikit gugup.
" yakin kamu dari tadi tidak mengikuti saya?" tanya Daffin di balas grace dengan anggukan cepat.
" oh." jawabnya lalu pergi meninggalkan grace.
" oh? cuma oh doang? astaga kenapa dia kek Zay, dingin banget." gerutu Grace saat melihat Daffin sudah menjauh.
Namun entah kenapa justru ia senyam senyum saat melihat kepergian Daffin.
Grace membuka ponselnya, naya mengiriminya pesan jika ia ditunggu di kedai es cream tempat biasa mereka beli.
Dengan segera Grace berjalan ke kedai es cream menghampiri teman temannya.
" Dari mana aja sih lu?" tanya grizzele saat Grace sudah datang.
" kan gue udah bilang, gue lagi ngejar cogan." jawab grace sambil merebut es cream punya Naya.
" pesen sendiri sana." ucap Naya menampol pelan lengan Grace.
" Males jalan, gue capek tau." jawab Grace.
" emang cogan siapa sih? perasaan lu gak lagi deket ma siapa siapa deh." tanya Naya penasaran.
" Pak Daffin." jawab Grace.
" Haaaahh? Gak salah denger nih? Lu serius mau dapetin tuh dosen killer?" tanya Grizzele.
" Mungkin." jawab Grace tersenyum smirk.
" Lu gila, dosen dingin kek gitu mana bisa di taklukin, biarpun lu cantik tapi tuh dosen kek gak minat deh sama lu." ucap Naya.
Plaaakk...
" anda kalau ngomong suka bener, salut gue sama mulut anda yang ceplas ceplos." ucap grizelle setelah menampol lengan Naya.
Grace memutar bola matanya malas." Mau taruhan?" tanya Grace.
" Gak..gakk.. gue dah kapok taruhan ma lu." jawab Naya dengan menggeleng cepat.
" Iyaah.. kapok gue, mana yang lu minta mahal mahal lagi.
Lama lama bangkrut nih bonyok gue." sahut grizzele.
" yaudah kalau gitu diem, jangan panggil gue Grace kalau gue gak bisa naklukin si Daffin." ucap Grace tersenyum smirk.
" yaudahlah terserah lu, yuk ke caffe tuh para manusia udah nungguin kita dari tadi." ucap Naya.
" Siapa?" tanya Grace.
" para bujang lapuk." jawab Naya.
Grace yang tidak mengerti mengernyitkan dahinya.
" siapa sih?"
" Kembaran lu sama dua dugongnya lah, emang siapa lagi." jawab Grizzele.
" owwhh.. yaudah hayuk.."
Mereka berdiri lalu meninggalkan area mall.
____
Di caffe yang sama terlihat devano dan teman temannya memasuki caffe.
Mereka mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang masih kosong.
" Yuk kesana." ajak devano menunjuk tempat yang kosong.
Mereka mengangguk dan mengikuti devano yang berjalan lebih dulu.
" Kakak..." sapa Devano pada Grace dan Zay.
" Lu ngapain disini? Sama siapa?" tanya Grace.
" Noh lagi sama temen mau mungutin putung rokok." jawab Devano asal.
plaakkk..
" Ditanya gak ada seriusnya lu." ucap Grace menabok lengan Devano.
" Lagian elu tanya ke caffe ngapain, masuk akal gak tuh?" kesal Devano.
" Elvano.. duduk sini." ucap Grace menyeret kursi lalu ia taruh di sebelahnya.
" Uluhh uluuhh pinter sekali kakakku ini, adek yang paling ganteng gak di suruh duduk malah sepupu duluan yang di suruh duduk." Geram devano.
" Punya tangan kan? ambil sendiri sono." ucap Grace sinis.
" Untung gue ganteng, jadi stok kesabaran gue banyak." gumam devano lalu menggeser kursi dan meja untuk ia jadikan satu dengan meja kakaknya.
Mereka semua bergabung menjadi satu dalam satu meja.
" Gak ada hubungannya bambang." sahut Nathan.
" Oohh.. jelas ada dong. Orang ganteng di bully gimanapun akan tetep ganteng dan lu tau itu semakin membuat kesabaran di diri gue semakin meningkat." jelas Devano.
" Kenapa Zay dan Devano berbeda? yang satu tingkat kepedeannya overdosis yang satu malah kek kutub, dingin banget." sahut Naya.
" Dulu waktu hamil bang Zay, mama sering makan es batu makanya jadi kek gitu." jawab devano.
" Tapi Grace enggak, malah dia sebelas duabelas ma elu, sama sama gila." sahut Grizzele.
" Itu beda cerita lagi, jadi waktu mereka lahir, kak Grace di taruh di atas kompor dulu biar gak punya sifat dingin karena mengingat mama dulu pas hamil mereka ngidam es batu, lah untuk bang Zay mama kelupaan kali makanya jadi modelan begitu." jelas devano lalu mendapat tabokan dari Grace.
" Lucknut bener dirimu nak... inget lu, siapa yang bantu lu dulu saat mama ngejar lu pakek sapu sampe lu mau minta tolong sama tetangga." Cibir Grace.
" Atuhlah kak jangan diingetin lagi, gue malu kalau inget kejadian itu." ucap Devano.
" Emang ceritanya gimana kak?" tanya Freya.
" Mau gue ceritain?" sahut Elvano.
" JANGAN.. el gue beneran gak bakal nganggep lu sepupu kalau mulut lu sampe bocor." ancam devano.
" Tenang masih ada gue sama bang Zay yang masih nganggep lu sepupu." bela Grace.
" El... please." ucap Devano memohon.
" Jadi gini.. waktu itu."
" EEEEELLLLL..." teriak Devano hingga membuat Grace dan yang lain menutup telinganya, bahkan para pengunjung langsung menoleh kearahnya.
" Gak usah teriak." ucap Zay menoyor devano.
" Bang tolongin dong, ketampanan gue bisa luntur kalau aib gue kebongkar." rengek devano.
" El.. jangan terusin." ucap Zay.
" Oke siap bang, maaf semua tuan muda Zay tidak memperbolehkan untuk meneruskan ceritanya." ucap elvano dengan formal.
Devano bernapas lega, ia berdiri lalu mencium pipi abangnya.
cuuuppss
" Thank you abang Dingin."
" Waktu itu dia ngompol di sofa, makanya mama ngamuk." ucap Zay tiba tiba.
Devano membulatkan matanya, sedangkan yang lain sudat meledakkan tawanya.
" BANG ZAAAAAYYY..." teriak Devano, ia menundukkan kepalanya, rasa malu tak terbendung saat Zay menceritakan aibnya di depan semua orang.
" Zay.. lu kebangetan sumpah, adek lu sampek malu gitu." ucap Izzam tidak bisa berhenti ketawa.
" Abang Lucknut, udah gak good looking, gak good akhlak pula, mati aja sono." kesal Devano.
" Emang gue kenapa?" tanya Zay dengan tampang tak berdosanya.
" Kalau bukan abang, gue mutilasi tubuh lu, terus gue kasih lexa sama lexis." geram Devano.
" Mau motor?" goda Zay.
" Gak.."
" Yakin gak mau? kalau mau habis ini kita ke showroom motor." ucap Zay.
" Beneran?" tanya Devano dengan mta berbinar.
" Ngamen dulu di lampu merah selama 2 jam baru gue beliin." ucap Zay dengan santainya.
" Mati aja sono lu." Geram Devano.
.
.
.
.
Jangan Lupa like dan komen 🤗