My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
91.



H - 1....


.


.


.


.


.


.


Zay duduk merenung di balkon kamarnya. Tatapannya menerawang jauh ke atas menatap langit gelap yang bertabur bintang.


Hari ini adalah hari terakhir dirinya menjadi perjaka karena besok pagi ia akan melepas masa lajangnya.


Menikahi kekasihnya Kiran yang sudah ia lamar beberapa bulan yang lalu.


Tampak sekali raut bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena dirinya akan menikah dengan Kiran dan Sedih ketika hari bahagianya justru Grace belum di temukan dan tidak bisa ikut merasakan hari bahagianya.


Keputusan untuk menikahi Kiran disaat Grace belum ditemukan memang sudah di pikir matang matang oleh Zay dan keluarganya. Padahal Keluarga Kiran siap untuk menunda sampai Grace benar benar sudah di temukan.


Namun keluarga Zay lah yang justru meyakinkan Kiran dan keluarganya, tidak apa apa jika pernikahan tetap di langsungkan asal tidak dilaksanakan pesta pernikahan dan hanya di lakukan ijab qobul saja, dan bersyukur keluarga Kiran menyetujuinya.


Jika suatu saat Grace kembali, mereka akan mengadakan perayaan pesta pernikahan Zay dan Kiran.


Namun jika Grace tidak akan pernah kembali, mereka tidak akan mengadakannya karena yang terpenting mereka sudah sah di mata hukum dan agama.


Mata Zay berkaca kaca saat memandang foto Grace di layar ponselnya. Ia teramat rindu dengan saudara kembarnya itu. Tiga bulan lebih ia kehilangan Grace membuat dirinya semakin terpuruk. Beruntung ada Kiran yang selaku menjadi obat dari semua kesedihannya.


Memang wanita itu dari dulu selalu ada untuk Zay disaat masa sulitnya seperti ini.


" Lo dimana dek? apa lo masih hidup sekarang? gue kangen sama lo." Zay mengusap layar ponselnya yang menampilkan wajah Grace yang tengah tertawa bersamanya.


Senyumnya, tawanya, manjanya, tingkah lakunya, semua Zay rindu.


" Mama, papa, Devan, seluruh keluarga besar kehilangan tawa mereka karena lo. Kita berharap lo masih hidup dan kembali ke tengah tengah keluarga kita lagi."


" Gue mohon lo kembali Grace, gue yakin lo masih hidup sekarang. Feeling gue kuat kalau lu masih hidup." Zay menarik napasnya dalam dan membuangnya secara perlahan.


Dadanya tiba tiba terasa begitu sesak dan matanya memanas.


" Lo dimana sih dek?." Zay menundukkan kepalanya frustasi dan tak terasa air matanya menetes begitu saja.


Kehilangan Grace sama saja kehilangan separuh jiwanya. Saudara kembar yang selama ini tidak pernah terpisah oleh jarak dan waktu kini tiba tiba harus kehilangan tanpa jejak sedikitpun.


" Gue besok mau nikah sama kiran, harusnya lo ada disini di samping gue dan ikut ngerasain hari bahagia gue." Zay terisak kecil, kebahagian yang harusnya benar benar ia rasakan kini justru terbagi dengan kesedihan yang ia rasakan.


" Lo tau gak? bang Daffin juga hampir gila gara gara kehilangan lo. Dia terus berusaha nyariin lo.


Dia juga sama kayak gue, yakin kalau lo masih hidup."


" Gue kangen lo dek. Kengen!!" air mata Zay semakin mengalir deras. Rasa rindu yang ia tahan kini ia tumpahkan dengan air mata.


Zay selalu berharap semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan saat terbangun nanti ia bisa memeluk Grace dalam keadaan yang paling nyata.


Vero yang dari tadi mendengar semua ungkapan hati Zay ikut merasakan pilu. Dirinya memang sedari tadi berdiri diam di pintu balkon.


Niat hati ingin memanggil Zay untuk makan malam bersama, namun ia melihat Zay yang sedang berbicara sendiri dengan isak kecilnya.


Vero menepuk bahu Zay membuat sang empu menoleh padanya.


Dengan segera zay menghapus air matanya dan mencoba bersikap biasa saja.


Karena ia selalu berpura pura kuat dan tegar di hadapan orang lain.


" Kalau dengan nangis lo bisa ngerasa lega, terusin aja!!. Gue juga ngerasain apa yang lu rasain." ucap Vero.


Sama halnya dengan Zay, Vero juga merasa kesedihan atas hilangnya Grace. Diam diam laki laki itu mencari keberadaan Grace dengan anak buah Reyhan dan Adam.


Ia juga merasa yakin jika Grace masih hidup saat ini.


" Lo yakin mau nikahin Kiran dalam situasi seperti ini?" tanya Vero menatap lurus keatas.


" Kenapa?"


" Apanya?" Vero menoleh kearah Zay tang selalu terlihat datar.


" Kenapa lu selalu nanya pertanyaan yang sama?"


Ini adalah pertanyaan kesekian kalinya yang ditanyakan Vero padanya.


Dan setiap itu pula Zay menjawab jika dirinya yakin.


Memang tidak ada keraguan di diri Zay untuk menikahi Kiran, karena memang sudah rencananya dari awal dia akan menikahi Kiran setelah acara lamaran malam itu.


" Gue cuma khawatir saat lu udah jadi suami Kiran, lu bersikap datar padanya. Ya meskipun gue tau, hanya dengan Kiran lu masih bisa bersikap biasa aja." jawab Zay.


Bukan tanpa alasan, sebab sepeninggal Grace, Zay menjadi lebih dingin dari pada saat kehilangan Olivia dulu.


Dia lebih pendiam dan datar kepada keluarga dan teman temannya kecuali dengan Kiran.


Dengan Kiran Zay masih bisa bersikap lembut dan tak jarang dia bisa tersenyum dan sesekali tertawa.


" Gue masih waras untuk memperlakukan istri gue sebagaimana mestinya." jawab Zay dengan smirk kecilnya.


" Kenapa lo gak nunggu dia selesai kuliah aja? gak lama lagi dia akan selesai dengan kuliahnya."


" Biar dia bisa menjaga hati saat dia jauh dari gue nanti." ucap Zay membuat Vero tertawa kecil.


" Lo bodoh atau gimana? Lo nyamain Kiran sama wanita yang tukang selingkuh di luaran sana?" Vero geleng geleng kepala mendengar jawaban Zay.


" bukan gitu maksud gue."


" Kiran bukan wanita seperti itu, kalau lu ngasih jawaban gue dengan jawabam bodoh lu itu, gue yakin lu cuma ngarang." potong Vero yang juga bersmirk.


" terserah lu mau percaya atau enggak, emang itu alasan gue. Gue gak mau kehilangan orang orang yang gue sayang lagi untuk kesekian kalinya.


Dulu Olivia, sekarang Grace dan gue gak ingin kehilangan Kiran." ucap Zay yang kini membuat Vero menggut manggut.


" Jadi itu kan alasan lu sebenernya?"


" Bisa di bilang begitu." jawab Zay.


" Ngomong ngomong lu ngapain ke kamar gue." lanjutnya menoleh ke arah Vero.


" Tadinya mau ngajak lu makan bareng sama yang lain, tapi mungkin semua orang sudah makan duluan karena kelamaan nungguin kita." jawab Vero.


" Sebaiknya kita turun. Gue mau bicara sama papa soal ijab Qobul besok." ucapZay diangguki Vero.


Keduanya langsung berdiri dan keluar kamar menemui keluarganya yang lain.


.


.


.


.


.


Entah kenapa hari ini mood lagi gak bagus buat nulis. tapi demi kalian yang penasaran kelanjutannya aku sempetin buat up.


Jangan lupa like dan komen ya.❤️❤️