
Pesta barbeque malam itu berjalan dengan gembira.
Semua bercanda tawa layaknya dalam satu keluarga besar.
Semua juga menginap di rumah reyhan tanpa terkecuali.
Kini jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan semua orang sudah tidur, namun tidak untuk seorang gadis yang masih terjaga dengan duduk di balkon kamar Grace.
Kiran... Wanita itu tidak bisa memejamkan matanya. Disaat Grace sudah tertidur, ia berusaha memindahkan tubuhnya ke kursi roda.
Dengan sedikit kesusahan akhirnya ia bisa mendudukan tubuhnya di kursi roda.
Kiran mendorong dengan pelan kursi roda itu menuju balkon kamar, ia membuka pelan pintu balkon itu agar tidak mengusik tidur Grace yang terlihat sangat pulas.
Setelah menutupnya kembali, Kiran menghadap lurus kedepan dan melihat langit malam yang bertabur bintang.
" Aku ingin ingatanku segera pulih. Aku ingin secepatnya mengingat orang orang yang menyayangiku, mereka begitu baik padaku." gumam Kiran dengan air mata yang menetes.
Kiran membuka ponselnya dan melihat galeri foto dirinya bersama Zay dan temannya yang lain.
Kiran terus menggeser foto foto itu hingga akhirnya ia melihat sebuah foto yang terdapat foto dirinya, Zay dan wanita yang pernah ia jumpai di rumah sakit yang tak lain adalah Olivia. Kiran terus mencoba memaksa mengingat siapa wanita yang ada disamping Zay hingga suara suara itu muncul kembali.
Kiran.. aku menyukai sahabatmu, apa kamu menyetujuinya?.
Siapa?
Zayyan, dia sangat tampan. aku jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu.
Bagaimana menurutmu?
Terserahmu saja, lagian dia jomblo.
_
aarrgghh..
Kiran menggerang pelan saat kepalanya berdenyut hebat, ia tidak ingin seseorang mendengar teriakannya.
" Sakit." erang Kiran sambil memegang kepalanya.
Pergilah jangan khawatirkan aku..
Tapi kamu akan berangkat.
Pergilah Zay.. dia membutuhkanmu.
Jaga diri kamu baik baik, aku sayang sama kamu.
Aku menantikan kamu kembali ke indonesia.
Aku mencintaimu...
Kepalanya semakin berdenyut hebat saat suara suara itu memenuhi indera pendengarannya.
Ia mencoba meredam suaranya namun tanpa sadar suara erangannya semakin keras.
Grace yang mendengar itu mencoba membuka matanya. Ia melihat kesamping tidak ada Kiran, kemudian ia melihat luar balkon dan disana kiran sedang menggerang sambil memegangi kepalanya.
Tanpa pikir panjang Grace langsung melompat turun dari ranjang dan langsung menghampiri Kiran.
" Kiran lu kenapa? heei lu kenapa?" Grace mencoba menyadarkan Kiran namun Kiran semakin kesakitan.
" Sakit.." Kiran terus memegangi kepalanya yang terus berdenyut.
" Aduh gimana ini? bentar lu tunggu sini." ucap Grace langsung berlari keluar menuju kamar Zay.
Beruntung kamar Zay tidak di kunci, ia langsung masuk kedalam dan membangunkan Zay.
" Zay bangun.. woey bangun." Ucap Grace mngguncang tubuh Zay.
" Apa sih Grace gue masih ngantuk." gumam Zay semakin mengeratkan pelukan gulingnya.
" Zay please bangun, Sakit kepala kiran kambuh Zay. Buruan bangun." ucap Grace yang sukses membuat Zay membuka mata dan langsung melompat turun dari tempat tidur. Tanpa banyak tanya ia langsung menuju kamar Grace dan mencari keberadaan Kiran.
" Balkon." Sahut Grace yang melihat Zay celingukan, mungkin karena nyawanya belum lengkap.
Zay langsung menuju balkon dan melihat Kiran yang sedang kesakitan memegangi kepalanya.
" Sayang ini aku Zay,, heii kamu kenapa? Kiran tolong dengerin aku. Please jangan di paksa inget yaa, please kamu tahan jangan inget inget apapun" ucap Zay sambil menarik Kiran kedalam pelukannya.
" Grace tolong ambilkan obat Kiran yang ada di tasnya." ucap Zay lalu Grace mencari obat di tas kiran.
" Sakit.. ini sakit banget." Kiran terus memegangi kepalanya.
" Nih Zay." Grace memberikan obat dan minuman itu pada Zay.
Kiran tidak me mnjawab, perlahan sakit kepalanya berangsur membaik.
Dengan napas yang memburu ia menatap Zay dan Grace bergantian...
" Z-zayyan, G-graciella." ucap Kiran menatap kedua orang di depannya ini bergantian.
Zay dan Grace saling pandang apa mungkin Kiran sudah mengingat mereka?.
" K-kamu inget sama aku?" tanya Zay diangguki Kiran.
" Lu inget gue Ran?" sahut Grace juga diangguki Kiran.
" Alhamdulillah, akhirnya ingatan kamu kembali lagi sayang.", ucap Zay menarik Kiran kedalam pelukannya.
Sungguh ia tidak menyangka jika ingatan Kiran cepat kembali.
" Syukurlah, gue seneng banget lu bisa inget kita. Berarti lu udah inget semuanya?" sahut Grace diangguki Kiran.
" Olivia, aku juga sudah mengingatnya." jawab Kiran.
Ia masih memegangi kepalanya yang masih sedikit berdenyut.
" Minum ini dulu ya." ucap Zay memberikan obat untuk Kiran. Kiran menerimanya dan meminumnya.
" Besok kita ke dokter untuk memeriksa kondisi kamu " ucap Zay yang tak hentinya menatap Kiran dengan tersenyum.
Ia teramat bersyukur karena ingatan Kiran sudah pulih kembali.
" Iya." jawab Kiran yang juga tersenyum manis.
ia juga merasa senanang akhirnya ia bisa mengingat Zay dan sahabatnya kembali Meskipun ia harus rela merasakan kesakitan yang luar biasa.
" Sekarang kamu istirahat ya, aku tau kepala kamu masih sakit." ucap Zay diangguki kiran.
Zay mendorong kursi roda kiran menuju ranjang Grace, ia menggendong tubuh kiran dan memindahkannya ke atas ranjang.
" Jangan beritahu siapa siapa dulu, aku mau buat kejutan sama yang lain.", ucap Kiran.
" Jahil ya." jawab Zay sambil menoel hidung Kiran.
" Eheem... ada gue disini." sahut Grace yang sudah berbaring di samping Kiran. Zay melirik Grace sekilas tanpa menggubris ucapannya.
" Yaudah kamu istirahat, aku akan kembali ke kamar. cepat panggil aku Kalau ada apa apa." ucap Zay lalu mengecup kening Kiran.
" iya.. selamat tidur." ucap Kiran diangguki Zay.
Zay keluar dari kamar grace lalu kembali ke kamarnya.
" Gue seneng lu dah inget kita lagi, lu tau gak gimana kacaunya Zay saat lu ngelupain dia?" ucap Grace di balas gelengan kiran.
" Kacau banget, dia frustasi banget saat tau lu kecelakaan dan hilang ingatan.
Niat dia nyusulin lu ke jerman buat minta maaf sama lu karna udah bohongin lu tentang olivia. eh disana malah lu ngalamin kecelakaan." ucap Grace yang kini matanya tidak merasa ngantuk sama sekali.
" Aku gak marah sama Zay, aku marah sama diriku sendiri karena tidak bisa menahan Zay agar tetap bersamaku. Tapi mau gimana lagi Olivia sahabatku juga." jawab Kiran.
" jangan terlalu baik Ran, Olivia memang sahabat lu. Tapi dia juga egois menahan Zay agar tidak menemuimu." ucap Grace.
" Lu tau? Tante Ranti meminta Zay untuk memberikan waktunya untuk menemani olivia. Beruntung sekarang Zay sudah mempunyai pendirian tegas, dia memilih nemenin lu ketimbang mengiyakan permintaan tante Ranti." ucap Grace. ia tau karena Zay menceritakan semua padanya.
Kiran terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa.
" Untuk kali ini, lu harus bisa tegas. Lu harus bisa sedikit lebih egois, biarpun Olivia sendiri yang meminta lu untuk Zay menemaninya, lu jangan mau. Lu kekasih Zay saat ini, jadi lu berhak ngatur Zay untuk tidak deket sama orang yang buat lu sakit hati." tutur Grace. ia berbicara seperti ini agar Kiran tidak lagi memendam rasa kecewa atau sakit hatinya.
ia tidak ingin Kiran jadi wanita lemah yang terus mengalah. Sesekali Kiran harus menjadi wanita egois, karena bagaimanapun Olivia adalah masa lalu Zay meskipun Olivia juga sahabatnya.
" Akan aku coba." jawab Kiran.
" Aahh.. lu mah terlalu baik. pokoknya lu harus bisa jadi wanita egois biar Oliv kapok dan gak ngemis perhatian sama Zay." ucap Grace dengan nada kesal.
" Iya.. udah yuk tidur.. aku ngantuk." jawab Kiran.
" Oke.. selamat tidur." ucap Grace lalu menarik selimutnya dan tak lama keduanya terlelap.
.
.
.
.
Alhamdulillah ingatan Kiran dah pulih 😊