My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
38.



Elvano menuntun Devan berjalan menuju kelas karena Devan masih belum bisa berjalan sempurna.


Luka sewaktu jatuh dari motor kemarin belum sembuh benar di tambah saat mandi pagi tadi dia kepleset dan mengakibatkan kakinya sedikit membengkak.


Grace dan Zay sudah melarangnya pergi kesekolah, namun anak itu memaksa untuk pergi.


Kabar jatuhnya Devan dari motor juga sudah di dengar oleh Luna dan Reyhan, jadilah Luna memarahi Devan karena kecerobohannya.


El menendang pintu kelas membuat semuanya memekik kaget, dan tak sedikit pula yang mengumpatinya.


" Devan kaki Lo kenapa?" ucap Bella saat Devan mendudukkan tubuhnya dibangku.


Ia berdiri disamping meja Devan dan membelakangi meja Freya.


" Digigit semut." jawab Devan ngasal dan membuat Bella memberenggut.


" Gue serius Dev, kaki lo kenapa? kenapa bisa pincang gitu?"


" Dia jatuh dari motor kemaren." sahut Nathan.


" Serius dev?" tanya Bella memastikan.


Bukannya menjawab, Devan malah menggeser pelan tubuh Bella dan menatap Freya yang sedang asyik membaca buku.


" Sayangnya Devan.. serius amat baca bukunya? gue dateng malah gak diucapin selamat pagi atau apa gitu?" ucap Devan membuat Freya menoleh padanya.


" Devan, gue ngomong sama lu, kok malah di cuekin sih?" sahut Bella menghentak hentakkan kakinya.


" Apa sih berisik banget? duduk sana, gue mau natap masa depan gue nih." ucap Devan sambil menatap Freya dengan tersenyum.


Bella memberenggut, ia duduk dan menatap kesal Devan dan Freya bergantian.


" Yank.." panggil Devan namun Freya tidak menoleh.


" Sayang.." panggilnya sekali lagi namun Freya tetap tidak menoleh, ia semakin fokus membaca bukunya.


" FREYA SAYANG." ucap Devan dengan suara keras hingga seluruh penghuni kelas menoleh padanya.


Bugghh..


Freya memukul bahu Devan dengan buku yang di pegangnya.


" Berisik... ada apa sih?" sahut Freya dengan kesal.


" Nyapa doang sekalian gue mau bilang kalau gue kangen sama lo tapi gak banyak kok.." jawab Devan nyengir, ia mengusap bahunya yang baru kena tabokan dari Freya.


" Dasar gila." sahut Freya lalu melanjutkan kembali membaca bukunya.


Bella mengepalkan tangannya dibawah meja.


Melihat kedekatan Devan dan Freya membuat hatinya semakin panas, ia harus cari cara agar Devan jatuh hati padanya, karena menurutnya ia tak kalah cantik jika di bandingkan dengan Freya dan cewek cewek di kelas ini.


" Kok Gerah ya." celetuk El sambil mengibaskan buku di depan wajahnya.


" Lu gak mandi ya? ini masih pagi mana ada gerah? lagian di luar cuaca lagi mendung gitu." sahut Rissa yang melihat luar jendela dan awan yang mendung.


Bella yang sadar jika El menyidirnya langsung mengubah ekspresi wajahnya dan pura pura membaca buku.


" Enak aja lu kalau ngomong, gue selalu mandi ya, bahkan gue kalau mandi sehari bisa sampai 5 kali." jawab El tak terima.


" Terus napa bilang gerah?"


" gapapa, hati gue aja yang gerah dan sedikit panas." jawab El sambil melirik Bella.


Rissa mengerti apa yang di maksud El, ia mengangguk dan tersenyum miring.


" Pasang AC aja El, kali aja hati lo bisa adem." ucap Rissa yang terus meladeni ucapan El.


" Gapapa kalau lu mau jadi AC nya Riss, ridho gue mah." ucap El dan langsung mendapat tabokan dari Nathan.


" Berani lu nikung gue, gue tunggu di perempatan gang depan." sahut Nathan dengan mengepalkan tanganya ke depan muka El.


" Kalau gue nikungnya di sepertiga malam gimana?" goda El menaik turunkan alisnya.


Nathan bangun dari duduknya dan mengampiri meja Elvano.


" Sini baku hantam ayo, kagak takut gue." kesal Nathan yang pura pura menaikan lengan seragamnya, padahal dia memakain seragam lengan pendek.


" NATHAN PRADIPA KEMBALI KE TEMPATMU." sahut pak bandi yang sudah masuk kedalam kelas.


Semua penghuni kelas menoleh padanya dan menertawakannya.


" Sudah jangan ada yang tertawa, kita mulai pelajaran pagi ini." ucap Pak bandi lalu memulai pelajarannya.


Semua mengikuti pelajaran dengan tenang dan fokus, namun tidak untuk Devan.


Cowok itu justru berulang kali menoleh ke arah Freya dan membuat sketsa wajah Freya.


" Wiihh.. keren hasil sketsa lo." bisik Nathan yang melihat hasil gambaran Devan.


" Namanya juga cowok ganteng, apapun yang di lakukan pasti terlihat keren." balas Devan yang hampir saja menyeleseikan sketsanya.


" Nyesel gue muji lo."


" Sstt..sstt.. sayang. " panggil Devan pada Freya.


Devan memperlihatkan hasil karyanya pada Freya.


Freya sedikit terkejut karena Devan membuat sketsa wajahnya yang sedang fokus menulis.


Baru kali ini selama berteman dengan Devan, ia di buat kagum dengan apa yang dilakukan oleh devan.


" Boleh buat gue?" tanya Freya berbisik.


" Boleh dong, nih ambil aja, nanti kalau kurang suka biar gue buatin lagi." jawab Devan menyerahkan kertas bergambar sketsa itu pada Freya.


Freya menerimanya dan tersenyum melihat hasil karya Devan.


Indah seperti orang yang menggambarnya. batin Freya.


Sementara itu lagi lagi Bella mengepalkan tangannya, ia kesal saat devan melukis wajah Freya.


Apalagi melihat tatapan Freya yang menyiratkan kekaguman pada gambar itu dan Devan.


Gue gak akan biarin lu nyimpen lukisan itu, lihat aja nanti." gumam Bella dalam hati.


Bel istirahat pun berbunyi semua orang keluar kelas dan segera menuju kantin.


Satu pelajaran terakhir membuat mereka kehilangan banyak energi, apalagi kalau bukan pelajaran fisika.


Banyak murid yang mengeluh dengan pelajaran satu itu, belum lagi matematika yang membuat mereka pusing tujuh keliling.


Devan dan yang lain juga keluar kelas dan menuju kantin kecuali Bella.


Freya sudah mengajak Bella untuk ke kantin bersama namun Bella menolaknya, alasannya dia ingin ke toilet lebih dulu.


Padahal tujuan utamanya ingin mengambil sketsa yang di berikan devan pada Freya dan merobeknya.


Bella mengobrak abrik isi tas Freya, ia mencari lukisan itu di sela sela buku.


Setelah menemukannya ia mengambil dan menatap lukisan itu dengan kesal.


" Harusnya wajah gue yang di lukis sama devan, bukan wajah lu." gumam Bella.


" Gue gak rela kalau lu nyimpen hasil lukisan yang di buat Devan." gumamnya lalu merobek kertas itu menjadi beberapa bagian.


Bella meremat kertas itu lalu membuangnya ke tong sampah.


Bella memastikan sekeliling bahwa tidak ada yang memergokinya.


Setelah dirasa aman dia menyusul Devan dan yang lain ke kantin.


******


" Kamu inget gak kalau dulu kita sering kesini?" tanya Oliv pada Zay.


Mereka kini berada di taman dimana taman ini sering mereka kunjungi saat masih pacaran dulu.


Keduanya duduk di bangku taman, melihat anak kecil yang sedang bermain bersama keluarganya.


" Inget, di tempat ini juga aku nembak kamu dulu." jawab Zay.


" Gak nyangka banget semua berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku pacaran sama kamu.


eh sekarang kamunya sama yang lain." ucap Oliv tertawa kecil, Zay tidak menanggapi dia hanya menatap kurus kedepan.


" Kamu inget? dulu kamu sering ngomelin aku karena aku sering beli permen kapas di abang abang itu." sambungnya sambil menunjuk gerobak permen kapas yang orangnya masih tetap sama dengan yang dulu.


" Kamu bilang itu nggak baik buat aku, nanti tenggorokanku sakit lah ini lah, tapi aku bandel diem diem aku sering memakannya." ucapnya dengan tertawa kecil.


" Aku masih inget semuanya, semua tentang kamu masih teringat dalam memoriku." sahut Zay.


Olive menyandarkan kepalanya di bahu Zay.


" Aku masih sayang sama kamu, tapi aku gak mau kamu kembali lagi sama aku.


Aku gak mau kamu nyakitin kiran, dia terlalu baik buat kamu sakitin." ucap Olive membuat Zay menunduk menoleh padanya.


Zay tidak menjawab, ia sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.


Tanpa Zay dan Oliv sadari, Dari kejauhan didalam sebuah mobil, terlihat sepasang mata sedang mengawasi mereka.


Ia tidak sengaja melihat mobil Zay yang terparkir di sebuah taman.


Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Zay bersama wanita yang ia kenali.


.


.


.


.


Nah loh..


hmm..


Btw ada yang mau ngucapin happy birthday buat author? 😁😁