
Grace naik ke naik ke atas ranjang, sebelum menyusul Zay tidur ia mengirim pesan untuk Daffin.
Grace : Jangan lupa makan siang yaa, love you 😁
Setelah mengirim pesan untuk Daffin, Grace meletakkan ponselnya diatas nakas dan tak lama ia menyusul Daffin terlelap.
Daffin membuka ponselnya saat satu notifikasi masuk kedalam ponselnya.
Ia menarik sudut bibirnya saat membaca pesan yang tak lain dari gadis yang sedari tadi membuatnya kepikiran.
Daffin meletakkan ponselnya kembali tanpa membalas pesan Grace.
Ia akan menyeleseikan pekerjaannya terlebih dulu setelah itu akan menelpon Grace.
**
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Grace mengerjapkan matanya saat dering ponselnya berbunyi.
Ia meraba meja dan mengambil ponselnya.
Matanya menyipit melihat siapa yang mengganggu tidurnya, sedetik kemudian matanya terbuka lebar saat membaca nama pemanggil yang tak lain adalah Daffin.
Ia menoleh kesamping yang ternyata masih ada Zay yang tertidur pulas.
Ia turun dari Ranjang dan menuju balkon setelah itu ia mengangkat panggilannya.
" Selamat sore pak." sapa Grace dengan suara khas bangun tidur.
" Baru bangun?" tanya Daffin saat mendengar suara serak Grace.
" Iya saya baru bangun, ada apa? kangen ya sama saya." jawab Grace sedikit menggoda Daffin.
" Maaf kalau saya ganggu tidur kamu, saya hanya ingin memastikan kalau kamu baik baik saja." ucap Daffin.
" Saya baik baik saja kok pak, jangan khawatir. Hanya kemarin saja saya sempat drop." jawab Grace jujur.
" Kenapa kemarin bisa pingsan? kenapa kamu tidak kasih tau saya kalau kamu masuk rumah sakit?" cecar Daffin.
Grace mengernyitkan dahinya, antara senang dan bingung karena pertanyaan daffin.
" Hanya kelelahan pak, lagian saya cuma sehari kok dirumah sakit. tadi pagi baru pulang." jawab Grace.
Ia tidak tau harus menjawab apa? karena memang ia tidak berniat memberi tahu Daffin jika dirinya masuk rumah sakit.
" Lain kali kasih tau saya kalau kamu sakit, saya tadi khawatir saat diberi tau sama Naya kalau kemarin kamu masuk rumah sakit." ucap Daffin.
Ia sedikit keceplosan saat mengatakan jika ia mengkhawatirkan Grace.
" Bapak khawatir sama saya?" tanya Grace dengan senyum mengembang.
" Iya saya khawatir sama kamu." jawab Daffin apa adanya, toh memang dia sudah keceplosan.
" Saya baper loh pak, saya tidak menyangka kalau bapak mengkhawatirkan saya.
Sekarang bapak gak usah khawatir, saya sudah gapapa kok." jawab Grece.
" Jaga kesehatan kamu, jangan sampe kelelahan, saya gak mau kamu drop lagi." ucao Daffin membuat Grace salah tingkah.
" iya calon imamku." jawab Grace tertawa.
" Yasudah kamu istirahat saja, saya mau melanjutkan pekerjaan saya." ucap Daffin.
" Baiklah, jangan lupa makan dan selamat sore." ucap Grace lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Grace mendekap ponselnya, ia senyam senyum membayangkan wajah Daffin saat menelponnya tadi.
Sehari tidak bertemu rasa kangen memenuhi relung hatinya.
Ia bahkan tidak menyangka jika Daffin dengan terang terangan mengatakan jika khawtir padanya.
Jika biasanya laki laki itu akan datar dan cuek, namun kali ini ia menunjukkan rasa khawatirnya.
" Gak usah senyam senyum, kayak orang gila aja senyam senyum sendiri." ucap Zay yang baru bangun dan mendudukkan bokongnya disamping Grace.
" Biarin aja sih, gue lagi seneng nih."
" Napa? pak Daffin yang telpon elu tadi?"
" Iya, dan lu tau? dia bilang, dia khawatir sama gue." jawab Grace heboh sambil merangkul lengan Zay.
" Dikhawatirin doang senengnya minta ampun, apa lagi jadi ajak pacaran. Mungkin mati di tempat kali lu." cibir Zay.
" Isshhh.. apaan sih? gak segitunya juga kali.
Wajarlah Zay gue gini, kan gue baru pertama kali suka sama cowok." jawab Grace mencebikkan bibirnya.
" Pantes kelihatan noraknya."
" Bodoh amat, pokoknya gue cinta sama Pak Daffin. wlee." ucal Grace menjulurkan lidahnya.
" katanya mau ketemu sama kiran?" tanya Grace.
" Ia nanti, yaudah gue balik ke kamar dulu.
Lu mandi sana."
" iyee.."
Zay berdiri lalu berjalan keluar dari kamar Grace.
Grace menuruni tangga menghampiri kedua orang tua dan Adiknya serta Vero yang berada di ruang tengah.
Devan yang sedang bermain game bersama Vero, sementara luna dan Reyhan menonton tv.
Sedangkan Zay sudah berangkat setengah jam yang lalu menjemput kiran.
Grace merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha Vero.
Vero tidak terganggu, ia membiarkan Grace asalkan grace tidak mengganggunya bermain game.
" Kamu beneran sudah sehat kan Grace?" tanya Reyhan.
" Udah pa, dari kemarin grace juga udah sehat, papa aja yang ngotot pengen aku nginep di rumah sakit." jawab Grace mengingat kemarin ia berdebat dengan reyhan gara gara ia tidak ingin di rawat.
" Papa hanya ingin kamu benar benar sehat, papa sama mama khawatir banget sama kamu saat Zay bilang kamu di larikan kerumah sakit." jawab Reyhan.
" Iya papa, Grace paham kok. Lagian sekarang grace udah bener bener sehat."
" Mama, papa, om alan, tante salwa, grandpa dan granma akan ke london besok untuk menjenguk oma sama opa.
Om Arland tadi telpon katanya oma sama opa jatuh sakit." ucap Luna.
" Grace ikut." ucap Grace yang tiba tiba duduk dan membuat ponsel Vero terjatuh.
" GAME GUE." pekik Vero menatap ponselnya yang langsung mati saat terjatuh.
" Lu kalau bangun bilang bilang dong, hampir aja gue menang tadi." kesal Vero, ia mengambil ponselnya dan menyalakannya kembali.
" Gak sengaja, gitu doang marah." ucap Grace mencebik.
" Grace ikut ya pa, ma, Grace mau lihat kondisi mereka." sambungnya menatap Luna dan Reyhan.
" Devan juga ikut." sahut devan namun matanya tetap fokus pada gamenya.
" Tidak usah.. kalian di rumah saja.
Mungkin kita akan seminggu lebih disana dan besok El akan nginep disini.
Dan ingat, selama tidak ada mama papa jangan berbuat macam macam.
Bodyguard papa 24 jam akan ngawasi kalian." ucap Reyhan.
" Iya pa." jawab Grace manyun.
**
" Satu minggu lagi aku balik ke jerman, kamu gapapa aku tinggal?" tanya Kiran.
Kini mereka berada di sebuah Restouran untuk menikmati makan malam mereka.
" Emang kalau aku ngelarang kamu balik, kamu akan nurut?" tanya balik Zay, Kiran tersenyum mendengar pertanyaan Zay.
Padahal bukan itu maksudnya.
" Bukan gitu maksud aku, maksud aku, apa kita bisa ngejalanin hubungan jarak jauh?" ucap Kiran menatap dalam manik mata Zay.
" Kamu percaya aku kan?" ucap Zay menggenggam tangan Kiran.
" Aku percaya kok sama kamu." jawab Kiran tersenyum.
" Sesuatu yang di bangun dari kepercayaan pasti akan baik baik saja.
Cukup kamu percaya sama aku dan aku percaya sama kamu." tutur Zay.
Kiran mengangguk, ia percaya sama Zay selagi wanita itu tidak akan pernah kembali.
Tapi jika suatu saat Wanita itu kembali dan dirinya masih berada di jerman, apa dia masih bisa mempercayai Zay?
Bagaimanapun wanita itu adalah cinta pertama Zay, dan ia tahu jika di dalam hati kecil Zay masih mencintai wanita itu.
Zay bisa melihat keraguan di mata kiran, entah apa yang membuat wanita di depannya ini nampak Ragu.
Terlihat dari sorot mata saat kiran menatapnya begitu dalam.
" Kamu masih ragu sama aku?" tanya Zay, tangannya terus menggenggam tangan kiran.
" Enggak ada, kan aku udah bilang, aku percaya sama kamu." jawab Kiran tersenyum tulus.
" Apapun yang membuat kamu ragu, percayalah aku nggak akan pernah ninggalin kamu." ucap Zay mengusap lembut kepala Kiran.
" Aku percaya sama kamu." jawab Kiran.
Zay mencium sekilas kening kiran, kekasihnya ini selalu pandai menyembunyikan perasaannya.
Dia tahu jika kiran berbohong padanya tentang apa yang dia rasa.
.
.
.
.
TBC.