My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
64.



Semua sahabat Luna sudah kembali kerumah mereka masing masing setelah sarapan pagi bersama.


Namun tidak untuk anak anak mereka dan juga sahabat Grace yang lain. Mereka tetep disini karena mengingat hari ini adalah hari minggu dan mereka berencana untuk berkumpul menghabiskan waktu libur mereka.


Sementara itu Zay akan mengantar Kiran ke dokter untuk memeriksa kondisi kiran saat ini setelah ingatannya kembali.


Belum ada yang tau jika ingatan Kiran sudah kembali kecuali Zay dan Grace. Memang Kiran melarang mereka berdua untuk memberi tahu yang lain. Biar dia sendiri nanti yang berbicara.


" Kalian mau kemana?" tanya Luna saat melihat Zay dan Kiran yang sepertinya mau pergi.


" Zay nganterin Kiran ke dokter dulu ma, semalem kepalanya sakit. Zay takut terjadi apa apa." jawab Zay.


" Benarkah? tapi kamu gapapa kan sayang?" ucap Luna yang menunduk menatap Kiran.


" Kiran gapapa kok tante, tante gak usaha khawatir." jawab Kiran sambil tersenyum manis.


" Kamu tuh emang cantik banget kalau senyum gini, gak heran kalau anak tante ini cinta sama kamu.


Kenapa gak dari dulu kamu pacaran sama anak tante, dari pada Zay pacaran sama yang dulu itu tante kurang setuju." ucap Luna tanpa sadar.


" Maksud tante?" sahut Kiran mengernyitkan dahinya.


" Maa." tegur Zay.


" Ahh.. maaf sayang, lupakan aja. Sebaiknya kalian cepet pergi." ucap Luna. ia merutuki kebodohannya karena keceplosan saat berbicara. ia lupa jika Kiran masih belum mengingat masa lalunya.


Kiran tersenyum tipis melihat wajah salah tingkah mama Zay ini, ia tau jelas maksud ucpaan Luna.


Namun ia ingin mendalami peran seakan masih hilang ingatan.


" Kami pergi dulu." pamit Zay menyalimi tangan mamanya diikuti Kiran.


" Hati hati sayang." jawab Luna lalu keduanya keluar menuju mobil.


***


" Kamu sudah siap sayang?" tanya Ranti pada putrinya yang masih duduk menghadap luar jendela.


" Aku gak mau berangkat." ucap Olivia membuat Ranti menatap putrinya dengan kening berkerut.


" Kenapa sayang? udah jadwal kamu melakukan kemoterapi." Ranti berjongkok di depan Olivia dan menggenggam tangan putrinya.


" Aku mau kemo kalau di temenin sama Zay ma. Aku gak mau berangkat kalau bukan Zay yang nemenin." Olivia melepas tangannya dan menyingkuri mamanya.


" Olivia kamu harus mengerti kalau Zay lebih memprioritaskan Kiran dari pada kamu. jangan egois seperti ini nak. Kalau kamu seperti ini terus kamu sendiri yang akan menderita." ucap Ranti dengan nada sedikit keras. Entah kenapa makin kesini Olivia semakin keras kepala.


" Mama bentak Oliv?" Olivia menatap mamanya dengan mata berkaca kaca.


" Bukan maksud mama membentak kamu sayang, kamu harusnya mengerti kalau Zay sekarang bukan Zay yang dulu yang selalu memprioritaskan kamu. Sekarang ada kekasihnya yang lebih dia utamakan. Dan kamu harus mengerti itu." ucap Ranti menarik tubuh Olivia kedalam pelukannya.


" Tapi Oliv butuh Zay saat ini ma." Olivia mulai terisak, ia hanya butuh Zay saat ini. menemaninya dalam menjalani kemoterapinya.


" Sayang mama mohon jangan seperti ini, mama udah lakuin apa yang kamu inginkan tapi Zay menolaknya."


" Maksud mama?" Oliv menghapus airmatanya dan menatap wajah mamanya yang terlihat cukup lelah.


" Kemarin mama menemui Zay di sebuah restouran, mama memohon sama dia untuk memberi sedikit waktunya untuk nemenin kamu, tapi dia menolaknya." jawab Ranti dengan wajah bersalah.


Ia bersalah karena tidak bisa mengabulkan keinginan putrinya yang hanya ingin Zay disampingnya.


" Sekarang mama telpon Zay, biar oliv yang ngomong. Siapa tau dia mau nemenin Oliv kalau oliv bilang akan melakukan kemoterapi." ucap Olivia dengan nada antuasias.


Ranti mengangguk pasrah, meskipun ia tau jawaban Zay bagaimana tapi apa salahnya jika di coba. Demi putrinya agar mau menjalani kemoterapi.


**


Zay dan Kiran baru saja tiba di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan Dokter Regan setelah Zay menghubunginya dan akan menemuinya.


" Siapa? Kenapa gak di angkat?" tanya Kiran saat Zay hanya melihat ponselnya saja.


" Tante Ranti." jawab Zay, sambil menunjukan layar ponselnya pada Kiran.


" Angkat aja, siapa tau penting." ucap Kiran. Zay menghembuskan napasnya kasar kemudian menggeser tombol hijau itu.


" Ada apa tan?" sapa Zay dengan suara datar. Kiran yang mendengar nada suara Zay hanya geleng geleng kepala.


" Ini aku Zay, Olivia." jawab Oliv dengan suara riang.


" Ada apa?" tanya Zay masih dengan suara datarnya.


" Apa kamu ada waktu untuk nemenin aku? hari ini aku menjalani kemoterapiku, aku ingin kamu nemenin aku kayak kemarin." ucap Olivia dengan suara memelas.


" Aku tidak bisa." jawab Zay dengan tegas.


Sebenarnya ia tidak tega membiarkan Olivia begitu saja, tapi ini semua ia lakukan demi Kiran. Kiran adalah masa depannya dan Olivia adalah masa lalunya. Biarlah kali ini ia bersikap keras pada Olivia, toh masih ada kedua orang tuanya yang akan menemaninya.


" Kenapa Zay? aku butuh kamu saat ini, aku hanya meminta waktu kamu untuk nemenin aku kemoterapi. Hanya itu." ucap Olivia yang sudah terisak.


" Aku sedang menemani Kiran berobat, pergilah bersama tante Ranti." jawab Zay masih tetap dengan pendiriannya.


" Kamu bisa mengantarnya pulang setelah itu lalu nemenin aku. Aku mohon, kali ini aja Zay." ucap Olivia yang terus memohon sambil terisak.


" Jangan memaksaku Olivia, kamu tau aku paling tidak suka di paksa." ucap Zay.


Kiran menarik tangan Zay agar ia menunduk lalu merebut ponsel Zay dari tangannya.


" Zay, aku mohon. Aku tidak akan melakukan kemoterapi kalau kamu tidak mau menemaniku." ancam Olivia.


" Ini aku Kiran." ucap Kiran.


" K-kiran kamu inget sama aku?"


" Tidak." jawab Kiran berbohong. Ia sebenarnya tidak tega berbohong pada sahabatnya sendiri. Tapi kali ini biarkan ia sedikit egois.


" Kiran boleh kah aku meminjam Zay untuk menemaniku menjalani kemoterapi?" tanya Olivia sambil terisak.


" Aku berada di rumah sakit yang saat itu kita bertemu, kemarilah kami akan menemanimu." jawab Kiran.


" Benarkah, aku akan segera kesana sekarang." ucap Oliv bahagia.


" Aku tunggu." ucap Kiran lalu mematikan sambungan teleponnya setelah itu mengembalikan ponselnya pada Zay.


" Kenapa kamu menyuruhnya kesini? aku tidak mau kamu kecawa lagi sayang." ucap Zay menatap Kiran dengan kening berkerut.


" Dia mengancam tidak akan melakukan kemoterapinya, jadi aku bilang kalau kita akan menemaninya." jawab Kiran.


" Tapi sayang--"


" Biar aku yang urus." potong Kiran membuat Zay mendengus pasrah.


Keduanya lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan dokter Regan.


.


.


.


.


Yang minta Olivia DIE.. Tenang aja.


Nunggu waktunya tiba 😁