My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
98.



Zay duduk bersandar pada headboard ranjang, ia diam menatap Kiran yang mondar mandir memasukkan barang barangnya kedalam koper, karena besok adalah keberangkatan istrinya untuk kembali ke Jerman.


Tidak bisa dipungkiri jika dirinya sedikit tidak rela melepas kepergian istrinya.


Karena bagaimanapun mereka adalah sepasang suami istri yang mana akan lebih berat melakukan hubungan LDR di banding melakukannya saat masih pacaran.


Zay menurunkan kakinya lalu berjalan menghampiri Kiran dan memeluknya dari belakang.


Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kiran dan mengendus aroma tubuh istrinya yang nanti tidak akan bisa ia lakukan lagi.


" Kenapa?"


" Gapapa." jawab Zay yang semakin mengeratkan pelukannya.


Kiran melepaskan tangan Zay dari perutnya, ia membalikkan tubuhnya menghadap Zay kemudian mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


" Kamu belum bisa ngerelain aku pergi?" Kiran mendongakkkan wajahnya, ditatapnya wajah Zay yang tanpa ekspresi itu.


Ia sangat tau suasana hati suaminya saat ini, tapi mau bagaimana lagi karena ia harus menyeleseikan kuliahnya disana.


" Jaga diri kamu baik baik selama disana, tidak ada aku yang akan menjaga kamu. Jadi kamu harus berhati hati." Zay menarik tubuh Kiran kedalam pelukannya. Diusapnya kepala Kiran dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Jika boleh jujur, ingin sekali ia berucap mengutarakan isi hatinya agar Kiran tetap disini menemaninya. Melewati segala hal tanpa dipisahkan oleh jarak dan waktu.


Tapi bibirnya keluh untuk berucap, ia tidak ingin egois karena ini adalah keinginan istrinya sejak dulu. Dan lagi pula ia sudah berjanji pada kedua orang tua Kiran, jika dirinya akan mengizinkan istrinya untuk melanjutkan kuliah di Jerman.


" Kamu akn sering sering mengunjungiku kan?" tangan kiran dengan nakal membuka kancing piyama Zay dan bermain main di dada suaminya, hingga membuat Zay memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut tangan halus istrinya.


" Pasti. Aku akan sering sering mengunjungi kamu." Setelah mengucapkan itu, Zay langsung menggendong tubuh Kiran dan meletakannya di atas ranjang.


Malam itu mereka habiskan untuk saling mencumbu, bahkan AC yang dingin pun tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Keringat dan peluh membanjiri tubuh keduanya, hingga akan memasuki waktu subuh keduanya baru tertidur karena terlalu lelah.


( udah gak usah dibayangin )


***


Disisi lain Grace terbangun saat jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kakinya terasa sangat Kram karena Daffin tetidur dipangkuannya.


Yups, Daffin memilih menginap di rumah yang selama ini Grace tempati.


Mereka tidur di ruang tamu dengan Grace duduk di kursi panjang dan Daffin yang tidur di pangkuannya.


" Makasih udah setia nungguin aku." Grace mengusap kepala Daffin dengan sayang.


Laki laki itu bahkan tertidur sangat nyenyak meski posisi tidurnya sangat tidak nyaman. Apalagi kursi yang mereka tempati adalah kursi kayu yang tidak ada bantalan apapun.


" Aku gak bisa bayangin gimana frustasinya kamu waktu itu?" Grace tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Daffin dan diciumnya punggung itu berkali kali.


Namun sang empu tetep saja tidak merasa terusik.


ia bahkan memiringkan tubuhnya menghadap perut Grace.


" Aku bener bener bersyukur dicintai sama kamu. Aku janji setelah semua ini selesai, aku tidak akan berpikir dua kali untuk mau menikah dengan kamu." ucap Grace, perlahan air matanya runtuh begitu saja.


Ini bukanlah air mata kesedihan, namun air mata haru karena dirinyalah yang berhasil dicintai oleh seorang Daffin Gunandra.


" Dan aku tidak sabar menantikan hari itu." sahut Daffin dengan suara beratnya.


" Kamu denger semuanya?" Grace menatap wajah Daffin yang masih menutup matanya.


" Denger, kan aku punya telinga." jawab Daffin, ia membangunkan tubuhnya lalu duduk bersandar pada bahu Grace.


" Kenapa jam segini kamu bangun?" tanya Daffin saat melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 02.15 dini hari.


" Kaki aku Kram tapi aku gak tega mindahin kepala kamu, jadinya aku tahan aja." ucap Grace membuat Daffin mencubit hidungnya.


" Kamu habis nangis?" tanya Zay yang sadar saat melihat pipi Grace yang basah.


" iyaa, karena terlalu bahagia bisa bertemu kamu lagi." ucap Grace.


" Aku lebih gak nyangka lagi kalau aku bisa menemukanmu." Daffin menggenggam erat tangan Grace dan menciumnya dengan lembut.


" Maaf ya, gara gara aku kaki kamu jadi Kram."


Daffin berjongkok dihadapan Grace, ia mengangkat kedua kaki Grace lalu ia letakkan diatas pahanya dan kemudian mulai memijitnya dengan perlahan.


" Gak usah sayang, ini udah gapapa kok." ucap Grace dengan nada pelan. Ia ingin menurunkan kakinya namun di tahan oleh Daffin.


" Diamlah, aku tau gimana rasanya kaki saat sedang Kram." ucap Daffin sambil terus memijit kaki Grace.


" Kamu baik banget sih sama aku? kamu cinta banget ya sama aku?" Grace menompang dagunya dan menatap Daffin dengan ekspresi lucu.


" Pedes banget ngomongnya."


" Lagian pertanyaan kamu aneh aneh aja." Daffin menurunkan kaki Grace kemudian kembali duduk.


Malam itu mereka memutuskan untuk tidak tidur kembali. Keduanya justru larut dalam cerita masing masing.


Sebenernya bu imah dan pak Rohim terbangun dari tadi karena mendengar suara Grace dan Daffin yang sedang berbicara. namun keduanya enggan untuk keluar kamar dan membiarkan kedua sepasang kekasih itu saling bercengkrama.


***


Pagi hari pukul 10.00 Zay, Kiran dan kedua orang tua Kiran berada di bandara untuk mengantar kepergian Kiran. Pesawat yang akan Kiran gunakan adalah pesawat pribadi milik keluarga wijaya.


Awalnya Kiran menolak, ia ingin menggunakan pesawat biasa saja, namun Zay melarangnya karena ia meminta beberapa bodyguard papanya untuk mengawal Kiran hingga sampai di tempat tujuan.


Zay juga meminta mamanya untuk mencari bodyguard perempuan untuk menjaga Kiran selama dia berada di jerman.


Dan beruntung Ica mempunyai teman yang sangat jago dalam bela diri dan kebetulan mau untuk menjadi bodyguardnya Kiran.


" Kamu jaga istri saya dengan baik, jangan sampai dia kenapa napa." ucap Zay pada bodyguard perempuan yang bernama meysa.


" Baik tuan muda." jawab Meysa menundukkan kepalanya.


" Kamu terlalu overprotektif sayang." ucap Kiran mencubit hidung suaminya.


" Aku lakuin ini semua karena aku gak mau istriku kenapa napa." ucap Zay.


Kiran memeluk tubuh tegap Zay, matanya yang sudah memanas beusaha ia tahan agar tidak tumpah begitu saja karena tidak ingin Zay melihatnya menangis.


" Pokoknya aku tunggu kedatanganmu kesana." ucap Kiran dengan mata berkaca kaca.


" Iya sayang, kalau aku udah ada waktu, aku akan main kesana." ucap Zay.


" Yaudah kamu berangkat sana, hubungi aku kalau udah sampai." lanjutnya sambil mengecup kening istrinya.


" Gak mau pisah." rengek kiran kembali memeluk tubuh suaminya.


Akhirnya ia menumpahkan air matanya yang dari tadi ia tahan. Begitu berat berpisah dengan suami tersayangnya.


Kedua orang tua Kiran hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku putrinya. Sudah menikah tapi sifat manjanya masih terlihat begitu jelas.


" Jangan seperti ini, atau aku tidak akan mengizinkamu kembali ke Jerman." ucap Zay membuat Kiran menundukkan kepalanya.


" Maaf. Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Kiran di angguki Zay.


" Hati hati, kabari aku kalau ada apa apa." ucap Zay, Kiran mengangguk patuh.


" Ma, pa. Kiran pergi dulu. Jaga kesehatan kalian dan yang paling penting jangan sering berantem." ucap Kiran memeluk mama dan papanya bergantian.


" Kami gak pernah berantem kok, enak aja kamu bilang." sahut Sita. menoel hidung putrinya.


" Kiran cuma ngingetin doang kok." ucap Kiran.


" Hati hati sayang, jaga kesehatanmu. Jika terjadi apa apa segera hubungi Zay atau mama papa." ucap Delon diangguki Kiran.


" Kalau begitu Kiran berangkat dulu. Assalamualaikum." Kiran berjalan sambil melambaikan tangannya.


Air matanya runtuh kembali, ia sungguh sangat berat meninggalkan suaminya.


Baru beberapa langkah ia berjalan, ia berbalik dan berlari ke arah Zay.


Ia memeluk tubuh Zay sekali lagi sebelum dirinya benar benar pergi.


" Jaga mata kamu, inget kalau kamu udah nikah." ucap Kiran membuat Zay tersenyum kecil.


" Iya."


Kiran berjinjit dan mengecup bibir suaminya. Hanya 5 detik setelah itu ia benar benar pergi.


.


.


.


.


Yukk jangan Lupa like dan komen.