
Selama Grace berada di London, Daffin selalu menyibukkan dirinya di kantor.
Tak jarang jika selesei mengajar di kampus, ia langsung ke kantor karena tidak ada seseorang yang biasanya menahan dirinya untuk tetap di kampus.
Dan entah kenapa dua hari ini nomor Grace sulit sekali di hubungi membuat Daffin menjadi uring uringan.
Ia mencoba menanyakan pada Zay tapi laki laki itu menjawab jika Grace baik baik saja dan sedang bermain ponsel di sebelahnya.
Jawaban Zay membuat Daffin semakin kesal karena Grace tidak membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya.
Seperti saat ini ia kembali menghubungi kekasihnya, namun gadis itu enggan untuk menjawabnya.
Berkali kali Daffin mencoba menelfon Grace namun tetap saja Grace tidak menjawab panggilannya.
Daffin meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar, ia mendengus kesal lalu melanjutkan pekerjaannya.
ceklekk..
Suara pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik sedang berjalan menghampiri meja Daffin.
" Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu ken?" ucap Daffin tanpa menatap siapa orang yang masuk keruangannya.
" Maaf." ucap Gadis itu yang tak lain adalah Grace.
Daffin mendongakkan kepalanya menatap gadis yang sedang tersenyum manis di hadapannya ini.
Ingin sekali ia langsung memeluk tubuh gadis yang sudah seminggu lebih ia rindukan ini, namun rasa kesal masih menyelimuti hatinya.
" Oohh udah pulang." ucap Daffin dengan nada cueknya lalu kembali fokus pada berkas di mejanya.
Grace menahan tawanya saat melihat raut wajah ngambek dari kekasihnya ini. Dirinya memang sengaja mendiami Daffin selama dua hari karena ia ingin memberikan kejutan saat dirinya tiba tiba sudah pulang ke indonesia.
" Gak seneng aku udah pulang?" ucap Grace, ia berjalan mendekat ke arah Daffin lalu duduk di atas mejanya.
" Biasa aja." jawab Daffin tanpa menghiraukan tingkah Grace yang semaunya.
Grace tersenyum geli, ia turun dari meja lalu duduk di pangkuan Daffin dan mengalungkan tangannya di leher kekasihnya itu.
Sedangkan laki laki itu hanya mendengus kesal dan memutar bola matanya malas.
" Turun." titah Daffin namun Grace malah menyenderkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
" Gak mau." jawab Grace sambil memindahkan tangannya memeluk erat pinggang Daffin.
" Kamu tuh gak ngerasa salah sama sekali ya sama aku? Dua hari kamu mengabaikan aku dan sekarang tiba tiba udah disini tanpa ngabarin aku." celoteh Daffin yang akhirnya mengeluarkan uneg uneg yang dari tadi ia tahan.
" Aku emang sengaja kayak gitu, biar kamu makin kangen sama aku." Grace mendongakkan wajahnya menatap raut wajah Daffin yang masih belum berubah.
" Lagian aku sekarang udah disini. Nih aku rela kek wanita penggoda demi ngeluluhin hati kamu karena aku tau kalau kamu akan ngambek sama aku." lanjutnya sambil mencebikkan bibirnya.
" Jangan bilang wanita penggoda aku gak suka, kamu bukan wanita seperti itu. Kamu boleh seperti ini cuma sama aku aja, gak boleh sama yang lain." ucap Daffin yang akhirnya luluh juga dengan perlakuan Grace.
Ia membalas memeluk tubuh Grace yang sangat dirindukannya. Mencium pipinya berkali kali menyalurkan rasa rindu yang beberapa hari ia tahan.
" Ya iyalah, cuma sama kamu doang. Yakali aku kek gini ke cowo lain." ucap Grace sambil menahan bibir Daffin agar berhenti mencium pipinya.
Grace turun dari pangkuan Daffin lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya.
" Kamu capek?" ucap Daffin yang mengikuti Grace duduk di sofa.
" Banget. dari bandara aku langsung kesini." jawab Grace sambil menguap dan merenggangkan ototnya.
" Kamu tidur dulu aja di kamar sana, setelah selesei kerja aku antar kamu pulang." ucap Daffin yang merasa tidak tega melihat wajah Grave yang lelah.
" Nanti aja, duduk sini." ucap Grave yang mendudukkan tubuhnya dan menepuk sofa disebelahnya agar Daffin berpindah tempat.
" Maafin aku ya karena dua hari udah nyuekin kamu, aku beneran cuma niat ngerjain kamu doang kok. Aku cuma ingin ngasih kamu kejutan." Ucap Grace sambil menyenderkan kepalanya di bahu Daffin.
" Gapapa, tapi jangan di ulangi ya. Aku cuma khawatir kamu kenapa napa disana." jawab Daffin mengusap kepala kekasihnya itu.
" Iya." jawab Grace.
Daffin mengusap kepala Grace dengan sayang, mungkin saking lelahnya Grace tertidur di bahu Daffin.
" Selamat tidur sayang." ucap Daffin mencium kening Grace lalu keluar kamar melanjutkan pekerjaannya.
****
Disisi lain keluarga Wijaya baru tiba di rumah utama kecuali Grace, karena gadis itu masih berada di kantor Daffin.
Mulai sekarang Arland dan Febby akan tinggal di rumah utama karena Ricko memang tidak memperbolehkan keduanya membeli rumah baru.
" Capek juga ternyata." keluh Vero menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.
" Loh Grace kemana?" tanya Luna saat tidak melihat Grace bersama yang lain.
Memang Grace semobil dengan Zay dan sodara yang lain, jadi wajar jika para orang tua tidak tau jika Grace langsung ke kantor Daffin.
" Dia ke kantor bang Daffin ma." jawab Zay sambil meminum minuman yang di sajikan pembantu..
" Anak lu udah bucin banget sama pacaranya, nikahin aja napa. Lagian usia Daffin udah matang kan." sahut Salwa.
" Biarin dulu lah, lagian hubungan mereka baru jalan beberapa bulan. Nanti kalau si Grace udah mau lulus aja gw tanya sama mereka mau lanjut nikah atau gimana?" jawab Luna, Salwa manggut manggut.
" Kalau Zay yang mau nikah gimana ma?" sahut Zay menatap Luna yang seperinya terkejut dengan ucapannya.
" Kamu serius sayang?" tanya Luna menghampiri Zay dan duduk disampingnya.
" Kalau mama papa ngerestuin, lusa Zay mau ngajak Kiran ke suatu tempat. Dan disana rencana Zay akan melamar Kiran." ucap Zay membuat Luna dan Reyhan saling pandang kemudian tersenyum menatap putranya.
" Mama terserah sama kamu sayang, kalau itu udah keputusan kamu, kami semua mendukung kamu." ucap Luna mengusap kepla Zay dengan sayang.
Ia tidak ingin mengengkang keinginan anak anaknya karena bagaimanapun dulu dirinya nikah di usia yang masih sangat muda.
Terlebih lagi pernikahan mereka awalnya karena perjodohan , Meskipun begitu ia senang karena yang di jodohkan adalah orang yang dia suka yaitu Reyhan Kusuma.
" Makasih ma, Zay cuma tidak ingin kehilangan wanita yang Zay cintai untuk kedua kalinya." ucap Zay yang memeluk tubuh Luna.
" grandpa akan membuat pesta pernikahan kamu semeriah mungkin." sahut Ricko yang mendengar keinginan cucunya.
" Doakan dulu Kiran mau menerima lamaran Zay, karena bagaimanapun Kiran belum menyeleseikan kuliahnya." ucap Zay yang sedikit terselip rasa khawatir.
" Percaya sama gue, kalau Kiran pasti akan langsung berkata yes, i do ." sahut Vero menirukan jawaban yang akan Kiran berikan nanti.
" Gue jadi ngebayangin gimana susana romantis saat bang Zay ngelamar kak Kiran." sahut Elvano sambil mngusap dagunya dan matanya menatap ke atas seperti orang membayangkan.
" Gue udah ngebayangin giman raut wajah kak Kiran saat bang Zay bilang Kiran sayang, Will you marry me? Dengan bang Zay berlutut di hadapan kak Kiran sambil memegang kotak cincin berjenis Dream Diamond Ring, pasti matanya membulat dengan mulut yang menganga seprti ini." sahut Devano dan memperagakan ekspresi wajah Kiran nanti.
" Tau apa lu soal cincin?" sahut Vero saat Devan menyebutkan jenis cincin itu.
" Itu cincin impian gue saat ngelamar Freya nanti bang." jawab Devan membuat kedua orang tuanya geleng geleng kepala.
" Kerja dulu sana baru mimpi dapetin cincin yang harganya lebih dari 200M." sahut Zay, Devan hanya mencebikkan bibirnya.
Apa salahnya punya impian kek gitu, terwujud atau enggak yang pasti Freya menerima lamarannya.
" Sudah sudah.. kalian ini apa gak capek? sekarang istirahat. Nanti malam kita makan di restouran." ucap Ricko membuat Devan dan El memekik girang.
Jarang jarang makan bersama di restouran. begitu pikir mereka.
Mereka semua mengangguk lalu pergi ke kamar masing masing.
.
.
.
.
.
Gercep banget si Zay 😂