My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
8.



Zay duduk bersila sambil memangku sebuah gitar di Gazebo halaman belakang rumah, jarinya dengan lincah memetik sinar gitar itu.


Lagu Someone you loved dari Lewis capaldi yang ia nyanyikan nampaknya sedang mewakili perasaannya saat ini.


Saat dirinya sedang fokus bernyanyi, Vero datang dengan membawa dua cangkir kopi susu untuk dirinya dan Zay.


" Belum ada kabar?" tanya Vero sambil menaruh kopi itu di depan Zay.


Vero paham betul dengan sepupunya ini, jika dia sedang sendiri dan memainkan lagu galau itu tandanya ia sedang merindukan seseorang yang selama ini masih ia harapkan kehadirannya.


" Belum." jawab Zay menghentikan nyanyiannya namun masih memetik sinar gitar itu.


" Lu gak mencoba menghubungi dia?" tanya Vero dibalas gelengan oleh Zay.


" Nomornya gak aktif." jawab Zay, ia menaruh gitar itu lalu mengambil kopi dan menyesapnya.


" Gue yakin suatu saat dia akan kembali lagi dan menemui lo." ucap Vero menepuk bahu Zay untuk memberinya semangat.


" Kalaupun kembali mungkin dengan rasa yang berbeda." jawab Zay.


" Gue yakin dia masih sayang sama lu, positif thinking aja." ucap Vero.


" 4 tahun pergi dan tak ada kabar, apa mungkin saat kembali masih dengan rasa yang sama?" ucap Zay menatap dalam mata Vero.


" Bahkan saat kepergiannya aja tidak ada sepatah katapun yang dia ucapkan sama gue." sambungnya lalu menghela napas beratnya.


" Gue emang gak pernah ngalamin apa yang lu alami saat ini, tapi gue bisa ngerasaain apa yang lu rasain. gue sebagai sepupu lu cuma bisa kasih semangat sama lu, gue juga udah tanya kesemua temen gue yang ada disana tapi gak ada satupun yang tau keberadaannya." ucap Vero.


" Biarkan aja, pada akhirnya semua akan berubah dan mulai terbiasa. terbiasa tanpa kabar dan lain sebagainya. Dan diri ini dipaksa untuk bisa menyesuaikan dengan keadaan sekarang." jawab Zay.


" Kalau begitu belajarlah melupakannya, lanjutkan hidup lo dengan sesuatu dan seseorang yang lebih baik. jangan sia siakan diri lo untuk mencoba sesuatu yang tidak seharusnya, ada banyak yang menunggu dan lebih menyayangi lo." ucap Vero.


Zay menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan." Entahlah, gue emang terbiasa tanpanya, tapi untuk melupakannya gue rasa itu sangat sulit." jawab Zay.


" Semua gue kembalikan pada diri lo, karna hidup dan rasa yang lo miliki hanya lo sendiri yang mengerti." ucap Vero menepuk bahu Zay setelah itu pergi meninggalkan Zay sendiri.


Zay tersenyum namun dadanya terasa begitu sesak.


" Gue kangen sama lo." gumam Zay pelan.


____


Grace menggeliatkan tubuhnya saat cahaya matahari masuk mengenai wajah cantiknya.


Perlahan kedua mata itu terbuka, ia melihat jam yang menggantung di dinding dan menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Ia turun dari ranjang lalu mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.


Tak lama Grace keluar dengan pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi kuliah.


Setelah semuanya siap, Grace keluar kamar menju meja makan.


Tidak ada siapapun disana karena semua keluarganya sudah sarapan sedari tadi.


" Maa.. mama." teriak Grace.


" Ada apa sayang?" tanya Luna yang muncul dari halaman belakang bersama Salwa dan Febby.


" Grace berangkat kuliah dulu ya ma, tan." ucap Grace menyalimi Luna, salwa dan Febby.


" Gak sarapan dulu grace?" tanya Salwa.


" Enggak tan, di kantin aja nanti." jawab Grace.


" Yasudah kalau gitu kamu hati hati dijalan." ucap Luna diangguki Grace.


" Bukannya kelas lu jam 9 nanti? kenapa udah berangkat?" tanya Zay yang baru saja turun bersama Vero.


" Mau nyapu kampus kali gantiin tukang kebun." sahut Vero.


" Enak aja lu kalau ngomong, gue mau ketemu cogan gue lah." jawab Grace.


" Emang ada cowok yang mau sama lu?" tanya Vero meledek.


" Waahh kurang asem nih sepupu, jangankan cogan berwujud manusia, dedemit, setan, genderuwo aja demen sama gue." jawab Grace.


" Bangga banget buuk di sukai makhluk tak kasat mata." cibir Vero.


" Iya kayak elu, tak kasat mata." jawab Grace lalu nyelonong pergi.


" WOEY KEMBARAN DUGONG.. BERHENTI LU." teriak Vero namun Grace malah berlari dan masuk kedalam mobil.


Kali ini Grace di antar oleh sopir keluarga wijaya karena dirinya tidak membawa mobil sendiri.


Saat ditengah perjalanan mobil yang ditumpangi Grace malah berhenti, sopir pun keluar diikuti oleh Grace.


" Mobilnya kenapa pak?" tanya Grace


" Yahh pak, masak mobil mahal bisa mogok sih? terus aku gimana dong ke kampusnya." ucap Grace dengan cemberut.


" Maaf nona bapak juga tidak tau, sebaiknya nona pesan taxi saja untuk ke kampus." jawab pak sopir.


" Yaudah aku cari taxi aja, bapak hati hati ya." ucap Grace.


" Baik nona, sekali lagi bapak minta maaf dan nona hati hati dijalan." jawabnya diangguki Grace.


Grace berjalan kaki sambil menunggu taxi lewat.


Ia menggerutu kesal saat 10 menit dia berjalan tidak ada satupun taxi yang lewat, karna memang jalanan ini jarang sekali dilewati oleh taxi.


Saat dia mau memesan taxi online justru ponselnya habis baterai, sungguh hari yang sial bagi Grace.


Dari kejauhan Daffin melihat seorang wanita tengah berjalan kaki, tapi ia tidak asing dengan wanita itu.


Saat mobil itu melewatinya, daffin melihat dari kaca spion dan ternyata memang dia mengenalnya.


Daffin memundurkan mobilnya dan berhenti tepat disamping wanita itu yang tak lain adalah Grace.


Grace mengernyitkan dahinya saat mobil Daffin berhenti disampingnya.


Saat kaca mobilnya terbuka, Grace cukup terkejut karena orang didalam mobil itu adalah Daffin.


" Masuk." titah Daffin.


" Haa?"


" Masuk atau saya tinggal." ucap Daffin.


Dengn segera Grace membuka pintu dan duduk disamping Daffin.


" Bapak tau aja kalau tadi itu saya." ucap Grace sambil memasang seatbeltnya.


" Feeling." jawab Daffin singkat.


" Ciee.. berarti bapak ada rasa dong sama saya." ucap Grace sedikit menggoda Daffin.


" Tidak ada hubungannya, saya hanya membantumu memberi tumpangan." jawab Daffin.


" Mungkin sekarang belum, tapi nanti siapa tau kita berjodoh." ucap Grace penuh semangat.


" Kamu suka sama saya?" tanya Daffin tanpa menoleh.


" Iya." jawab Grace tanpa malu.


" Kenapa?" tanya Daffin.


" Apanya?"


" Kenapa kamu suka sama saya?"


" Karena bapak ganteng." jawab Grace.


" Hanya itu?" tanya Daffin.


" Eemmm.. emang apa lagi? saya tidak tau karakter bapak seperti apa, yang saya tau bapak ganteng, galak dan tidak berperikemanusiaan kalau ngasih tugas." jawab Grace apa adanya.


" Kamu saja belum tau saya, kenapa begitu mudahnya kamu menyukai saya.


Kalau orang yang kamu suka sudah punya tunangan bagaiamana." ucap Daffi membuat Grace sedikit melebarkan matanya.


" Bapak sudah punya tunangan? Heleh gak mungkin, mana ada wanita yang mau sama bapak kecuali saya." jawab Grace dengan percaya dirinya.


" Percaya diri sekali kamu." ucap Daffin tersenyum miring.


" Memang seperti itu kalau dilihat dari sudut pandang saya." jawab Grace.


" Terserah kamu saja." pungkas Daffin.


Jika diteruskan maka akan menjadi sebuah perdebatan panjang.


Karena mahasiswi disampingnya ini akan banyak alasan untuk membalas ucapannya.


.


.


.


.


Jangan Lupa like dan komen.


Dan maaf kalau masih banyak typo