My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
57.



Zay duduk sendiri di Restoran Alcf milik mamanya, sepertinya ia sedangmenunggu kedatangan tante Ranti yang memintanya untuk bertemu kemarin.


Selagi menunggu orangnya datang, Zay menghubungi Kiran bahwa ia akan datang sedikit terlambat.


" Aku akan datang sedikit terlambat, gapapa kan?" ucap Zay pada Kiran melalui sambungan telponnya.


..." Kalau kamu sibuk gak usah datang kesini, aku ngerti kok." jawab Kiran....


" Enggak, aku cuma ada urusan sebentar doang setelah itu kesana." jawab Zay.


..." Yaudah terserah kamu aja."...


" Gak mau nitip apa apa? atau kamu sedang ingin sesuatu?"


..." Enggak.. kamu kesini aja aku udah seneng."...


Zay melihat ke pintu masuk dan melihat tante Ranti yang sedang celingukan mencari keberadaanya.


" Sayang aku tutup dulu ya telfonnya, setelah ini aku akan kesana."


..." Iya." jawab Kiran lalu Zay mematikan sambungan telponnya....


" Tante disini." ucap Zay sambil melambaikan tangannya.


Ranti yang melihat keberadaan Zay langsung menhampirinya.


" Maaf tante membuat kamu menunggu." ucap Ranti lalu mendudukkan bokongnya di depan Zay.


" Gapapa kok, tante mau pesen apa?" Zay membuka buku menu dan menyodorkannya pada Ranti.


" Tidak usah repot repot nak, lagian tante tidak bisa lama, kasian Oliv sendirian di rumah." tolak Halus Ranti.


Zay mengangguk, namun ia tetap melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk sekedar memesan minuman.


" Buatkan dua orange jus." ucap Zay.


" Baik Tuan."


" Sebenarnya apa yang ingin tante bicarakan?" tanya Zay langsung ke intinya.


" Sebelumnya tante minta maaf sama kamu, tante tau tidak pantas jika berbicara seperti ini sama kamu." Ucapan Ranti terhenti saat pelayan restouran menaruh orange jus diatas meja mereka.


" To the point saja tan." ucap Zay, sebenernya ia tau arah pembeciraan Ranti kemana, tapi ia ingin mendengar jelas apa yang ingin Ranti katakan.


" Tante ingin kamu tetap menani Olivia, dia masih mencintai kamu Zay. Dia berharap kamu mau menemaninya melawan penyakitnya, ada disisinya di sisa hidupnya." ucap Ranti dengan wajah memohon.


" Dari kemarin dia tidak mau makan, tidak mau minum obat, dia terus menangis setelah melihat kamu bersama kiran kemarin." Sambungnya sambil menggenggam tangan Zay diatas meja.


" Tante mohon nak, bagi waktumu untuk Kiran dan Oliv. Tante tau ini berat untuk kamu, tante juga minta maaf karena dulu kita pergi begitu saja tanpa kabar apapun." ucap Ranti yang seperti tidak membiarkan Zay untuk menjawab.


" Apa kamu tidak kasihan melihat keadaan Oliv yang seperti itu? Putri tante hanya Oliv satu satunya, kamu tau kan bagaimana hati seorang ibu melihat keadaan putrinya yang seperti itu?" Ranti meneteskan air matanya, ia sangat berharap Zay mengabulkan keinginannya.


" Tante.. sebelumnya Zay minta maaf. Tante tau bagaimana kondisi Kiran saat ini, dia juga butuh Zay untuk membantunya mengembalikan ingatannya.


Kiran juga masih belum bisa berjalan. Dan asal tante tau Kiran seperti ini juga gara gara Zay yang sudah membohonginya dan membuat dia terluka. Jadi Zay tidak mau membuat Kiran terluka dan kecewa sama Zay untuk kesekian kalinya." jawab Zay dengan tenang.


Ia sudah memikirkan jika hal ini yang akan di bicarakan oleh Ranti, dan dia juga sudah memikirkan matang matang jawaban apa yang harus ia tegaskan pada Ranti atau Olivi.


" Tante tidak menyuruh kamu untuk selalu menemani Olivia, tante hanya ingin meminta sedikit waktu kamu untuk ada di samping olivia tanpa harus meninggalkan Kiran." ucap Ranti dengan air mata yang terus membanjiri pipinya dan terus menggenggam tangan Zay.


Zay menarik pelan tangannya, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Kenapa makin kesini Tante Ranti maupun Olivia terlihat sangat egois?


" Apa tante pikir saya tidak ada kerjaan lain? Saya harus kuliah, setelah itu saya menemani kekasih saya, belum lagi saya membantu pekerjaan papa di kantor. seharian waktu saya sudah terkuras oleh banyak kegiatan saya, dan sekarang tante meminta saya untuk memberikan waktu saya untuk Olivia? maaf tante Saya sungguh tidak bisa, say cuma bisa berdoa semoga olivia segera sembuh dari penyakitnya." ucap Zay.


ia berdiri lalu meninggalkan Ranti yang semakin terisak.


Ia tidak menyangka jika Zay akan menolak permintaannya. Padahal dilihat dari perhatian Zay saat bertemu kembali dengan Olivia, dirinya yakin jika Zay masih mempunyai perasaan pada putrinya.


Tapi kenapa sekarang bisa berubah secepat itu?


Apa dia harus meminta izin langsung pada Kiran agar Zay mau memberikan sedikit waktunya untuk Olivia?.


***


Disisi lain Zay baru saja tiba di rumah Kiran, ia memarkirkan mobilnya lalu masuk kedalam rumah Kiran.


" Kamu baru datang Zay?" sapa Sita saat membukakan pintu untuk Zay.


" iya, tadi Zay ada urusan sebentar. Kiran dimana tan?" ucap Zay setelah menyalimi tangan Sita.


" Ada di kamarnya, kamu masuk aja." jawab Sita.


" Kalau begitu Zay ke atas dulu tan." ucap Zay diangguki Sita.


Zay berjalan menaiki tangga menuju kamar Kiran, ia mengetuk pintu itu dan langsung masuk kedalam kamar Kiran.


Zay tidak melihat keberadaan Kiran di kamarnya, ia menatap pintu balkon yang terbuka dan mengira jika Kiran berada disana.


Dan benar saja, kiran beada disana dengan duduk mengahadap lurus kedepan.


" Kenapa di luar?" sapa Zay berjalan menghampiri Kiran.


Kiran tidak menjawab karena ia tidak mendengar atau bahkan dia tidak tau jika Zay sudah datang karena ia sedang memakai earphone.


" Sayang." panggil Zay sambil memeluk Kiran dari belakang. Kiran tersentak kaget saat tiba tiba sebuah tangan kekar melingkar di lehernya.


" Kamu udah datang?" sahut Kiran sambil melepas earphonenya.


" Pantes gak denger, orang pakai ini." cibir Zay sambil memegang earphone yang sudah dilepas oleh kiran.


" Maaf." Kiran tertawa kecil, ia menarik tangan Zay agar duduk di kursi balkon.


" Dari mana aja?" tanya Kiran yang mendadak ingin tau keperluan Zay hari ini yang membuat Zay terlambat datang.


" Ada urusan sedikit." jawab Zay, kiran manggut manggut. Ia tidak ingin tau lebih dalam lagi, selagi Zay tidak bercerita ia tidak akan bertanya lebih jauh.


" Kamu udah minum obat?" tanya Zay sambil mengusap pipi kiran.


" Belum."


" kenapa?" Zay mengernyitkan dahinya.


" Bosen." jawab Kiran tertawa kecil.


" Gak boleh gitu dong, kamu harus tetep minum obat biar kamu cepet sembuh. Aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat kalau kamu udah sembuh." ucap Zay menggenggam tangan kiran.


" kemana?"


" Ada deh, pokonya kamu sembuh dulu, kalau kamu udah sembuh kita pergi kesana." jawab Zay yang membuat Kiran sangat penasaran.


" Kamu tuh ya, selalu aja pakek rahasia rahasiaan." Kiran mengerucutkan bibirnya.


" biar kamu semangat sembuhnya." jawab Zay, ia mencubit pelan bibir Kiran yang di monyongkan.


Siang itu Zay dan Kiran mengahabiskan waktu mereka untuk mengobrol dan berjalan jalan di sekitar rumah. Zay juga terus berusaha menunjukkan sesuatu untuk terapi penyembuhan ingatan Kiran.


Seperti menunjukkan Foto mereka berdua atau barang barang yang dikasih Zay untuk Kiran.


Jika Kiran merasa kesakitan dia akan berhenti dan akan melanjutkannya lain hari.


Begitulah cara Zay untuk mengembalikan ingatan Kiran.


Ia tidak akan terlalu memaksa Kiran untuk memngingat semuanya, karena ia yakin pelan pelan dan seiring berjalannya waktu ingatan Kiran akan pulih kembali.


.


.


.


.


Ada aja ya usahanya Ranti 🙃