My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
61.



Barbeque part 3.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian mobil Zay sudah tiba di kediamannya.


Ia mengeluarkan kursi roda Kiran kemudian ia memindahkan tubuh kiran diatas kursi roda.


" Gak usah gugup, kita masuk sekarang oke." ucap Zay diangguki Kiran.


Mereka berdua masuk kedalam dan langsung menuju halaman belakang.


"Assalamualaikum." salam Zay dan Kiran saat memasukki halaman belakang dan membuat semuanya menoleh padanya.


" waalaikumsalam."


" KIRAAN.." teriak Grave lalu berlari menghampiri Kiran.


" Akhirnya lu mau dateng kesini juga." ucap Grace memeluk kiran.


" Iya." jawab Kiran membalas pelukan Grace.


" ayo ke mama papa dulu." ucap Zay diangguki Kiran.


" Ma kenalin ini Kiran kekasih Zay." ucap Zay memperkenalkan Kiran pada orang tuanya.


" Mama udah kenal, ngapain di kenalin lagi." jawab Luna memutar bola matanya malas.


" Zayy ngenalin sebagai pacar bukan sahabat." ucap Zay menatap mamanya malas. Luna tidak menanggapinya, ia beralih menatap Kiran yang telihat gugup.


" Gimana keadaan kamu sekarang sayang?" tanya Luna sambil menggenggam tangan kiran.


" B-baik tante." jawab Kiran sedikit gugup.


" Jangan terlalu gugup, anggap saja tante mama kamu sendiri. Dan kenalin, ini papanya Zay namanya om Reyhan." ucap Luna,


" Bukannya dia udah kenal keluarga kita? kan dulu sering main kesini?" bisik Alan pada Reyhan.


" Dia mengalami amnesia retrograde, sebagian ingatannya hilang." jawab Reyhan dengan suara pelan.


Alan manggut manggut.


" Grandma sama Grandpa kemana ma?" tanya Zay yang celingak celinguk mencari keberadaan kedua kakek neneknya.


" Granpa sama Grandpa pulang ke rumah utama karena ada keperluan mendadak jadi gak bisa ikut kita gabung disini." jawab Luna membuat Zay mendengus kecewa. padahal ia ingin memperkenalkan kiran pada mereka.


" Yasudah kalian gabung sama Grace dan yang lain. Nanti kalau kamu lelah bilang ya, biar Zay antar ke kamar Grace." ucap Luna diangguki Kiran.


" Terima kasih tante, kalau begitu Kiran permisi dulu." jawab Kiran lalu Zay mendorong ke tempat Grace dan yang lain berkumpul.


" Akhirnya lu datang juga Ran." sahut Izzam di angguki yang lain.


" Iyaa,, gue takut ku gak gak di izinin sama mama papa lu." sahut Naya.


" Siapa dulu yang bujuk." sahut Zay membuat yang kain memutar bola matanya malas.


Grace, Zay dan yang lain saling mengobrol dan menikmati makanan yang sudah tersaji di atas tikar.


Zay juga sudah menyiapkan 2 gitar untuk mereka menyumbangkan lagu.


*


Sementara itu Devan, Elvan dan sahabt lainnya masih memanggang sosis dan sejenisnya untuk kedua orang tua meeka.


" Kalau udah selesei kasih ke meja orang tua kita." ucap Freya, sambil terus mengipasi bakarannya.


" Enak banget jadi kelompok kak Grace, mereka bakar cuma buat diri sendiri. lah kita mesti buatin orang tua dulu." Gerutu Devan melihat kakak dan sahabatnya sedang bercanda ria.


" Kita yang paling muda, udah nasib kita mau gimana lagi? jalanin aja napa sih? lagian ini seru kok." sahut Rissa. Ia meletakkan makanan di atas piring lalu membawanya ke meja Luna dan yang lain di bantu dengan Nathan.


" Silahkan." ucap Rissa meletakkan piring diatas meja Luna diikuti Nathan.


" Terima kasih sayang." ucap Luna.


" Sama sama tante." jawab Rissa lalu kembali ke teman temannya.


" Tante.. anak tante cantik ya." ucap Nathan pada ajeng.


" Jangan bilang kalau kamu demen sama Rissa." indah memincingkan matanya menatap Nathan.


Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bersikap salah tingkah.


" Oh NO.... Dunia kenapa sempit banget? kita akan jadi besan ndah?" sahut Ajeng wajah yang konyol.


Indah hanya menaikkan bahunya sambil menggeleng.


Bhahahhaha..


Semua tertawa melihat wajah pasrah Ajeng dan indah serta Dimas dan Louis.


" Kenapa kalian tertawa? dan kenapa mama papa cemberut? kalian gak setuju Nathan suka sama Rissa.?" tanya Nathan saat melihat wajah kedua orang tuanya dan orang tua Rissa ditekuk.


" Sayang.. bukannya mama gak setuju, mama terserah kamu aja asal kamu bahagia. Tapi kenapa harus sama Rissa?" ucap Indah menatap putra semata wayangnya.


" Ya tanya hati Nathan aja ma.." Dengus Nathan kesal.


" Yasudah biarlah, yang penting anak anak bahagia. Nanti kalau di larang malah semakin nekat mereka." sahut Louis. Ia tidak mempermasalahkan anaknya akan berjodoh dengan siapa? yang penting laki laki itu akan tanggung jawab nantinya.


" Nah bener tuh apa kata louis, biarin aja kalau Nathan demen sama Rissa. Anak remaja sekarang kalau di larang jatuh cinta malah semakin nekat. You know lah remaja jaman sekarang kayak gimana? bukan gue menyamaratakan semua remaja, tapi kebanyakan kayak gitu. Kita gak mau kan kalau anak anak kita sampai ngelakuin hal nekat?" sahut Luna di setujui semuanya.


" Ya sudah mama terserah kamu saja, kalau kamu beneran suka sama Rissa, kamu harus memperjuangin dia, jaga dia baik baik jangan sampai di rusak. ngerti?" ucap Indah diangguki Nathan.


Nathan tersenyum senang lalu memeluk kedua orang tuanya.


" Yang harus kamu tau Nath, kamu harus sabar hadepin calon mertua kamu yang perempuan. Kamu harus siap dengerin suara toa nya." sahut Zaki tertawa diikuti yang lainnya.


" Maksud lu apa ngomong kek gitu? minta di jejelin sosis lu ya." geram Ajeng yang sudah mengangkat sosisnya namun di cegah oleh louis.


" Tenang om, tante ajeng mah suaranya lembut gak seperti yang om bilang barusan. Iya kan tan." sahut Nathan sambil tersenyum manis pada ajeng.


" Oohh tentu dong calon mantuku, jangankan suara, sikap tante juga lemah lembut." ucap Ajeng dengan senyum yang dibuat sangat manis.


" Hhuueeekkk.. mo gumoh gue." sahut Salwa, Luna, indah dan intan.


Mereka kemudia tertawa melihat tingkah konyol ajeng.


Nathan kemudian kembali ke teman temannya, ia menggeser tubuh Elvano dan duduk di tengah Rissa dan elvano.


" Tuh tempat masih Luas, lu demen banget ngedusel." dengus Elvano.


" Ngedumel mulu, itu tandanya gue mau deket deket sama my honey sweety trilili." ucap Nathan sambil memainkan dagu Rissa.


" Lu apaan sih nath." sahut Rissa menyingkirkan tangan Nathan dari dagunya.


" Gue tadi minta restu sama bokap nyokap buat suka sama lu." ucap Nathan membuat Rissa tersedak..


" Nih minum." Nathan menyodorkan segelas minuman pada Rissa.


" Lu kalo ngomong ngaco mulu ya." kesal Rissa menabok lengan Nathan.


" Gue serius dan mereka setuju setuju aja tuh."ucap Nathan.


" Aduh nath pasti sampe rumah besok mereka jadi tukang wawancara dadakan deh, terus gue mesti jawab gimana coba." Ucap Rissa sambil memijit pelipisnya.


" Tinggal jawab Iya aja apa susahnya, lagian lu beneran gak suka sama gue ya?" sahut Nathan menatap mata Rissa dan membuat Rissa salah tingkah.


" Iyain aja sih Ris, kayaknya si Nathan beneran demen ma lu." sahut Elvano.


" Nggak... dapetin gue harus ada perjuangannya dulu. Enak aja." jawab Rissa sok jual mahal.


" Ciihh.. kalau lu sok jual mahal terus lama lama si Nathan berpaling loh." ucap Elvano.


" Kalau dia beneran cinta sama gue, dia gak akan berpaling hati." jawab rissa sambil melirik Nathan.


" Heehh para betina, dengerin gue ya.


Laki laki emang seharusnya berjuang buat ngedapetin cewek yang dia cinta. Tapi kalau cewek yang di perjuangin menghindar terus, sok cuek, sok jual mahal apa laki laki gak capek? Ibaratnya lu mau nangkep kupu kupu, tapi kupu kupu itu malah terbang jauh, lu udah nyoba nangkep berkali kali tapi gagal pada akhirnya lu berhenti dan nyerah karena capek berlari, kemudian lu relain tuh kupu kupu pergi gitu aja.


Nah itu sama halnya dengan cowok, kalau usaha dan perjuangan dia gak di hargai dia akan merasa lelah dan ngebiarin lu sama yang lain.


Lagian masih banyak cewek yang lebih pantas diperjuangin dan lebih bisa menghargai perjuangan kita." tutur Elvano panjang lebar.


" Selagi ada yang udah cinta tulus sama lo, ya udah jalanin aja. urusan dia nyakitin atau gak itu urusan belakangan karena bagaimana kita tau dia nyakitin atau gak kalau kita belum memulai suatu hubungan?." sambungnya. Devan dan Nathan berdiri lalu keduanya bertepuk tangan.


" Bijak sekali sepupu gue satu ini. salut gue sama pemikiran lo." ucap Devan memeluk Elvano.


" Pemikiran lo bener bener the best dah." sahut Nathan merangkul pundak El.


Rissa dan Freya saling menunduk, apa yang di katakan Elvano ada benarnya.


Kalau udah nyaman kenapa tidak di mulai, jika nanti ada yang merebutnya barulah penyesalan itu datang.


Selama ini keduanya memilih menolak karena takut untuk di sakiti, takut jika sudah terlanjur dalam mencintai malah di tinggal pergi.


itulah yang membuat kedua wanita yang sedang menunduk ini memilih untuk mengabaikan rasa cinta Devan atau Nathan.


.


.


.


.


TBC