
Devano dan Elvan kembali bersekolah setelah seminggu lebih mereka berdua tidak masuk sekolah.
Seperti biasa kedatangan mereka berdua disambut teriakan para murid cewek yang mengagumi keduanya.
Dengan gaya coolnya Devan dan El berjalan menuju kelas, tak sedikit para gadis yang menahan pekikannya saat Devan dan El bejalan melewati mereka.
" Gue berasa jadi artis tau gak el di lihatin mulu, segitu gantengnya ya gue di mata mereka." ucap Devan membuat El memutar bola matanya malas.
" Mungkin Lu masih punya utang sama mereka, makanya mereka pada lihatin lu." sahut el yang langsung mendapat tabokan dari Devan.
" Kurang kaya apa bokap nyokap gue anjir, lagian mana ada sejarah dalam kamus gue ngutang sama mereka? Sorry laki laki tampan kayak gue anti untuk berhutang." jawab Devan membuat El menghentikan langkahnya lalu menoyor kepala Devan.
" Saat!!! lu napa noyor gue?"
" Lu punya utang ma gue 50rb, sampe sekarang belum lu kembaliin." ucap El. Devan memiringkan kepalanya menatap el dengan alis bertaut.
" Masa'... kok gue gak inget?"
" Lu utang pas kita bolos di warung belakang sekolah dan waktu itu lu Lupa bawa dompet. Inget gak Lu." jelas el.
Devan mngingat ingat kapan kejadian itu berlangsung.
" Aahh ... yang itu? Kalau itu gue khilap. Lu kan tau waktu itu dompet gue ketinggalan di tas, dari pada gue utang sama warung mending gue utang ma lu kan." jawab Devan cengengesan.
" Alasan mulu kerjaan lu." sahut El lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kelas.
Braaakk..
Devan menendang pintu itu dengan keras, seluruh penghuni kelas hanya menatap Devan dan el dengan tatapan kesal namun tak sedikit pula yang mengumpatinya.
" Lama lama gue ganti tuh pintu jadi transparan, heran gue sama kelakuan kalian berdua." sahut Gilang yang sudah bosan melihat kelakuan Devan yang selalu menendang pintu saat masuk kelas.
" Masih pagi bby, gak baik marah marah mulu." ucap Devan sambil memainkan dagu Gilang.
" Jijik Dev, gue masih normal ya." Gilang menepis tangan Devan dan menatapnya dengan sinis.
" Tapi gue suka sama lu, gimana dong." ucapan Devan yang semakin membuat Gilang semakin menatapnya jijik. Devan bahkan duduk berjongkok di depan Gilang dan menatapnya dengan wajah imut.
" PERGI GAK, GUE JIJIK LIHAT KELAKUAN LU." teriak Gilang membuat semua penghuni kelas menertawakannya.
Bukan Devan kalau tidak membuat gaduh seisi kelas, tak sedikit dari mereka yang mendukung Devan untuk membuat kelas semakin gaduh.
Jika di bandingkan dengan Kelas Luna dulu, mungkin tidak ada bedanya. penghuni kelas sama sama suka membuat kegaduhan hingga di juluki kelas paling berisik.
" Lu gak suka sama gue, padahal gue suka sama lu." ucap Devan pura pura bersedih.
" ASTAGA DEVAAANN, FRUSTASI GUE LIHAT KELAKUAN JIJIK LO. MINGGIR." Gilang berdiri lalu keluar kelas membuat semua temannya semakin tertawa Keras.
Devan ikut tertawa lalu bejalan ke bangkunya, ia meletakkan tasnya dan menghadap Freya yang sedang membaca buku.
" Pagi sayang." ucap Devan menompang dagunya menatap Freya.
" hm Pagi." balas Freya tanpa menoleh ke arah Devan.
" Lu gak kangen ma gue apa? padahal seminggu lu gak ketemu sama gue." Devan mengerucutkan bibirnya melihat Freya yang memilih fokus dengan bukunya.
Belum sempat Freya menjawab, Bella datang dan langsung menghampirinya.
" Akhirnya lu udah masuk sekolah, gue kangen sama lu Dev." ucap Bella yang berdiri di samping meja Devan.
" Tapi gue gak kangen sama lu, gue kangennya sama cewek gue." jawab Devan menatap Freya yang sedang menatapnya.
Bella menghentakkan kakinya lalu kembali ke mejanya.
" Jahat lu." bisik Freya namun Devan hanya cuek.
Bagi Devan Bella tidaklah penting, ia justru menganggap Bella adalah pengganggu di tengah hubungannya dengan Freya.
Bel masuk kelas pun berbunyi, semua murid masuk kelas dan memulai pelajaran.
Grace baru saja tiba di kampus namun dirinya masih enggan untuk turun. Ia menurunkan kaca mobilnya saat seseorang mengetuknya.
" Apa?" tanya Grace saat melihat Adam berdiri di samping mobilnya.
" Ayo masuk." ajaknya membuat Grace mau tidak mau mengiyakan ajakan Adam karena memang 10 menit lagi kelas akan di mulai.
Keduanya berjalan menuju kelas dengan disambut tatapan aneh dari mahasiswa lainnya. Tak heran jika mereka menatap Grace dengan pandangan aneh, karena memang jarang sekali Grace berjalan dengan seorang cowok kecuali Dosen yang mereka kagumi yang tak lain adalah Daffin.
Desas desus hubugan Grace dan Daffin terdengar ke telinga mereka masing masing. Banyak yang menyetujuinya dan banyak juga yang mendoakan agar mereka putus.
Namun bukan Grace dan Daffin kalau tidak menghiraukannya.
Selagi hubungan mereka masih dalam batas normal dan Daffin masih bisa bersikap profesional itu tidak masalah.
Karena Daffin dan Grace masih bisa bersikap layaknya Dosen dan mahasiswa jika di kampus. kecuali ruangan Daffin haha.
Daffin masuk kelas dan menatap Grace yang saat ini berpindah tempat duduk disamping Adam.
Dalam hatinya mendengus kesal kenapa Grace harus duduk disamping laki laki itu.
" Kita mulai materi pagi ini." ucap Daffin dengan wajah datarnya.
" itu cowok lu?" tanya Adam dengan berbisik.
" Iyaa. Kenapa?"
" Datar banget mukanya, sebelas duabelas kek si Zay. Apa lu gak bisa cari cowok yang bagusan dikit?"
Plaaakk..
" Kurang bagus apa coba cowok gue? ganteng iya, tajir iya, mapan iya, di gilai banyak cewek juga iya dan beruntungnya gue yang dapetin tuh cowok." ucap Grace setelah menabok pelan bahu Adam.
" GRACIELLA, APA KAMU TIDAK MENDENGARKAN SAYA." ucap Daffin dengan suara yang memenuhi ruangan.
" Dengerin kok pak." jawab Grace dengan gugup.
" Dengerin apanya, dari tadi saya denger kamu ngobrol terus sama temen kamu." tunjuknya pada Adam.
" Bapak salah denger kali, orang saya gak ngomong apa apa kok."
Grace tidak mengerti kenapa hari ini Daffin sedikit sensitif dengannya.
" Kamu menuduh saya budek?"
" Eehh... enggak. Bukan begitu pak."
shit.. salah lagi gue. lagian nih orang kesambet setan apa sih? kenapa marah marah mulu, heran gue.
" Terus apa? tuli?"
" Aduh pak maksud saya--"
" Sudah diam, banyak alasan kamu." ucap Daffin lalu melanjutkan pengajarannya.
Grace mendengus kesal, ingin sekali ia melempar punggung Daffin dengan sepatu yang dipakainya.
Sabar Grace, mungkin cowok lu lagi pms. batin Grace sambil mengusap dadanya.
.
.
.
.
Sepi banget oeeyy.. 🙃