
Daffin menatap jauh dari balkon kamarnya, ia memegang sebuah bingkai foto dirinya bersama Grace yang ia cetak beberapa hari yang lalu. Memandang, memeluk bahkan mencium foto itu berkali kali.
Rasanya sungguh tidak percaya, gadis yang akhir akhir ini menjadi kekasihnya kini telah pergi meninggalkannya. Meskipun dalam hatinya masih meyakini jika Grace tidak benar benar pergi, Grace hanya tersesat dan ia yakin jika suatu saat Grace pasti kembali.
Grace tidak hilang, dia hanya ingin menyendiri.
Grace tidak mati, dia hanya ingin merasakan sepi.
Merasakan Damai di suatu tempat yang mungkin membuatnya betah untuk tinggal. Dan suatu saat Grace akan kembali, kembali mengembalikan senyumnya yang telah hilang, menghapus semua kesedihan yang ia rasakan, dan mengembalikan kebahagiaan yang ikut terbawa bersamanya.
Meskipun ia sendiri tak tau kapan hari itu akan tiba, hari dimana ia bisa memeluk Grace dengan erat dan tak akan melepasnya lagi.
" Terkadang semesta memang selucu itu, mempertemukan kita tanpa sengaja dan memisahkan kita dengan cara tak sewajarnya." guman Daffin mengusap foto Grace yang tengah tertawa lebar.
" Aku ingin sekali kembali ke masa kecil dimana aku ingin memberontak menolak Kenyataan yang tak ingin kita terima. Bukankah ini tidak adil?" Daffin mulai meneteskan air matanya, menunduk dalam dan memeluk erat bingkai foto itu.
Berulang kali ia menguatkan hatinya namun lagi lagi dia tidak mampu, semakin di tahan semakin ia merasakan sesak di dadanya.
Daffin memang laki laki kuat dan tegar, namun dia akan lemah jika menyangkut orang orang yang di cintainya.
" Aku akan tetap mencarimu, menemukanmu dan membawamu kembali ke tengah tengah keluargamu.
Aku janji." Daffin mencium foto itu lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
***
Zay membuka pintu kamar Grace dengan perlahan, ia menatap seisi ruangan yang tampak tidak berubah semenjak kepergian Grace.
Ia menutup kembali pintu kamar itu dan berjalan menuju ranjang yang biasa Grace tempati.
Zay mendudukkan bokongnya di tepi ranjang dan mengusap lembut kasur itu. Sama halnya dengan Daffin, dia amat merindukan saudara kembarnya yang hampir dua minggu belum juga di temukan.
Zay menaikkan kakinya ke atas kasur lalu tubuhnya ia sandarkan pada headboard ranjang.
" Gue kangen elo Grace, Lo ada dimana sekarang?" Zay menundukkan kepalanya dan menaruhnya di atas lipatan tangan dengan kaki yang sudah di tekuk.
" Semua orang mengharapkan lo kembali, mengharapkan lo ada disini bersama kita." Zay mulai terisak dalam diam.
Air mata yang sekuat tenaga ia tahan akhirnya tumpah juga. Saudara kembar yang selalu ada untuk dirinya kini entah ada dimana? Bagaimana keadaan dan kondisinya.
Pencarian Grace memang belum menemukan titik terang, bahkan anak buah Ricko dan Reyhan yang sudah terlatih saja belum mmpu menemukan keberadaan Graciella.
Padahal mereka berkali kali mendatangi rumah warga namun mereka mengaku tidak tau.
Pintu kamar Grace perlahan terbuka, Zay dengan cepat mengangkat kepalanya dan mendapati Devano yang berjalan menghampirinya.
" Abang makan dulu, dari tadi lu belum makan." ucap Devan yang sudah duduk di samping Zay.
" Gue gak laper, nanti saja." jawab Zay sambil menghapus air matanya.
" Kamu harus makan Zay, kamu tidak boleh seperti ini terus." sahut Kiran yang baru saja masuk kedalam kamar Grace.
" Sayang."
" Iya aku kesini, Devan bilang kamu gak mau makan dan gak mau turun dari kamar. Makanya aku datang kesini buat ngebujuk kamu." ucap Kiran, ia menarik kursi rias Grace lalu duduk di samping ranjang.
" Kita semua emang lagi bersedih bang, tapi jangan pernah lu nyiksa diri lu juga. Kak Grace pasti akan sedih kalau lihat lu kayak gini." tutur Devan, ia benar benar tidak tega melihat semua keluarganya bersedih seperti ini.
Keluarga yang selalu membuat keramaian, kebisingan kini tawanya hilang seketika.
Gue mohon kak, berikan tanda kalau lu masih hidup.
Kita semua merindukan lo, menginginkan lo kembali ke tengah tengah kita lagi. Gue gak bisa lihat semua orang orang bersedih atas kepergian lo." Batin Devan yang juga merasakan kerinduan pada kakaknya.
Ketiga orang itu kini turun kebawah dan berkumpul bersama yang lainnya.
****
Seorang Gadis yang sudah sadar beberapa hari yang lalu kini sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap luar jendela.
Netra matanya menatap pepohonan yang tinggi tinggi dan jalanan yang mungkin adalah jalan untuk menuju hutan. Entah apa yang ads di pikiran gadis itu.
" Kamu sudah bangun nak?" ucap Bu Imah saat memasuki kamar gadis itu.
" Sudah Bu." jawab Gadis itu yang tak lain adalah Grace. Namun sayang, gadis itu justru tidak ingat siapa dirinya dan apa yang terjadi dengan dirinya.
Yang ia tau, ia terbangun dan berada di rumah ini.
Bu imah dan pak Rohim terpaksa memberi nama gadis dengan panggilan Sesilia.
Karena gadis itu tidak mengingat siapa namanya.
" Bagaimana keadaan kamu? apa masih sakit?" tanya bu Imah sambil mengusap surai hitam Sesilia.
" Sudah lebih baik, terima kasih sudah merawatku bu." ucap Sesilia dengan senyum manisnya.
" Sama sama sayang, sekarang kamu makan dulu setelah itu minum ramuan yang ibu buatkan." ucap bu Imah.
Sesilia mengangguk lalu berjalan dengan tongkat yang di buatkan pak Rohim dari batang kayu.
Wajar jika kedua pasangan suami istri itu tidak membawa Grace ke dokter karena kendala biaya dan jarak rumah mereka ke pemukiman warga sangat jauh.
Ditambah lagi kondisi Grace yang masih belum bisa berjalan dengan normal.
Jadi mereka hanya bisa memberikan ramuan yang mereka buat sendiri untuk salah satu alternatif pengobatan Grace.
" Ibu kasian sama keluarga kamu, pasti mereka sedang mencari kamu." ucap bu Imah sambil menyuapi nasi kedalam mulut Sesilia.
Sesil hanya tersenyum, ia tidak tau harus menjawab apa karena ia tidak tau siapa keluarganya.
" Bolehkan sesil tinggal disini sampai sesil benar benar ingat siapa diri sesil dan keluarga sesil?" Sesil bertanya dengan tatapan memohon. Bu imah tersenyum lalu mengangguk.
" Tidak apa apa, ibu justru senang karena sudah lama ibu dan bapak mengharapkan kehadiran seorang anak " ucap Bu imah, ia mengusap kepala Sesil dengan sayang.
" Ibu dan bapak bisa kok anggap sesil seperti anak kalian sendiri. Sesil tidak keberatan." ucap Sesil yang juga tersenyum dengan mata berbinar.
" Makasih sayang, kami janji akan merawat kamu, membantu kamu sedikit demi sedikit mengembalikan ingatan kamu."
" sama sama bu, sesil juga makasih udah mau menerima sesil dan mau merawat sesil. Sesil janji akan berbakti pada ibu dan bapak." ucap Sesil lalu memeluk tubuh bu imah.
Bu imah menangis haru, meski tidak selamanya namun setidaknya ia bisa merasakan bagaimana mempunyai seorang putri.
.
.
.
.
.
Untuk sementara aku menggunakan nama Grace menjadi sesilia. nanti kalau ingatan Grace sudah kembali aku bakal gunakan nama Grace lagi.
Please jangan ada yang bosen ya, aku jamin pasti seru kok. Konfliknya gak akan berat berat amat.🤗