My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
11.



Dan disinilah Grace dan Zay sekarang, di sebuah taman hiburan yang tidak jauh dari rumah mereka.


Grace dan Zay memang sering menghabiskan waktu mereka disini, karena tempat ini adalah tempat favorite Grace sejak kecil.


Di tempat ini juga tersedia berbagai wahana yang bisa dinaiki oleh orang dewasa, contohnya seperti saat ini, keduanya menikmati wahana bianglala sambil mamakan es cream.


Menikmati suasana malam dengan keindahan lampu kota dari atas bianglala.


Sungguh mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.


Pasti orang akan menganggapnya seperti itu jika tidak mengenal keduanya.


" Kita duduk disana." ajak Zay menunjuk bangku kosong.


Grace mengangguk toh dirinya juga sudah merasa lelah.


" Lo serius suka sama dosen baru lo?" tanya Zay menoleh kearah Grace.


" Serius.. lu pikir gue bercanda gitu?" jawab grace sambil menjilati es cream yang dia pegang.


" Kali aja lu cuma main main doang." ucap Zay, tangannya terulur membersihkan noda es cream disudut bibir grace.


" Awalnya cuma iseng sih, tapi lama lama gue suka beneran sama tuh dosen." jawab Grace cengengesan.


" Lu udah tau latar belakangnya?" tanya Zay di balas gelengan Grace.


" Kalau misal tuh dosen udah punya istri, tunangan atau pacar gimana?" tanya Zay membuat Grace sejenak terpaku.


" Gak mungkin, siapa cewek yang mau sama dia kalau bukan gue doang." sanggah Grace, namun tidak dipungkiri jika hatinya mempertanyakan hal itu.


" Bodoh.. lu baru mengenal dia, siapa tau memang dia udah punya pasangan." ucap Zay geleng geleng kepala.


" Gak mungkin, harusnya dia bilang kalau udah punya pasangan saat gue bilang suka sama dia." ucap Grace membuat Zay cukup terkejut dengan jawabnya.


" Lu udah bilang suka sama tuh dosen?" tanya Zay, grace mengangguk polos.


" Terus dia bilang apa?"


" Nggak bilang apa apa, itu artinya dia nggak punya pasangan dong dan itu artinya dia ngasih harapan sama gue." jawab Grace.


" Yaudah semoga aja dia memang belum punya pasangan." ucap Zay.


" Terus lu sendiri gimana? belum ada kabar dari dia?" tanya Grace.


" Belum." jawab Zay menggeleng lemah.


" Seandainya dia kembali lagi, apa lu mau nemuin dia?" tanya Grace.


" Gue gak tau, gue memang berharap dia kembali, tapi jika dia benar benar kembali gue rasa belum siap buat ketemu lagi." jawab Zay.


" Apa sih yang lu harapin dari dia, dia udah ninggalin lo tanpa pamit, tanpa kabar, dia pergi entah kemana dan disini dengan bodohnya lu masih ngarepin dia kembali." ucap Grace geleng-geleng.


" Gue menjadi orang bodoh saat memikirkan dia, gue emang orang bodoh yang ngarepin dia kembali, tapi itu semua karna cinta gue ke dia terlalu dalam grace." jawab Zay dengan mata berkaca kaca.


Grace menarik tubuh Zay kedalam pelukannya, ia tahu dibalik sifat dinginnya, Zay adalah orang yang rapuh.


Zay memang terlihat kuat di hadapan orang lain, tapi saat dia sedang sendiri dia hanya seorang yang membutuhkan orang lain untuk berbagi keluh kesahnya.


" Gue pernah bilang sama lo, jangan pernah menaruh kebahagiaan lo ditangan orang lain, kalau dia pergi dan menghilang, lo sendiri yang akan berantakan." ucap Grace mengusap punggung Zay.


" Percayalah, suatu hari nanti lo akan menemukan seseorang yang akan memilih lo dalam kondisi apapaun, dia akan menerima segala kekurangan lo, memahami masa lalu lo, menemukan retak di hati lo, dan saat itu lo akan terkejut karna orang itu memilih untuk tetap tinggal bersama lo." tutur Grace.


" Jadi please untuk sekarang jangan ngerasa lo sendiri, ada gue disini yang selalu ada buat lo, ceritain semua yang menjadi beban pikiran lo. Gue sayang sama lo Zay." ucap Grace mengeratkan pelukannya.


" Thank grace, lo emang sodara kembar terbaik yang pernah ada." ucap Zay mencium kening Grace.


" kita pulang sekarang, udah malem." ajak Zay diangguki Grace.


**


Grace dan dan Zay masuk kedalam rumah, terdengar suara tawa dari orang orang yang terlihat sedang asik bercanda.


" Jalan jalan ke taman doang kok ma." jawab Grace, Luna manggut manggut.


" Lagi ngomongin apa sih? suara tawa kalian sampe terdengar dari depan?" tanya Grace mendudukkan bokongnya disamping Vero.


" Cerita aib si devan kak, bang Vero gak percaya kalau si devan pernah ngompol sampe tante luna ngamuk." jawab Elvano masih dengan tawanya.


" Ceritain terus...!! untung gue gantengnya permanen, jadi kegantengan gue gak bisa luntur meski aib gue kebongkar." ucap Devan membuat beberapa orang memutar bola matanya malas.


" Topik Lu gak ada yang lain apa selain ganteng, ganteng dan ganteng? gue bosen dengernya." sahut Grace.


" Mau gimana lagi, emang nyatanya gue ganteng." sombong devan.


" El.. ke kamar yukk.. disini kita berdua yang masih muda, semuanya dah pada tua." ucap Devano pada El.


" Heehh kembaran dugong.. gue slepet juga pala lo." sahut Vero menatap devan..


" Lah emang disini kita berdua yang masih muda, kalian kalian dah pada tua." sahut Elvano.


" Nih juga Kadal arab nyaut aja kerjaan lu."


" Dihh menolak tua, noh lihat mereka yang beneran tua pada diem karena mereka sadar kalau memang sudah tua. wleee." ucap Devan menjulurkan lidahnya.


" Dasar anjing laut... sono lu.. huss huss." ucap Vero menggerakkan tangannya.


" Kok lu ngusir sih bang." ucap Elvano tidak terima.


" Oalah anak ngen..." geram Vero melempar bantal ke muka El dan devan, namun sayang keduanya langsung kabur.


" Om arland balik ke london kapan?" tanya Grace.


" Lusa sayang, kasian kakek nenek buyut kalian tidak bisa ditinggal lama lama." jawab Arland.


" Grace pengen kesana deh, jenguk mereka." ucap Grace sedih.


jujur ia sangat rindu dengan kakek neneknya, karena dulu keduanya sering memanjakan semua cicitnya.


" Kalau kamu ada waktu libur kita kesana bareng bareng ya." sahut Ricko.


" Beneran grandpa?" ucap Luna dengan mata berbinar.


" Iya sayang, mereka juga sudah kangen banget sama kamu dan yang lain." sahut Nadia.


" Siap grandma... Kalau gitu Grace ke kamar dulu ya, mau istirahat." ucap Grace diangguki semuanya.


" Zay juga pamit ke kamar dulu. selamat malam." ucap Zay menunduk sopan lalu menaiki tangga menyusul Grace.


" Yaahh kalau gitu Vero juga deh, gak enak banget kumpul sama yang tua tua." ucap Vero.


" Heehh ngomong apa kamu barusan?" ucap Luna menjewer telinga Vero.


" Adduhh ampun tante.. kan emang bener yang vero katakan." ucap Vero mengusap telinganya.


" Dasar anak sama bapak kelakuannya gak beda jauh." gerutu Luna.


" Napa lu bawa bawa gue dek?" sahut Arland tak terima.


" Kenyatan bang, anak lu cerminan lu, kalau cerminan kak febby gak begini modelannya." jawab Luna.


" Adek lucknut lu."


.


.


.


Jangn Lupa Like dan komen , 🤗


Maaf kalau masih banyk typo.