
Isak tangis Olivia pecah begitu saja saat Kiran pergi meninggalkan dirinya, ditambah lagi Zay yang tidak kembali ke ruangannya dan memilih mengejar Kiran.
Ia tidak menyangka jika Kiran menolak permintaannya, padahal dulu tidak sekalipun Kiran mengabaikan apapun keinginannya Olivia.
Olivia tahu jika dirinya sangat egois kali ini, tapi memang Zay lah semangatnya saat ini.
Olivia menangis sambil menjabak rambutnya semakin rontok, ia menatap rambut itu lalu kembali histeris.
" Kenapa? kenapa penyakit ini harus hinggap di tubuhku? kenapaa?" teriak Olivia semakin frustasi.
Ranti yang baru saja kembali bersama suaminya langsung menghampiri Olivia yang tengah histeris.
" Sayang... sayang hentikan, kamu akan melukai diri kamus sendiri." ucap Ranti menggenggam tangan Olivia agar berhenti menjambak rambutnya.
" Mereka pergi ma, mereka pergi ninggalin Olivia sendiri." ucap Olivia yang tengah terisak di pelukan mamanya.
" Biarkan mereka pergi sayang, sekarang ada mama sama papa yang nemenin kamu disini." Ranti mengusap kepala putrinya dengan lembut. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan putrinya yang saat ini sangat kacau.
Olivia melepaskan pelukan mamanya, ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sendu.
" Kenapa harus Oliv? kenapa harus Oliv yang menderita penyakit ini? kenapa ma? pa? kenapa Allah begitu tidak adil pada hidup Oliv? Kenapa?"
Ranti dan Ramdan saling menatap, mereka juga tidak tau harus menjawab apa. Karena memang semua ini sudah takdir, siapapun bisa saja menderita penyakit ini terutama Olivia.
" Dengerin papa.. Kamu gak oleh menyalahkan Allah. Allah sudah berbuat adil pada setiap makhluknya.
Allah memberikan penyakit ini itu karena Allah ingin kita semakin dekat denganNYA. jangan pernah kamu berpikir seperti itu lagi ya nak.
Sekarang yang harus kamu lakukan adalah lupakan yang membuat kamu sakit hati, kamu harus terus semangat untuk sembuh dan gak boleh menyerah.
Ada papa sama mama yang selalu ada disamping kamu yang menginginkamu kembali sehat seperti dulu." tutur Ramdan.
Olivia tidak menjawab, ia semakin menunduk dan terisak. Apa yang dikatakan papanya adalah benar, sebelum Zay hadir kembali ia masih bisa melewati ini semua, menjalani takdir yang di berikan oleh Allah, tetap semangat sembuh hanya dengan melihat kedua orang tuanya. Tapi entah kenapa setelah Zay hadir kembali semuanya berubah, dirinya yang kini semakin egois dan tidak mementingkan perasaan kedua oramg tuanya. Ia justru lebih menginginkan Zay ada disampingnya dan menemaninya melewati ini semua.
" Maafkan Olivia ma, pa." ucap Olivi memeluk kedua orang tuanya.
" Gapapa sayang, mama papa tau kalau kamu lelah melewati ini semua. Tapi kami mohon bertahanlah demi mama papa. Kamu adalah putri kami satu satunya, kami gak akan pernah siap untuk kehilangan kamu." ucap Ranti yang kini ikut menangis.
" Papa minta maaf kalau selama ini jarang ada waktu untuk kalian, papa bekerja keras demi pengobatan kamu dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. maafkan papa." ucap Ramdan mencium pucuk kepala istri dan anaknya.
" Makasih pa, makasih papa udah bekerja keras untuk kami terutama untuk pengobatan Oliv. Papa memang papa terbaik yang pernah ada." ucap Olivia semakin mengeratkan pelukannya
" Makasih untuk mama yang selalu ada disamping oliv, Oliv bahagia punya kalian. Maafkan Oliv yang akhir akhir ini bersikap egois." ucap Oliv diangguki kedua orang tuanya.
Oliv sadar jika orang tuanya lah yang selalu ada untuk dirinya yang selama ini menemaninya melewati masa sulit ini.
Zay memang semangatnya, tapi kedua orang tuanya adalah alasan ia harus tetap mempunyai semangat hidup.
***
Mobil yang dikendarai Zay baru saja tiba di kediamannya. Selama perjalanan tidak satu katapun yang terucap dari bibir kiran, ia tidak tau apa yang membuat Kiran menjadi pendiam dan apa yang dibicarakan Kiran dan Oliv selama dirinya pergi ke kantin. Tapi ia yakin jika terjadi sesuatu karena tidak mungkin Kiran pergi meninggalkan Olivia begitu saja apalagi berniat meninggalkannya.
Zay menggendong kiran dan memindahkannya ke kursi roda. Ia mendorongnya masuk kedalam rumah mengahampiri orang orang yang menunggu kedatangannya.
" Akhirnya lu pulang juga, gimana hasil pemeriksaannya." sahut Grace yang melihat kedatangan Zay dan Kiran.
" Baik, semua sudah membaik, tinggal kita harus melatih kakinya untuk berjalan." jawab Zay.
" Lu gapapa kan Ran?" tanya Grace saat melihat raut wajah Kiran yang sedikit berbeda.
" Aku gapapa, aku pengen ngomong sama kamu." ucap Kiran, Grace mendongakkan wajahnya menatap Zay seakan meminta persetujuan dan Zay mengangguk iya.
" Yaudah kita kehalaman belakang aja, tapi lu gak mau makan dulu?" ucap Grace dibalas gelengan oleh Kiran.
" Nanti aja, aku belum laper." jawab Kiran, Grace manggut manggut.
" Lu temuin anak anak yang lain, gue kebelakang dulu sama Kiran." ucap Grace diangguki Zay.
Grace mendorong kursi roda kiran menuju halaman belakang. sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Kiran? kenapa ekspresi wajahnya seperti itu?
" Sekarang lu cerita sama gue, ada apa?" tanya Grace.
Kiran menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
" Tadi aku dan Zay menemani Olivia kemoterapi." ucap Kiran menatap wajah Grace, ia bisa melihat perubahan wajah Grace saat dirinya bercerita tentang olivia.
" Lalu?"
" Dia memintaku untuk membujuk Zay agar Zay mau membrikan waktunya untuk nemenin dia--"
" Lu mengiyakannya?" potong Grace dibalas gelengan Kiran.
" Aku menolaknya, aku nggak mau berbagi laki laki yang aku cintai. Sudah cukup selama ini aku mengalah karena Olivia, aku juga ingin bahagia dengan laki lakiku sekarang." ucap Kiran dengan air mata yang sudah menetes.
" Jawaban yang bagus. Memang seharunya lu bersikap tegas sama dia, gue tau dari dulu lu selalu ngalah sama dia. Lu ngerelain Zay dengannya padahal lu sendiri suka sama Zay. Biarpun lu gak ngomong sama gue, tapi tatapan mata lu saat ngeliat Zay itu berbeda." tutur Grace.
" Sekarang gue tanya, kenapa lu nangis?"
" Aku gak tega lihat Olivia, bagaimanapun dia sahabat aku dari kecil."
" Untuk sesekali biarkan diri lu menjadi orang jahat, kalau lu mementingkan perasaan orang lain mulu, perasaan lu sendiri yang akan terluka. Lu akan kecewa, lu akan sakit hati. Biarkan sesekali lu bersikap egois, biar dia sadar jika sikapnya selama ini itu salah."
" Tapi gue takut dia nggak nganggep gue sahabat lagi."
Kiran dan Olivia memang sudah bersahabtat sejak kecil, bahkan mereka seperti saudara kandung yang kemana mana akan selalu berdua. Menganggap orang tua masing masing adalah orang tua mereka sendiri.
Jadi wajar jika Kiran mempunyai pikiran seperti itu.
" Jika memang dia bener bener nganggep lu sahabat dia nggak akan ngejauhi lo, apalagi jelas jelas disini yang salah dia bukan lo. Misal lo udah gak dianggap sahabat lagi sama dia, lu masih ada gua dan yang lain yang selalu nganggep lu sahabat dari dulu." hawab Grace.
" Lu boleh baik, tapi jangan mau di bodohi. Jangan sampe orang orang menfaatkan kebaikan lo demi kepentingannya sendiri. Lo harus mempunyai sisi jahat atau egois biar yang memanfaatkan lo tau diri." lanjutnya dengan penuh penegasan.
" Aku tau." jawab Kiran.
" Sekarang gak usah dipikirin lagi, lu baru aja ngedapetin ingatan lo kembali. Lupakan semua yang menjadi beban pikira lo, waktunya lu membuka diri lu menjadi seseorang yang baru. Paham." ucap Grace dan Kiran mengangguk paham.
" Sekarang kita temui yang lain, dan lu juga harus makan. Karena pasti Zay udah nungguin lu untuk makan bareng." ucap Grace lalu mendorong kursi roda kiran masuk kedalam rumah.
.
.
.
.
.
Ayo jangan lupa like dan komen biar makin semangat up nya 😁