
Grace menjalankan mobilnya menuju kampus dengan kecepatan penuh, ia lupa jika hari senin ini ada kelasnya pak Daffin.
Grace menggerutu kesal saat tidak ada orang rumah yang mau membngunkannya.
Sedangkan Zay sendiri masih asik dengn dunia mimpinya karena memang hari ini tidak ada mata kuliah.
Mobil terparkir mulus di area parkir, Grace dengan cepat turun lalu berlari menuju kelas.
Persetan dengan orang orang yang ditabraknya, ia ingin segera sampai dikelas karena 5 menit lagi kelas akan dimulai.
Napas Grace ngos ngosan saat sampai di depan kelas, ia membuka keras pintu kelas itu dan ternyata sudah ada pak Daffin yang sudah duduk di kursinya dengan beberapa mahasiswa.
" Maaf." ucap Grace lalu berjalan menuju tempat duduknya.
" Lain kali kalau mau membuka pintu tolong yang sopan." tegur Daffin.
" iya pak." jawab grace.
" Baiklah langsung kita mulai saja materi hari ini." ucap Daffin.
Fokus Grace terbagi antara mendengarkan materi dan menatap wajah tampan Daffin.
Sungguh bagi Grace dosen didepannya ini sangat berkharisma.
Meskipun dikata dosen killer, dingin dan menyebalkan namun bagi Grace, daffin adalah cowo tertampan yang pernah ia temui.
" Baiklah ada pertanyaan?" tanya Daffin sebelum mengakhiri kelas hari ini.
Tanpa sadar Grace mengangkat tangannya.
" Ya silahkan, apa pertanyaan kamu?" tanya Daffin.
" Bagi Nomor Whatsapp dong." ucap Grace dengan tidak tau malunya.
Semua yang ada dalam kelas menyoraki Grace karena dengan berani menggoda pak Daffin.
" Baiklah materi kali ini cukup sampai disini, selamat siang." ucap Daffin tanpa menggubris perkataan Grace lalu keluar membawa tasnya.
" Lu gila, beneran lu udah gila, bisa bisanya lu minta nomor pak daffin di hadapan semua orang." ucap Naya.
" Gak malu lu disorakin sama anak anak sekelas?" sahut Grizzele.
" Ngapain malu orang gue gak tel4nj*ng." jawab Grace dengan santainya.
" ckk.. ni anak urat malunya udah putus kali ya." gerutu Naya.
" Caffe seberang yuk." ajak Grace diangguki keduanya.
Kini mereka berada di Caffe seberang kampus, tidak besar namun tempatnya cukup asik jika dibuat nongkrong.
Saat Grace melangkahkan kakinya masuk kedalam caffe, kedua sudut bibirnya terangkat saat ia melihat Daffin sedang duduk manis dengan laptop yang menyala.
" Lu berdua cari tempat duduk, gue mau kesana dulu." ucap Grace sambil menunjuk Daffin yang sedang duduk sendiri.
" Lu gila Grace, jangan berulah lagi lah, jangan bikin malu." ucap Naya pelan.
" Udahlah, hus hus." ucap Grace mendorong bahu kedua temannya setelah itu ia menghampiri Daffin.
" eheemm... boleh duduk disini?" tanya Grace membuat daffin yang fokus dengan laptopnya mendongakkan kepalanya.
Ia melihat kesana kemari memang tidak ada kursi yang kosong.
" hmm." jawabnya lalu kembali fokus pada laptopnya.
" Bapak sendirian disini?" tanya Grace basa basi meskipun grace sendiri sudah tau jawabannya.
" Apa kamu melihat saya dengan orang lain?" ucap Daffin tanpa menoleh pada Grace.
" Siapa tau bapak lagi sama orang terus orangnya ke toilet." jawab Grace.
" Saya sendiri." ucap Daffin.
kriikk..kriiikk..kriiikk..
hening.
" Pak, maaf ya tadi saya bikin malu bapak." ucap Grace memecah keheningan, dirinya sedikit merasa bersalah saat meminta nomor telepon di hadapan banyak orang.
" hmm.. jangan diulangi lagi." jawab Daffin.
" Saya tidak akan minta nomor bapak dihadapan banyak orang, tapi kalau berdua kayak gini boleh minta kan pak?" ucap Grace tersenyum manis.
" Buat apa minta nomor saya?" tanya Daffin.
" emm.. barang kali ada materi yang tidak saya mengerti kan saya bisa langsung tanya sama bapak." jawab Grace sedikit masuk akal.
" Setiap saya selesei menerangkan pelajaran saya akan bertanya pada kalian apa ada yang ditanyakan atau tidak, tapi tidak ada yang bertanya itu berarti kalian semua sudah mengerti apa yang saya jelaskan." ucap Daffin.
" Ya gak gitu juga pak, kalau misal saya lagi belajar sendiri terus ada bagian yang saya tidak mengerti kan saya bisa langsung tanya sama bapak, masa iya saya harus nunggu hari dimana ada mata kuliah bapak sih, keburu lupa dong pak." jawab Grace.
Daffin mendengus kesal, mahasiswi di depannya ini ada aja alasan saat sedang berdebat.
" Mana ponsel kamu?" tanya Daffin, dengan sigap Grace memberikan ponselnya pada Daffin.
Dengan senyum mengembang Grace menamai nomor itu dengan my crush .
" Terima kasih pak." ucap Grace dibalas deheman oleh Daffin.
" Bapak masih lama?" tanya Grace.
" Memang kenapa? kamu mau mengusir saya?" ucap Daffin.
" Baperan banget sih pak, maksud saya kalau bapak masih lama biar saya pesankan makanan, bapak gak akan kenyang kalau cuma minum kopi." ucap Grace.
" Tidak usah repot repot nanti saya bisa pesan sendiri." jawab Daffin.
" Gak repot kok, bapak mau makan apa?" tanya Grace sambil melihat buku menu.
Daffin menatap datar grace, mahasiswi di depannya ini sungguh keras kepala.
" Steak sama lemon tea." jawab Daffin.
Grace memanggil pelayan lalu memesan makanan mereka, sembari menunggu makanan datang, grace pamit ke toilet, namun ia tidak benar benar ke toilet, ia menghampiri dua sahabatnya yang sedari tadi menunggunya.
" Sorry gue gak bisa gabung sama kalian, nanti kalau mau pulang, kalian pulang aja dulu." ucap Grace pelan.
" Lu ngapain sama pak Daffin dodol?" tanya Grizzele.
" Anggap aja gue sedang kencan dengannya." jawab Grace terkekeh.
" Waahh lu bener bener udah gila grace." sahut Naya.
" Gak usah banyak omong, gue balik dulu, byee." ucap Grace lalu meninggalkan Grizzele dan Naya.
" Tuh anak bener bener deh, gak habis pikir gue." ucap Naya.
" Bukan Grace namanya kalau gak ngelakuin hal gila." sahut Grizzele.
Tak berapa lama makanan pesanan mereka sudah datang, Daffin menutup laptopnya lalu menggesernya kesamping.
" Selamat makan pak." ucap Grace dengan senyum manis.
" hm." gumamnya sebagai jawaban, Grace mencebikkan bibirnya namun setelah itu ia tersenyum.
____
Devano dan lainnya kini berada di kantin setelah pelajaran sejarah yang membosankan baginya.
Apalagi devano, cowok itu paling sangat tidak suka dengan pelajaran satu itu.
Karena menurut dia dari pada bercerita tentang masa lalu kebih baik bercerita tentang masa depan yang jelas ada di depan mata, apalagi kalau cerita masa depan dengan orang terkasih.eaak.
" Kalau bukan karna freya gue ogah ngikutin tuh pelajaran, bukannya nyantol di otak gue, malah mata gue yang kudu merem." gerutu devano sambil meminum minumannya.
" berarti Freya bawa pengaruh positif dalam hidup lu, ambil sisi baiknya aja sih." sahut Rissa.
" Kalau gitu jadi pacar gue dong biar hidup gue positif terus." ucap devano menatap Freya.
" Ogaahh... lu positif gue yang negatif." jawab Freya.
" Lu mau gue positifin? ya udah cari hotel deket sini aja gimana?" ucap devano dengan ngawurnya.
pleetaaakk...
Satu sentilan mendarat mulus dijidat Devano hingga membuatnya mengaduh sakit.
" Maksud lo apa hmm?" ucap Freya melotot tajam.
" ya maksud omongan lu tadi ambigu sih." jaeab devan sambil mengusap jidatnya yang terasa perih.
" Tapi bukan gitu maksud gue bajol.. lu bikin gue emosi aja." geram Freya.
" Udah.. udahh gak usah bertengkar, nih makanan kalian dah dateng." ucap Rissa saat bu kantin mengantarkan makanannya.
" Anjirr panas banget baksonya,, gak mau makan gue." ucap devano menggeser mangkok bakso itu ke arah nathan.
" Dimana mana bakso baru disajikan ya panas jamal, mau dingin ya taruh aja di kulkas." geram Nathan.
" Gakk.. baksonya demam tuh, orang panas kek gitu." jawab Devan slengean.
" Dugong mesir, gue tampol juga mulut lo." sahut Elvano dengan kesal.
Sedangkan yang lain hanya menatap devan datar.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen 🤗