My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
22.



Daffin merebahkan tubuhnya diatas ranjang, perkataan Mamanya angel untuk segera mempercepat pernikahannya sedikit menganggu pikirannya.


Jangankan mempercepat pernikahannya, berniat menikah dengan angel saja dia tidak ingin.


Kalau bukan karena papanya, mungkin dia tidak akan mau bertanggung jawab dengan cara seperti ini.


Karena bagaimanapun pernikahan tidak termasuk tanggung jawab dalam sebuah kecelakaan.


Dave tidak dapat memejamkan matanya padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Terlalu banyak hal yang ia pikirkan sekarang mulai dari Grace, pernikahannya dengan angel, pekerjaannya dan masih banyak hal lainnya.


ting..


Satu notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya.


Daffin mengambil ponselnya diatas nakas.


Senyumnya mengembang saat membaca pesan yang tak lain dari Grace.


Rupanya gadis itu juga tengah terjaga.


*Grace : Selamat malam dan selamat tidur 🥰


Daffin : Selamat tidur juga*


Grace membulatkan matanya saat Daffin membalas pesannya, sungguh keisengannya kali ini membawa berkah.


Ia tidak menyangka jika Daffin masih belum tidur padahal sudah sangat larut malam.


Grace memang belum tidur karena mengerjakan tugas dari Daffin yang di berikan tempo hari, ia lupa jika ada tugas dan harus di kumpulkan besok pagi.


*Grace : Bapak belum tidur?


Daffin : belum


Grace : Kenapa belum tidur? kan udah malem banget.


Daffin : Belum mengantuk, kamu sendiri kenapa belum tidur?.


Grace : Lagi ngerjain tugas yang bapak berikan tempo hari. Bapak tidur sana biar besok ketemu saya wajahnya segar.😁


Daffin : Keasikan main jadinya lupa sama tugas.


Grace : hehehe khilap pak.


Daffin : yaudah kamu juga tidur sana.


Grace : Bapak juga tidur ya, selamat malam 😚


Daffin : selamat malam.


Read*....


Daffin meletakkan ponselnya kembali diatas Nakas, suasana hatinya sedikit membaik setelah bertukar pesan dengan Grace.


Gadis itu memang selalu saja bisa membuat moodnya membaik.


Daffin menarik selimut lalu tak lama ia terlelap.


Sedangkan Grace, gadis itu kini tengah senyam senyum saat berulang kali membaca pesannya untuk Daffin, bahkan ia berulang kali menciumi photo profil si dosen tampan itu.


Setelah itu ia dengan cepat menyeleseikan tugasnya dan segera tidur karena hari sudah hampir pagi.


***


Baru 3 jam Grace tertidur namun alarm di ponselnya berdering, terpaksa ia bangun dan segera mandi karena jam 7 Kelas Daffin sudah dimulai.


Grace menuruni tangga dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.


Ia mendudukkan bokongnya disamping Zay dan menyandarkan kepalanya di bahu Zay.


" Ngantuk banget lu." ucap Vero melihat Grace yang terus menguap.


" hm.. gue masih ngantuk banget? baru tidur jam 3an tadi." jawab Grace.


" Kamu ngapain aja tidur jam segitu Grace? ingat tidur terlalu larut juga tidak baik buat kesehatan kamu." sahut Reyhan.


" Grace semalem ngerjain tugas pa, grace lupa kalau ada tugas makanya baru semalem grace ngerjainnya." jawab Grace.


" Lain kali lebih teliti lagi Grace, biar gak kayak gini lagi. Kalau udah kayak gini kan kamu sendiri yang rugi." sahut Luna.


" Iya maa."


" Bawa mobil gue ya Ver, gue berangkat bareng Zay aja." ucap Luna diangguki Vero.


" Kalau gitu anterin Devan kesekolah dong bang." pinta devan pada Vero.


" Ogah,, sekolah lo dimana kampus gue dimana? lagian lu punya motor baru buat apaan jamaaal? buat pajangan doang?" tolak Vero.


" Gue terlalu sayang sama motor gue bang, makanya jarang gue pakek. Lagian gue kasian sama murid cewek kalau gue ke sekolah pakek tuh motor." jawab Devan.


" Kasian kenapa?" sahut Luna.


" Kasian sama tenggorokan mereka ma, tiap kali devan pakek tuh motor pasti cewek cewek neriakin devan. Kan kasian nanti tenggorokannya jadi serak, kalau serak akhirnya gak bisa ngomong, kalau gak bisa ngomong kan jadi devan yang disalahin." ucap Devan dengan Logikanya.


" Nyungsep aja sono lu, kesel gue." ucap Vero dan yang lain hanya menatap devan malas.


***


Devan baru saja tiba di sekolah, dengan segera ia berjalan kelas karena ia ingin cepat bertemu dengan sang pujaan hatinya.


Namun tanpa sengaja ia menabrak seseorang cewek hingga cewek itu hampir terjatuh.


Beruntung devan segera menangkap cewek itu.


Meraka saling pandang lalu sedetik kemudian devan menegakkan tubuh orang itu.


" Sorry gue gak sengaja." ucap Devan lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Cewek itu tersenyum menatap kepergian devan.


Devan membuka pintu kelas dengan keras, seperti biasa beberapa dari penghuni kelas mengumpatinya.


Namun bukan devan jika tidak menghiraukan mereka.


" Pagi sayang." sapa Devan pada Freya.


" Coba katakan sekali lagi Frey, mendadak kuping gue budek nih." ucap Devan yang kini berjongkok di samping Freya


" Pagi juga Devano Sayang." ulang Freya dengan senyum manisnya.


" Aduhh jantung gue, jantung gue kenapa kayak gini, aduh meleyot gue." ucap devan memegang dadanya.


" El, nath.. coba pegangin gue, barang kali gue mau pingsan." ucap Devan sambil mengulurkan tangannya agar dipegangin oleh el dan nathan.


" Lebay lu ah... cuma di panggil sayang gitu doang dah meleyot." cibir Nathan.


" WOOOEEEYYY.. KALIAN DENGER GAK? GUE DI PANGGIL FREYA SAYANG, JADI AWAS AJA KALAU KALIAN BERANI GODAIN FREYA, GUE PENYET KALIAN BIAR JADI PERRKEDEL." teriaknya pada penghuni kelas.


" Berisik Dev, kita juga kagak budek elah." tegur Gilang sang ketua kelas.


" Lu kesambet apa panggil dia sayang frey?" sahut Rissa.


" Gapapa." jawab Freya singkat.


" Ris.. Riss.. lu duduk ama Nathan dong.


Gue mau duduk sama sayangnya gue biar makin deket." ucap Devan pada Rissa.


" Sama aja samsul, sebelah freya juga tempat duduk lu, kurang deket gimana coba." geram Rissa.


" Gak usah bertingkah, duduk di tempat semula." sahut Elvano.


" ckk.. Kalian berdua napa gak bisa diajak kompak sih." ucap Devan cemberut.


Ia lalu mendudukkan bokongnya disamping Nathan.


Tak lama guru pun masuk dengan seorang cewek yang berjalan di belakangnya.


" Baiklah anak anak, kita kedatangan murid baru.


Kamu.. silahkan perkenalkan nama kamu." ucap bu Mita.


" Hallo.. perkenalkan nama saya Bella Azzura, saya pindahan dari Bamdung." ucap murid baru itu.


" Baiklah, kamu silahkan duduk di samping Elvano." ucap bu Mita diangguki Bella.


" Permisi, aku mau duduk disini." ucap Bella.


El mendongakkan kepalanya lalu mengambil tas dan mempersilahkan Bella duduk.


***


Bel istirahat pun berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas menuju kantin.


" Aku boleh gabung sama kalian gak? aku belum punya teman disini." ucap Bella pada genk devan.


" Silahkan aja, pakek bahasa gue elo aja, biar akrab." sahut Freya diangguki bella.


" Thank you."


Mereka pun pergi ke kantin bersama.


Sesampainya di kantin, Freya yang hendak duduk di samping devan malah dengan segaja bella lebih dulu duduk di samping devan.


Freya sedikit mengernyit namun ia mengalah saja.


" Dev, nanti bisa nemenin gue keliling sekolah gak? gue belum tau betul denah sekolah ini kek gimana." pinta Bella pada devan.


" Gue sibuk, suruh yang lain aja? lagian ada ketua osis disini yang siap ngangerin lu keliling sekolah." jawab devan ketus.


" Gue gak kenal ma mereka, gue kenal sama kalian doang." ucap Bella menunduk.


" Udahlah Dev, lu temenin aja! lagian cuma sekali ini aja kok." sahut Freya.


" Tapi yank, gue lagi mager." jawab devan yang sengaja memanggil Freya yank.


yank? mereka pacaran? batin bella menerka hubungan keduanya.


" Cuma hari ini, temenin dia." ucap Freya menatap Devan.


Devan mendengus sebal, namun mengangguk menuruti perkataan Freya.


" Yaudah habis makan gue temenin lu keliling." jawab Devan membuat Bella tersenyum puas.


Sesuai janji Devan mengantar bella untuk berkeliling sekolah.


Kalau bukan karna Freya, ogah banget devan nemenin cewek ini.


" Lu mikirin apa yang gue pikirin gak sih Frey?" tanya Rissa saat Devan dan bella pergi.


" Emang lu mikirin apa?"


" Gak usah munafik deh, masa lu gak lihat sikap bella kek gitu?"


" Kek gitu gimana sih?"


" Dia mah pura pura gak tau, padahal hatinya udah mengkerut tuh." sahut el.


" Ho'oh, begitulah betina pandai banget nyembunyiin perasaannya." Sahut Nathan.


" Emang gue nyembunyiin apa? kalian ini bahas apa sih? beneran gue gak ngerti." ucap Freya yang mulai kesal sendiri.


" Tuh.. lo aja udah mulai kesel gitu? udahlah gak usah munafik, lo kesel kan lihat devan sama bella?" desak Rissa.


" Ngapin gue kesel? emang gue siapanya devan?.


" Gak usah bohongin diri lu sendiri Frey."


" Gue bohong gimana lagi sih? gue gak kesel atau cemburu. puas kalian." ucap Freya lalu pergi meninggalkan mereka."


.


.


.


.


Nanti malam up satu bab lagi.