
Happy Reading...
Prang...
"Bagaimana bisa?" gumam si dukun keheranan, menatap sebilah pisau yang tadi di pegang oleh Chalis, kini sudah berada di atas lantai.
"Ya bisa lah, dasar dukun pemaksa. Enyah kau dari sini" sahut bunda kesal. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menarik paksa keluar sosok yang merasuki Chalis.
"Jangan tarik saya, tubuh saya sakit tahu. Pakai saja mantra" keluh sosok yang merasuki Chalis. Namanya Sri Kunti. Ia sosok kuntilanak perempuan peliharaan mbah Parno yang terkadang konyol dan pelupa.
"Udah rusuh, mau dikeluarin dari tubuh Chalis masih aja ngenyang" gumam Glen kesal.
"Ila..! Bantuin dong! Kok diem aja sih" bentak bunda.
"Aku harus gimana?" tanya ratu Ila dengan polosnya.
"Ya bantuin aku tarik Sri lah, masa makan cinemai, aku belum makan cinemai lhoh pagi ini. Lemes nih tubuh aku, energi aku juga ikutan memudar".
"Iya.. iya" ratu Ila berdiri di samping bunda dan ikut mengangkat tangannya ke arah Sri Kunti untuk membantu bunda menarik paksa keluar Sri Kunti dari tubuh Chalis.
"Adududududuhhhh... mbah Parno... tolongin saya dong, jahat banget sih cuma diem aja liat saya disiksa gini. Nanti saya berhianat, baru tahu rasa lhoh" ancam si Sri.
"Nggak mau, ratu Ila sama ratu Nami energinya lebih kuat. Mana bisa aku tandingi, ratu.. Sri buat kalian aja deh. Saya minta maaf, nggak mau cari gara-gara lagi deh sama anak-anak kalian. Saya permisi dulu, peletnya udah saya tarik dari anak kalian" setelah kalimat panjang yang diucapkan tergesa-gesa, si dukun lalu pergi menghilang bersamaan dengan kesadaran Risa dan Rey yang kembali sepenuhnnya.
"Dasar dukun sengklek" maki Reza.
"Sri... ayo keluar dong, kasian itu Chalis-nya kesakitan" kesal bunda.
"Ya jangan tarik saya, saya keluar sendiri aja" ratu Ila dan ratu Nami berpandangan sebentar.
"Nggak bakal kabur kok, janji deh. Lagian kan, tadi mbah Parno udah bilang kalau saya buat kalian" ratu Ila dan ratu Nami langsung merendahkan tangannya, membiarkan Sri untuk keluar sendiri dari tubuh Chalis.
"Nanti kalau saya keluar, bocah ini bakal pingsan terus mimisan, bangunnya muntah darah" Sri lalu keluar bersamaan dengan ambruknya tubuh Chalis yang langsung mengeluarkan darah dari hidung.
"Dasar setan sialan, bikin orang susah aja" geram Glen yang sudah membawa Chalis berbaring di atas lantai, ia kini sedang mengusap darah yang masih mengalir dari hidung Chalis.
"Apa salah saya? Saya kan dipaksa masuk tadi oleh mbah".
"Saya mau donat, gimana ya caranya?" tanya Sri, membuat semuanya memandang ke arahnya.
"Donat?".
"Iya, itu lhoh yang artinya nggak bakal mengulangi perbuatan jahat lagi. Terus saya jadi hantu islam. Apa ya itu namanya? Donat 'kan?".
"Tobat! Bukan donat!" koreksi semuanya.
"Owh... obat ya... iya, saya pengin itu. Gimana ya caranya?".
"Masih salah lagi, T-O-B-A-T, tobat, bukan obat!" kesal bunda membenarkan.
"Iya, pokoknya itu lah. Terus gimana caranya T-O-B-A-T?" tanya Sri lagi sambil mengeja kata tobat seperti yang dikatakan oleh bunda.
"Sini, ikut kami" ratu Ila dan bunda menggandeng tangan Sri lalu menghilang dari pandangan mata. Pintu markas terbuka, nampak Ligo, mas Gege, dan Radar yang berjalan tergesa-gesa menghampiri Risa dan kawan-kawan.
"Apa ada yang terluka?" tanya Ligo.
"Enggak ada" sahut Adam.
"Oh.. syukurlah, bagaimana dengan Sri dan si dukun pemaksa?".
"Si dukun pergi nggak tahu kemana, sedangkan si Sri dibawa sama bunda sama ratu Ila entah kemana juga".
"Tuan Rey.... anda tidak apa-apa?" Radar menghampiri Rey dan bersimpuh didepannya.
"A-aku ti-tidak apa-apa, Ra. Ada apa ini?" tanpa menjawab pertanyaan Rey, Radar langsung memeluknya erat. Ia merasa senang bahwa tuan-nya itu baik-baik saja.
"Apa-apaan itu, aku saja yang sahabatnya tidak pernah sekali pun memeluk Rey, sedangkan Radar yang baru bertemu dengan Rey. Main peluk saja, tidak sadar diri sekali sih dia" batin Glen kesal, ia lalu berdehem lumayan keras dan menatap sengit ke arah Radar. Radar menatap Glen sebentar laly mengernyit dan tersenyum.
"Syukurlah bila Tuan tidak apa-apa" Radar lalu berdiri kembali di samping Ligo.
"Tu-tuan?".
"Radar adalah penjagamu, Rey. Dia yang akan menjagamu sampai ajal menjemput. Dia sudah diutus oleh ratu Ila dan bunda dengan pemikiran yang matang. Dia cocok jika menjadi penjagamu yang takut dengan hantu, sedangkan ia memiliki gelang alam yang ditakuti para hantu" jelas Ligo.
"Pe-penjaga?".
Puk!
"Apa setelah kamu terkena mantra dukun sengklek, kamu menjadi kembaran Aziz Gagap?" Zara menepuk pundak Rey dengan keras lalu berceletuk seceletuk-celetuknya.
"Gila lo, Ra!" sentak Rey.
"Saya gila kenapa, tuan?" sahut Radar.
"Bukan kamu, Radar. Tapi Zara. Mungkin panggilan untukmu diganti saja, Radar. Menjadi...".
"Ayungning, saya biasa dipanggil itu saat di kerajaan, tuan" sergah Radar.
"Ok, Ayungning. Ayung".
"Ngomongmu sudah lancar lagi, Rey" Zara manggut-manggut senang setelah menepuk pundak Rey untuk yang kedua kalinya dengan keras.
"Jadi, gimana jalan-jalannya?" seloroh Ais.
...----------------...
"Risa! Bangun nak... katanya hari ini mau jalan-jalan?" ibu menggoyang-goyangkan lengan Risa untuk membangunkannya.
"Dua jam lagi, bu" sahut Risa dalam kondisi antara sadar dan tidak.
"Dua jam? Sekarang sudah jam delapan lhoh? Kamu mau buat temen-temen kamu nunggu di markas? Hah?".
"Jam enam bu, aku setel alarm nya jam enam kok".
"Astagfirullah, punya anak perawan satu gini amat di urusin orang tua angkatnya" gumam ratu Ila. Ia kemudian membuat Risa terduduk dan sedikit mundur. Risa yang masih ingin tidur, kembali sempoyongan ke belakang. Naas! Kali ini ia tidak terbaring secara mulus. Tapi, kejedot headboard ranjangnya. Ia langsung meringis nyeri dan mengaduh kesakitan seraya mengusap bagian belakang kepalanya yang terasa nyut-nyutan.
Ibu yang melihat Risa duduk sendiri tanpa ditariknya, mengernyit heran. Sedangkan ratu Ila, menutupi mulutnya.
"Upss... maafin mama nak, kayaknya kemunduran tadi mundurinnya" ratu Ila kemudian menggunakan mode pereda sakit di kepala bagian belakang Risa.
"Dadah.. mama tinggal dulu ya.." ratu Ila kemudian menghilang entah kemana. Mungkin dia akan pergi bermain congklak atau memakai cinemai bersama bunda.
"Nah, sakit kan? Rasain tuh, ayo bangun...." ibu menarik lagi tangan Risa hingga Risa kini berdiri di atas lantai.
"Ibu tunggu di bawah" ibu kemudian keluar kamar Risa, membiarkan anaknya untuk bersiap-siap.
...***...
Selesai mandi dan bersiap-siap, Risa turun ke bawah. Menikmati sarapan buatan ibu.
"Kamu mau kemana dek? Rapih amat" tanya kak Ang.
"Jalan-jalan ke desa Lawang".
"Hah? Mana?".
"Desa Lawang!".
"Desa itu katanya angker lhoh dek, nggak mau ganti tempat aja?".
"Udah bulet keputusannya. Kalau mau diganti, nggak ada tempat rekomendasi dari temen-temen ataupun aku sendiri".
"Kakak ada, nih ya... Curug Belingo, Wadah Biru, Nyanyian Rindu, Pantai monyet, Taman Wegahsari, Goa Kasalong, Goa Jatijajar, Pantai Karang Bolong, Benteng Van Der Wijck, Pantai Menganti, Pantai Jetis, Pantai Suwuk, Pantai Ambal" cerocos kak Ang panjang lebar.
"Kapan-kapan" balas singkat Risa hingga membuat ekspresi muram di wajah kak Ang jelas terpampang yang mengundang gelak tawa ayah dan ibu.
Selesai makan. Risa pamit pada kedua orang tua dan kakaknya. Ia pergi ke markas dengan mengendarai motornya bersama Hanar.
"Kita akan pergi ke mana, kak?" tanya Hanar di kursi penumpang.
"Desa Lawang".
"Hati-hati, kak".
"Kenapa?".
"Disana angker".
"Owh... iya".
"Kenapa nggak ke pantai dan tempat-tempat yang tadi disebutin sama kak Ang aja si kak?".
"Kakak pernah googling, tempat-tempat yang tadi disebutin sama kak Ang, lokasinya lebih jauh dari sini. Sekitar lebih dari sepuluh jam, kita kan di Jakarta, sedangkan tempat-tempat tadi di Kebumen, Jawa Tengah. Kapan-kapan aja kesana" jelas Risa.
"Aku pernah denger kata Kebumen, katanya disana banyak pantainya" Risa mengangguk.
Sesampainya di markas, ia segera menghampiri teman-temannya yang sudah siap dengan perlengkapannya masing-masing. Yang paling rempong, tentu saja Ais dan Chalis. Mereka membawa satu tas besar yang berbentuk seperti roti gulung berwarna coklat, yang biasanya di jual di tukang sayur.
"Ribet amat si kalian?" heran Risa.
"Iya lah".
"Kalian mau ke mana?" tanya salah satu kunti yang nangkring di pohon samping markas. Tentunya, bukan kunti yang dekat dengan Risa.
"Mau jalan-jalan, tan" sahut Risa.
"Owh... ke mana?".
"Desa Lawang".
"Hati-hati yah".
"Iyah, sampaiin salamku buat tante... aduh.. Risa lupa siapa namanya, pokoknya sampaiin salam Risa buat tante yang deket sama Risa ya".
"Okh".
Setelah semua barang masuk ke mobil. Giliran penumpang dan pengemudinya yang masuk ke mobil. Motor Risa dimasukkan ke dalam ruang tamu. Markas Indigo Team juga sudah diberi keamanan ganda, yaitu kunci di setiap pintu dan jendela, serta pagar ghaib.
Setelah berdo'a, mereka memulai perjalanan. Kali ini menggunakan tiga mobil. Adam dan Zara adalah para supirnya. Mobil Adam memuat, Risa yang duduk di sampingnya. Glen, dan Chalis yang duduk di kursi tengah. Dan, Hanar yang duduk di kursi belakang sendiri. Sedangkan mobil Zara memuat Wisnu yang duduk disampingnya. Ais dan Reza yang duduk di kursi tengah serta Rey yang duduk di kursi belakang sendiri.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.
Thank You All...
❣️❣️❣️❣️
Author buat cerpen baru lhoh... judulnya 'Salahkah Aku Jatuh Cinta?". Mohon dukungannya buat yang suka cerpennya ya...
Oh ya, Goa Jatijajar, Pantai Karang Bolong, Benteng Van Der Wijck, Pantai Menganti, Pantai Jetis, Pantai Suwuk dan Pantai Ambal yang tadi disebutkan kak Ang, memang ada lhoh... letaknya di Kebumen, Jawa Tengah (tempat tinggal author) untuk pasti letaknya, kalian bisa googling aja yah, wkwk. Sebenarnya, bukan hanya itu saja lhoh pantai-pantai di Kebumen, Jawa Tengah. Masih ada banyak lagi pantai-pantai yang indah dan pasti asik untuk dikunjungi.
Pantai Suwuk (hasil jepretan kamera author sendiri, waktu berkunjung ke pantai suwuk bareng saudara sama keluarga)
Dari udara versi googling
Pantai Menganti (hasil jepretan kamera om author)