INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Gelang alam (Season 1)



Pov Rey.


"Gelang alam?" makhluk tersebut terkejut saat melihat gelang yang di pegang oleh perempuan pendek di sampingku. Apa tuh gelang alam?.


"Pergi!" ucap perempuan di sampingku lagi dengan begitu dingin dan datarnya. Mirip Adam sama Wisnu lah kira-kira, tapi masih parahan mereka sih.


"He-heh! Lo-lo itu di-disuruh pe-pergi, na-napa ka-kagak pergi- pergi ju-juga lo!?" bentakku gagap kebangetan.


"Kenapa jadi mirip kaya Aziz Gagap gini sih gw?" batinku heran.


"Dadah mas" ucap wanita mengerikan di depanku sebelum akhirnya dia menghilang.


"Huhhh".


"Kakak baik-baik saja?" tanya perempuan di sampingku sambil kembali mengenakan gelang yang di pegang nya tadi. Perempuan pendek di samping ku ini lumayan cantik, walaupun masih cantik-an Risa di matakku. Dia mengenakan kaca mata bulat serupa dengan wajahnya dan juga bola matanya.


Aku menengadah karena masih dalam posisi duduk. Perempuan ini mengulurkan tangan pendek nya. Aku menyambut uluran tangannya dan berdiri lalu membersihkan celana belakang.


"Kakak baik-baik saja?" tanya nya lagi.


"Gw baik-baik aja, makasih. Ngomong-ngomong, gelang alam itu apa?" tanyaku penasaran.


"Gelang alam ini adalah gelang yang di pakai oleh penguasa alam" aku tertegun.


"Penguasa alam kan Allah swt?" dia mengangguk.


"Memang, gelang ini itu seperti air wudhu, air wudhu kan di takuti oleh jin. Makannya orang yang mengenakan gelang ini akan di takuti oleh makhluk halus karena di mata mereka kami yang memakainya selalu terlindungi oleh cahaya menyilaukan dan juga panas. Maka dari itu ketika kita wudhu dan shalat, jin jahat akan menjaga jarak dengan kita. Intinya sih, gelang ini kaya mengingatkan kita untuk meningkatkan keimanan karena manusia lebih tinggi derajatnya daripada jin" jelas perempuan ini.


"Penjelasan lu bikin puyeng" perempuan ini terkekeh.


"Kenalin namaku Radar, kakak siapa namanya?" ucap perempuan tersebut mengenalkan namanya.


"Orang tua lo kasih nama Radar karena terinspirasi dari sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat map benda-benda seperti pesawat ya? Namaku Reyyan. Berapa umurmu?".


"Hehe mungkin, umurku empat belas tahun kak".


"Lo itu emang asli pendek gini atau faktor baru empat belas tahun?" tanyaku heran sambil mengamati tubuh mungilnya.


"Asli pendek dari lahir" aku mengangguk paham.


"Makasih yah udah nolongin gw, gw pergi dulu mau beli nasi goreng" Radar mengangguk.


Setelah selesai membeli nasi goreng. Aku kembali ke tempat dimana yang lain berkumpul. Sebelum masuk ke rumah sakit, aku menghela nafas berat dan mempersiapkan mental untuk berjalan di lorong.


"Selamat sore menjelang malam den" sapa satpam yang kebetulan lewat di depanku.


"Oh iya, selamat sore menjelang malam juga pak" balasku. Setelah itu aku pamit pergi dan berlari setelah memasuki daerah lorong.


"huft... huft... capek banget gw di kejar kuntilanak" gumamku saat sudah berada di depan pintu ruang rawat Adam.


"Lama banget sih?" kesal Glen saat aku baru selangkah masuk.


"Maaf, banyak kendala tadi" aku menaruh plastik yang berisi pesanan mereka di lantai setelah mengambil satu bungkus nasi goreng di sterofom.


.


.


Aku di ajak makan oleh Zara, namun aku menolak. Rasanya perut ini sudah terlalu kenyang untuk di isi makanan padahal aku belum memakan apapun setelah sadar.


"Ayo dong, jangan gini. Adam pasti sedih kalo kamu gak mau makan, walaupun sedikit setidaknya ada nasi yang masuk ke perut kamu. Biar kamu punya energi dan lekas sembuh" ucap Zara.


"Aku nggak laper".


"Sedikit aja".


"Nggak mau" tolakku lagi untuk kesekian kalinya.


"Kalo nggak mau makan, gw nikahin lo Ris" celetuk Wisnu tiba-tiba yang membuatku langsung mengambil sterofom di tangan Zara dan memakan nasi goreng di dalam nya hingga habis.


"Bagus, anak pinter" puji Wisnu sambil tersenyum aneh.


"Gaya ngomong lo udah kaya ngomong sama a*jing tetangga tahu nggak?" kekeh Reza.


Rey berdehem kemudian duduk dengan pandangan serius. Ia lalu menyuruh kami untuk fokus padanya. Dari gaya nya, dia seperti ingin bercerita.


Dan benar saja, setelah kami fokus pada nya. Ia mulai bercerita tentang wanita yang di lihatnya, hantu wanita, Radar, dan gelang alam. Aku mendengarnya dengan seksama dan mempertebal telingaku supaya tidak ada satu pun kata yang terlewat.


"Gelang alam? Aku baru pernah denger tentang gelang itu" gumamku di setujui semuanya.


"Lo udah perkenalan sama cewek pendek itu Rey?" tanya Reza. Rey mengangguk.


"Cantik nggak?.


"Cantik sih, walaupun masih cantik-an Risa di mata gw".


"Bisa aja kamu daun kacang" ledekku lalu tertawa.


"Beneran Ris, menurut gw lo itu emang lebih cantik dari wanita mana pun" aku terdiam dan tersenyum kaku menanggapi pandangannya.


"Saingan lo adam lhoh" ujar Reza.


"Tau gw" sahut Rey datar.


"Emang lo berani sama dia?" tanya Reza dengan nada seperti meledek.


"Kalo dia nggak bisa jaga Risa dengan baik gw berani ngrebut Risa dari dia".


"Hushh! Kamu itu apa-apa an si Rey. Adam itu lagi sakit lhoh, kamu kok ngomongnya kaya gitu?!" bentakku tak suka.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Author tidak pernah bosan mengingatkan pada para pembaca untuk selalu mengambil sisi baik cerita ini dan membuang sisi negatif nya. Cerita ini hanya cerita fiksi! Yang mungkin akan ada kisah nyata nya.