INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Luka #part 2 (Season 2)



Happy Reading...


Ditepi jalan, seorang gadis manis berkacamata dengan rambut hitam panjangnya yang di kepang fishtail berdiri menunggu angkot yang menuju ke perpus kota.


"Tumben lama banget, biasanya nggak kayak gini" gumamnya mengeluh. Pantas dia mengeluh, sudah hampir dua jam dia menunggu, namun angkot yang membawanya menuju ke tempat tujuannya tak kunjung datang.


"Ir!" sebuah panggilan mampu membuat gadis tersebut mengalihkan fokusnya.


"Mas Rayhan?" tanyanya kaget.


"Iya, kamu lagi ngapain disini?" tanya Rayhan setelah menghentikan motornya.


"Lagi nungguin angkot, mas".


"Mau ke perpus ya?" gadis tersebut mengangguk membenarkan.


"Mas mau ke mana?" tanya gadis tersebut.


"Mau ke rumah temen, Ir. Bareng sama mas aja yuk, rumah temen mas nglewatin perpus kota" tawar Rayhan.


"Enggah usah mas, makasih. Irel naik angkot aja, Irel nggak mau ngrepotin mas" tolak Irel lembut. Ya.. gadis manis berkacamata yang rambutnya di kepang fishtail tersebur adalah Irel, adik tiri Rayhan (beda ayah).


"Nggak ngrepotin kok, daripada naik angkot, uangnya kan lumayan bisa buat beli buku di perpus".


"Ehehe, nggak usah mas, makasih sekali lagi. Tuh, pacarnya udah nungguin, ehh.. ada angkot, duluan ya mas" Irel berlalu meninggalkan kakak tirinya itu dan memasuki angkot yang sudah ia stop tadi.


"Pacar? Aku kan belum punya pacar" gumam Rayhan heran. Ia celingak-celinguk lalu mengendikan bahu. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia lalu menyalakan mesin motornya dan melaju pergi.


Disebuah angkot berwarna biru lah Irel berada, dia duduk tepat dibelakang sang supir. Ada sekitar tujuh penumpang termasuk dirinya dan bapak pengemudi yang berada di angkot ini.


"Kok wajahnya pucat-pucat ya, mana diem semua lagi. Ada apa ya? Apa mereka lagi sakit? Tapi kok sakitnya barengan gitu, apa janjian? Ah! Ngaco! Mana ada sakit janjian! Terus kenapa ya? Ini kok lama-lama merinding, apa turun aja yah? Perasaan udah nggak nyaman ini" batin Irel seraya mengamati para penumpang angkot selain dirinya yang diam dengan wajah pucat dan pandangan mata entah fokus ke mana.


"Aduhhh... gimana nih? Turun nggak yah? Tapi kalau turun... ehh... ini kok sepi banget? Gelap juga, apa terowongan? Kok sepi banget gini sih, satupun cahaya nggak ada. Ok! Irel! Ayo berani! Turun sini aja, nggak papa deh di terowongan, nanti jalan kaki aja. Kayaknya aku salah naik angkot ini".


Kekhawatiran perlahan-lahan mulai memasuki kadar tertingginya. Ambil nafas, lalu hembuskan secara perlahan Irel lakukan berkali-kali. Terowongan gelap nan sepi ini tak kunjung berlalu. Mungkin turun adalah solusi terbaik. Mungkin!.


"Pak! Irel turun sini aja!" ucap Irel seraya menepuk bahu kiri sopir.


Sopir tersebut tanpa menjawab sepatah kata langsung menginjak rem secara mendadak, akibatnya para penumpang termasuk Irel sendiri dan sang supir terdorong ke depan. Kaki Irel tiba-tiba terasa seperti diguyur benda cair, lengket, dan amis. Setitik cahaya samar menerangi angkot. Seluruh wajah penumpang yang terdorong ke depan dan jatuh di depan kaki Irel tersorot cahaya samar tersebut.


"Kyaaaaa...!!! Hantu....!!!" Irel bergegas turun dengan tergesa-gesa. Namun baru akan beranjak, kakinya di cekal oleh salah satu penumpang. Kuku-kuku tangannya yang panjang hitam mengerikan mulai menancap dan menembus lapisan kulit kaki Irel hingga mengeluarkan darah. Jika kukunya saja mengeringkan, apalagi wajahnya. Setengah wajahnya hancur entah bagaimana bisa, rambutnya panjang sepinggang, kedua bola matanya hilang dan dari lubang itulah cairan lengket nan amis yang membasahi kaki Irel keluar. Sungguh! Pemandangan yang sangat mengerikan!.


"Temenin kita..." suara lirih itu mampu membuat bulu kuduk Irel berdiri.


"Temenin kita..." tak cukup satu kali kalimat pendek itu terulang, mungkin jika dihitung, sudah ada sekitar lima kalimat pendek yang sama yang sudah hantu penumpang angkot tersebut lontarkan.


"Hiks... ma... pa... mas... tolongin Irel...".


Dengan penuh usaha, Irel tarik kakinya hingga terlepas, namun akibatnya.. kuku-kuku salah satu hantu penumpang yang tadi masih menancap di kakinya, mencakarnya hingga terlihat daging merah kaki Irel. Rintihan dan keluhan sudah berkali-kali terlontar. Berharap bantuan akan segera datang.


"Irel...!"


Samar-samar suara Rayhan terdengar di telinganya. Ia menyahut seraya menahan sakit di kakinya.


"Mas... Rayhan...!!".


"Irel...!".


Sebuah cahaya silau menanti Irel di depan, sepertinya dekat, tapi karena kakinya yang luka parah jadi terasa jauh. Hantu di angkot tadi tidak mengejarnya. Irel berjalan terseok-seok.


"Mas... kamu kok nggak kelihatan sih.." keluh Irel.


Tak jauh darinya, seorang lelaki bersama beberapa orang di belakangnya nampak berlari menghampiri Irel. Detik demi detik bergerak berganti menit, tak sampai ber jam-jam. Irel dan gerombolan orang yang salah satunya adalah Rayhan, orang yang sangat Irel nantikan kehadirannya saat ini, bertemu. Irel langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan sang kakak. Kakinya nampak mengerikan karena luka yang dalam dan menganga serta mengeluarkan darah yang menetes di jejak-jejak Irel berjalan tadi.


"Kakiku mas... sakit".


"Okh!" Rayhan bergegas menggendong Irel ala bridal style menuju ke tempat di mana mobil kawannya berada. Sesampainya di tempat tersebut, Rayhan segera memasukan Irel ke kursi tengah, ia lalu ikut masuk dan duduk disamping Irel bersamaan dengan ditutupnya pintu masuk.


"Cepetan ya, No!" geram Rayhan.


"Iya!" Rano lalu menginjak pedal gas hingga mobil melaju kencang membelah kerumunan.


Sesampainya di rumah sakit, Rayhan lagi-lagi menggendong Irel ala bridal style menemui salah satu suster yang kebetulan lewat. Irel lalu dibawa masuk ke ruang IGD menggunakan bed.


Rayhan dan Rano duduk bersisian di kursi tunggu. Menunggu kabar selanjutnya dari dokter tentunya. Luka yang didapatkan oleh Irel cukup membuat ngeri siapapun yang melihatnya. Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipi lelaki tampan disamping Rano.


"Cengeng amat si lu, Irel pasti bisa nglewatin ini kok" ucap Rano berusaha menenangkan seraya menepuk-nepuk pundak kawannya itu.


"Dari awal gue udah ngerasa ada yang nggak beres sama dia, No".


"Nggak beres gimana? Coba ceritain!" titah Rano memburu.


Flasback on.


Setelah tawarannya ditolak untuk mengantarnya menuju perpus, Irel pamit karena katanya ada angkot yang menuju ke perpus kota. Tapi mata Rayhan masih waras, belum minus, blur, ataupun katarak dan buta. Ia tak melihat ada satupun angkot yang melintas, apalagi menuju perpus kota.


"Gue nggak mungkin salah liat, gue sering makan wortel. Mata gue harusnya masih bagus. Tapi, Irel bilang ada angkot, apa mata dia yang salah? Perasaan gue jadi nggak enah gini sama dia" gumam Rayhan.


Ia lalu pergi melajukan sepeda motornya menuju rumah Rano. Belum jauh berkendara, ia bertemu dengan Rano yang mengendarai mobil keluaran terbaru.


Flashback off.


"Jangan-jangan itu angkot pak Aran!" seru Rano, secepat kilat Rayhan membekap mulutnya, karena seruan Rano mereka berdua menjadi pusat perhatian sementara.


"Nggak usah keras-keras ngomongnya, ogeb!" sentak Rayhan kesal.


"Ya maaf, gue kebablasan" sahutnya berbisik.


"Maaf, tadi salah satu dari kalian ada yang bilang pak Aran?" seorang gadis cantik menghampiri mereka berdua dan bertanya dengan wajah penasaran juga penuh berharap.


***


Waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga akhirnya. Zara, Adam, dan Wisnu kini sudah berada di depan sebuah air terjun yang tingginya sekitar dua puluh meter dengan berpagar tumbuhan mawar yang berjejer rapi menyusun warna bendera Indonesia. Ketika mereka terkena terpaan angin, mereka akan melambai, bergerak lembut sangat menangkan dan menyejukan mata. Namun sayang, saat ini bukan saatnya untuk bermanja-manja dengan alam, alam harus membantunya segera untuk urusan urgent.


"Pohon buah Similinya tumbuh di mana si?" tanya Zara.


"Cari aja" sahut Wisnu seraya berjalan mendahului mereka dan celingak-celinguk mencari pohon yang dimaksud.


"Jangan-jangan tumbuh di dalam air itu, atau di balik air terjun itu!" terka Zara.


"Ngawur!" sergah Wisnu.


"Bisa aja kan!".


"Coba deh nganalisisnya yang bener, kalau diliat-liat itu kolam di bawah air terjunnya dangkal dan jernih, dan nggak kelihatan ada pohon disana. Lalu, di balik air terjun, kalau seandainya ada di sana. Gimana kita masuknya? Memangnya buah durian, bisa dibelah!" timpal Adam.


"Ya nggak usah ngegas dong! Kamu mah sama kita aja ngegas, giliran sama yang lain datar, kalau disuruh milih nih ya.. aku lebih milih dapet datarnya daripada ngegasnya. Nyebelin banget sih! Yang adil dong! Seolah-olah aku sama Wisnu itu dapet jetahnya tahu nggak!" tak mau kalah, Zara pun ikut meninggikan nada suaranya. Terjadilah adu mulut diantara mereka berdua.


"Hustttt...!! Diem...!! Sini deh! Gue lihat ada pohon, buahnya warna emas bentuk mawar!!" seru Wisnu yang langsung membuat Zara dan Adam menghampirinya. Mereka berdua ikut mengamati apa yang dilihat oleh Wisnu, sontak saja Zara menoyor kepala Wisnu cukup kuat hingga menabrak Adam yang berada disampingnya.


"Apaan sih noyor-noyor!? Resek tahu nggak!?" kesalnya.


Bersambung...


Thank You All...


❣️❣️❣️❣️


Nb : author lagi lumayan sibuk sama urusan sekolah, jadi mungkin updatenya agak terlambat. Insyaallah tetap diusahakan satu hari satu bab, kemarin-kemarin nggak sempet update, maaf ya.... (semoga berkenan). Terima kasih, lope lagi yang banyak buat kalian yang setia sama cerita ini❣️❣️❣️❣️❣️