
"Maksudnya gimana? Aku bingung" keluhku.
"Gw bakal ceritain, tapi jangan di sini" sahut Dewa setelah melihat sekeliling.
"Terus di mana?" tanyaku.
"Teras rumah lo lah".
"Bisa di gapluk aku sama ayah kalo bawa orang baru di kenal".
"Tenang aja ayah lo udah tau gw kok" aku tertegun. Ayah nggak pernah cerita punya kenalan cowok tampan gini.
"Ya udah, sana muter ke halaman" titahku yang segera di anggukannya. Ia kemudian pergi, dan kami berdua pun juga pergi ke teras.
"Baru jam enam" gumamku ketika melihat jam di meja dapur.
Sesampainya di teras, ternyata Dewa sudah duduk di salah satu bangku di sana.
"Manusia minus akhlak, belum di suruh duduk udah duduk duluan" ujar Lala sambil menatap sinis Dewa yang langsung berdiri tanpa mengindahkan ucapan Lala.
"Duduk aja Wa" Dewa mengangguk dan tersenyum miring pada Lala.
"Apa lo senyum-senyum begitu?!".
Dewa kembali datar dan duduk di bangku yang di dudukinya tadi.
Aku dan Lala kemudian ikut duduk di sampingnya.
"Dah buruan ceritain" ujar Lala.
"Jadi gini, komplek ini saat ini sedang marak pencurian tapi baru beberapa rumah yang di curi. Pencurian tersebut di lakukan oleh makhluk halus yang di beri titah oleh manusia, manusia itu...." Dewa menghentikkan ceritanya. Membuatku penasaran saja.
"Ayah gw" aku tertegun dan segera beranjak begitupun Lala.
"Lo anak manusia yang memberi titah pada makhluk halus untuk mencuri?" tanya Lala. Dewa mengangguk lemas.
"Tapi kalian tenang aja, gw nggak bakal ngebahayain kalian kok. Gw juga masuk di pihak korban, gw nggak bakal bela ayah karena apa yang ayah lakuin itu salah besar" aku menatapnya. Apa yang di ucapkannya itu benar adanya? Atau jangan-jangan dia malah sedang mengelabui kami berdua dan dengan cepat dia akan menghipnotis kami berdua??.
"Apa yang kamu katakan itu benar?" tegasku.
"Benar. Gw sebenarnya sudah lama tahu hal ini, tapi gw belum tahu akan bertindak apa saat itu, hingga akhirnya gw memutuskan untuk mengikuti makhluk pencuri uang tersebut dan menggagalkan aksinya" ujarnya.
"Tapi katamu yang nyuri itu makhluk halus, terus gimana caranya kamu nggagalin rencananya?".
"Gw adalah keturunan manusia indigo, gw punya kemampuan untuk membuat pagar ghaib supaya makhluk halus nggak bisa masuk. Tapi baru beberapa rumah yang berhasil gw selamatin" sahutnya.
"Kenapa begitu?" tanyaku heran.
"Karena waktu gw mau ngejalanin rencana gw untuk buat pagar ghaib, ayah gw tau tentang itu jadinya gagal".
"Berarti rumah-rumah yang lo buatin pagar ghaib itu sebelum ayah lo tau tentang rencana lo?" tanya Lala dianggukan Dewa.
"Owh ya kata kamu, rumahku ini jadi sasaran pencurian malam tadi. Tapi kayaknya semalam masih aman-aman aja, kok bisa?" tanyaku heran.
"Kalau gw liat tadi si, rumah lo itu udah di pasangin pagar ghaib. Tapi bukan sama gw" aku tertegun. Lalu sama siapa rumahku di pasang pagar ghaib. Nggak mungkin sama kak Ang kan?.
"Di pasang siapa ya?" gumamku bertanya. Apa mungkin.....Zara pelakunya? Sebaiknya ku tanyakan saja nanti.
"Ayah gw kan sekarang udah tau tentang rumah yang di pasang pagar ghaib. Jadi, semalem itu yang bertindak bukan makhluk suruhannya, tapi dirinya sendiri. Dia sepertinya sempat pergi ke orang pintar, untuk meminta agar mempunyai ilmu yang dapat membuka pagar ghaib setebal apapun. Makannya gw ngikutin ayah, ayah waktu itu juga mau mbuka pagar ghaib yang di pasang di rumah lo. Tapi pagarnya udah gw tambahin, jadi rencananya gagal" terangnya panjang lebar.
"Karena pagar yang gw pasang bukan pagar ghaib, melainkan....."
"Pagar listrik, hahahaha. Ayah gw kesengat listrik di pagernya lagi pas mau di buka, gw hampir keceplosan ketawa waktu itu karena lihat tingkahnya" sahut Dewa sambil tertawa ngakak.
"Pagar kan berat, mana itu listrik lagi. Kok lu bisa masanginnya si?" tanya Lala.
"Oh tentu saja, Dewa gitu lhoh. Ya sebenarnya gw di bantuin sepuluh orang si buat megangin pagar itu. Lagi pas di pegang kan daya listriknya di matiin dulu. Nah pas ayah mau mbuka, daya listriknya di nyalain. Sepuluh orang yang bantuin gw, megang pagernya pakai energi listrik. Jadinya nggak kena setrum, karena energinya berbenturan. Gw ngumpet di balik jendela dapur lo, pakai energi tembus pandang begitupun orang yang bantuin gw. Jadinya kita aman" aku tersenyum.
"Rumah gw kaya di spesialin deh" ujarku malu-malu, namun senyum maluku lantas sirna karena ucapan Dewa.
"Ayah gw nggak bakal tinggal diam. Lo harus tingkatin keamanan rumah lo. Salah satunya pagar listrik, pagar ghaib dan jangan lupa jendela, pintu, apapun itu yang menghubungkan lingkungan dengan rumah. Lo harus pastiin itu semua terkunci. Ayah gw harus segera di berhentiin, kalo nggak, bakal lebih banyak korban pencurian karena aksinya".
"Itu pasti. Ngomong-ngomong makasih banyak atas bantuan kamu ya Wa" Dewa mengangguk sambil tersenyum.
Suara ayam berkokok kini lebih jelas terdengar, matahari pun sudah mulai menampakkan sinarnya walaupun belum terlalu jelas.
"Gw balik dulu. Ehh bentar gw mau minta no hp kalian" pinta Dewa sebelum melangkahkan kakinya pergi.
"Buat apa?" tanya Lala.
"Buat ngobrol sama kalian, kayaknya kalian orangnya asik di ajak ngobrol" aku mengangguk-anggukan kepalaku.
Aku dan Lala secara bergantian menyebutkan nomor wa hp kami, aku dan Lala kebetulan sudah hafal dengan nomor wa masing-masing jadi tak perlu pergi ke kamar untuk mengambil hp dan menyebutkan nomor nya.
"Terima kasih atas nomornya. Gw pulang dulu, semoga dapat berjumpa di lain waktu" Dewa menempelkan sejenak dua jarinya di pelipis dan melepas nya sambil mengerlingkan satu mata nya. Kemudian berlalu pergi.
"Nanti aku boleh ikut kalian nggak?" tanya Lala yang segera ku anggukan sebagai jawaban iya.
"Jalan-jalan yuk?, kayak nya asik" ajakku.
"Boleh" Lala mengangguk sambil tersenyum senang.
Aku dan Lala kemudian pergi jalan-jalan menyusuri jalan komplek yang masih sangat sepi oleh aktivitas manusia. Di perjalanan, beberapa kali aku melihat penampakan, mulai dari nenek-nenek, mbak kunti, om poci, dan lain sebagainya. Rupa nya cukup mengerikan. Tapi, karena di temani oleh Lala, rasa takutku sedikit hilang.
Setelah di rasa lumayan lama kami jalan-jalan. Kami berdua memutuskan untuk berhenti sebentar dan duduk sebentar di kursi taman. Di taman tersebut ada berbagai macam jenis bunga, mulai dari Anggrek yang merambat pada pohon Mangga, Mawar, Melati dan bunga-bunga indah dengan berbagai warna.
Matahari mulai menampakan sedikit demi sedikit cahayanya, beberapa penjual kaki lima yang berjualan di komplek tempat tinggalku ini juga sudah mulai berdatangan.
"Lo bawa uang nggak Ris?" tanya Lala.
"Bawa, kenapa?" tanyaku setelah menjawab pertanyaannya. Aku memang selalu menyimpan uang di pakaian atau barang yang ku kenakan walaupun sedang tidur. Semua baju tidurku memilik saku bahkan ada beberapa baju yang memiliki jumlah saku lebih dari empat, aku biasanya menaruh uang di sana hingga uang tersebut ikut tercuci ketika uang tersebut belum di pakai dan pakaianku malah sudah di cuci.
"Pinjem dong buat beli cilok" ujarnya sambil menunjuk gerobak siomay.
"Bukan cilok Lala, itu siomay".
"Apa bedanya?".
"Kalau cilok itu tanpa sayuran seperti kol dan kentang sedangkan siomay memiliki keduanya" aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan perbedaan dua jenis makanan tersebut.
"Masih saudaraan lah ya. Aku pinjem uangmu Risa, buat beli siomay itu" rengek Lala. Aku kemudian merogoh sakuku dan menyerahkan uang sepuluh ribu.
"Cukup?" Lala mengangguk kemudian berlari menuju gerobak siomay yang sedang mendorong gerobaknya sambil berteriak nama jualannya.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.