INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Rumah mewah nan megah (Season 1)



Setengah jam berlalu, kini mobil yang di kendarai oleh Zara sudah sampai di depan pagar besar dan tinggi sebuah rumah mewah nan megah. Sekitar tiga kali lipat besarnya rumah yang sedang ku pandang dari rumahku.


Kak Ang terlihat turun dari mobilnya dan membicarakan sesuatu dengan pak satpam yang berjaga sebelum masuk gerbang. Dari dalam mobil Zara aku sudah dapat melihat pos satpam tersebut yang terletak di dalam gerbang dengan dominan warna putih dan atap dari genteng berwarna coklat, dua bangku kayu dan meja kayu kecil di tengahnya juga menghiasi bagian luar pos. Tak lupa beberapa tanaman kecil yang di gantung, menambah indah pos tersebut di pandang.


Pos nya saja sudah sebagus ini, apalagi rumah bagian dalamnya. Aku berdecak berkali-kali.


Ketika sedang asik memandangi area sekitaran, tiba-tiba kaca jendela di sampingku di ketuk, ketika aku menoleh. Ternyata kak Ang pelakunya. Aku kemudian menurunkan kaca mobil tersebut.


"Ayo turun" ajaknya.


"Mobilnya di sini aja kak?" tanya Zara.


"Di masukin ke halaman. Nanti tunggu mobil kakak masuk dulu ya?" Zara mengangguk. Kak Ang kemudian pergi. Aku juga menutup kaca jendela di sampingku yang tadi terbuka. Kenapa dia harus mengetuk kaca jendela di sampingku, jika ujung-ujung nya dia berbicara dengan Zara. Kenapa tidak mengetuk kaca jendela di samping Zara saja. Aneh!.


Kak Ang masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya. Beberapa menit kemudian, setelah mobil yang di kendarai kak Ang masuk ke halaman. Kini tinggal Zara yang memasukkan mobilnya. Perlahan demi perlahan, mobil merah ini berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di belakang mobil kak Ang.


Kami semua turun dan berkumpul di depan mobil.


"Langsung masuk aja?" tanyaku ragu. Aku belum pernah main ke sini sebelumnya. Aku hanya takut jika kedatangan kami malah di tolak oleh pihak keluarga.


"Iya, masuk aja, yuk" aku mengangguk lalu mengajak teman-temanku untuk masuk. Tapi, ternyata kedatangan kami malah di sambut senyum bahagia oleh keluarga kak Bay dan juga kak Bay. Mereka sudah menyediakan banyak makanan kecil di atas meja kaca besar di ruang tamu. Ketika melihat kedatangan kami, mereka semua berdiri dan menyuruh kami untuk duduk. Aku mengambil tangan kedua orang tua kak Bay dan menyalaminya seperti biasa, begitu juga teman-temanku. Kak Ang dan temannya juga melakukan hal tersebut pada kedua orang tua kak Bay dan kak Bay nya sendiri.


"Silahkan duduk, di nikmati camilannya. Pasti lelah duduk lama di mobil" ujar seorang wanita yang sepertinya usianya sepantaran dengan ibuku. Dia menyilahkan kami semua untuk duduk dan pamit pergi ke dapur sebentar.


Kami semua duduk, tapi bukan di sofa empuk berwarna cream. Melainkan di lantainya, yang sudah di gelar karpet bulu besar yang sangat lembut ketika menyentuh kulit.


Wanita yang tadi pamit pergi ke dapur, kini kembali lagi bersama dua orang di belakangnya yang membawa dua nampan berisi minuman dan roti basah. Dua orang di belakang wanita tersebut mengenakan baju yang sama, yaitu baju hitam dengan corak putih di tengahnya dan tali yang di ikat ke belakang. Sepertinya mereka adalah pelayan. Dan wanita di depannya adalah nyonya mereka atau majikan mereka yang merupakan ibu dari kak Bay, melihat penampilannya saja yang elegan sudah dapat di pastikan bahwa dia adalah nyonya rumah ini.


"Kok malah pada duduk di bawah, duduk si atas aja. Apa nggak dingin?" tanya wanita tersebut.


"Kami duduk di karpet bulu ini aja tante, terima kasih. Ini nggak dingin, malah lembut dan juga hangat" sahutku yang di sambut senyuman oleh wanita tersebut.


"Oh iya Ris, ini ibuku dan ini ayahku" ujar kak Bay memperkenalkan kedua orang tuanya. Dia menunjuk wanita tadi dan seorang lelaki yang ku bilang cukup tampan yang sedang berdiri.


"Oh iya" aku tersenyum kaku, bingung harus bilang apa.


Aku terpaku, seperti merasakan hawa dingin di tengkuku. Aku mengusapnya lalu menoleh ke belakang.


Aku terkejut bukan main ketika melihat Raihan, Cinta dan juga pocong kak Bay sedang berdiri di belakangku.


"Siapa yang berulah tadi?" tanyaku geram dengan suara kecil.


"Hehe...maaf yah..aku" sahut Raihan dengan suara yang di pelankan ketika menyebutkan kata 'aku'.


"Awas aja kamu".


"Ada apa nak?" aku menoleh. Dan melihat ibu kak Bay menatapku khawatir.


"Enggak apa-apa tante, cuma ada gangguan sedikit aja" sahutku.


"Apa....ada makhluk halus di sini?" tanya nya lagi. Aku tertegun.


"Ma..makhluk..ha..halus?" aku malah balik bertanya dengan gagap. Apa orang tua kak Bay tahu tentang kelebihanku??.


"Tak apa Risa. Bay sudah menceritakan semuanya tentang kelebihan kamu. Sekarang tante tanya, apa ada makhluk halus di sini?" aku tertegun.


"Di mana?".


"Belakang saya".


Ibu kak Bay menoleh ke belakangku.


"Owh iya, kata Bay. Di rumah kamu ada ya...pocong yang namanya juga sama depannya sama kayak Bay?" aku mengangguk.


"Apa dia ada di sini?" lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Entah sebab apa tiba-tiba bibirku seakan terkunci untuk menjawab.


"Kamu bisa mempertemukan tante dan om dengannya?".


"Ra! Gimana ni, aku belum makan. Mana cukup energi ku" keluhku bergumam pada Zara yang duduk di sampingku.


"Bukannya tadi lo udah makan bubur ayam Ris?" tanya Lala menoleh ke arahku, ia duduk di samping Zara.


"Masih laper" sahutku manyun.


"Kan di sini banyak laki-laki tinggal suruh mereka wudhu, terus kamu serap energinya" sahut Zara.


"Tapi kan aku juga perlu energi utama dari diri sendiri. Kalau nggak, selesainya aku pingsan" keluhku lagi. Aku tak ingin pingsan lagi.


"Kamu belum makan nak Risa?" tanya ibu kak Bay.


"Sudah makan bubur ayam tante, tapi...masih lapar".


"Ya sudah ayo makan dulu" ajaknya.


"Hah?".


"Makan".


Ibu kak Bay berdiri dan menarik lembut tanganku untuk mengikuti arah tarikannya.


"Siapa di sini yang belum makan?" tanya ibu kak Bay sebelum melanjutkan jalannya sedangkan tangannya masih setia menggandeng tanganku.


Lala, Ais, Glen, Reza serta Rayyen mengacungkan jarinya.


"Ya sudah ayo makan bareng. Yang lain sudah pada makan?".


"Sudah tante" sahut Zara, Wisnu, Adam, kak Ang, dan juga kak Anji sedangkan Lala, Ais, Glen, Reza dan Rayyen mulai berdiri mengikuti langkah ibu kak Bay.


.


.


Selesai makan, kami semua kembali ke ruang tamu. Aku meminta para laki-laki kecuali ayah kak Bay dan kak Bay untuk mensucikan diri dengan berwudhu. Aku tidak meminta ayah kak Bay dan kak Bay karena aku tidak bisa menyerap energi laki-laki yang sudah berumur 29 lebih dan juga yang sedang berfikiran lebih. Saat di ruang makan tadi, aku bertanya usia ayah kak Bay sedangkan saat aku kembali, Zara bilang padaku untuk tidak perlu meminta kak Bay karena dia melihat kak Bay sedang dalam kondisi fikiran yang berlebih.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.