
Happy Reading...
"Jangan berisik, lalu tahan napas kalau nggak mau mati" ujar Glen seraya menatap tajam Venile yang sudah berkeringat dingin.
Flashback on.
Mata Glen menangkap seseorang sedang mengamatinya dari kejauhan, ia memicingkan matanya supaya dapat melihat dengan jelas siapa orang tersebut.
"Venile? Jangan-jangan dia..." Glen tersentak sendiri memikirkan apa yang membuat Venile sampai mengamati markas.
"Glen, sudah mau dimulai, ayo masuk" ujar Zara dibelakangnya. Glen menoleh dan mencoba mengatakan apa yang barusan ia lihat dan pikirkan pada Zara, namun perempuan itu lebih dulu membekap mulut Glen dan mengajaknya masuk.
Setelah ritual pemanggilan Luci, Glen berlari tanpa mengikuti ke mana temannya yang lain pergi, ia memilih untuk keluar ruangan karena merasa orang yang ia lihat tadi memasuki garasi markas. Benar saja, dibalik mobil yang terparkir di halaman, Glen melihat seorang perempuan sedang duduk berjongkok. Ia pun bergumam membuat tubuh perempuan tersebut nampak bergetar, ia membekap mulutnya kuat-kuat.
Flashback off.
"Kak Glen?" Venile nampak terkejut dengan kehadiran Glen, apalagi dengan ekspresi Glen yang terlihat datar.
Glen tidak membalas ucapan Venile, melainkan hanya mengamati keaadaan sekitar, dirasa ada yang mendekatinya. Ia langsun menyuruh Venile untuk tahan napas, begitupun dirinya.
"Di mana? Di mana mereka?" gumam Luci dengan suara seraknya, ia menatap tempat berjongkoknya Glen dan Venile lumayan lama lalu pergi. Setelah dirasa aman, Glen menyuruh Venile untuk mengambil nafas lagi.
"Masih dua menit lagi" gumam Glen, sedangkan Venile hanya diam seraya menangis ketakutan yang tertahan.
"Tahan napas lagi, kayaknya Luci sadar ada kita disini" ujar Glen, namun ia melihat Venile hanya diam masih dengan menangis tanpa memperdulikan ucapannya. Ia pun melepaskan tangan Venile yang membekap mulutnya dan berganti dengan tangannya, ia berusaha membuat Venile tahan napas begitupun dirinya. Sembari tahan napas, Glen melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"10..."
"9..."
"8..."
"7..."
"6..."
"5..."
"4..."
"3..."
"2..."
"1..."
"Selesai"
Setelah memastikan Luci benar-benar pergi, ia melepaskan bekapannya dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Namun, baru beberapa detik mereka bernafas lega, tiba-tiba Luci hadir kembali yang membuat mereka berdua bergegas menahan nafas.
"Ketemu! Ke mana mereka?!".
"Permainan selesai. Permainan selesai. Permainan selesai. Terima kasih atas waktunya, kehadiranmu sudah tidak diterima lagi disini, silakan pergi" mantra penutup yang Risa ucapkan menarik Luci kembali ke alamnya, akhirnya Venile dan Glen bisa bernafas dengan lega, mereka berdua bersender ke tubuh mobil dengan nafas tersengal-sengal.
"Kak... Aku minta maaf" ujar Venile.
"Hah.. Payah" gumam Glen lalu menarik Venile untuk mengikutinya menemui yang lain. Di ruang tamu, Risa dkk beserta Hanar sudah berkumpul, kedatangan Glen bersama Venile tentunya membuat mereka terkejut.
"Dia ikut permainan petak umpet tadi" ujar Glen lalu melepaskan pegangannya pada tangan Venile dan duduk di samping Ais.
"Pantesan tadi jadi nambah empat belas menit waktunya, ternyata ada orang lain, kenapa bisa selamat?" tanya Hanar yang langsung membuat tenggorokan Venile tercekat dan matanya terbelalak.
"Gue bantu, Luci lihat kami berkali-kali" sahut Glen.
"Owhh... Terima kasih, 'ya semua? Sekarang Hanar udah tenang, terima kasih sekali lagi, Hanar pamit dulu, dadah" seperginya Hanar, Risa menyuruh Venile untuk duduk.
"Maafin gue, Kak..." ujar Venile lemas.
"Kenapa lo bisa ada disini?" tanya Reza.
"Tadi di sekolah aku denger ucapan Kak Risa waktu dia beri tahu beberapa orang, karena aku penasaran.. Akhirnya aku ikutin kalian dan ternyata... Pilihan aku salah".
"Lo nggak denger peraturan permainannya apa?" tanya Rey, Venile menjawabnya dengan gelengan.
"Pantesan" gumam Zara.
"Jangan beri tahu siapa-siapa tentang semua ini, kalau enggak, taruhannya nyawa" ucap Wisnu, ia pun sudah memberitahukan hal tersebut kepada siswi baru yang dipilih Hanar tadi.
"Iya, Kak, maaf, 'ya, Kak?".
"Ya udah enggak apa-apa, lain kali kalau denger sesuatu, dengerin sampai selesai, baru boleh lakukan tindakan" sahut Risa.
"Iya, Kak".
"Nin, kamu boleh pulang, makasih, 'ya atas waktu dan bantuannya? Main-main ke sini kalau waktu senggang" ujar Chalis kepada siswi baru berkacamata tersebut.
"Iya, Kak, kalau begitu Ninda pamit dulu ya, assalamualaikum" Ninda kemudian keluar dan pulang.
"Waalaikumsalam" sahut semuanya.
"Nggak nyangka gue kalau lo kenal sama dia, tetanggaan pula" ujar Rey.
"Yehhh..." sahut Chalis.
"Kak, aku boleh pulang nggak?" tanya Venile.
"Silakan" sahut semuanya.
"Assalamualaikum" Venile kemudian pergi dari markas Indigo Team.
"Waalaikumsalam".
"Venile berbahaya" gumam Adam.
...----------------...
Selesai pelajaran jam pertama, Risa dkk pergi ke kantin. Masing-masing memesan makanan dan minuman sesuai keinginan saat itu, setelah pesanan mereka datang, mereka menikmatinya seraya bercerita.
...----------------...
Di tempat lain, tiga bersaudara bersama kedua orang tuanya berkumpul di ruang keluarga. Di atas sebuah meja, sebuah cawan berisi air bergoyang beberapa detik hingga akhirnya terdiam, diamnya membuat guratan senyum licik mereka, namun tidak dengan satu orang yang ikut berkumpul disana. Ada rasa takut akan apa yang ia lakukan bersama saudaranya nanti, ia sadar akan kejahatan kedua orang tuanya.
"Aku sudah tidak sabar ingin menguasai dunia jin dengan buku dan batu suci itu.. Hahahahaha" ucap Ratu dengan senyum liciknya.
"Jangan terlalu terburu-buru, Bunda. Mereka mempunyai banyak penjaga" sahut Tri.
"Benar apa yang dikatakan Tri" timpal Nano.
"Kita susun rencana saja" usul Agas.
...----------------...
"Wehh buruan bayarnya! Bentar lagi masuk!" seru Ais.
"Iya sabar cerewet!" sahut Rey. Setelah Rey menerima kembalian dari uangnya, ia bergegas pergi ke kelas mengikuti Ais yang sudah pergi beberapa detik lalu.
Sesampainya di kelas ternyata belum ada guru yang mengisi, mereka akhirnya duduk di bangku masing-masing dengan nafas yang memburu namun juga lega karena tidak akan dihukum.
Satu menit, lima menit berlalu, Ais dan Chalis mulai mengeluh bosan karena guru yang harusnya mengisi mapel jam sekarang belum juga datang, tak lama terdengar detukan sepatu hak tinggi yang memasuki ruang kelas mereka.
"Assalamu'alaikum, selamat siang anak-anak, maaf lama, tadi bu guru ada masalah dengan panggilan alam, hehe. Langsung dimulai saja, ya. Kalian buka buku paket halaman seratus sembilan, dibaca dulu sampai halaman seratus sebelas. Kalau sudah nanti bu guru jelaskan" tutur Bu Eri.
"Wa'alaikumsalam, baik, Bu" sahut semua murid di kelas.
...----------------...
"Aku udah dijemput, duluan ya? Lis, Glen, mau bareng nggak?" tanya Ais.
"Boleh" sahut Chalis kemudian mengajak Glen ikut dengannya.
"Kami pulang dulu, 'ya?! Assalamu'alaikum!" teriak Glen.
"Dadah!" timpal Ais dan Chalis.
"Wa'alaikumsalam, dah!" sahut Risa dan Zara.
"Aku juga dijemput, Zara mau bareng nggak?" tanya Risa.
"Boleh".
"Duluan, ya temen-temen, assalamu'alaikum!" seru Risa.
"Wa'alaikumsalam".
"Gue enggak dijemput, nggak ada yang ngajak ikut juga, jadi gue aja, ya yang tanya. Ada yang mau gue tebengin nggak?" Rey dan Reza mengerjap-ngerjapkan matanya penuh harap.
"Kayak biasanya pake tanya" sahut Wisnu kemudian pergi menuju mobilnya di parkiran.
"Kapan lo punya mobil, Nu?" tanya Rey.
"Udah lama, cuma baru dipake aja".
...----------------...
Malam harinya, di rumah Risa. Bulan bersinar terang malam ini, jendela kamar Risa yang belum tertutup korden menampakkan jelas keindahan bulan tersebut.
"Risa! Makan dulu yuk, Nak" teriak ibu dari luar.
"Iya, Bu!" sahut Risa kemudian keluar kamar.
Di saat ia sedang makan, ia teringat akan buku batu sucinya yang ia taruh di atas kasur. Ia bergegas minum dan berlari ke kamar, dengan panik ia mencari bukunya yang ternyata tidak ada di atas kasur.
"Waduhh.. Kok nggak ada, ya di atas kasur" Risa kemudian melihat ke jendela dan memutar netra, hingga akhirnya matanya terpaku pada sebuah buku yang berada dibawah dekat pohon mawar putihnya. Risa kemudian keluar dari kamar dan pergi keluar untuk mengambil buku tersebut, setelah itu ia dekap kuat-kuat sambil mengamati keadaan sekitar. Tiba-tiba cahaya putih muncul dari bunga mawar putih di dekatnya, kemudian membentuk seperti manusia.
"Bunda?".
"Iya, lain kali hati-hati, ya, Sayang naruh bukunya?" Risa mengangguk dan meminta maaf.
"Kenapa bukunya bisa ada disini, Bunda?" tanya Risa.
"Buku itu sudah mulai diincar, mereka sudah mulai menyusun rencana untuk mendapatkannya, tadi contohnya. Jika kamu lalai lagi, buku tersebut bisa berpindah tangan, ke tangan orang jahat yang selama ini berusaha merebutnya dari kamu dan Adam, kalian harus bisa bekerja sama mempertahankan buku ini, sudah dekat masanya buku itu bersama kamu dan Adam akan menghapus Kakak kalian dan orang-orang jahat yang mengikutinya" tutur Bunda.
"Kakak aku sama Kakak Adam?" Bunda mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu Bunda pergi dulu, 'ya? Kamu lanjut makan lagi, jangan lupa belajar, dan berdo'a dalam melakukan berbagai suatu kebaikan, supaya kebaikan itu bisa menjadi berkah" Risa mengangguk dan memeluk Bundanya sebentar. Hal itu membuat energi di dalam tubuhnya kian meningkat.
...----------------...
Grup chat Indigo Team. Risa pertama kali memulai obrolan dengan salam lalu menceritakkan apa yang dialaminya tadi dengan buku batu suci. Respon kaget, khawatir, dan was-was langsung terlihat dari balasan yang mereka kirimkan.
Ais : "Waduhh.. Bahaya nih, tingkatkan lagi keamanannya, 'ya?".
Glen : "Lo juga harus hati-hati, Ris, pasti mereka bakal nekat".
Adam : "Bunda gue tadi juga nemuin gue, dia bilang gue sama Wisnu, Rey, dan Reza harus jaga kalian terutama Risa dan segalanya yang bersangkutan dengan batu suci".
Wisnu : "Sebaiknya buku tersebut jangan dikeluarkan dari tempatnya jika bukan untuk kondisi terdesak, Ris".
Risa : "Iya".
Chalis : "Kita nongkrong, yuk?".
Zara : "Udah malam".
Waktu baru menunjukkan pukul enam dua puluh.
Chalis : "Malam itu bagi gue jam sebelas!".
Zara : "Iya itu, 'kan bagi kamu, bagi aku enggak".
Reza : "Ara kan emang begitu, Lis, dia orangnya nggak suka keluar kecuali kalau sama orang yang dia suka, sayangnya dia belum suka sama siapa-siapa, HAHAHAHAHA"
Zara : "Aku suka sama orang tua aku, ya!".
Wisnu : "Jadi gimana nih, mau nongkrong nggak?".
Risa : "Iya".
Chat grup berakhir dengan balasan setuju teman-teman Risa dari pesannya.
...----------------...
Di cafe Softmoon
Tuk
Seorang gadis meletakkan cup minumannya di atas sebuah meja bundar. Tak lama setelah itu seorang laki-laki yang sedang telefon duduk tidak jauh darinya, tak disangka sesosok hantu perempuan berbaju merah mengikuti laki-laki itu. Gadis tersebut memperhatikan hantu itu dan laki-laki disampingnya selama beberapa waktu.
"Aku mencintaimu..." lirih hantu tersebut.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu" lirih hantu perempuan itu namun cepat.
Laki-laki itu kemudian menatap hp-nya dan mematikannya. Lalu tanpa sengaja matanya menatap gadis tadi yang juga sedang menatapnya membuat hantu yang mengikutinya juga ikut memperhatikannya. Lidah hantu tersebut terjulur keluar dan matanya mengeluarkan darah, aura hitam pun ikut mengelilinginya. Hantu tersebut kemudian menghampiri gadis itu. Secara reflek, gadis tersebut langsung memalingkan wajahnya seraya menahan takut.
"Tidak.. Tidak.. Jangan.. Kumohon.." katanya dalam hati dengan rasa takut. Hantu tersebut mendekat dan tiba-tiba rambutnya terangkat.
"Ian hanya milikku!!".
"A-apa-apa yang harus aku lakukan??" tubuh gadis tersebut mulai bergetar, bibirnya sama sekali tidak bisa bergerak untuk mengucapkan sesuatu.
Hantu tersebut masih memperhatikan gadis itu dengan rambutnya yang masih terangkat, menandakan ia cemburu dan marah.
"Ini salah paham.. Kumohon... Cepatlah.. Bantuan".
"Ian hanya milikku!! Tak akan kuserahkan!! Tak akan kuserahkan!! Tak akan kuserah-".
"Ke-keren sekali.." gumamnya membuat hantu tersebut penasaran lalu melihat apa yang gadis itu lihat.
Ternyata gadis tersebut sedang memperhatikan seorang laki-laki berpakaian karate yang baru saja masuk ke dalam cafe bersama seorang teman lelakinya. Hantu tersebut kini memperhatikan lelaki yang telefonan tadi dan laki-laki yang berpakaian karate beberapa kali.
"Pria karate memang yang terkeren".
Rambut hantu tersebut seketika melayu.
"Ternyata bukan" katanya lirih lalu melangkah pergi meninggalkan gadis itu.
"A-aku me-mengelabuinya.." katanya dalam hati, lagi. Wajahnya kini pucat pasi dan tubuhnya semakin bergetar tidak tertahankan.
"Elia!" seru seseorang memanggil namanya. Gadis tadi menoleh ke sumber suara dan melihat sahabatnya sedang melambaikan tangan kearahnya.
"Aku akan ke sana!" sahut Elia, gadis tadi yang kemudian segera beranjak dan menghampiri sahabatnya.
"Kita cari cafe lain!" ujar Elia.
"La-lah kenapa? Aku baru nyampe lhoh? Ada gangguan, ya disini?" Elia mengangguk lalu menarik lengan sahabatnya tuk pergi dari cafe tersebut.
"Aku ingin membeli minum dulu, haus tahu! Boleh, 'ya? Sebentarr sajaa?" Elia mengangguk pasrah.
"Kamu tadi juga memperhatikanku, 'ya?" tiba-tiba laki-laki tadi menghampiri Elia dan bertanya padanya, hantu perempuan tadi masih setia mengikuti laki-laki itu yang ia panggil Ian. Elia terdiam tidak mampu menjawab.
"Heii.. Apakah kamu berbicara dengan perempuan itu?" suara perempuan terdengar dibelakang Ian. Elia melihat sekilas perempuan tersebut, nampak sekali dipenglihatannya ada banyak hantu laki-laki dengan berbagai wujud dan ucapannya.
"Menikahlah denganku".
"Mari kita kencan".
"Kamu hanya milikku".
"Aku mencintaimu".
"Mereka sama saja" kata Elia dalam hati untuk kesekian kalinya seraya memperhatikan Ian dan perempuan yang sudah berada dalam pelukannya.
"Eli! Jadi pindah cafe?" seru Iren.
"Jadi, ayo" Elia bergegas menarik lengan Iren keluar cafe, tepat setelah mereka berdua keluar, Risa dkk datang.
"Astagfirullah.." seru Risa.
"Kita ke lantai dua saja" ujar Zara.
"Emang cafe ini ada lantai duanya?".
"Lantai tiganya aja ada, masa lantai duanya enggak".
"Owhh.. Okh".
...----------------...
Hari demi hari berlalu seperti biasanya, hanya saja sedikit masalah mulai terjadi, keamanan dan kenyamanan team Indigo mulai terganggu, berbagai jenis energi juga sudah mulai menyerang Risa dkk.
Malam ini, di ruang keluarga, Risa beserta Ang dan kedua orang tua angkatnya berkumpul.
"Ibu sama Ayah besok ada urusan di luar kota selama beberapa hari, kalian jaga diri baik-baik, 'ya? Ibu udah beli setok bahan masak, gas, sabun, dan segala macem keperluan yang udah mau habis" ujar Ibu.
"Iya, Bu, kalian juga hati-hati, ya disana" sahut Ang disetujui Risa.
"Iya" sahut Ibu.
...----------------...
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Risa dan Ang sudah terbangun untuk dapat mengantar kedua orang tuanya ke kantor. Katanya mereka berdua akan berangkat menggunakan kendaraan kantor.
"Hati-hati, ya, Ibu, Ayah!!" seru Risa.
"Iya, Nak, kamu juga hati-hati, ya di rumah, Ang! Jagain baik-baik Adik kamu!" sahut Ibu.
"Iyaa!".
Setelah pulang dari kantor kedua orang tuanya, Risa dan Ang berangkat menuju sekolah dan kampusnya masing-masing, tentu saja.. Sebelumnya Ang mengantar Risa terlebih dahulu ke sekolahannya.
"Ais, Chalis, Glen, dan Zara, ada yang mau nginep di rumah aku nggak temenin aku? Ibu sama Ayah lagi keluar kota, Kak Ang mau nginep di rumah temennya" ujar Risa.
"Gue mau Ris nginep di rumah lo!" sahut Rey.
Plak
"Berani lo!?" kecam Adam.
"Hehe... Siapa tahu aja".
"Maaf, ya, Ris.. Gue enggak bisa, soalnya gue juga harus temenin Bunda gue, karena Ayah lagi keluar kota juga" sahut Ais.
"Aku juga minta maaf, ya, Ris.. Aku nggak bisa nginep di rumah kamu soalnya aku juga harus jaga rumah.." timpal Chalis.
"Aku bisa, tapi datengnya agak malem" Zara mengangkat jari telunjuknya.
"Aku juga bisa si, tapi kaya Zara juga, datengnya agak malem" timpal Glen.
"Eumm.. Okh..".
"Kak..." lirih seseorang dibelakang Risa, Risa menoleh dan melihat Via sedang berdiri menunduk seperti ketakutan.
"Via?! Kamu ngapain disini? Kalau saudara kamu tahu gimana?" kaget Risa.
"Viaa!!" benar saja, tak lama setelah itu kedua saudaranya datang, Tri langsung menarik lengan Via pergi, sedangkan Nino menatap mata Glen lumayan lama kemudian mengikuti kedua saudaranya. Tanpa ada yang sadar, Nino tadi sedang melakukan hipnotis, Glen kini sedang dalam pengaruhnya, bahkan pupil matanya sudah berubah warna menjadi ungu.
...----------------...
"Lo apa-apaan si, Kak?!! Lo nggak tahu apa yang lo lakuin itu bisa mempersulit rencana kita?!! Mikir nggak sih?!!" bentak Tri. Kini Tri bersama Via dan Nino sedang berada di dalam kamar mandi. Via hanya terdiam tidak menanggapi apa yang adiknya ucapkan, menurutnya apa yang ia lakukan benar.
"Jangan kasar, Tri, gue udah hipnotis Glen, dia kini sedang dalam pengaruh gue. Tadi gue denger dia mau nginep di rumah Risa, rumah yang ada buku batu sucinya, gue bisa kendaliin Glen dari jauh, gue bisa buat dia ambil buku itu dengan mudah. Lo nggak usah marah-marah sama Via, nggak ada gunanya juga, inget.. Dia masih Kakak lo" tutur Nino.
"Serius, Kak? Baguslah, oh ya.. Vi, gue minta maaf, 'ya, Kak Vi?" Via masih diam tidak menanggapi ucapan Tri, justru ia pergi meninggalkan Tri beserta Nino di kamar mandi.
"Kenapa si sama Kak Vi? Nggak biasanya dia begitu" gumam Tri.
"Mungkin dia marah dan kecewa karena lo bentak dia, hahahaha... Rasain tuh" Nino kemudian pergi meninggalkan adik bungsunya yang mulai merasa bersalah.
"Masa sih dia marah sama gue.." gumam Tri kemudian menyusul Nino.
...----------------...
Sepulang sekolah, Risa bergegas mandi dan memasak untuk makan siangnya, setelah masakan siap, ia menikmatinya seraya menonton tv.
"Hahahaha... Bagaimana menurut kalian?".
"Lucu sekali".
"Kerenn..".
"Biasa saja, hahaha, tidak-tidak, itu lucu sekali, keren pula".
"Hahahaha baguslah".
"Suara siapa, 'ya?" gumam Risa seraya menatap keseluruh penjuru ruangan. Secara tiba-tiba terdengar riuh beberapa perempuan yang tertawa terbahak-bahak seraya mengomentari sesuatu, itu terjadi berulang kali, namun tidak ada siapa-siapa selain dirinya disana, di televisi pun tidak menampakkan banyak perempuan yang tertawa terbahak-bahak seraya mengomentari sesuatu.
"Hahahaha... Bagaimana menurut kalian?".
"Lucu sekali".
"Kerenn..".
"Biasa saja, hahaha, tidak-tidak, itu lucu sekali, keren pula".
"Hahahaha baguslah".
"Hahahaha... Bagaimana menurut kalian?".
"Lucu sekali".
Saat melihat ke kiri, Risa terlonjak kaget hingga piring yang ia pegang jatuh dan pecah berhamburan, Risa bergegas menjauh dari lokasi piring yang jatuh tersebut, juga dari wanita berambut pendek yang tiba-tiba muncul disampingnya.
"Kerenn..".
"Biasa saja, hahaha, tidak-tidak, itu lucu sekali, keren pula".
"Hahahaha baguslah".
"Hahahaha... Bagaimana menurut kalian?".
"Lucu sekali".
Suara itu muncul kembali dan semakin cepat serta keras.
Tiba-tiba wanita yang duduk di sofa tadi berubah menjadi sosok tubuh yang memiliki empat kepala dengan lehernya yang panjang, suara itu muncul kembali dan makhluk tersebut mulai berjalan mendekati Risa.
"Huaaa... Bagaimana aku akan menghadapinya? Lakukan seperti biasa? Mengabaikannya? Pura-pura tak melihat? Apa akan mempan?" katanya dalam hati. Ekspresinya kian datar menahan takut. Ia kini berjalan mendekati sofa dan berjongkok untuk memungut pecahan piring di lantai, karena gemetaran, tanpa sengaja ujung jari telunjuknya mengenai ujung salah satu pecahan piring hingga terluka, ekspresinya masih datar seperti tadi. Walaupun ia merasa kesakitan sekaligus ketakutan. Ia berharap Zara ataupun Glen akan datang lebih cepat.
Setelah memungut pecahan piring tersebut, ia membawanya menuju dapur dan menaruhnya ke dalam kantung platik khusus benda-benda seperti piring tadi, lalu mencuci lukanya.
"Assalamu'alaikum!".
"Suara Glen!" kata Risa dalam hati dengan perasaan senang. Ia menyudahi mencuci lukanya dan menghampiri pintu depan, ia melihat Glen sedang berdiri dengan wajah datar dan sedikit pucat. Perasaan senangnya kini berganti menjadi perasaan penasaran dan khawatir. Makhluk berkepala empat tadi masih setia mengikuti Risa.
"Wa'alaikumsalam, Glen?".
Glen tidak menyahut.
"Kamu capek, 'ya? Ke kamar aku yuk, kamu istirahat disana" Glen mengangguk lalu mengikuti langkah Risa menuju kamarnya di lantai dua.
"Makhluk berkepala empat ini kenapa tidak pergi-pergi, 'ya?" tanya Risa dalam hati.
Sesampainya dikamarnya, ia menyuruh Glen untuk berbaring dan dia akan mengobati lukanya dibawah karena kotak P3K-nya ada dibawah. Glen menjawabnya dengan anggukan.
"Ada yang aneh dengan Glen.." gumam Risa.
"Bisa lihatt?" tanya makhluk berkepala empat itu berulang kali. Risa bersusah payah mengabaikannya seraya fokus untuk mengobati lukanya, setelah mengobati lukanya, ia menonton tv sampai sore hari.
"Tidak bisa lihat, sia-sia, huhuhuhu" makhluk tadi kemudian pergi.
"Huhhh... Alkhamdulillah... Pergi, 'kan kamu" gumam Risa lega, karena saking ngantuknya, ia tertidur dan ibu jarinya tanpa sengaja menekan tombol merah yang berguna untuk mematikan tv. Risa tertidur sampai pukul lima sore. Sedangkan di kamar Risa, Glen sudah mengabsen semua sudut ruangan tersebut mencari buku batu suci, namun belum juga ditemukan.
"Kemana...??? Kemana??!!" geramnya.
"Hahahahaha... Kasian, tidak ketemu, 'kan?" tiba-tiba terdengar tawa dibelakang Glen.
"Ratu Ila?".
"Iya! Kaget?".
"Nggak sopan kamu ya sama Nenek!".
"Kamu juga berani-beraninya menggunakan sahabat Tante kamu! Apa kamu tidak sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu menyerap energi kehidupannya? Sadarlah Nino! Kamu tidak akan bisa mendapatkan buku ini ataupun batu suci, karena pada dasarnya semua barang-barang tersebut bukanlah milik kalian, mereka tercipta bukan untuk kalian, kalian hanya akan menciptakan kehancuran untuk kesenangan kalian saja! Kalian tidak memikirkan makhluk hidup lain yang bisa terkena dampaknya karena perbuatan kalian! Tidak berpikir kah kalian?! Hah??!" kata Ratu Ila.
"Sadar, Nek? Sadar? Nino sudah sadar, Nek, ini yang memang seharusnya Nino lakuin karena ini perintah orang tua Nino! Nino juga seneng ngelakuin ini! Jika Nino bisa dapetin buku dan batu suci itu, Nino pasti bisa bahagiain Bunda sama Kanda! Tujuan Nino hidup cuma buat bisa bahagiain orang tua" sahut Glen dengan sedikit membentak.
"Tapi bukan dengan cara seperti ini kamu membahagiakan kedua orang tua kamu! Kamu tidak tahu apa akibat dari apa yang kamu lakukan itu! Kamu bisa menyebabkan kehancuran dan kesengsaraan banyak orang!" Ratu Ila mulai murka.
"Terserah Nenek! Urusanku disini cuma mau ngambil buku sama batu suci itu! Nenek nggak usah ikut campur!" Glen mulai melempar semua barang-barang yang ada didekatnya pada Ratu Ila seraya teriak menyuruhnya pergi, tentu saja dengan kecepatan geraknya Ratu Ila mampu menebas semua barang-barang yang Glen lempar padanya.
"Keluar kamu Nino!".
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar Risa terbuka keras.
Bersambung...