
"Seriusan?" tanya kami berdelapan bersama.
"Iya serius banget".
"Emang nggak takut?" tanya kami bersama lagi.
"Takut sih... tapi kan biar bisa masuk team Indigo".
"Lo mau masuk team Indigo?" tegas Reza.
"Iya".
"Yakin?".
"Banget".
"Tapi kalau mata batinnya udah dibuka nggak bisa ditutup lagi lhoh... eh.. bisa ding, hanya saja perlu beberapa ritual yang harus dilakukan. Membuka mata batin juga perlu menyiapkan mental" ujarku.
"Bener tuh kata Risa, jangan jadi kaya temen komplek aku. Dia coba buka mata batin sama temennya, temennya gagal, kata orang yang mereka datangi kalau temennya si temenku itu nggak bisa dibuka mata batinnya. Bersyukur dong dia, karena dia juga terpaksa ngikutin cara temenku. Sedangkan temenku yang mulanya tenang langsung gelisah karena ternyata mata batinnya bisa dibuka. Saat mereka pulang, temenku itu teriak-teriak terus, dirumah juga kata orang tuanya lebih suka mengurung diri. Lampu kamar nggak pernah mati. Lama-lama dia jadi gila, terus dimasukin ke rumah sakit jiwa. Beberapa hari setelahnya, ia ditemukan mati bunuh diri" cerita Ais.
"Membuka mata batin perlu kesiapan iman dan mental yang kuat. Jangan jadi kaya Risa..." seloroh Reza yang langsung mendapat tatapan tajam dari Adam.
"Enggak Dam, becanda".
"Kamu udah bulat dengan keputusan kamu Lis?" tanya Zara.
"Khusus kamu, kamu bisa masuk ke team indigo tanpa kemampuan indigo kok" ujar Wisnu.
"Ehh... jangan begitu, lagi pula gw sudah memutuskan baik-baik tentang itu. Siapa tahu gw bisa bantu kalian dengan kemampuan itu, mental udah gw siapin kok. Stoknya ada banyak banget, kalo iman sedang dalam masa pembangunan memperkuat" Chalis terkekeh kemudian.
"Kalau lo emang udah bulet dan yakin dengan keputusan lo, lo bisa ketemu sama tante gw. Dia bisa buka mata batin orang" ucap Adam.
"Maaf mengganggu waktunya ya kawan-kawan ku semua. Ini bagaimana...?? Jadi tidak bantu aku ke rumah Ana untuk kasih kalung ini?" tanya Raihan dengan nada formal di bagian awal lalu lebay kemudian.
"Jadi, yuk berangkat" seruku berdiri lalu mengusap mata dan pipi.
"Mobilnya..".
"Muat kok, aku kan pakai motor. Oh iya, tadi kalian kesini pakai apa?" tanyaku penasaran.
"Taksi" sahut Zara mewakili mungkin karena yang lain hanya diam.
"Gw bareng Risa!" Adam segera keluar dari ruang tamu.
Kami menyusulnya dan bersiap-siap.
"Ada helm nggak Ris?" tanya Adam.
"Ada nih di bagasi" aku membuka bagasi motor dan mengambil helm berwarna hitam lalu menyerahkannya pada Adam yang langsung menerima dan memakainya.
"Yuk naik, mobilnya udah jalan" aku segera naik ke motor setelah motor dikeluarkan dari garasi dan aku menutup gerbang. Pintu utama markas juga sudah aku kunci.
"Tante Putri dan yang lain, Risa sama temen-temen pamit pergi dulu ya.. ada urusan" tante putri dan kawannya yang sedang tertawa ria di atas pohon menoleh serentak kearahku.
"Iya! Hati-hati dijalan!" aku mengangguk.
Aku melihat atap mobil, disana duduk lemet putih yang sedang menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Ikatan atasnya melambai-lambai terkena desiran angin malam. Ok! Ini cukup membuatku merasa merinding.
"Dam! Kamu pencet klakson ya. Suruh mobilnya berhenti, aku mau ambil sweater di bagasi mobil" ucapku sedikit berteriak disamping telinga Adam. Ia hanya mengangguk dan memencet klakson berkali-kali sampai mobil berhenti. Wisnu sang supir mengeluarkan sedikit kepalanya.
"Kenapa Ris?" tanya nya.
"Mau ambil sweater, anginnya kenceng banget soalnya".
"Hati-hati di atas ya Han!" ucapku mengingatkan pada Raihan yang tengah asik memandang lampu-lampu di jalan.
"Tentu" sahutnya tanpa memandangku.
Setelah memakai sweater milikku, aku kembali duduk di atas jok motor. Perjalanan kembali dilanjutkan.
Raihan sesekali menengok pada kaca jendela mobil sambil mengucapkan entah apa itu. Lalu kembali ke posisi semula, terkadang ia tiduran, terkadang berdiri sambil melompat-lompat, dan sering kali duduk menatap jalan dan pemandangan.
"Pegangan Ris" ujar Adam.
"Kamu pegangan ke mana Ris?" tanya Adam.
"Behel motor".
"Bukan kesitu Ris. Bahaya buat kamu, aku ngendarainnya juga jadi susah, pegangan yang bener" aku tersenyum miring mendengar ucapannya lalu melingkarkan tanganku kepinggangnya sambil menyenderkan kepalaku ke pundaknya.
Kami berdua terdiam selama perjalanan. Hingga akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Entah sudah sampai atau belum si, aku tidak tahu. Hanya saja mobil sudah berhenti, Raihan juga turun dari atap mobil.
Aku dan Adam turun dari motor. Adam melepaskan helmnya, begitupun aku. Tapi sepertinya akan memakan waktu.
"Bisa nggak?" tanya Adam setelah merapihkan rambutnya. Aku menggeleng malu. Ia mendekatkan tangannya dan membuka ceklekan helmku. Aku tidak tahu apa namanya benda yang sulit dibuka ini, aku menyebutnya ceklekan karena saat dipasangkan akan mengeluarkan bunyi 'klek'.
Setelah helm terbuka, aku dan Adam menyusul kawan-kawan dan Raihan.
"Tadi atap mobil rasanya kaya mau ambruk, beneran" keluh Ais.
"Tadi Raihan loncat-loncat di atap" ucap ku.
"Yuk" Raihan melompat menuju pintu rumah berlantai dua didepan kami semua tanpa mengindahkan pandangan Ais.
"Sabar Ai, yuk" aku menarik tangan Ais menyusul Raihan.
"Ini bener rumahnya Han?" tanyaku memastikan.
"Iya bener, orang aku seminggu ke sini bisa sampai empat belas kali. Ya hafal banget lah".
Aku mencoba mengetuk pintu kayu dengan dua daun pintu tersebut.
Tok..!! Tok..!! Tok..!!
"Assalamualaikum!! Permisi!!" seruku lantang sambil mengetuk pintu berkali-kali.
"Assalamualaikum!! Permisi!! Yuhuuu....!!" seru Chalis.
Pintu terbuka, menampakkan remaja perempuan seusia kami yang nampak cantik dengan balutan celana jeans panjang dan T-Shirt hitam pendek. Rambutnya dijepit ke atas. Pipi nya nampak menggembung.
"Waalaikumsalam.." sahutnya dengan nada aneh karena sepertinya sedang mengunyah makanan.
"Sebentar.. silahkan masuk" ia masuk terlebih dahulu dengan sedikit berlari. Kami masuk ke ruang tamu dan duduk di atas sofa tanpa sandaran berwarna putih tulang.
Remaja perempuan tadi kembali lagi dan ikut duduk bersama kami.
"Maaf sebelumnya, kalian siapa ya?" tanya nya.
"Saya Risa, temannya Raihan" remaja perempuan tersebut langsung tersedak. Tersedak ludah nya sendiri mungkin. Tersedak makanan? Tidak mungkin! Pipinya sudah tidak semenggembung tadi kok, tersedak minum? Masa sih? Pasti udah ketelen air nya, tersedak lalat atau nyamuk? Nggak mungkin banget! Dari tadi aku tidak melihat adanya dua hewan tersebut.
"Ra-raihan?" aku mengangguk.
"Ra-raihan ka-ka-".
"Raihan pacar mbak yang udah meninggal" sergah Glen.
"Lhoh.. kok kamu tahu?" tanya remaja perempuan itu.
"Tahu. Mbak bener namanya Ana?" dia mengangguk.
"Gini mbak..." Glen mulai menceritakkan awal pertemuan nya dengan Raihan hingga mengenal sosok Ana dan alasan mengapa Raihan belum tenang.
"Iya. Dia berjanji pada saya bahwa ia akan melamar saya, tapi ternyata takdir berkata lain" ucap nya sendu.
"Kami kesini mau bantu Raihan kasih kalung liontin nya untuk kamu. Dia nggak bisa ngelamar kamu, dengan alasan bahwa kalian sudah berbeda dunia. Kamu juga berhak bahagia. Kamu lihat sendiri aja ya..." aku menghampirinya dan menyentuh tangannya. Ia seketika terlonjak kaget menatap Raihan yang sudah menjadi poci.
"Raihan?".
Bersambung...
Gimana nih kelanjutannya? Penasaran nggak?.
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Author masih menerima bunga dan kopi dari kalian.
Terima kasih.