
"Kelasnya Ayu dimana?" tanya Zara.
"Risa!! Ris!!... akhirnya gw ketemu lo juga" aku memicingkan mata supaya dapat dengan jelas siapa yang memanggil namaku.
"Ayu?".
"Iya... huftt.. tolong-tolongin gw" ucapnya sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tolongin apa?" tanyaku seraya membawanya duduk.
"Tolongin gw ungkap kejahatan ibu gw dan kelakuan dia selama ini".
"Itu pasti. Kamu kemarin tidak berangkat ya?" Ayu mengangguk.
"Iya, gw kemarin nggak berangkat karena di sekap sama ibu. Gw waktu itu nggak sengaja pecahin guci di kamar ibu" aku terkesiap mendengar ceritanya.
"Udah, lo nggak usah mikirin yang itu. Yang sekarang lo pikirin adalah gimana caranya ngungkap kejahatan ibu gw selama ini" aku mengangguk.
"Itu berarti kita harus ke rumah kamu kan?" tanya Zara.
"Iya, ntar sore aja gimana? Kalian ke rumah aku? Bilangnya nginep lah, tapi kalo kalian mau nginep beneran si aku ok-ok aja" ucap Ayu.
"Kalian bawa juga anggota IT yang lain, di rumah ibu gw banyak kamar kok" sambungnya.
"Tapi kalian harus hati-hati, malam ini adalah malam bulan purnama. Di mana ibu gw bakal melakukan ritual persembahan tumbal yang ke seratus sembilan".
"Siapa orang yang akan di jadikan persembahan?" tanyaku penasaran.
"Elo" aku terkejut bukan main saat Ayu menunjukku.
"Kenapa aku?".
"Karena elo anak spesial"
"Berarti saat ini Risa sedang di incar" gumam Glen.
"Lo tahu dari mana kalo Risa adalah orang yang akan di jadikan persembahan yang ke seratus sembilan?" tanya Glen.
"Dari pembantunya ibu. Dia itu yang mbantu-mbantu ibu saat persiapan ritual, tapi apa yang dia lakuin berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dia suka nolongin gw kalo ada apa-apa dan beri tahu segalanya tentang ritual ibu, persembahan malam nanti, bulan purnama, dan tumbal".
"Apa jangan-jangan yang ngirimin kita paket manekin nyeremin itu pembantunya ibu nya Ayu ya?" terka Zara.
"Paket manekin nyeremin? Maksudnya gimana?" tanya Ayu. Glen lalu menjelaskan pasal manekin yang di kirim seseorang lewat ojek online, tulisan yang ada di dalamnya serta rupa manekin tersebut dan dugaan-dugaan kami tentang di kirimnya paket manekin tersebut.
"Adek gw? Iya! Lolita! Dia juga tahu tentang ini, terus gimana ni? Gw khawatir sama Risa dan juga Lolita" resah Ayu.
"Lahhh kenapa khawatir sama aku?" tanyaku heran.
"Tentang lo yang akan di jadiin tumbal. Kalau seandainya itu benar gimana?" Ayu mulai menitikan air matanya.
"Kamu tidak usah memikirkan pasal aku yang akan di jadikan tumbal, sekarang kamu tenang. Nanti sore, kami ke rumah kamu" ucapku menenangkan walaupun aku sendiri gelisah dan khawatir kalau seandainya memang benar bahwa aku lah orang yang akan di jadikan tumbal ke seratus sembilan.
.
.
Pov Author.
Di sebuah ruangan yang cukup besar dengan warna putih sebagai dominannya. Ais duduk sambil memandangi wajah kedua temannya yang suka mencari masalah.
"Kenapa mereka belum bangun juga ya?" gumam Ais.
Gruduk...
Gruduk...
"Suara apa tuh?"
Batin Ais kaget tanpa memandang sumber suara.
"Jangan ditengok Aisyah, nanti kalau hantu gimana? Kalau kamu pingsan gimana? Siapa yang njaga mereka? Tapi kalau ngga di lihat, aku nya penasaran. Gimana? Tengok, enggak, tengok, enggak, tengok. Yahhh berhenti di tengok. Beneran tengok enggak yah?" batin Ais sambil menekuk-nekuk lima jari tangannya.
Gruduk...
Gruduk...
"Ya udah lah tengok aja, siapa tahu ada orang kejebak" gumam Ais pelan. Sangat pelan, bahkan suaranya hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Ayo Aisyah imut, kamu pasti bisa" gumam Ais menyemangati dirinya sendiri.
Setelah sampai di depan lemari dengan sedikit memberi jarak. Ais kembali menekuk-nekuk jarinya dan bergumam 'buka, enggak' sebanyak tujuh kali.
Kriettt...
Suara deritan pintu lemari tersebut ketika di buka terdengar ngilu di telinga.
"Wuaaaaaa tikus!!!" pekik Ais histeris ketika seekor tikus mendarat di wajahnya, sedangkan satu ekor tikus lainnya berjalan di bawah. Ais yang panik langsung mengibaskan wajahnya hingga tikus tersebut jatuh ke lantai dan menimpa temannya.
"Wuaaa tolong ada sukit!! Ada sukit, eh salah maksudnya tikus!!" jeritannya mengundang rasa penasaran murid-murid yang melintas di depan ruang uks. Dirinya masih heboh dan bergerak kesana kemari untuk mencari tempat perlindungan diri dari dua tikus yang sedang berjalan tidak karuan karena kecelakaan yang di sebabkan oleh Ais. Kecelakaan? Ya kecelakaan, saat satu tikus menimpa temannya karena dirinya di tampik dengan keras dari wajah Ais.
"Kalian minggir!! Ada tikus!!" pekik Ais menyuruh minggir siswa siswi yang penasaran dan bergerak masuk ke uks. Kini Ais sedang berdiri sambil jingkrak-jingkrak di atas kursi tempat duduk.
Siswi yang di beritahukan oleh Ais bahwa ada tikus di ruang uks tersebut langsung ikut menjerit ketakutan dan bergerak tidak karuan. Apalagi saat satu ekor tikus mendadak datang entah dari mana dan bergerak seolah mengejar siswi yang berdatangan.
"Ada apa ini?" tanya Reza panik pada salah satu siswa saat mendengar keributan di ruang uks. Kepanikannya bertambah saat melihat Ais juga ikut berteriak histeris di atas kursi.
"Ada tiga ekor tikus di ruang uks" Reza tersentak mendengar jawaban siswa yang di tanyainya. Ia lalu melihat ke dalan ruang uks, dan benar saja. Ada tiga ekor tikus berukuran besar sedang berkeliaran. Ia segera masuk ke dalamnya dan membawa Lala yang masih terbaring dengan peluh di pelipisnya, sedangkan Sella mulai beranjak bangun.
Reza membawa Lala keluar ruang uks dan memanggil Risa untuk menjaga Lala di kursi yang sudah di tatanya sebagai pengganti bed. Sedangkan dirinya kembali lagi ke ruang uks.
Saat dirinya masuk, ia melihat Ais akan terjatuh dari kursi karena ulahnya sendiri. Pergerakannya membuat keadaan kursi tersebut tidak stabil. Reza segera berlari ke arah Ais dan menangkap wanita tersebut sebelum dirinya jatuh mengenai lantai. Ais terpejam sebentar kemudian membuka matanya dan terkejut ketika sosok yang di sukainya sedang memeganginya agar tidak jatuh menimpa lantai.
Tak lama adegan romansa tersebut terjadi, karena tubrukan seorang siswi yang rambutnya sedang di hinggapi seekor tikus. Ais terjatuh di atas tubuh Reza karena Reza bergerak cepat menjatuhkan dirinya sebagai bantalan untuk Ais.
Ais berdiri cepat dan membantu Reza untuk berdiri. Ia mengambilkan sapu untuk Reza sesuai perintah. Dengan menahan sakit di perutnya karena ulah Ais, ia berusaha mengusir tiga ekor tikus tersebut keluar.
Sepuluh menit berlalu.... kini tikus-tikus tersebut sudah pergi entah kemana.
"Lo nggak papa?" tanya Reza pada Ais yang sedang duduk mengatur nafasnya.
"Nggak papa" sahut Ais.
"Nih minum dulu" ucap Reza sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Ais yang langsung merona.
"Ma-makasih" Reza mengangguk kemudian izin pergi keluar untuk mengecek keadaan Lala. Ais mengangguk, ia bergegas membantu Ghisel yang masih bingung ada kejadian apa dan membawanya keluar.
Sedangkan di luar, di mana Lala terbaring dengan peluh yang bercucuran. Risa mulai khawatir akan kondisi Lala saat ini.
"Za!. Kamu jaga raga aku, kalau seandainya dalam waktu beberapa menit aku belum bangun. Bangunkan aku bagaimanapun caranya, jika cara lembut sudah tidak bisa. Tampar saja aku sampai aku bangun. Tolong ya?" pinta Zara pada Reza yang masih bimbang akan menjawab apa.
"Tolong, kita tidak punya banyak waktu" ucap Zara memelas.
"Ba-baiklah, gw akan melakukannya" Zara mengangguk. Ia kemudian menutup matanya, setelah itu, tubuhnya terjatuh di atas lantai putih teras sekolah. Reza langsung membawa kepala Zara ke dalam pangkuannya. Ais yang melihat hal tersebut sedikit merasa cemburu, tapi ia hapus rasa cemburu tersebut karena mengingat kondisi.
Setengah jam berlalu. Belum ada tanda-tanda bangunnya Lala dan Zara selama ini. Reza, Risa, Glen, Ais mulai merasa khawatir. Peluh sudah membasahi rambut Zara dan juga Lala sampai terasa lepek.
"Gimana ini?" guman Reza khawatir.
"Tunggu beberapa saat lagi, jika mereka belum bangun juga. Kita akan mencoba membangunkan Zara dengan cara lembut, jika masih belum bangun. Dengan terpaksa kita memakai cara kasar sesuai dengan apa yang di ucapkannya" sahut Risa.
Di sisi lain. Di sebuah perpustakaan besar dan megah dengan banyaknya buku-buku yang tertata rapi di rak tinggi. Dua remaja laki-laki yang tengah membaca buku saling tatap dengan ekspresi yang sulit untuk di gambarkan.
Mereka berdua langsung bergegas keluar perpus dan memakai sepatu masing-masing. Setelah itu, keduanya langsung berlari secepat mungkin di tempat Lala dan Zara terbaring. Ya, mereka Adam dan Wisnu.
Setelah Adam dan Wisnu sampai ke tempat Lala dan Zara terbaring. Mereka berdua bergerak mengusap keringat yang mengucur di dahi dan pelipis Lala serta Zara. Reza, Risa, Glen dan Ais sudah berkali-kali mengusapnya, tapi keringat itu kembali lagi dengan begitu derasnya.
Setengah jam berlalu. Lagi-lagi belum ada tanda-tanda bangun dari Lala dan Zara. Mereka yang di lokasi bertambah panik. Akhirnya, Risa memutuskan untuk mencoba membangunkan Zara dengan menepuk pipinya. Masih dengan cara lembut dia mencoba. Namun usahanya gagal, Zara belum terbangun.
"Maaf Ra" gumam Adam kemudian menampar pipi Zara dengan begitu kuatnya hingga mengeluarkan darah. Zara terbangun denga darah yang keluar dari mulut dan hidungnya, saking banyaknya darah yang keluar hingga membasahi leher dan pakaian yang di kenakan oleh Zara.
Lala pun terbangun, tapi hidung dan mulutnya tidak sampai mengeluarkan darah. Mereka berdua di bantu bangun, Zara di berikan tisu untuk menyeka darah tersebut..
"Kenapa lama?" tanya Adam seperti biasanya. Dingin dan datar. Tapi rasa khawatir ketika salah satu sahabatnya tidak kunjung bangun tetap tidak bisa di sembunyikan. Walaupun guratan kekhawatiran itu tidak semuncul Risa, Glen, Reza dan Ais.
Kemana guru-gurunya? Kenapa tidak datang? Mereka tidak datang karena sedang di sibukkan dengan salah satu guru yang mengalami kecelakaan semalam. Dua orang satpam berjaga di pintu gerbang, dia tidak tahu tentang kejadian ini. Karena perintah Risa yang mengumumkan untuk tidak memberitahukan dulu hal ini pada pihak sekolah ataupun satpam.
"Labirin" sahut Zara. Apa itu? Labirin? Hanya satu kata yang keluar dari mulut Zara, tapi itu sudah mampu menjawab pertanyaan Adam. Adam mengambil tisu lagi dan membantu Zara untuk menyeka darahnya.
Zara terkesiap karena perlakuan Adam, ia menoleh ke belakang. Dimana Risa memperhatikan mereka, tapi ia tidak sadar bahwa Zara tengah memperhatikannya.
Zara memberi isyarat pada Adam tentang Risa. Adam mengangguk dan menghentikkan kegiatannya.
Pov End Author.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.